AS mematok syarat mutlak untuk mencabut sanksi terhadap Iran. Syaratnya adalah Iran tak boleh punya senjata nuklir. Jadi, pembukaan Selat Hormuz saja tidak cukup.
03 Jun 2026 10:30 WIB · Internasional
Getty Images via AFP
WASHINGTON, RABU — Pembukaan Selat Hormuz memang menjadi salah satu tuntutan Amerika Serikat dalam bernegosiasi dengan Iran. Namun, syarat itu tidak akan ditukar dengan pencabutan sanksi terhadap Iran. AS hanya akan mencabut sanksi jika Teheran menghentikan program nuklir Iran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, tim negosiasi AS tidak menawarkan pencabutan sanksi kepada Iran sebagai imbalan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Selat yang memisahkan Iran dengan Jazirah Arab tersebut merupakan jalur distribusi sekitar 20 persen minyak global. Blokade Iran di selat itu telah memicu lonjakan harga minyak dunia.
”Iran dikenai sanksi karena mereka memiliki uranium yang diperkaya. Iran dikenai sanksi karena aktivitas nuklir mereka. Jika mereka setuju untuk menghentikan hal-hal tersebut, akan ada keringanan sanksi yang terkait dengan komitmen dan kepatuhan mereka terhadap perjanjian tersebut,” ujarnya dalam sidang di Senat AS, Selasa (2/6/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/03/75e728442aee03b09471e3dd97783e66-Secretary_Marco_Rubio_Testifies_During_House_Hearing_On_Capitol_Hill.jpg)
Sanksi AS terhadap Iran meliputi beberapa aspek, mulai dari pembatasan perdagangan minyak hingga pembekuan aset keuangan. Sanksi selama puluhan tahun itu menekan perekonomian Iran. Pencabutan sanksi ini jadi salah satu syarat yang diajukan Iran dalam bernegosiasi dengan AS.
Kongres AS meminta Rubio menjabarkan strategi untuk mengakhiri perang di Iran. Perang itu dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026. Perang telah menewaskan lebih dari 3.300 orang di Iran.
Perang ini mendapat kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk Kongres AS. Keuangan AS terkuras untuk mendanai perang. Selain itu, perang meluas di kawasan Timur Tengah. Beberapa putaran perundingan dengan Iran juga tak kunjung mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Rubio tidak menyebutkan kapan kesepakatan dengan Iran akan tercapai. Ia justru mengatakan, Iran bermaksud untuk meningkatkan kemampuan senjata konvensionalnya sebagai pelindung untuk program nuklirnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/df03a28d11de6bc3a4b00d6ec31bcb21-20260205_ANU_AFP_Instalasi_Nuklir_Iran_mumed.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/03/b67db746-8b1e-4c05-941f-f714b36504a1.jpg)
”Apa yang mereka coba lakukan adalah mereka akan mencoba membangun perisai konvensional dan bersembunyi di balik perisai konvensional itu,” katanya.
Menurut Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Iran memiliki 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60 persen. Keberadaan material sensitif itu membuat Iran secara teknis memiliki uranium yang memiliki level mendekati uranium kelas senjata. Namun, Iran menyatakan program nuklirnya digunakan untuk tujuan damai.
Rubio mengklaim Iran telah setuju untuk bernegosiasi tentang poin-poin nuklir yang sebelumnya tidak bersedia mereka bahas. Namun, ia tidak menjelaskan kesepakatan apa yang mungkin dihasilkan dari pembicaraan tersebut.
”Mereka telah setuju untuk menegosiasikan aspek-aspek program nuklir mereka yang sebulan yang lalu, setahun yang lalu, mereka bahkan menolak untuk menyebutkannya,” jelasnya.
Perang ini mendapat kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk Kongres AS. Keuangan AS terkuras untuk mendanai perang. Selain itu, perang meluas di kawasan Timur Tengah. Beberapa putaran perundingan dengan Iran juga tak kunjung mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Dalam sidang itu, Rubio memberikan kesaksian di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS mengenai permintaan pemerintahan Donald Trump untuk memangkas anggaran urusan luar negeri sebesar 30 persen menjadi 36 miliar dolar AS (sekitar Rp 642,74 triliun). Sementara pengeluaran militer akan ditingkatkan sebesar 50 persen menjadi 1,5 triliun dolar AS (sekitar Rp 26,77 kuadriliun).
Senator AS dari New Hampshire, Jeanne Shaheen, mengecam Rubio karena memberikan terlalu sedikit informasi tentang rencana pemerintah. Ia mengaku, saat berbicara dengan konstituennya, rakyat AS meminta bantuan ekonomi di dalam negeri, bukan perubahan rezim di Havana (Kuba) atau Caracas (Venezuela) atau Teheran (Iran).
Pernyataan Shaheen merujuk pada kebijakan pemerintahan Trump dalam beberapa waktu terakhir. Sebelum memutuskan menyerang Iran, pada Januari lalu, Trump memerintahkan pasukan AS untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro di Caracas. Trump kemudian menyebut Kuba sebagai target operasi militer selanjutnya.
”Sebaliknya, Anda mengirimkan pemberitahuan kekuatan perang kepada Kongres yang menyatakan bahwa kita tidak sedang dalam permusuhan aktif dengan Iran. Sementara AS sedang melakukan serangan terhadap Iran, dan Iran mengebom kedutaan dan pangkalan AS di seluruh Timur Tengah. Itu bukanlah konsultasi, melainkan upaya untuk menghindari menjawab pertanyaan komite dan Kongres tentang perang ini,” ucapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/19/bdfdae1d-1b78-4f27-8818-cdc500b47bb8.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/c0586b14092b584d236797570de1de6f-QATAR_IRAN_ISRAEL_US_CONFLICT_136527224.jpg)
Senator Chris Van Hollen juga mengecam Rubio dan Trump atas pemotongan bantuan luar negeri dan intervensi luar negeri. Ia bahkan menuduh Trump membawa AS terlibat dalam perang Iran atas kepentingan Israel.
”Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dia telah menunggu 40 tahun untuk melakukan ini (menyerang Iran). Ternyata, dia akhirnya menemukan presiden yang cukup ceroboh untuk bergabung dengannya. Mari kita hadapi kenyataan, Tuan Menteri (Rubio). Kebijakan luar negeri Trump telah menjadi bencana,” ujarnya.
Pengakuan berbeda diberikan AS dan Iran terkait perkembangan perundingan kedua negara. Trump mengatakan, pembicaraan dengan Iran terus berlanjut.
”Laporan berita palsu yang menyatakan bahwa Iran dan AS berhenti berbicara beberapa hari yang lalu adalah salah dan keliru. Percakapan di antara kami telah berlangsung terus-menerus, termasuk empat hari yang lalu, tiga hari yang lalu, dua hari yang lalu, satu hari yang lalu, dan hari ini,” tulis Trump di media sosial Truth Social.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/24/c8590824-0864-4537-8694-8ae231835cf4.jpg)
Sementara media Iran, Tasnim, melaporkan, tim perunding Iran menghentikan pertukaran pesan dengan AS melalui mediator. Langkah itu disebut sebagai balasan atas pelanggaran gencatan senjata. Pelanggaran yang dimaksud Teheran adalah serbuan Israel yang semakin meluas ke Lebanon serta serangan berkelanjutan di Gaza.
AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata sejak 8 April lalu. Namun, konflik tak sepenuhnya reda. Kedua negara beberapa kali terlibat ketegangan, termasuk insiden penyerangan kapal di Selat Hormuz. Selain itu, Israel terus menggempur Lebanon dengan dalih menyasar Hizbullah yang didukung Iran.
”Iran telah berulang kali memperingatkan tentang implikasi berbahaya dari pelanggaran gencatan senjata terhadap perdamaian dan keamanan regional serta telah menyerukan diakhirinya tindakan agresi dan kejahatan,” tulis laporan itu. (REUTERS/AP/AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar