PERTAHANAN

Apakah Pertahanan Udara Israel Mulai Kedodoran?

Rudal Iran mulai menembus pertahanan Israel. Ada dugaan bahwa militer Israel menahan diri untuk tidak menembakkan rudal pencegat yang canggih dan mahal.

24 Mar 2026 08:00 WIB · Internasional

AP/LEO CORREA

Oleh Elsa Emiria Leba

Pekan lalu, dua rudal Iran mendarat di dekat Gurun Negev, Israel. Kawasan tersebut sebetulnya dijaga sangat ketat karena dekat dengan fasilitas nuklir Israel. Keberhasilan serangan itu memantik pertanyaan terkait pertahanan Israel.

Dua rudal Iran mendarat dalam selang waktu sekitar tiga jam. Masing-masing satu di kota Dimona dan Arad pada Sabtu (21/3/2026) malam. Dimona terletak sekitar 20 kilometer sebelah barat pusat fasilitas nuklir Israel, sedangkan Arad berada sekitar 35 km di utara pusat nuklir itu.

Warga Israel yang sudah berpengalaman dengan perang tampak terguncang oleh dampak serangan. Bahkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang berkunjung ke Arad juga tampak waspada.

”Sebuah keajaiban terjadi di sini, tidak ada yang tewas. Tetapi, kita tidak ingin hanya bergantung pada keajaiban. Ada waktu 10 menit penuh dari peringatan hingga rudal jatuh. Rudal itu jatuh di sini, di antara bangunan-bangunan,” kata Netanyahu, menurut Ynet, Minggu (22/3/2026).

Seorang pria meminum kopi sambil memandangi rumah-rumah yang hancur akibat serangan rudal Iran di Dimona, Israel, Minggu (22/3/2026). Serangan rudal Iran ke dua kota di selatan Israel pada 21 Maret 2026 melukai lebih dari 100 orang setelah sistem pertahanan udara Israel gagal mencegat proyektil. Televisi pemerintah Iran menyebut serangan ke Dimona, yang menjadi lokasi fasilitas nuklir Israel, sebagai balasan atas serangan sebelumnya terhadap situs nuklir Iran di Natanz.
Jejak roket dari sistem pertahanan rudal Iron Dome terlihat di langit dari sebuah mobil yang berhenti di lampu merah dekat Afula, Israel bagian utara, Selasa (17/3/2026). Pada 28 Februari 2026, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran yang menewaskan pemimpin tertingginya dan memicu perang yang kemudian meluas di kawasan Timur Tengah.

Militer Israel mengakui mencoba mencegat rudal-rudal tersebut. Namun, mengapa sistem pertahanan rudal berlapis Israel gagal melakukan intersepsi?

”Dimona dilindungi dengan sistem pertahanan berlapis-lapis, Israel dan Amerika. Tetapi, tidak ada yang sempurna. Terjadi kegagalan operasional,” kata Ran Kochav, mantan Komandan Pasukan Pertahanan Udara dan Rudal Israel, menurut The New York Times.

Seperti pejabat militer Israel yang lain, Netanyahu tidak mencoba memberikan penjelasan detail terkait kegagalan tersebut. Israel hanya menyatakan sedang menyelidiki apa yang salah. Juru Bicara Militer Israel Effie Defrin, Minggu, menambahkan, kegagalan di Dimona dan Arad tidak saling terkait.

Namun, rudal yang menghantam kedua kota itu adalah jenis yang telah dikenali dan pernah dicegat Israel sebelumnya. Sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari 2026, Teheran sudah melontarkan 400 rudal balistik ke Israel. Dari ratusan rudal balistik yang ditembakkan ke Israel, empat rudal berhasil menembus pertahanan Israel. Rudal-rudal itu, antara lain, menghujam Tel Aviv dan Beit Shemesh.

Dugaan sementara

Israel memiliki sejumlah sistem pertahanan udara, antara lain Arrow 2 dan Arrow 3, Iron Dome, serta David’s Sling. Tel Aviv juga memiliki sistem pertahanan laser yang disebut Iron Beam. Sistem-sistem senilai miliaran dolar AS itu bertujuan untuk mencegat roket serta rudal jarak pendek, menengah, dan jauh.

Selain itu, Israel juga dibentengi oleh sistem THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) yang dikerahkan oleh AS. THAAD merupakan sistem pertahanan rudal yang dirancang untuk menembak jatuh rudal balistik.

Militer Israel memperkirakan, tingkat intersepsi sistem pertahanan terhadap rudal balistik Iran lebih dari 90 persen. Para pejabat dan ahli sudah menekankan, pertahanan tidak akan pernah efektif 100 persen. Untuk mengoptimalkan sumber daya, Israel kini berupaya untuk mengerahkan sistem pencegat yang lebih hemat biaya dan lebih mudah diperoleh. ”Mereka mencoba untuk memperluas kemampuan pertahanan udara lapis pertama, seperti Iron Dome dan David's Sling. Terkadang berhasil,” ujar Kochav.

Pada foto bertanggal 21 Desember 2015 ini, tampak peluncuran rudal David's Sling, yang akan melengkapi sistem rudal pertahanan udara Israel.

Ada dugaan bahwa militer Israel mungkin menahan diri untuk tidak menembakkan rudal-rudal yang canggih dan mahal. Beberapa pihak dalam lembaga keamanan Israel menyuarakan kekhawatiran tentang kemungkinan terjadi kekurangan rudal pertahanan udara. Padahal, Iran belum menghabiskan persenjataan balistiknya.

Sistem Arrow 3, khususnya, telah menjadi sorotan karena rudal pencegatnya mahal. Butuh waktu untuk memproduksi ulang. Media berita Israel, yang beroperasi di bawah pengawasan militer, melaporkan, Minggu (22/3/2026), Arrow 3 tidak dikerahkan untuk melawan rudal yang menghantam Dimona dan Arad.

”Israel harus menghemat penggunaan rudal pencegatnya dan memprioritaskan pertahanan di daerah padat penduduk serta infrastruktur strategis,” ujar sejumlah pejabat beberapa waktu lalu.

Ancaman lain

Ancaman Iran lain yang menjadi tantangan Israel ialah penggunaan puluhan rudal kluster atau bom tandan sejak awal perang. Rudal jenis ini pecah menjadi bom-bom kecil sebelum mendarat di tanah. Sudah banyak bangunan dan jalan di Israel terdampak serta korban jiwa berjatuhan karena bom ini.

Menurut para ahli dan pejabat, satu-satunya cara untuk menetralisir ancaman bom tandan adalah dengan mencegatnya di atas atmosfer. Percuma untuk mencegat di lapisan bawah. Namun, bahkan pencegat yang paling canggih pun tidak selalu berhasil.

”Arrow 2 meledak di dekat rudal, tetapi harus sangat dekat agar berhasil. Arrow 3 membutuhkan tabrakan langsung. Itu sangat sulit, seperti dua peluru yang bertemu,” ucap Yehoshua Kalisky, peneliti senior di Institut Studi Keamanan Nasional Israel.

Rudal pencegat sistem pertahanan udara Iron Dome Israel meledak di langit dekat perbatasan Israel-Lebanon, di kawasan Upper Galilee, Israel utara, Minggu (22/3/2026). Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah pada 2 Maret 2026 ketika kelompok pro-Iran Hizbullah meluncurkan roket ke arah Israel sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran pada 28 Februari 2026.

Kalisky melanjutkan, apalagi, beberapa rudal Iran memiliki kemampuan untuk bermanuver. Kemampuan ini mempersulit kerja sistem pencegat rudal. ”Dan perhitungan rute rudal balistik bisa tidak akurat karena sedikit turbulensi di atmosfer saja sudah cukup untuk menggagalkan pencegatan,” jelasnya.

Menurut militer Israel, bom tandan Iran memiliki sekitar 24 submunisi yang masing-masing berisi 2-5 kilogram bahan peledak. Bom tersebut pecah pada ketinggian 7-10 kilometer di atas permukaan tanah.

”Setiap submunisi dapat meledak ketika mengenai tanah atau permukaan keras lainnya. Efeknya mirip dengan ledakan granat, yaitu kerusakan lokal yang relatif terbatas, tetapi sangat berbahaya bagi siapa pun yang berada di dekatnya,” tutur seorang pejabat militer Israel.

Pada 2008, lebih dari 100 negara sepakat di Irlandia untuk melarang penggunaan bom tandan. Namun, beberapa negara belum ikut dalam kesepakatan tersebut, termasuk Israel, AS, Iran, China, dan Rusia.

Bantahan Israel

Militer Israel sudah membantah laporan teranyar soal kehabisan rudal pencegat. Dalam sebuah pernyataan, pekan lalu, militer Israel mengatakan, mereka memantau situasi dan ”sampai saat ini” tidak ada kekurangan.

Berdasarkan klaim Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir, operasi militer Israel terhadap Iran juga baru ”setengah jalan”. Namun, tekanan terasa semakin besar seiring perang terus berlarut-larut.

Menurut tiga pejabat Israel yang menolak menyebutkan nama, Israel kini sedang melobi AS. Upaya itu termasuk dengan mengirim Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel Amir Baram ke Washington, bulan ini. Baram hendak meminta lebih banyak rudal pencegat dan amunisi.

Tidak jelas apakah AS mau menyediakan lebih banyak stok. ”Stok itu bukan tak terbatas. Ketika kita mencegat, kita juga harus memikirkan pertempuran untuk hari berikutnya,” ujar Kochav.

Pekerja membersihkan puing-puing di depan bangunan yang rusak akibat serangan rudal Iran di Tel Aviv, Israel, Minggu (1/3/2026). Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Sabtu (28/2/2026) bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan berskala besar yang bertujuan menggulingkan Republik Islam Iran. Iran langsung membalas serangan ke Israel dan negara-negara yang menampung militer AS.
Pasukan keamanan Israel dan tim penyelamat berkumpul di luar sebuah bangunan yang terkena hantaman proyektil Iran di kawasan permukiman Bnei Brak, pinggiran timur Tel Aviv, Israel, Minggu (15/3/2026). Serangan ini terjadi di tengah eskalasi konflik setelah operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 yang memicu perang di kawasan Timur Tengah.

Tidak hanya kemampuan bertahan, kemampuan menyerang Israel pun tampaknya mulai terpengaruh. Kantor berita Anadolu, Senin (23/3/2026), melaporkan, militer Israel mulai menggunakan amunisi yang lebih tua dan kurang akurat dalam perang melawan Iran.

Lembaga penyiaran Israel KAN mendapati, Tel Aviv mengerahkan senjata yang ”disimpan selama setengah abad” untuk menyerang pangkalan militer Iran. ”Langkah ini dimaksudkan untuk mengurangi biaya dan membersihkan persediaan yang sudah tua,” bunyi laporan itu.

Kementerian Pertahanan Israel tidak memberikan komentar terkait laporan tersebut. (Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati