Amerika Serikat yang sebelumnya menjadi magnet yang menarik para talenta akademik terbaik kini mulai ditinggalkan.
20 Apr 2025 09:26 WIB · Humaniora
Selama beberapa dekade, Amerika Serikat menjadi magnet bagi talenta ilmuwan terbaik dunia. Negara itu menjadi adidaya, antara lain karena kekuatan sains dan teknologinya, dengan mendanai mahasiswa dan peneliti dari seluruh dunia, untuk belajar, bereksperimen, berinovasi, mendirikan perusahaan, dan mengembangkannya.
AS sebelumnya menciptakan pencapaian ilmiah dan kemajuan ekonomi yang didorong sains. Banyak negara mencoba meniru model pertumbuhan yang dipimpin sains tersebut sambil mencegah terjadinya brain drain.
Adapun brain drain merupakan fenomena ketika tenaga kerja terampil dan berpendidikan tinggi meninggalkan negara asal, ke laboratorium dan kampus yang memiliki sumber daya yang lebih baik di AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/10/a8e52d5d-a409-4ac5-988d-8ff59079c57c_png.png)
Namun arus balik kini terjadi. AS justru mempersempit ruang gerak para ilmuwan dengan memangkas jumlah ilmuwan, pendanaan, dan kebebasan pendapat.
Sejauh ini, pemecatan telah terjadi di sejumlah lembaga riset terkemuka, termasuk Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional AS (NOAA), National Science Foundation, US Geological Survey, dan Centers for Disease Control and Prevention.
National Institutes of Health, penyandang dana penelitian biomedis terbesar di dunia, terpaksa memberhentikan 1.200 karyawan dan menunda tinjauan hibah, yang pada dasarnya menghentikan pendanaan untuk laboratorium.
Seiring dengan pemangkasan yang dilakukan, beberapa lembaga federal telah diminta menghapus istilah-istilah yang dianggap tidak dapat diterima, seperti keberagaman dan ilmu iklim dari situs laman mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/15/68a76c0374894570d66b99e437b08297-Trump_Orders_Tariff_Exemption_For_Smart_Phones_And_Other_Electronics_From_China_2.jpg)
Editorial Nature pada awal April 2025 telah memperingatkan bahaya tindakan Pemerintah AS di bawah Donald Trump yang merendahkan bukti ilmiah dalam pembuatan kebijakan. Pemerintah AS juga menyerang struktur dan pendanaan yang mendukung ekosistem pengetahuan, termasuk universitas, perpustakaan, dan museum.
Tindakan Pemerintah AS di bawah Trump tersebut bisa memicu arus balik brain drain. Dari sebelumnya, AS menjadi negara tujuan para talenta terbaik menjadi negara yang ditinggalkan.
Peringatan ini didasari jajak pendapat yang dilakukan lembaga jurnal terkemuka ini terhadap 1.600 ilmuwan di AS, di mana sekitar 1.200 di antaranya menyatakan mempertimbangkan meninggalkan negara tersebut. Dari hampir 700 mahasiswa pascasarjana yang menanggapi, sekitar 550 mempertimbangkan meninggalkan negara tersebut.
Salah seorang responden menyikapi jajak pendapat tersebut. ”Ini rumahku, aku sangat mencintai negaraku, tetapi banyak mentorku yang menyuruhku keluar sekarang juga.”
Responden tersebut memilih sendiri dan mungkin tidak mewakili semua peneliti AS. Namun, hasilnya merupakan indikasi kuat dari keputusasaan yang dirasakan banyak ilmuwan atas kekacauan dalam sains AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/c5e8d5c5a321d0fe4f02fd0266095040-pooling_Nature.png)
Kekhawatiran itu makin nyata. Gelombang pertama peneliti yang meninggalkan AS akibat pemotongan anggaran dan represi di bawah kekuasan Donald Trump meluas. Ratusan ilmuwan dari kampus terkemuka di AS melamar pindah ke Perancis. Mereka akan mulai bekerja di sebuah universitas Perancis pada Juni 2025.
Sebagaimana dilaporkan AFP pada Jumat (18/5/2025), Universitas Aix Marseille, Perancis yang memiliki skema ”Tempat Aman untuk Sains” telah menerima banyak pelamar setelah mengumumkan pada Maret bahwa mereka akan membuka pintunya bagi para ilmuwan AS yang terancam pemotongan anggaran.
Dari 298 lamaran, 242 dianggap memenuhi syarat dan ”sedang dipelajari” untuk sekitar 20 posisi yang tersedia, kata universitas tersebut dalam sebuah pernyataan.
Sebanyak 135 pelamar adalah warga negara AS, dan 45 adalah warga negara ganda. Para pelamar ini berasal dari berbagai lembaga akademik dan riset terkemuka di AS, termasuk Johns Hopkins, NASA, Yale, Stanford, Columbia, dan University of Pennsylvania.
Presiden Universitas Aix Marseille Eric Berton mengatakan bahwa ia ingin melihat status baru ”ilmuwan pengungsi” diciptakan, dan agar lebih banyak peneliti AS disambut di Perancis dan Eropa.
Sebuah RUU yang menetapkan status tersebut tengah diajukan di Parlemen Prancis pekan lalu oleh mantan Presiden Francois Hollande, yang sekarang menjadi anggota parlemen.
Status baru ”ilmuwan pengungsi” diciptakan, dan agar lebih banyak peneliti Amerika Serikat disambut di Perancis dan Eropa.
Universitas Aix Marseille sebelumnya telah mendatangkan 25 ilmuwan dari Ukraina, Yaman, Afghanistan, dan wilayah Palestina di bawah program lain untuk para peneliti yang terancam.
Universitas tersebut telah menyisihkan anggaran sehingga setiap peneliti yang diterima akan menerima antara 600.000 euro dan 800.000 euro atau 680.000-910.000 dollar AS selama tiga tahun untuk melanjutkan pekerjaan atau riset mereka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/70df1285-7964-41af-aa1f-91bdc4e15e61_jpg.jpg)
Negara-negara Eropa lain siap menyambut gelombang pelarian ilmuwan dari AS. Tiga belas negara anggota Uni Eropa (UE), termasuk Perancis dan Jerman, telah menulis surat kepada Komisioner untuk Startup, Riset, dan Inovasi UE, Ekaterina Zakharieva, berisi desakan peningkatan pendanaan dan infrastruktur untuk menarik para ilmuwan yang bermigrasi.
Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset Perancis Philippe Baptiste pun menyerukan ”tanggapan yang cepat dan kuat” terhadap ”kegilaan kolektif” dari keputusan tersebut.
Sejumlah universitas di Eropa juga melakukan perekrutan, menemukan sumber pendanaan baru untuk mendatangkan individu tertentu. Vrije Universiteit Brussel mengumumkan 12 posisi untuk peneliti internasional ”dengan fokus khusus pada akademisi Amerika”.
Institut Pasteur di Paris mencatat bahwa mereka berupaya merekrut para ahli di bidang-bidang seperti penyakit menular dan asal-usul penyakit. Dan wakil rektor Universitas Cambridge mengatakan mereka ”mengorganisasi” perekrutan potensial dari AS.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/01/25/f95bdcf9-a72c-4b6c-a001-4ec3ab342be0.jpg)
Demikian pula, Patrick Cramer, presiden Institut Max-Planck di Berlin, menggambarkan AS sebagai ”kumpulan bakat baru” untuk direkrut. Pihaknya memiliki beberapa nama dalam daftarnya yang ”membuatnya bersemangat”, terutama mereka yang terlibat dalam kecerdasan buatan.
Tak hanya di Eropa, Australia dan Kanada juga bisa menjadi tujuan utama brain drain dari AS, sekalipun penghematan anggaran sebenarnya juga melanda mereka dalam beberapa tahun terakhir. Australia bahkan telah mempertimbangkan visa jalur cepat untuk talenta terbaik AS.
Para akademisi dan peneliti yang meninggalkan rumah mereka untuk menimba ilmu di negara lain, dan mengembangkan ilmu pengetahuan di negara-negara tersebut, sudah terjadi sejak berabad-abad lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/02/19/20200219luk-imigrasiInggris_1582111473.jpg)
Sejarah AS juga menunjukkan, tokoh-tokoh besar ilmuwan mereka kebanyakan migran dari negara lain. Hal itu karena selama satu abad terakhir, dimulai sejak menjelang Perang Dunia Kedua, AS menyediakan ekosistem riset yang menjanjikan.
Namun, hanya dalam beberapa bulan, Donald Trump, yang sebenarnya juga keturunan Jerman dan Skotlandia, telah membalik situasi ini. Jika arus brain drain dari AS meluas, ini juga bisa menjadi penanda goyahnya adidaya negara ini, yang sebelumnya ditopang kemajuan sains dan teknologi, termasuk yang disumbangkan para migran.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari