Apakah Peta Musim Reguler Bisa Relevan di Playoff NBA?

Pengalaman dan mentalitas memang membedakan dunia ”playoff” dari musim reguler. Namun, terkadang ada tim ajaib yang muncul tiba-tiba dan mendominasi semusim penuh.

19 Apr 2025 07:19 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Houston Rockets, tim unggulan kedua Wilayah Barat, sudah memastikan tempat di playoff sejak awal April 2025. Sementara itu, Golden State Warriors susah payah merebut unggulan ketujuh lewat jalur play-in pada tiga hari lalu. Siapa yang diunggulkan saat dua tim bertemu di babak pertama? Jawabannya adalah Warriors.

Media-media besar, seperti The Athletic dan ESPN, memprediksi Warriors akan menang 4-2 dalam seri berformat terbaik dalam tujuh laga. Status unggulan Rockets yang lebih tinggi seolah tidak banyak berarti. Padahal, Rockets mendapatkan itu dengan jerih payah selama enam bulan musim reguler dari 82 laga.

Ada alasan logis di balik itu. Warriors diunggulkan tidak hanya karena punya guard megabintang Stephen Curry yang sudah empat kali juara. Prediksi juga datang dari tren performa tim selama beberapa bulan terakhir, khususnya setelah tenggat pertukaran pemain pada awal Februari. Peta kekuatan NBA bergeser sejak itu.

Kekuatan tim jelang playoff yang akan dimulai pada Minggu (20/4/2025) pagi WIB berbeda dengan ketika di awal musim. Banyak pertukaran bintang yang terjadi di Februari. Salah satunya Warriors yang mendapatkan forward veteran Jimmy Butler dari Miami Heat. Tren tim asuhan pelatih Steve Kerr melonjak drastis bersama Butler.

Quote

Tim mana pun memiliki peluang ketika saya di dalamnya. Itu juga berlaku untuk Steph.

Di era Butler, Warriors mencatatkan rekor 23 menang-8 kalah di musim reguler dan tambahan satu kemenangan saat play-in. Rekor kemenangan itu mencapai 75 persen, jauh lebih baik dari catatan sepanjang musim (58,5 persen). Jika Butler datang sejak awal musim, mungkin saja mereka melampaui catatan Rockets (63,4 persen).

Golden State Warriors forward Jimmy Butler III, middle, shoots against Memphis Grizzlies guard John Konchar, left, and forward Jaren Jackson Jr. during the second half of an NBA play-in tournament basketball game in San Francisco, Tuesday, April 15, 2025. (AP Photo/Jeff Chiu)

Butler juga sudah berkali-kali membutikan, peringkat unggulan tidak berarti apa pun. Dia mengantar Heat ke partai puncak pada musim 2022-2023 dengan hanya berstatus unggulan kedelapan atau terendah di Wilayah Timur. ”Tim mana pun memiliki peluang ketika saya di dalamnya. Itu juga berlaku untuk Steph,” ujar Butler.

Tidak hanya klasemen, rekor pertemuan di musim reguler juga tidak relevan lagi. Contohnya adalah duel di babak pertama antara Los Angeles Lakers (unggulan ketiga) dan Minnesota Timberwolves (keenam). Timberwolves unggul 2-1 atas LeBron James dan rekan-rekan sebelum saga kepindahan megabintang Slovenia, Luka Doncic.

Namun, rekor itu tidak berarti apa pun. Doncic dikenal sebagai ”penjinak” Timberwolves. Dia, bersama Dallas Mavericks, mengeliminasi Timberwolves dari final wilayah musim lalu (4-1). Center Timberwolves, Rudy Gobert, juga selalu kesulitan ketika harus berhadapan dengan pemain berjuluk ”Luka Magic” itu.

Pelatih Kepala Lakers J J Redick berkata, Doncic semakin tertantang dengan fakta bahwa Gobert merupakan peraih empat kali gelar pemain bertahan terbaik NBA. ”Dia (Doncic) berpikir bahwa tidak ada seorang pun di dunia yang dapat menjaganya. Dia menganggap serius pertemuan nanti (dengan Gobert dan Timberwolves),” ujarnya.

Dunia berbeda

Satu musim NBA bisa diibaratkan seperti lomba lari maraton. Separuh perjalanan adalah musim reguler, sisanya playoff. Di maraton, tidak ada pemenang untuk pelari yang menyelesaikan separuh lomba terlebih dulu. Sama halnya dengan di NBA. Oleh karena itu, tim-tim menyimpan kemampuan terbaik untuk separuh terakhir kompetisi.

Musim reguler dan playoff adalah dunia berbeda. Pendekatan bermain akan berubah signifikan. Di musim reguler, setiap tim harus merotasi skuad sangat baik untuk menghadapi jadwal padat. Kedalaman skuad berpengaruh besar. Para pelatih menggunakan 10-12 pemain. Para bintang dijaga tidak bermain lebih dari 35 menit.

Pebasket Los Angeles Lakers LeBron James memprotes keputusan wasit dalam pertandingan keempat babak pertama playoff Wilayah Barat antara Lakers dan Denver Nuggets di Los Angeles, Minggu (28/4/2024) pagi WIB. *Los Angeles Lakers forward LeBron James, left, complains about a foul call against him as guard D'Angelo Russell looks on during the second half in Game 4 of an NBA basketball first-round playoff series against the Denver Nuggets Saturday, April 27, 2024, in Los Angeles. (AP Photo/Mark J. Terrill)

Di playoff, setiap tim memaksimalkan senjata terbaik. Biasanya para pelatih hanya memercayai delapan pemain untuk tampil sepanjang 48 menit. Para bintang biasanya dimainkan rerata 40 menit, terkadang lebih jika laga berlangsung ketat. Adapun James yang sudah berusia 39 tahun di playoff musim lalu dimainkan rerata 40,8 menit.

Faktor-faktor pembeda itu menginspirasi kemunculan karakter alter para pemain yang disebut mode playoff. Ketika sudah dalam mode tersebut, mereka seolah berlaga dengan mengggunakan insting bertahan hidup. Pilihannya hanya menang atau pulang. Itu pula yang membuat mentalitas dan pengalaman berpengaruh besar.

Bukan tanpa alasan, pemain seperti ”Raja James” yang sudah mencapai final sepuluh kali dan menjuarai liga empat kali bisa selalu tampil hebat di playoff. Dia sudah ditempa dalam 287 laga playoff atau terbanyak sepanjang sejarah NBA. Setiap kemenangan menambah percaya diri, sementara setiap kekalahan menguatkan mentalnya.

”Saya tidak tampil di playoff sebanyak dua kali, sementara kalah empat kali di final. Saya mulai berpikir akan lebih baik jika tidak usah tampil di playoff jika harus kalah di final. Itu tidak akan terlalu sakit. Namun, saya kembali mengingat betapa menyenangkan untuk bersaing di playoff, di setiap babak,” kata James setelah kalah di final pada 2015.

Kesenangan James melampaui rasa takut akan tekanan. Itu yang diragukan dari para pemain yang belum berpengalaman. Guard Oklahoma City Thunder, Shai Gilgeous-Alexander, misalnya. Shai memang menjadikan Thunder tim terbaik di Wilayah Barat dengan rekor cemerlang 68-14. Namun, pengalamannya belum terbukti di playoff.

Shai baru memainkan empat seri playoff sepanjang karier dengan total 23 laga. Pemain 26 tahun itu paling jauh hanya melangkah sampai semifinal wilayah. Pertanyaannya, apakah dia mampu mengangkat Thunder yang merupakan tim termuda di liga dan baru dua kali lolos playoff dalam lima musim terakhir?

Pemain tim Kanada Shai Gilgeous Alexander (kanan) berhadapan dengan pemain tim Spanyol Alberto Diaz (kiri) dalam laga babak penyisihan Piala Dunia FIBA 2023 di Stadion Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (3/9/2023). Tim Kanada menyingkirkan tim juara Piala Dunia FIBA 2019 yaitu tim Spanyol dengan keunggulan 88-85. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 3-9-2023

Bayangkan, jika Anda tersesat di hutan belantara dan bertemu dengan dua orang. Orang pertama tampak atletis dan masih muda, tetapi tidak mengetahui medan yang harus dilalui. Orang kedua sudah tua dan renta, tetapi setiap hari berburu di hutan. Siapa yang akan dipercaya untuk membawa Anda keluar dari hutan?

Pengalaman sangat penting, itu mengapa banyak pemain hebat yang baru bisa juara setelah bermusim-musim gagal di playoff. Mulai dari legenda hidup Chicago Bulls, Michael Jordan; James; hingga terbaru bintang Boston Celtics, Jayson Tatum. Tidak banyak yang seperti Curry mampu juara dengan pengalaman sangat minim di playoff.

Walaupun tidak sering, itu pernah terjadi. Thunder, dipimpin Shai, akan berupaya mengulangi kisah Curry di Warriors. Mereka akan mencari relevansi antara status unggulan di klasemen musim reguler dan performa di playoff. Rekor kemenangan Thunder, 82,9 persen, terlalu spesial untuk tidak berprestasi.

Hanya enam klub sepanjang sejarah, selain Thunder, yang bisa mencatatkan rekor kemenangan minimal 82,9 persen di musim reguler. Semuanya lolos ke final wilayah dan empat tim berhasil juara. Pembuktian tuah musim reguler tersebut kini ada di genggaman Thunder sepenuhnya. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .