Menjauh dari Kejaran Manchester City, Arsenal Pegang Kendali Persaingan Gelar

Di tengah tuduhan memainkan sepak bola yang buruk, Arsenal berhasil menjauh dari kejaran Manchester City setelah memetik kemenangan krusial 1-0 atas Brighton.

05 Mar 2026 14:01 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Prasetyo Eko Prihananto

BRIGHTON, KAMIS — Asenal tak peduli. Memasuki masa krusial pekan-pekan terakhir Liga Inggris, hanya tiga poinlah yang penting. Soal tuduhan bermain buruk dan membosankan akan hilang dengan sendirinya ketika trofi ada dalam genggaman.

Arsenal menjauh dari kejaran Manchester City setelah meraih kemenangan tipis 1-0 atas tuan rumah Brighton and Hove Albion, Kamis (5/2/2026) dini hari WIB. Meriam London pun mampu memperlebar jarak dalam persaingan gelar menjadi tujuh poin, memanfaatkan terpelesetnya Manchester City yang ditahan imbang Nottingham Forest, 2-2, di kandang sendiri.

Pasukan Mikel Arteta pun mengambil kendali persaingan gelar. Jika sebelum laga terakhir nasib juara bukan di tangan mereka sendiri, kali ini telah kembali dalam genggaman. Sebelumnya, City bisa juara jika berhasil memenangi seluruh laga sisa, termasuk satu kali lawan Arsenal. Kini, tidak lagi.

Jika City memenangi seluruh sembilan laga sisa, termasuk lawan Arsenal pada 19 April mendatang, City maksimal hanya mampu meraih maksimal 87 poin. Sementara meski ”Meriam London” kalah dari City, tetapi memenangi tujuh laga sisa lainnya, mereka tetap juara dengan 88 poin.

Kemenangan penting Arsenal ini ditentukan melalui gol semata wayang penyerang sayap Bukayo Saka pada menit ke-9. Selepas itu, Arsenal berusaha mati-matian agar tidak kebobolan yang kemudian memunculkan tuduhan dari Pelatih Brighton Fabian Hurzeler, mereka tidak berniat bermain bola.

Penyerang Arsenal, Bukayo Saka (kiri), berebut bola dengan bek Brighton, Ferdi Kadioglu, pada laga Liga Inggris di Brighton, Kamis (5/3/2026) dini hari WIB.

Kontras dengan gaya permainan indah saat Arsenal menjadi juara 22 tahun lalu tanpa terkalahkan dalam satu musim, permainan Declan Rice dan kawan-kawan lebih banyak mengandalkan permainan bola mati dan pertahanan gerendel.

Kritik terhadap taktik ”hitam” tersebut pun terus merebak, termasuk terakhir ucapan Hurzeler yang menuduh para pemain Arsenal membuang-buang waktu dengan terus pura-pura cedera setelah unggul. Hurzeler sangat kesal karena para pemain Arsenal sering menunda memulai laga saat tendangan bebas, misalnya.

Kiper David Raya juga tiga kali jatuh di lapangan dan membutuhkan perawatan medis, yang memunculkan tuduhan ia hanya pura-pura, demi memberi kesempatan kepada Arteta untuk memberikan instruksi taktik kepada para pemain lainnya. ”Saya kira hanya satu tim yang ingin bermain bola hari ini. Apakah Anda pernah melihat laga Liga Primer di mana kiper jatuh begitu sering? Tidak!” kata Hurzeler.

Menurut Hurzeler, Arteta menghalalkan segala cara untuk memenangi laga. ”Mereka membuat aturan sendiri. Saat ini, saya punya perasaan mereka memiliki aturan sendiri. Saya tidak akan menjadi seorang manajer yang mencoba memenangi laga dengan cara seperti itu,” tandas Hurzeler.

Britain Premier League Soccer

Ketika ditanya apakah ia memikirkan perasaan pelatih lain, Arteta hanya menjawab singkat, ”Tak ada komentar.”

Dengan kata lain, Arteta tidak peduli dengan perasaan manajer lain. Apalagi menurut pelatih asal Spanyol ini, para pemainnya memang pantas memenangi laga karena telah berjuang keras.

Arteta menegaskan, para pemain Arsenal perlu mendapat pujian karena kembali berhasil memenangi pertandingan yang sangat krusial. ”Betapa mengejutkan. Jika Anda melihat kembali pertandingan-pertandingan sebelumnya, Anda akan banyak menemukan komentar seperti itu, selalu,” kata Arteta ketika diinformasikan soal komentar Hurzeler.

”Saya mencintai para pemain. Itu yang penting. Saya mencintai para pemain dan bagaimana kami bertarung. Ketika Anda dalam posisi seperti kami, tentu saja lawan ingin mengambil sesuatu dari Anda. Itu normal, itulah olahraga,” ujar Arteta.

Arsenal mampu meraup banyak poin meski tidak bermain dengan gaya sepak bola yang indah. Namun, Arteta tidak peduli asalkan mereka masih bisa bersaing untuk meraih quadruple musim ini.

Arsenal masih berpeluang merebut gelar di semua kompetisi. Selain Liga Primer, mereka masih bisa merebut gelar Piala FA, Piala Liga Inggris, dan Liga Champions.

Britain Premier League Soccer

City sendiri harus meratapi nasib mereka ketika hanya mampu bermain imbang saat menjamu tim papan bawah Forest. Pasukan Pep Guardiola mendominasi pertandingan dan seharusnya bisa merayakan kemenangan kelima beruntun di liga, tetapi mereka justru dua kali membuang keunggulan.

Penyerang Antoine Semenyo membawa City unggul pada menit ke-21, tetapi Morgan Gibbs-White menyamakan kedudukan pada menit ke-56. Hanya enam menit kemudian, gol Rodri kembali membawa tuan rumah unggul. Akan tetapi, City melepas kemenangan setelah Elliot Anderson menyamakan kedudukan.

Meski kehilangan dua poin, Guardiola tetap optimistis dalam persaingan perebutan gelar. ”Masih banyak laga dimainkan, mereka satu laga lebih sedikit. Sekarang Newcastle (di Piala FA) dan saya selalu berpikir mengenai laga selanjutnya,” kata Guardioa.

”Jika kita menganalisis secara umum, itu adalah penampilan yang bagus. Tentu saja kita masih bisa lebih baik, tetapi secara umum bagus,” tambah Guardiola.

Sementara itu, Michael Carrick merasakan kekalahan pertamanya sebagai pelatih sementara Manchester United. Menghadapi tuan rumah Newcastle United yang harus bermain dengan 10 pemain selama babak kedua karena kartu merah Jacob Ramsey, MU justru kalah 1-2.

(AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar