MRT Jakarta menapaki usia enam tahun dengan mimpi besar menyatukan kota.
25 Mar 2025 08:57 WIB · Metro
Enam tahun lalu, perjalanan bersama Ratangga—nama kereta moda raya terpadu atau MRT Jakarta—menandai babak baru dalam peradaban Indonesia. Transportasi modern bukan mimpi dan terus berkembang pesat untuk menyatukan kota.
”Terima kasih Teman MRT telah 6 tahun bersama meramaikan perjalanan menyatukan kota. Bersama kalian perjalanan ini menjadi lebih bermakna. Tanpa kalian, Ratangga hanyalah kereta kosong yang pulang pergi dari Lebak Bulus sampai Bundaran HI,” bunyi salah satu unggahan Instagram @mrtjkt pada Senin (24/3/2025).
Perjalanan untuk menyatukan kota ini dimulai sejak MRT Jakarta resmi beroperasi 24 Maret 2019. Enam tahun berselang, angkutan berbasis rel ini menjadi salah satu urat nadi transportasi dari selatan ke dalam kota Jakarta.
Layanannya diminati karena kecepatan perjalanan, kenyamanan, ketepatan waktu, dan bebas macet. Minat tersebut selaras dengan jumlah penumpang hingga 40,82 juta orang pada tahun 2024. Jika dirata-ratakan, setiap harinya Ratangga mengangkut 111.534 penumpang.
Tanaya (27), karyawan swasta di Jakarta Selatan, adalah satu dari sekian juta penumpang MRT Jakarta. Ia telah menggunakan moda ini sejak uji coba tahun 2019.
Selama enam tahun, perjalanan pergi dan pulang kantor dengan Ratangga didominasi pengalaman baik. ”Jadwalnya tidak molor berdasarkan pengalaman saya, juga nyaman karena ada area komersial di stasiun,” ujarnya pada Selasa (25/3/2025).
Sekalipun puas, ia punya dua masukan untuk menambah kenyamanan Teman MRT. Pertama, peninjauan ulang alur penumpang di beberapa stasiun yang hanya memiliki satu jalur masuk dan keluar. Tujuannya mengurangi kepadatan dan lebih jauh memutar.
Kedua, integrasi kartu elektronik dengan Jaklingko. Ini sangat membantu, terutama bagi pengguna yang mengandalkan MRT Jakarta, tetapi memiliki keterbatasan dana.
”Mungkin program ini dapat dipertimbangkan kembali agar akses MRT semakin inklusif dan terjangkau bagi semua kalangan,” ujar Tanaya.
Pendapat serupa diutarakan Nisrina (28). Ia tak hanya menggunakan MRT Jakarta untuk pergi dan pulang kerja, tetapi juga bepergian ke berbagai tempat di Jakarta.
”Hampir enggak pernah ada perasaan waswas meskipun dalam kondisi Ratangga yang penuh. Rasanya bisa menjadi transportasi yang aman, khususnya untuk perempuan,” ucapnya.
Bagi Nisrina, ketertiban Teman MRT, mulai dari antrean tap in-tap out hingga dalam gerbong tiada tandingannya. Standar ini seharusnya diterapkan di semua moda transportasi umum.
”Semoga MRT Jakarta fase-fase lainnya segera rampung, jadi semakin bisa mengurai kepadatan di transportasi lain dan penumpang semakin punya banyak opsi transportasi,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/25/ea61277a-0bcf-3392-be80-3c09cd4f6f6f_jpg.jpg)
Pemerintah meresmikan operasional MRT Jakarta enam tahun lalu. Peresmian ini menandai era baru transportasi perkotaan berbasis rel setelah penantian lebih dari 30 tahun (Kompas, 25/3/2019).
Fase 1 Lebak Bulus ke Bundaran HI sepanjang 16 km mencakup jalur layang dan bawah tanah. Sejak beroperasi, jumlah penumpang terus meningkat, terutama setelah pandemi Covid-19 mereda.
Menurut laporan MRT Jakarta Annual Report 2023, rata-rata jumlah penumpang Fase 1 mencapai 91.771 orang setiap harinya. Capaian ini naik signifikan dari tahun 2022 dengan rata-rata 54.181 orang per hari.
Sementara pada 2019, jumlah pengguna harian mencapai 89.645 orang. Lalu turun ke 27.122 orang tahun 2020 dan 19.659 orang pada 2021.
Kenaikan penumpang mulai 2022 hingga 2024 membuat manajemen menargetkan 115.000 penumpang per hari untuk tahun 2025. Target ini mulai menunjukkan hasil per Februari lalu.
Manajemen mencatat jumlah pengguna mencapai 143.180 orang pada hari kerja dan sebanyak 77.525 orang saat akhir pekan. Jumlah ini naik dibandingkan dengan Januari dengan 135.988 penumpang per hari.
Tren tersebut juga selaras dengan indeks kepuasan pelanggan (customer satisfaction index/CSI) MRT Jakarta. Tahun 2024, skornya sebesar 89,16 atau masuk kategori mutu kinerja sangat baik.
Skor ini bertambah 0,65 poin dari tahun 2023 (88,51). Alasan utama pelanggan memilih MRT Jakarta ialah kecepatan perjalanan (80 persen), kenyamanan (76 persen), ketepatan waktu (76 persen), dan bebas macet (73 persen).
Kendati begitu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyoroti sejumlah tantangan pengembangan MRT Jakarta saat peninjauan akhir Februari lalu.
Salah satunya ialah kesemrawutan lahan parkir sepeda motor di Pasar Jumat dekat Stasiun Lebak Bulus. Lahan parkir ini bakal direnovasi agar mampu menampung warga dari selatan Jakarta sebelum masuk ke dalam kota.
Sejumlah pengguna kepada Rano mengeluhkan gerbang tap-in dan tap-out yang terkadang macet. Kemudian, meminta peningkatan akses bagi warga disabilitas.
”MRT Jakarta sudah punya masterplan. Kami tidak khawatir meskipun ada tantangan lain di proyek MRT Fase 2A Thamrin ke Kota,” kata Rano.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/17/2d8903a9-d2f9-48f6-b53f-8bb4b93edc72_jpg.jpg)
MRT Jakarta Fase 2A Thamrin ke Kota terdiri dari tujuh stasiun. Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota yang membentang sepanjang 5,8 kilometer di bawah tanah.
Progres proyeknya per 25 Februari ini meliputi CP201 Stasiun Thamrin–Monas sebesar 86,18 persen, konstruksi CP202 Stasiun Harmoni–Sawah Besar–Mangga Besar mencapai 47,81 persen, CP203 Stasiun Glodok–Kota 69,55 persen, dan CP205 sistem perkeretaapian dan rel 12,09 persen.
Untuk segmen 1 Bundaran HI–Harmoni ditargetkan selesai pada 2027. Sementara segmen 2 Harmoni–Kota akan rampung pada 2029.
Selain Fase 2A, pada 11 September 2024, pemerintah mencanangkan peletakan batu pertama pembangunan MRT Timur-Barat Fase 1 Tahap 1 di proyek Stasiun MRT MH Thamrin, Jakarta.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/25/7c112521-a2b2-439e-afa3-cb1ecee19c47_png.png)
Fase 1 Tahap 1 ini sepanjang 24,5 kilometer dari Medan Satria di Bekasi, Jawa Barat, sampai ke Tomang, Jakarta. Rute ini bagian dari keseluruhan Lintas Timur-Barat sepanjang 84,1 kilometer, dari Cikarang, Kabupaten Bekasi di Jawa Barat, hingga Balaraja, Kabupaten Tangerang di Banten.
Gubernur Banten Andra Soni mengutarakan harapannya agar MRT bisa diperpanjang dari Lebak Bulus ke Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Ini merupakan kelanjutan dari wacana tahun 2019.
Sayangnya, niatan itu terbentur belum ada kepastian kucuran anggaran dari pemerintah daerah setempat. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang setuju dengan perpanjangan itu menyebut bahwa perlu ada kajian lebih lanjut bersama pemerintah pusat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/01/7403ec91-61ca-40cd-b222-abf99c06ba99_jpg.jpg)
Perkembangan MRT Jakarta bukan tanpa ganjalan. Ada tantangan besar dalam hal integrasi antarmoda.
Ketua Inisiatif Strategis Transportasi (Instran) Budi Susandi mencontohkan kurang optimalnya integrasi layanan MRT Jakarta dengan moda berbasis bus di beberapa titik keluar stasiun, seperti kawasan Sudirman-Thamrin. Alhasil, ojek menjadi andalan meskipun harus menambah ongkos transportasi.
Sebagai solusi, disediakan layanan bus pengumpan yang terintegrasi dengan MRT Jakarta sehingga pengguna tidak perlu beralih ke ojek. Bus ini bisa berukuran kecil atau sedang.
Selain itu, integrasi waktu tunggu dan ketersediaan armada. Integrasi ini fokus pada penyelarasan jadwal dan waktu tunggu antara MRT, LRT, BRT, KRL, dan angkot.
Hal tersebut juga ditunjang sistem tiket terpadu yang mencakup semua moda transportasi umum. Dengan demikian, memungkinkan perjalanan berbagai moda secara real time dan pengguna tak perlu memiliki aplikasi terpisah dari tiap operator angkutan.
Integrasi juga sempat menjadi polemik. Hal ini mengemuka setelah muncul wacana menghapus Koridor 1 dan 2 Transjakarta ketika MRT Jakarta Fase 2A Thamrin ke Kota beroperasi.
Dalam kurun enam tahun, MRT Jakarta telah menjadi andalan bagi banyak warga. Namun, layanannya tidak bisa berjalan sendiri karena butuh integrasi dengan moda transportasi umum lain untuk benar-benar menyatukan kota.
Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia justru menyarankan fasilitas integrasi yang inklusif antara stasiun MRT Jakarta dengan stasiun dan halte transportasi umum lainnya. Paling dekat bisa dimulai dari Fase 2A Thamrin ke Kota yang sedang dalam tahap konstruksi.
Seluruh halte dan stasiun di Fase 2A ini terhubung langsung atau tersedia koneksi langsung. Sementara untuk Fase 1 menyesuaikan kondisi lapangan.
Sebagai contoh, Bundaran HI terintegrasi langsung dengan Stasiun MRT Bundaran HI. Kemudian, Dukuh Atas 1 dan 2 terhubung dengan Stasiun MRT Dukuh Atas melalui konsep integrasi kawasan.
Lain lagi dengan Blok A Petogogan dan Stasiun MRT Blok A. Keduanya terhubung lewat busway atau area khusus bus. Ini juga berlaku di Jalan Haji Nawi Raya dan Stasiun MRT Haji Nawi.
Dalam kurun enam tahun, MRT Jakarta telah menjadi andalan bagi banyak warga. Namun, layanannya tidak bisa berjalan sendiri karena butuh integrasi dengan moda transportasi umum lain untuk benar-benar menyatukan kota.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .