Bus tingkat yang pertama kali didatangkan ke Jakarta tahun 1968 adalah Leyland Titan produksi Inggris.
26 Nov 2025 07:00 WIB · Metropolitan
Kompas/JB Suratno
Kehadiran bus tingkat turut mewarnai perjalanan transportasi perkotaan di Indonesia. Jejak pertama bus tingkat (double decker) di Indonesia bermula di Jakarta.
Pada pertengahan 1968, Pemerintah DKI Jakarta memutuskan mendatangkan bus tingkat yang diproduksi oleh Leyland, pabrikan bus asal Inggris yang juga memproduksi bus bertingkat yang beroperasi di London. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan transportasi massal yang memadai di tengah pertumbuhan kota Jakarta yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/988c5c7a-356c-421f-a6c6-59f1bd39fd09_jpg.jpg)
Bus tingkat yang pertama didatangkan adalah Leyland Titan dengan harga 18.510 dollar AS dan dibeli secara kredit. Bus yang diimpor tidak dalam bentuk utuh itu tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 10 Juli 1968.
Satu bus dalam bentuk CKD (completely knocked down) yang terbagi dalam 15 peti diangkut menggunakan kapal Adrastus dari perusahaan pelayaran Blue Funnel Line (Kompas, 30 Juli 1968).
Bus tingkat Leyland Titan ini memiliki beberapa ciri unik. Misalnya, bodinya yang tinggi dan panjang, mesinnya yang berada di depan, serta warna merah yang mencolok.
Selain itu, saat dilihat dari depan, posisi pengemudi yang berada di samping kanan mesin membuat tampilan bus seperti ada bagian yang terpotong atau ”coak”.
Bus ini memiliki dimensi panjang 9,50 meter, tinggi 4,45 meter, lebar 2,5 meter, dan mampu mengangkut hingga 83 penumpang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/9bd512a4-d931-466d-9ed3-b5009b55e82e_jpg.jpg)
Kehadiran bus tingkat ini tentu saja langsung menarik perhatian masyarakat saat itu. Dengan ukurannya yang tinggi dan warna merah, bus tingkat ini dijuluki ”Si Jangkung Merah”.
Karena waktu itu jumlahnya terbatas, tak jarang warga harus bersabar untuk dapat naik bus ini. Rute yang dilayani bus tingkat ini adalah Blok M-Lapangan Banteng. Dengan tarif Rp 50 waktu itu, bus tingkat ini menjadi primadona baru di jalanan Ibu Kota yang masih lengang.
Dalam sehari, bus yang memiliki 83 tempat duduk ini dapat mengangkut sekitar 1.500 penumpang dari 12 rit perjalanan Blok M-Lapangan Banteng. Pada Februari 1970 atau sekitar 17 bulan setelah bus tingkat beroperasi, hasil yang diperoleh telah cukup untuk melunasi pembelian bus.
Lewat dari satu dekade, generasi baru bus tingkat Leyland kembali didatangkan, yakni Leyland Atlantean. Bus ini menjadi generasi kedua bus tingkat yang beroperasi di Indonesia. Berbeda dengan Leyland Titan yang menempatkan posisi mesin di bagian depan, posisi mesin Leyland Atlantean berada di bagian belakang.
Bus yang mampu mengangkut 106 penumpang ini memiliki livery (warna bodi) khas, yaitu biru abu-abu dengan strip merah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/9e9ef67e-4596-4fd2-b96b-bb4322d5e454_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/854821ed-7c16-44a1-a6ab-37d1a986c75b_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/393c1607-5e3c-4f06-aef8-13d522f2e11c_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/71495398-ec07-465a-a4b1-0a411cee627d_jpg.jpg)
Penyerahan delapan bus tingkat baru itu dilakukan Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin kepada Perusahaan Negara Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD).
Kedelapan bus itu merupakan tahap pertama dari bantuan Kerajaan Inggris kepada Pemerintah Indonesia yang ditandatangani pada 1979.
Menurut Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, kedelapan bus tingkat dengan suku cadangnya itu berharga 640.000 pound sterling atau sekitar Rp 950 juta (kurs saat itu). Rute yang dilayani adalah Blok M-Lapangan Banteng, sama dengan rute bus tingkat sebelumnya (Kompas, 16 Juli 1980).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/20357d6d-0b50-448c-a2f8-e47e2118e74d_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/dc6c3926-8dd1-4307-a3bc-361c953b6afa_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/7fe4af94-4b33-4def-b912-18e2c091f9e4_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/2a1f21e9-83ef-4259-9289-f9a1b4c98874_jpg.jpg)
Tak hanya di Jakarta, kehadiran bus tingkat kemudian juga merambah ke sejumlah kota lain di Indonesia, di antaranya Surabaya, Semarang, dan Medan.
Di Surabaya, 10 bus tingkat beroperasi mulai Februari 1981. Untuk mengondisikan jalan supaya dapat dilalui bus tingkat, Pemerintah Kota Surabaya membongkar dan menaikkan enam jembatan penyeberangan.
Tinggi jembatan dinaikkan menjadi 5,5 meter. Kabel-kabel listrik, kabel telepon, dan kabel PJKA yang diperkirakan mengganggu jalannya bus tingkat itu ditata ulang.
Dua belas bus tingkat DAMRI buatan Volvo juga mulai beroperasi di Medan pada Oktober 1981.
Bus yang sudah dilengkapi dengan power steering itu mempunyai kapasitas 106 kursi yang terbagi menjadi 45 kursi pada bagian bawah dan 61 kursi pada bagian atas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/5385fa0f-c6d0-4fdb-ab53-5ed0c4318654_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/ec3ab450-00d4-47c8-ad63-79ef8c4aae23_jpg.jpg)
Sementara di Semarang, 10 bus tingkat yang merupakan bantuan penyertaan modal pemerintah untuk PN DAMRI mulai beroperasi pada November 1981. Tarifnya Rp 30 untuk pelajar/mahasiswa dan Rp 50 untuk pegawai/umum.
Memasuki tahun 1990, keberadaan bus tingkat terutama di Jakarta perlahan mulai tergerus oleh berbagai faktor. Usia bus yang menua, ketersediaan suku cadang yang mulai sulit sehingga membuat biaya perawatan menjadi mahal, serta kondisi lalu lintas Jakarta yang semakin macet membuat bus berukuran besar seperti bus tingkat sulit beroperasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/45967395-feb2-4784-9878-885a6f2b558c_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/c551badd-946e-4aeb-9916-eb03d4b58ed5_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/4524e01c-7d32-4143-8a9c-081b2fddba93_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/6b792817-fc00-4e51-8fb8-8b854f76d21e_jpg.jpg)
Pada akhir 1990-an, bus tingkat tidak lagi digunakan sebagai angkutan umum.
Namun, bagi warga di Jakarta, memori bus tingkat ini tidak benar-benar hilang sejak dioperasikannya bus tingkat wisata mulai Februari 2014. Bus tingkat wisata ini menawarkan rute perjalanan melewati sejumlah tempat dengan tema seperti Sejarah Jakarta, Jakarta Modern, Kesenian dan Kuliner, Pencakar Langit, Ruang Terbuka, serta Cagar Budaya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/f7e4570d-7ee1-4e3e-b055-d8ee14194409_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/19/a1a4e760-aec4-485a-b9b6-55117530f360_jpg.jpg)
Penulis:
Raditya Helabumi JayakarnaEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti