Remontada memang tidak ada di Bernabeu. Akan tetapi, ada fenomena anomali terbaru yang semakin terbukti di Liga Champions setelah kejatuhan Real Madrid.
18 Apr 2025 19:11 WIB · Olahraga
Remontada, istilah bahasa Spanyol yang berarti membalikkan keadaan. Istilah itu menjadi kata yang tersering muncul di jagat sepak bola dalam sepekan terakhir. Bermula dari pesan ancaman Real Madrid kepada Arsenal, remontada berujung menjadi sebatas olok-olokan. Makna berubah seusai antiklimaks di Stadion Santiago Bernabeu.
Wajar jika Madrid begitu percaya diri bisa memutar balik ketertinggalan 0-3 pada laga kedua perempat final Liga Champions, Kamis (17/4/2025) dini hari WIB. Mereka adalah tim tersukses di kompetisi, sering dijuluki Raja Eropa. Sejarah klub juga ditopang kisah-kisah remontada yang menyarukan dunia nyata dan khayal.
Namun, realitas berkata lain. Remontada tidak ada di Bernabeu. Mereka justru dikalahkan sekali lagi oleh Arsenal. Kalimat bijak Pelatih Carlo Ancelotti bisa sedikit menjelaskan antiklimaks tersebut. ”Kami sudah sering bahagia, tetapi tidak hari ini. Di sepak bola, Anda harus menderita sesekali. Tidak mungkin tidak terkalahkan,” tuturnya.
Menariknya, kejatuhan Madrid tidak berdiri sendiri. Banyak tim lain yang bernasib serupa. Mereka hanya mempertebal bukti terhadap anomali baru di Liga Champions. Bahwa, keuntungan lebih bermain sebagai tim kandang di laga kedua babak gugur sudah tidak relevan. Mitos lama tersebut memudar pada musim ini.
Sebanyak 12 seri laga telah dimainkan sejak babak 16 besar sampai perempat final. Separuh di antara itu, tim yang mendapatkan keuntungan kandang di laga kedua membawa hasil imbang ataupun tertinggal. Tidak satu tim pun yang mampu membalikkan keadaan dan lolos pada laga penentu di depan publik sendiri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/17/687413591fbaf495560da6571b4f0e98-wires_photo_3_.jpg)
Semua tim yang memastikan kelolosan di kandang juga karena mampu unggul lebih dulu sejak laga pertama. Contohnya dari salah satu laga perempat final. Inter Milan yang menang atas Bayern Muenchen 2-1 saat bertamu pada laga pertama, lalu bermain imbang 2-2 di Stadion San Siro dalam partai penentu.
Alih-alih membalikkan keadaan, ada tim yang justru kehilangan posisi unggul di kandang. Tim itu adalah Liverpool. Mereka membawa pulang keunggulan 1-0 ke Stadion Anfield di babak 16 besar versus Paris Saint-Germain. Di stadion yang terkenal angker itu, ”Si Merah” justru tereliminasi setelah kalah adu penalti.
Realitas itu sangat kontras jika dibandingkan hasil babak 16 besar dan perempat final musim lalu. Sebanyak delapan tim berhasil lolos dalam laga penentu di kandang setelah imbang atau tertinggal pada laga pertama. Salah satunya adalah Madrid yang menang adu penalti atas Manchester City dalam perempat final di Bernabeu.
Madrid kembali memanfaatkan keuntungan kandang itu di semifinal, versus Bayern Muenchen. Sempat tertinggal agregat 2-3 hingga dua menit tersisa di Bernabeu, mereka berbalik unggul lewat dua gol beruntun Joselu. Kisah-kisah remontada itu berujung manis karena tim asuhan Ancelotti keluar sebagai juara pada akhir turnamen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/09/19351cb2-aa91-4583-a06d-2986ad849a31_jpg.jpg)
Mitos keuntungan kandang sudah menjadi kepercayaan di Liga Champions sejak lama. Akibat itu pula, tim dengan peringkat lebih baik di babak grup akan mendapatkan keuntungan bermain di kandang pada laga kedua babak 16 besar. Dipercaya, kemungkinan bangkit dari kondisi tertinggal akan lebih besar jika di rumah sendiri.
Beberapa faktor berpengaruh terhadap kehancuran mitos. Salah satu dan yang paling banyak terjadi, tim yang mendapatkan jatah pertama bermain di kandang sudah menang besar. Mereka habis-habisan dengan mencetak gol sebanyak mungkin agar sulit dikejar, seperti Arsenal (versus Madrid) dan Barcelona (4-0, versus Borussia Dortmund).
Declan Rice, gelandang Arsenal, berkata, awalnya mereka juga kalut dalam rasa ragu sebelum bertandang ke Bernabeu. Namun, kemenangan 3-0 di kandang mengubah segalanya. ”Kami punya keyakinan dan kepercayaan diri besar setelah itu. Kami meyakini bisa datang ke sana dan menang,” ujarnya.
Pendekatan strategi turut berpengaruh. PSG, misalnya, yang menaklukkan Aston Villa di perempat final. Walaupun sudah unggul 3-1 di kandang, mereka tetap menyerang saat bertandang. Hasilnya PSG sempat unggul 2-0 di markas Villa sebelum dibalas tiga gol. Tanpa strategi berani dan gol tambahan, mereka mustahil lolos ke semifinal.
Di sisi lain, banyak tim mulai menyadari betapa penting tampil maksimal dalam dua laga kandang dan tandang sekaligus. Inter merupakan tim yang paling menikmati ketika harus bertandang di laga pertama. Mereka sukses mencuri kemenangan tandang beruntun, di 16 besar (versus Feyenoord) dan di perempat final (versus Bayern).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/17/0dfac06cd92b404bef3af5094b0ad4e2-cropped_image.jpg)
Pelatih Kepala Inter Simone Inzaghi menilai, hasil positif versus Bayern terwujud berkat konsistensi di dua laga. Momentum kemenangan diraih di laga pertama dengan tidak bermain aman saat bertandang, lalu diteruskan di kandang. ”Kami memainkan dua laga yang hebat dengan memberikan segala hal yang kami punya,” katanya.
Alhasil, anomali pada musim ini tersebut memberikan gambaran tentang betapa penting laga pertama di semifinal nanti. Skuad Arsenal (versus PSG) dan Barca (versus Inter) agaknya bisa sedikit tersenyum mengingat keduanya akan menjamu tim lawan terlebih dahulu dalam duel perebutan tiket ke partai puncak. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar