TIMUR TENGAH

Trump: AS Bisa Akhiri Perang di Iran dalam 2-3 Pekan

Presiden AS Donald Trump berencana mengakhiri perang di Iran dalam 2-3 pekan. Namun, Iran menegaskan, merekalah yang menentukan syarat untuk mengakhiri perang.

01 Apr 2026 09:00 WIB · Internasional

USS New Orleans (LPD 18)

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

WASHINGTON DC, RABU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, AS dapat mengakhiri perang melawan Iran dalam 2-3 pekan ke depan. Pernyataan ini disampaikan seiring pengerahan ribuan personel pasukan tambahan ke Timur Tengah yang justru berpotensi meningkatkan eskalasi konflik.

”Kami akan segera pergi. Penarikan pasukan dapat terjadi mungkin dalam dua atau tiga minggu,” ujar Trump di Ruang Oval Gedung Putih, Selasa (31/3/2026) malam waktu setempat atau Rabu pagi waktu Indonesia.

Trump menuturkan, Iran mungkin saja akan membuat kesepakatan dengan AS dalam kurun waktu tersebut. Namun, ia menegaskan, kesepakatan dalam negosiasi yang sedang diupayakan itu bukanlah syarat bagi AS untuk mengakhiri konflik.

Sebaliknya, kata Trump, syarat utama untuk mengakhiri operasi militer adalah memastikan Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir. Ini tujuan awal AS bersama Israel menyerang Iran sejak 28 Februari lalu. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

WASHINGTON, DC - MARCH 25: U.S. President Donald Trump and Speaker of the House of Representatives Mike Johnson attend the National Republican Congressional Committee's annual fundraising dinner at Union Station on March 25, 2026 in Washington, DC. President Trump was this year's keynote speaker at the dinner.   Chip Somodevilla/Getty Images/AFP (Photo by CHIP SOMODEVILLA / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

”Saya hanya memiliki satu tujuan, mereka tidak akan memiliki senjata nuklir, dan tujuan itu telah tercapai. Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir,” kata Trump.

Trump menyatakan sedang berdiskusi dengan pemerintahan baru Iran untuk mengakhiri perang. Ia mengklaim telah mencapai kemajuan besar dalam pembicaraan itu. Namun, jika kesepakatan tidak segera tercapai, ia mengancam akan menghancurkan sejumlah fasilitas vital di Iran.

”Jika Selat Hormuz tidak segera dibuka untuk bisnis, kami akan mengakhiri kunjungan kami yang menyenangkan di Iran dengan meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya semua pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg (dan mungkin semua pabrik desalinasi) yang sengaja belum kami sentuh,” tulisnya di akun media sosial Truth Social miliknya.

Sejumlah Kapal Tanker yang Bisa Melewati Selat Hormuz

Trump juga kembali menyatakan kekecewaannya terhadap sekutu AS karena tidak membantu upaya mereka dalam membuka Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital energi global yang dilintasi sekitar 20 persen minyak dunia setiap hari. Iran telah memberi izin kapal dari sejumlah negara untuk melewatinya, tetapi tidak bagi kapal yang terkait dengan AS, Israel, dan sekutunya.

Ia sempat mengajak sekutu AS mengirimkan kapal perang untuk membuka blokade Selat Hormuz. Namun, sejumlah negara lebih memilih defensif dengan menempuh diplomasi ketimbang pendekatan militer.

”Apa yang akan terjadi pada selat itu? Kita tidak akan terlibat karena negara-negara ini, China, akan mengisi bahan bakar kapal-kapal indah mereka. Mereka akan pergi dan mengurus diri mereka sendiri. Tidak ada alasan bagi kita untuk melakukannya,” ujar Trump sebagaimana dikutip Bloomberg.

Ribuan personel pasukan tambahan

Di tengah wacana akan mengakhiri perang, AS justru terus meningkatkan kekuatan militernya di sekitar Iran. Kapal induk USS George HW Bush dikerahkan menuju Timur Tengah bersama tiga kapal perusak. Gugus tempur kapal induk ini terdiri atas lebih dari 6.000 pelaut.

Quote

Sebaliknya, kata Trump, syarat utama untuk mengakhiri operasi militer itu adalah memastikan Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir. Ini merupakan tujuan awal AS bersama Israel menyerang Iran sejak 28 Februari lalu.

Pengerahan kapal induk tersebut bersamaan dengan pengiriman ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara Ke-82 yang telah tiba di Timur Tengah. Sebagian pasukan merupakan bagian dari rotasi pasukan yang telah direncanakan sebelum perang berlangsung.

Kedatangan pasukan ini akan menyokong ribuan personel militer AS yang sudah berada di Timur Tengah. Namun, belum diketahui apakah AS akan mengerahkan pasukan darat ke Iran. Jika hal itu terjadi, eskalasi perang akan meningkat dan berpotensi menimbulkan lebih banyak korban.

”Anda tidak dapat berperang dan memenanginya jika Anda memberi tahu musuh apa yang bersedia Anda lakukan atau apa yang tidak bersedia Anda lakukan, termasuk mengerahkan pasukan darat,” kata Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.

The US Navy aircraft carrier USS Gerald R. Ford departs Souda Bay on the island of Crete on February 26, 2026. (Photo by Costas METAXAKIS / AFP)

AS memerlukan sumber daya militer tambahan untuk menekan Iran. Apalagi, beberapa aset militernya rusak selama perang. Kapal induk Angkatan Laut AS, USS Gerald R Ford, misalnya, ditarik mundur setelah insiden kebakaran yang melukai para pelaut dan menyebabkan kerusakan signifikan. Saat ini kapal tersebut sedang diperbaiki di Kroasia.

Syarat sendiri

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, Iran akan mengakhiri perang dengan syaratnya sendiri. Hal itu disampaikan ketika bertemu dengan sejumlah anggota kabinetnya, Senin (30/3/2026).

”Setiap keputusan mengenai berakhirnya perang akan diambil semata-mata dengan mempertimbangkan semua kondisi dan dalam kerangka memastikan martabat, keamanan, serta kepentingan bangsa Iran,” ujarnya, dilansir dari kantor berita Iran, Tasnim.

Foto yang beredar di media sosial menunjukkan puing E-3 Sentry milik Amerika Serikat di Pangkalan Udara Pangeran Sultan Arab Saudi selepas serangan Iran pada 27 Maret 2026.

Pertemuan tersebut membahas sejumlah isu, mulai dari proses penyediaan kebutuhan pokok masyarakat hingga langkah-langkah yang diambil dalam mengatasi dampak perang. Pezeshkian memuji solidaritas rakyat Iran dalam mendukung pemerintah untuk melawan serangan AS dan Israel.

Iran juga membantah klaim AS mengenai negosiasi yang sedang berlangsung di tengah perang yang masih berkecamuk. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan telah menerima pesan dari Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff.

”Saya menerima pesan dari Witkoff secara langsung. Ini tidak berarti bahwa kami sedang bernegosiasi. Tidak ada kebenaran dalam klaim negosiasi dengan pihak mana pun di Iran,” katanya, dilansir dari Al Jazeera. (REUTERS/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji