AS-ISRAEL

Telepon dari Netanyahu Picu Trump Mulai Menyerang Iran

Netanyahu menyampaikan perlunya melancarkan perang yang kompleks ke Iran. Tujuan utamanya membunuh Ayatollah Ali Khamenei. Dampaknya kini dirasakan seluruh dunia.

24 Mar 2026 10:06 WIB · Internasional

GETTY IMAGES VIA AFP

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

Serangan udara gabungan Amerika Serikat-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 mengguncang dunia. Serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei itu sekaligus penanda dimulainya perang yang dampaknya kini dirasakan seluruh dunia. Telepon dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi katalis utama bagi Presiden AS Donald Trump melancarkan serangan tersebut.

Kurang dari 48 jam sebelum serangan terjadi, Netanyahu menelepon Trump. Netanyahu menyampaikan perlunya melancarkan perang yang kompleks ke Iran. Tujuan utamanya adalah membunuh Ali Khamenei yang sudah lama menjadi target Israel.

Netanyahu dan Trump sama-sama menerima laporan intelijen yang menyebutkan, Ali Khamenei akan bertemu dengan orang-orang terdekatnya dan pembantu utamanya di kompleks kediamannya di Teheran. Iran pun menjadi target ”pembunuhan tingkat tinggi”, strategi militer untuk melumpuhkan musuh dengan cara membunuh pemimpin-pemimpin utama.

Dalam gambar satelit yang disediakan oleh Vantor ini, bangunan yang rusak terlihat di kediaman resmi Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, Iran, Minggu (1/3/2026).
SUasana saat pendukung pemerintah berkumpul dalam berkabung setelah TV pemerintah secara resmi mengumumkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran, Iran, Minggu (1/3/3036).

Berdasarkan info intelijen tersebut, pertemuan yang semula dijadwalkan pada Sabtu (28/2/2026) malam dimajukan menjadi Sabtu pagi. Laporan Reuters, Senin (23/3/2026), menyebutkan, Netanyahu mengatakan pertemuan itu menjadi kesempatan terbaik untuk membunuh Khamenei. Serangan itu sekaligus untuk membalas Iran yang dituding ada di balik rencana pembunuhan Trump dua tahun lalu.

”Pada saat percakapan telepon itu terjadi, Trump telah menyetujui rencana AS melakukan operasi militer terhadap Iran, tetapi belum memutuskan kapan atau dalam keadaan apa AS akan terlibat,” ujar sumber Reuters yang mendapat pengarahan seusai panggilan telepon tersebut.

Beberapa pekan sebelumnya, AS telah meningkatkan kekuatan militernya di Timur Tengah. Jadi, saat Trump memutuskan untuk memulai perang, armada militer telah siap menggempur Iran, terutama melalui serangan udara.

Entah apa dan bagaimana argumen Netanyahu dapat memengaruhi dan meyakinkan Trump untuk memulai serangan, tak banyak yang tahu. Namun, sumber itu meyakini, penekanan Netanyahu yang menyebutkan kesempatan membunuh Khamenei semakin sempit menjadi katalis bagi Trump untuk memutuskan melancarkan operasi Epic Fury. Operasi tersebut digelar ketika negosiasi AS-Iran tentang program nuklir Teheran tengah berlangsung.

Infografik Serangan AS-Israel ke Iran

Komando Pusat Amerika Serikat, Centcom, menyebutkan, pasukan AS dan Israel mulai menyerang target pada Sabtu pukul 01.15. Target serangan termasuk fasilitas komando dan kendali Garda Revolusi Iran (IRGC), kemampuan pertahanan udara Iran, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta lapangan terbang militer.

”Presiden (Trump) memerintahkan tindakan berani. Prajurit, pelaut, penerbang, marinir, dan penjaga pantai kita yang pemberani menjawab panggilan tersebut,” kata Komandan Centcom Laksamana Brad Cooper.

Pada Sabtu malam, Trump mengumumkan Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan itu. Kediamannya di Teheran dihujani puluhan bom. Namun, serangan udara tersebut juga menewaskan ratusan siswa perempuan di Minab. Ali Khamenei kemudian digantikan oleh putra keduanya, Mojtaba Khamenei.

Quote

Entah bagaimana argumen Netanyahu dapat memengaruhi Trump untuk memulai serangan. Namun, sumber itu meyakini, penekanan Netanyahu yang menyebutkan kesempatan membunuh Khamenei semakin sempit menjadi katalis bagi keputusan Trump melancarkan operasi Epic Fury.

Sejak perang berkecamuk lebih dari tiga pekan lalu, Iran telah kehilangan banyak tokoh penting. Selain Ali Khamenei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Larijani dan Komandan Pasukan Paramiliter Basij Iran Gholamreza Soleimani juga tewas, Selasa (17/3/2026).

Dilansir dari Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, negaranya akan tetap kokoh meskipun para pemimpinnya terus menjadi target serangan musuh. ”Iran dibangun untuk menahan guncangan, menegaskan bahwa tidak ada satu tokoh pun, sekuat apa pun, yang dapat menggoyahkan sistem tersebut,” ujarnya.

Dampak perang

Memasuki pekan keempat, perang telah menewaskan lebih dari 1.400 orang di Iran. Serangan gabungan AS-Israel belum berhenti. Iran membalas serangan itu dengan menembakkan rudal dan drone. Targetnya tidak hanya wilayah Israel, tetapi juga aset-aset AS yang berada di Timur Tengah.

Perang pun berdampak luas. Sejumlah negara Teluk ikut terseret. Mereka mengecam Iran karena menjadikan negara mereka sebagai target serangan. Namun, Iran menegaskan, pihaknya hanya menyerang wilayah yang menjadi lokasi serangan ke negara mereka.

Iran juga menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak global. Seperlima minyak dunia dikirim melalui selat itu setiap hari. Selain itu, banyak fasilitas energi di Teluk terganggu beroperasi akibat perang. Imbasnya, harga minyak dan gas melonjak.

Infografik Selat Hormuz adalah Salah Satu Jalur Terpenting untuk
Pengiriman Minyak dan LNG.

Balas dendam

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengisyaratkan bahwa balas dendam merupakan salah satu motif utama serangan ke Iran. ”Iran mencoba membunuh Presiden Trump, dan Presiden Trump yang tertawa terakhir,” katanya.

Trump tertembak di bagian telinga kanannya saat sedang berkampanye di Pennsylvania pada Juli 2024. Pelakunya adalah laki-laki berusia 20 tahun bernama Matthew Crooks. Intelijen AS menuding Iran berada di balik rencana pembunuhan itu.

Petugas penyelamat berkumpul di luar bangunan di Teheran pada Kamis (12/3/2026). AFP
Israeli security forces and first responders gather outside a building hit by an Iranian projectile strike at a residential neighbourhood in Bnei-Brak, on the eastern outskirts of Tel Aviv, on March 15, 2026. On February 28, Israel and the United States launched strikes on Iran, killing its supreme leader Ayatollah and triggering a war that spread across the Middle East. (Photo by Jack GUEZ / AFP) /

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly tidak secara langsung membahas percakapan telepon antara Trump dan Netanyahu yang mendorong Trump menyerang Iran. Namun, ia mengatakan, operasi militer tersebut dirancang untuk menghancurkan rudal balistik Iran, mengakhiri kemampuan Iran untuk mempersenjatai proksi, dan menjamin Iran tidak akan pernah dapat memproduksi senjata nuklir.

Sementara itu, Netanyahu menepis anggapan yang menyebutkan Israel telah menyeret AS ke dalam konflik dengan Iran. ”Apakah ada yang benar-benar berpikir bahwa seseorang dapat memberi tahu Presiden Trump apa yang harus dilakukan? Ayolah,” ujarnya. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra