Hingga pertengahan tahun 2000, minyak tanah masih digunakan sebagian besar masyarakat sebagai bahan bakar utama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pemerintah kemudian menggulirkan program konversi minyak tanah ke elpiji mulai 2007.
05 Nov 2025 08:13 WIB · Ekonomi & Bisnis
Kompas/Johnny TG
”Nyakk, minyakkk.” Suara nyaring yang dilontarkan tukang minyak keliling itu mungkin akrab di telinga warga yang tinggal di perumahan ataupun perkampungan di sejumlah kota di Indonesia hingga dua dekade lalu.
Dengan mendorong gerobak yang memuat sejumlah jeriken berisi minyak tanah, para tukang minyak itu berkeliling ke sejumlah kawasan permukiman. Satu gerobak biasanya berisi 10-12 jeriken. Selain menggunakan gerobak, ada juga tukang minyak yang berkeliling memakai sepeda.
Kehadiran tukang minyak keliling itu membantu warga mendapatkan minyak tanah yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/8c4b872c-868f-4b24-9fe1-749a7e34aec1_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/78b4e3dd-f6fe-4974-ab0d-63d9dac5e653_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/2c7aa837-073b-4db9-8af6-fe90245763ee_jpg.jpg)
Hingga pertengahan tahun 2000, minyak tanah masih digunakan oleh sebagian besar masyarakat sebagai bahan bakar utama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Selama itu pula pemerintah memberikan subsidi harga untuk minyak tanah. Kebijakan yang telah berlangsung bertahun-tahun itu membebani keuangan negara.
Pemerintah kemudian menggulirkan program konversi minyak tanah ke elpiji yang dimulai pada tahun 2007.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/dbde9051-f0b5-4f22-9106-046f0bbbf950_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/5c0a415a-a137-4776-b996-613d619d6503_jpg.jpg)
Mengutip laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), konsumsi minyak tanah sebelum dilakukan konversi mencapai sekitar 12 juta kiloliter per tahun.
Saat itu besaran subsidi mencapai sekitar Rp 25 triliun (angka ini menyesuaikan dengan perubahan basis asumsi harga minyak mentah dunia maupun volume).
Sementara berdasarkan profil pengguna, konsumsi minyak tanah adalah sekitar 10 persen golongan sangat miskin, 10 persen golongan miskin, 50 persen golongan menengah, dan 20 persen golongan mampu. Golongan menengah dan mampu masih banyak yang mengonsumsi minyak tanah bersubsidi dengan bermacam alasan.
Subsidi harga minyak tanah pada akhirnya juga dianggap tidak tepat sasaran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/294b778e-6655-4f6b-97d7-49ea04340111_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/0e67ee74-3e9d-4c1d-aaea-aa9bc46f3f63_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/e9025e39-ce02-4b2f-9584-8d8e41c84216_jpg.jpg)
Salah satu program yang mulai dilakukan sebelum dilakukan konversi adalah penarikan kompor minyak tanah untuk digantikan dengan kompor elpiji. Tujuannya adalah mempercepat proses konversi minyak tanah ke elpiji.
Menurut Direktur Bahan Bakar Minyak Badan Pengatur Kegiatan Hilir Migas Adi Subagyo, penarikan kompor minyak tanah secara bertahap dilakukan agar masyarakat secara perlahan beralih ke elpiji.
Elpiji dipandang sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah yang lebih murah karena dari segi panas yang dihasilkan lebih tinggi daripada minyak tanah.
”Kalau dibandingkan, 1 kilogram elpiji setara dengan 3-4 liter minyak tanah,” kata Adi Subagyo (Kompas, 9 Mei 2006).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/3d0ee870-ca7e-4c7e-8f03-ced7af2c7204_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/86885525-9723-48f1-9541-5d1f3afdcd40_jpg.jpg)
Hingga awal 2006, berdasarkan data Pertamina, konsumsi elpiji mencapai sekitar 1,08 juta kilogram per tahun, dengan harga jual Rp 4.250 per kilogram.
Salah satu kendala terkait konsumsi elpiji saat itu adalah harga kemasan elpiji dalam tabung isi 12,5 kilogram yang terlalu mahal untuk masyarakat golongan menengah bawah.
Oleh karena itu, kemasan elpiji kemudian disiapkan untuk dijual dalam tabung kecil isi 3-4 kilogram agar lebih murah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/8163f651-2357-4be3-9854-39dd218932a0_jpg.jpg)
Namun, tentu saja kebijakan konversi ini tidak mudah dijalankan. Mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah puluhan tahun dan diwariskan dari generasi ke generasi menggunakan minyak tanah untuk beralih ke elpiji tidak sekadar hitung-hitungan teknis di lapangan, tetapi juga banyak dipengaruhi oleh aspek sosial dan kultur.
Tidak hanya penolakan, tetapi juga timbul kekhawatiran di masyarakat. Misalnya apakah elpiji ini aman digunakan, bagaimana memperolehnya, dan apakah harganya terjangkau.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/8ad04d07-1c41-43ba-99d6-59c7c37ba3b7_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/84f24d08-91ab-443f-b444-83bae8163c6e_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/80572dca-48cc-4ae3-bcc7-5267136f5dd8_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/7258f3d5-4b1e-4061-bb82-bb35746ebe0b_jpg.jpg)
Selama ini masyarakat telanjur terbiasa dan nyaman menggunakan minyak tanah, baik untuk memasak maupun kebutuhan lainnya. Di sejumlah daerah, minyak tanah juga masih digunakan sebagai bahan bakar untuk lampu penerang.
Penggunaannya juga dirasa cukup mudah, tinggal dituang ke kompor atau lampu minyak. Memperolehnya pun gampang, jika malas ke warung pengecer atau agen, tinggal menunggu di rumah saat tukang minyak keliling datang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/2dc35791-7792-492e-add4-5f2f7008ace1_jpg.jpg)
Tahun-tahun pertama program konversi ini menjadi tantangan yang berat, mulai dari penyediaan kompor untuk program konversi, distribusi elpiji yang seret, hingga demonstrasi penolakan program konversi.
Program konversi minyak tanah ke elpiji ini dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, serta Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2007 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga LPG Tabung 3 Kilogram.
Pada tahap pertama, sasaran konversi ialah rumah tangga dan usaha mikro yang masih memasak dengan bantuan minyak tanah serta belum memiliki kompor gas.
Sejak mulai dilaksanakan tahun 2007 hingga menjelang akhir 2010, pemerintah telah mendistribusikan paket perdana yang terdiri dari kompor elpiji dan aksesori serta tabung elpiji sebanyak 44,6 juta paket konversi kepada rumah tangga dan rumah tangga yang berhak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/a2cf9d3f-bc53-4226-88fc-256ae0b8a980_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/04/c99e3488-2ec9-41c9-880c-6fa9ac63b975_jpg.jpg)
Selain faktor ekonomi, konversi minyak tanah ke elpiji juga memberikan dampak lain berupa pemakaian energi bersih dan ramah lingkungan.
Hingga sekarang elpiji masih digunakan sebagai bahan bakar utama untuk kebutuhan rumah tangga.
Penulis:
Raditya Helabumi JayakarnaEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Amin IskandarFoto:
AP Susetyo Wijatmoko