Merpati Nusantara Airlines (MNA) dengan nomor penerbangan MZ-171 dibajak pada Kamis, 5 April 1972. Pembajak meminta tuntutan uang Rp 20 juta.
24 Des 2025 08:03 WIB · Politik & Hukum
ARSIP KOMPAS
Operasi pembebasan sandera pesawat DC-9 Garuda ”Woyla” di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand, pada 31 Maret 1981 dini hari tercatat sebagai salah satu operasi militer yang paling sukses dilakukan Pemerintah Indonesia.
Pesawat DC-9 Garuda ”Woyla” dengan nomor penerbangan GA 206 Jakarta-Medan dibajak setelah pesawat transit di Palembang untuk menuju ke Medan pada 28 Maret 1981.
Pesawat yang membawa 48 penumpang dan 5 awak itu kemudian mengubah rute penerbangan ke Penang, Malaysia, dan selanjutnya menuju Bangkok, Thailand.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/03/29/753b6780-f0a9-4002-a3f9-d4f292f1c13f.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/22/0d15a6d0-89a6-474f-ab6b-29b3f5a023e0_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/03/29/3f92053a-fa5a-451b-8f17-f44b8c400c1a.jpg)
Namun, pembajakan pesawat Garuda ”Woyla” itu bukanlah peristiwa pembajakan pesawat yang pertama di Indonesia. Pembajakan pesawat penerbangan sipil pertama kali terjadi di Indonesia satu dekade sebelum peristiwa Garuda ”Woyla”.
Pembajakan itu terjadi pada penerbangan Merpati Nusantara Airlines (MNA) dengan nomor penerbangan MZ-171, Rabu, 5 April 1972. Pesawat jenis Vickers Viscount 613 yang diberi nama Merauke sedang dalam rute penerbangan Manado-Jakarta melalui Makassar dan Surabaya.
Pesawat yang diterbangkan oleh pilot Kapten Hindiarto Sugondo (perwira Angkatan Udara RI) dan kopilot Kapten Muhammad Soleh Sukarnapradja membawa 36 penumpang dan 7 awak.
Arsip berita Kompas yang terbit Jumat, 7 April 1972, mengisahkan pembajakan pesawat tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/23/f8fb7e24-5c5b-434d-8701-76a1562bf545.jpg)
Saat pesawat Merpati MZ-171 melintas di sekitar wilayah Tegal, Jawa Tengah, setelah lepas landas dari Bandara Djuanda Sidoarjo, seorang penumpang laki-laki berusaha masuk ke dalam kokpit.
Ia mengancam flight engineer yang saat itu berdiri di depan pintu kokpit. ”Kasih saya masuk ke dalam kokpit. Kalau tidak, ini bisa saya ledakkan!” ujar pria itu sambil memperlihatkan dua buah granat tangan dan bahan peledak yang dibawanya di dalam sebuah tas.
Di dalam kokpit, pembajak mengancam, lantas memborgol tangan kopilot Soleh dan mengikatkannya dengan tangan pilot Hindiarto menggunakan rantai yang ia bawa. Hal itu membuat pergerakan pilot dan kopilot dalam mengendalikan pesawat menjadi terbatas. Oleh pembajak, keduanya diperintahkan untuk mengubah rute penerbangan dan mendaratkan pesawat di Yogyakarta.
Pembajak yang diidentifikasi sebagai mantan tentara bernama Hermawan Harjanto itu kemudian meminta tuntutan Rp 20 juta dan payung penerjun. Ia menyuruh awak pesawat menyampaikan permintaan itu kepada menara pengontrol. Pembajak juga mengancam para penumpang yang berada di kabin.
Pesawat Merpati Merauke yang dibajak kemudian mendarat di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, pukul 14.25 WIB. Setelah mendarat, para penumpang tetap berada di dalam pesawat. Kegelisahan dan kepanikan menyelimuti para penumpang dan awak kabin. Mesin pesawat juga tetap dinyalakan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/23/73391679-dde9-4032-a46e-1ebe7ce27587.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/23/daf2eee1-70ed-464e-b52c-07c9819da5ee.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/23/b21e284a-ce20-4bf0-9aa7-6fb3106cb4b0.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/23/aa679bf7-f577-498c-8ea9-1bbde00d6c70.jpg)
Pilot Hindiarto yang berada di bawah ancaman pembajak kemudian meminta petugas darat untuk mengisi bahan bakar pesawat. Petugas di bandara kemudian memenuhi permintaan itu sambil mengulur-ngulur waktu untuk bernegosiasi. Sementara petugas keamanan dari Pasukan Gerak Cepat AURI (Pasukan Khusus TNI AU) dan personel Brimob Polri telah disiagakan di bandara.
Beberapa waktu kemudian dari gedung terminal bandara terlihat seseorang turun dari pintu belakang pesawat dan lari ke arah terminal. Tenyata dia adalah Kapten Suharto, pilot maskapai Bouraq yang kebetulan turut dalam penerbangan Merpati Merauke bersama kru Bouraq lainnya sebagai penumpang ke Jakarta. Suharto berhasil keluar dari pesawat setelah membuka pintu darurat.
Tindakan pilot Suharto itu menimbulkan kebingungan penumpang lain di dalam kabin. Sebagian hendak mengikuti langkah Suharto, tetapi sebagian lainnya khawatir pembajak akan kalap dan bertindak di luar kendali yang dapat merugikan semua penumpang, termasuk pilot.
Pada pukul 15.30 pembajak diberi tahu untuk mengumpulkan uang sebanyak Rp 20 juta di Yogyakarta dalam waktu singkat saat itu sangatlah sulit, untuk itu ia diminta menunggu. Pembajak kemudian mau berkompromi dan menurunkan tuntutan dari Rp 20 juta menjadi Rp 5 juta. Flight engineer bernama Domingus Sinay oleh pembajak kemudian diperkenankan turun untuk menyelesaikan tuntutan itu.
Saat Domingus Sinay turun dari pesawat, dua pramugari yang melihat pembajak sibuk di dalam kokpit menggunakan kesempatan itu untuk meloncat dari pintu belakang pesawat. Hal itu lantas juga diikuti oleh semua penumpang lainnya.
Sementara itu, di dalam kokpit, Hindiarto yang mempunyai naluri bahwa para penumpang berusaha keluar dari pesawat sengaja mengeraskan bunyi mesin pesawat agar suara di kabin tidak terdengar pembajak. Hanya sekitar 3 menit semua penumpang berhasil keluar dan kabin menjadi kosong.
Pembajak yang kemudian menyadari pesawat telah kosong tumpah amarahnya. Sambil meletakkan pisau ke leher kopilot, pembajak mengancam akan meledakkan granat. Pilot lantas menginformasikan kepada petugas di bandara bahwa kondisi di kokpit kritis dan jika tuntutan pembajak tidak dipenuhi, mereka semua akan kehilangan nyawa.
Sementara itu, di luar pesawat, anggota kepolisian Inspektur Polisi Dua (Ipda) Bambang Widodo Umar berjalan menuju ke arah kokpit. Bambang meminta awak darat mendorong tangga yang digunakannya untuk memanjat naik ke arah jendela kokpit di sebelah kiri (posisi pilot).
Gerak-gerik mereka tidak terdengar karena tertelan deru suara mesin pesawat. Bambang mendekat ketika dilihatnya pembajak yang mondar–mandir tidak terlihat siluetnya di kokpit.
Hindiarto sempat menanyakan apakah dia membawa uang tebusan. Pada kesempatan berikut, menjelang magrib, Bambang kembali mendekat dan berbicara kepada pilot sambil membawa sepucuk revolver colt. Hindiarto mengatakan dirinya anggota AURI dan bisa menggunakan senjata. Bambang lantas menyerahkan pistol itu kepada Hindiarto yang lalu disembunyikan di tangan kanannya.
Ketika melihat kesempatan pembajak lengah, Hindiarto berseru, ”Ini uangnya!”
Baru saja pembajak itu akan menengok ke arah pilot, lima kali tembakan meletus dari pistol yang dipegang Hindiarto.
Tiga peluru bersarang di tubuh pembajak, yang membuatnya jatuh tertelungkup. Hindiarto dan kopilot Soleh kemudian melepaskan ikatan mereka dan keluar meninggalkan pesawat. Para petugas yang sebelumnya berada di darat kemudian masuk ke dalam pesawat dan mendapati pelaku pembajakan telah tewas. Adapun kondisi pesawat saat itu tidak mengalami kerusakan berarti.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/23/a038acdf-5942-476a-a96b-a84a3a576593.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/23/ac4cbf49-0ad3-4298-8790-d138589b93f0.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/23/42d86d0b-0a67-4fcc-b834-a3ea4946cafe.jpg)
Pada era 1970-an, aksi pembajakan pesawat marak terjadi dalam penerbangan sipil di berbagai wilayah dunia. Motif politik dan konflik global sering kali memicu aksi pembajakan pesawat oleh kelompok tertentu untuk memenuhi tuntutan mereka.
Keamanan penerbangan yang masih longgar dan lemah saat itu, baik di bandara maupun di pesawat, memudahkan penumpang membawa senjata atau bahan berbahaya masuk ke dalam pesawat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/23/4c7ba75a-f463-4ba6-8424-9309f7350ce1.jpg)
Penulis:
Raditya Helabumi JayakarnaEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar