Arsip Foto ”Kompas”: Akhir Era Minyak Tanah

Hingga pertengahan tahun 2000, minyak tanah masih digunakan sebagian besar masyarakat sebagai bahan bakar utama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pemerintah kemudian menggulirkan program konversi minyak tanah ke elpiji mulai 2007.

05 Nov 2025 08:13 WIB · Ekonomi & Bisnis

Kompas/Johnny TG

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

”Nyakk, minyakkk.” Suara nyaring yang dilontarkan tukang minyak keliling itu mungkin akrab di telinga warga yang tinggal di perumahan ataupun perkampungan di sejumlah kota di Indonesia hingga dua dekade lalu.

Dengan mendorong gerobak yang memuat sejumlah jeriken berisi minyak tanah, para tukang minyak itu berkeliling ke sejumlah kawasan permukiman. Satu gerobak biasanya berisi 10-12 jeriken. Selain menggunakan gerobak, ada juga tukang minyak yang berkeliling memakai sepeda.

Kehadiran tukang minyak keliling itu membantu warga mendapatkan minyak tanah yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak.

Tukang minyak tanah keliling menunggu mobil tangki Pertamina yang membawa stok minyak tanah di salah satu pangkalan minyak tanah di Jakarta. 21 September 1973
Penjual minyak tanah keliling di Jakarta. 23 Februari 1993
Mobil bak terbuka yang membawa jeriken minyak tanah untuk dikirimkan ke rumah pelanggan sedang melakukan pengisian di salah satu pangkalan minyak tanah di Jakarta. 7 April 1979

Hingga pertengahan tahun 2000, minyak tanah masih digunakan oleh sebagian besar masyarakat sebagai bahan bakar utama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Selama itu pula pemerintah memberikan subsidi harga untuk minyak tanah. Kebijakan yang telah berlangsung bertahun-tahun itu membebani keuangan negara.

Pemerintah kemudian menggulirkan program konversi minyak tanah ke elpiji yang dimulai pada tahun 2007.

Berita Kompas terbit 7 Mei 2006
Para pedagang minyak tanah keliling eceran sibuk mengisi kaleng jeriken mereka di salah satu pangkalan di Jakarta. 30 September 2000

Mengutip laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), konsumsi minyak tanah sebelum dilakukan konversi mencapai sekitar 12 juta kiloliter per tahun.

Saat itu besaran subsidi mencapai sekitar Rp 25 triliun (angka ini menyesuaikan dengan perubahan basis asumsi harga minyak mentah dunia maupun volume).

Sementara berdasarkan profil pengguna, konsumsi minyak tanah adalah sekitar 10 persen golongan sangat miskin, 10 persen golongan miskin, 50 persen golongan menengah, dan 20 persen golongan mampu. Golongan menengah dan mampu masih banyak yang mengonsumsi minyak tanah bersubsidi dengan bermacam alasan.

Subsidi harga minyak tanah pada akhirnya juga dianggap tidak tepat sasaran.

Mobil-mobil pick up milik Gapermigas (Gabungan Perusahaan Minyak dan Gas Bumi) bersiap mengantar minyak tanah ke rumah-rumah. Mobil-mobil ini menjadi ujung tombak penjualan minyak tanah ke masyarakat. Penjualan dilakukan dengan menggunakan jerigen. 30 Juli 1974
Pangkalan minyak tanah di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. 30 Agustus 1974
Pedagang kompor minyak di kawasan Jalan Dewi Sartika, Jakarta. Kompor minyak tanah bersumbu 20 harganya Rp 4.000 sedangkan yang bersumbu 40 dijual Rp 17.500. 30 April 1987

Salah satu program yang mulai dilakukan sebelum dilakukan konversi adalah penarikan kompor minyak tanah untuk digantikan dengan kompor elpiji. Tujuannya adalah mempercepat proses konversi minyak tanah ke elpiji.

Menurut Direktur Bahan Bakar Minyak Badan Pengatur Kegiatan Hilir Migas Adi Subagyo, penarikan kompor minyak tanah secara bertahap dilakukan agar masyarakat secara perlahan beralih ke elpiji.

Elpiji dipandang sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah yang lebih murah karena dari segi panas yang dihasilkan lebih tinggi daripada minyak tanah.

”Kalau dibandingkan, 1 kilogram elpiji setara dengan 3-4 liter minyak tanah,” kata Adi Subagyo (Kompas, 9 Mei 2006).

comparison left
comparison right
before-after-arrow

Hingga awal 2006, berdasarkan data Pertamina, konsumsi elpiji mencapai sekitar 1,08 juta kilogram per tahun, dengan harga jual Rp 4.250 per kilogram.

Salah satu kendala terkait konsumsi elpiji saat itu adalah harga kemasan elpiji dalam tabung isi 12,5 kilogram yang terlalu mahal untuk masyarakat golongan menengah bawah.

Oleh karena itu, kemasan elpiji kemudian disiapkan untuk dijual dalam tabung kecil isi 3-4 kilogram agar lebih murah.

Berita Kompas terbit 9 Desember 2006

Namun, tentu saja kebijakan konversi ini tidak mudah dijalankan. Mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah puluhan tahun dan diwariskan dari generasi ke generasi menggunakan minyak tanah untuk beralih ke elpiji tidak sekadar hitung-hitungan teknis di lapangan, tetapi juga banyak dipengaruhi oleh aspek sosial dan kultur.

Tidak hanya penolakan, tetapi juga timbul kekhawatiran di masyarakat. Misalnya apakah elpiji ini aman digunakan, bagaimana memperolehnya, dan apakah harganya terjangkau.

Susana di salah satu perkampungan padat di Duri Kepa, Jakarta Barat. Tampak salah seorang warga memindahkan minyak tanah dari ember ke dalam jeriken. 2 Oktober 2000.
Warga menggunakan ember untuk menampung minyak tanah yang dibeli dengan harga Rp 430 per liter dalam operasi pasar di Jalan Kramat Pulo Gundul, Kelurahan Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. 5 Oktober 2000
Stok minyak tanah yang disimpan pada bak penampungan di salah satu pangkalan di Jakarta. 13 April 2001
Tasim tengah melayani pembeli yang datang ke pangkalan minyak tanah di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Harga jual eceran minyak tanah Rp 500/liter, sedangkan harga dari pangkalan minyak Rp 350/ liter. 29 Maret 2000.

Selama ini masyarakat telanjur terbiasa dan nyaman menggunakan minyak tanah, baik untuk memasak maupun kebutuhan lainnya. Di sejumlah daerah, minyak tanah juga masih digunakan sebagai bahan bakar untuk lampu penerang.

Penggunaannya juga dirasa cukup mudah, tinggal dituang ke kompor atau lampu minyak. Memperolehnya pun gampang, jika malas ke warung pengecer atau agen, tinggal menunggu di rumah saat tukang minyak keliling datang.

Kelangkaan minyak tanah terjadi di berbagai wilayah di Kota Jakarta, seperti terlihat di pangkalan minyak tanah di Jalan H Saba, Kelurahan Cipete Utara, Jakarta Selatan, Selasa (12/7/2005). Warga rela meninggalkan jeriken beberapa hari sebelumnya untuk mendapat jatah minyak tanah yang dijual Rp 900 per liter. Adapun harga jual minyak tanah di warung-warung pengecer mencapai Rp 2.000 per liter.

Tahun-tahun pertama program konversi ini menjadi tantangan yang berat, mulai dari penyediaan kompor untuk program konversi, distribusi elpiji yang seret, hingga demonstrasi penolakan program konversi.

Program konversi minyak tanah ke elpiji ini dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, serta Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2007 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga LPG Tabung 3 Kilogram.

Pada tahap pertama, sasaran konversi ialah rumah tangga dan usaha mikro yang masih memasak dengan bantuan minyak tanah serta belum memiliki kompor gas.

Warga yang masih menggunakan minyak tanah terpaksa harus selalu antre saat akan membeli minyak tanah, seperti terlihat di pangkalan minyak tanah di Jalan Nyamplungan. Surabaya, Jawa Timur, Kamis 24 April 2008. Program konversi minyak tanah ke elpiji yang masih belum merata membuat warga tetap bertahan untuk memakai minyak tanah. Adapun harga eceran minyak tanah mencapai Rp 3.000 per liter.
Guna mengatasi krisis minyak tanah yang terjadi secara menyeluruh di Provinsi Jambi sejak awal bulan puasa, Pertamina Jambi mulai Kamis 4 November 2004 melakukan operasi pasar minyak tanah ke masyarakat. Tampak pada foto kegiatan operasi pasar minyak tanah di Kelurahan Selamat, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi.
Warga membeli minyak tanah di salah satu pangkalan minyak tanah di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu 24 Maret 2004.
Antrean untuk membeli minyak tanah terlihat di pangkalan minyak tanah di Jalan Laksda Adi Sucipto, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu 21 September 2005. Para pembeli yang antre sejak pukul 08.00 baru mendapatkan minyak tanah setelah mobil tangki datang sekitar pukul 16.00.

Sejak mulai dilaksanakan tahun 2007 hingga menjelang akhir 2010, pemerintah telah mendistribusikan paket perdana yang terdiri dari kompor elpiji dan aksesori serta tabung elpiji sebanyak 44,6 juta paket konversi kepada rumah tangga dan rumah tangga yang berhak.

Karyawan Pertamina mengangkut tabung elpiji bersubsidi 3 kg di Elpiji Filling Plant, Tanjung Priok, Jakarta, Senin (14/5/2007). Hingga Mei 2007, Pertamina telah menyalurkan 54.800 tabung elpiji 3 kg untuk program konversi minyak tanah ke elpiji yang direncanakan pemerintah sebanyak 380 ribu.
Warga menerima tabung gas elpiji dan kompor saat peluncuran konversi minyak tanah ke elpiji di Lapangan Putro Agung, Surabaya, Jawa Timur, Senin (26/11/2007). Pertamina menargetkan pada tahun 2007 sebanyak 1,65 juta masyarakat Jawa Timur telah beralih menggunakan elpiji.

Selain faktor ekonomi, konversi minyak tanah ke elpiji juga memberikan dampak lain berupa pemakaian energi bersih dan ramah lingkungan.

Hingga sekarang elpiji masih digunakan sebagai bahan bakar utama untuk kebutuhan rumah tangga.


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar
 | 

Foto:

AP Susetyo Wijatmoko