Washington dan Teheran mulai mengimplementasi poin-poin dalam kesepakatan damai sementara sambil menegosiasikan kesepakatan damai permanen.
23 Jun 2026 11:00 WIB · Internasional
AFP/FABRICE COFFRINI
BUERGENSTOCK, SELASA — Di tengah negosiasi, Amerika Serikat dan Iran menunjukkan niat untuk mencapai perdamaian yang permanen dengan memenuhi komitmen masing-masing. Washington mencabut sanksi atas minyak setelah Teheran kembali menyetujui pengawasan terhadap program nuklirnya.
”Kami telah meletakkan dasar yang sangat baik untuk kesepakatan akhir yang sukses. Kesepakatan akhir adalah rumahnya. Kami belum membangun rumahnya, tetapi telah meletakkan fondasi untuk mencapai tempat yang baik bagi rakyat Amerika,” kata Wakil Presiden AS JD Vance kepada wartawan di resor mewah Burgenstock, Swiss, sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (23/6/2026).
AS mulai mencabut sanksi atas minyak Iran sejak Senin (22/6/2026) selama 60 hari. Departemen Keuangan AS menyatakan, Iran kini bisa memproduksi, menjual, dan mengirimkan minyak mentah beserta produk terkait hingga 21 Agustus 2026.
Menurut Vance, Iran juga akan mengizinkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk kembali ke negara itu. Persetujuan ini merupakan langkah pertama mencegah Iran memiliki senjata nuklir secara permanen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/06/23/0f1de3cf-e38d-46c6-b3db-b5c86c5db831_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/06/23/aab0b5e3-968e-4f6c-8a45-ba95836e1208_jpg.jpg)
Iran menangguhkan beberapa kerja sama dan memblokir inspektur IAEA untuk mengakses situs-situs nuklir utamanya yang sempat dibom oleh AS-Israel dalam perang 12 hari pada Juni 2025. IAEA belum dapat mengunjungi Iran sejak November 2025. Selama ini, Teheran menegaskan program nuklirnya bersifat damai.
Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan, Iran belum membahas isu nuklir secara rinci atau membuat komitmen baru. ”Diskusi yang sangat singkat terjadi mengenai masalah nuklir. Namun, tidak ada diskusi tentang detailnya,” ujarnya.
Pembicaraan di Swiss adalah lanjutan setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman damai untuk sementara pada 17 Juni 2026. Kesepakatan ini memberi harapan setelah AS-Israel dan Iran terlibat perang sejak 28 Februari 2026. Berisi 14 poin, kesepakatan itu mencakup pencabutan sanksi AS dan pengawasan nuklir Iran.
Sebagai mediator, Pakistan dan Qatar mengatakan, AS dan Iran sudah mencapai kesepakatan tentang ”peta jalan” menuju kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari serta mekanisme untuk mengakhiri pertempuran di Lebanon. Pembicaraan teknis akan berlanjut selama sisa pekan ini di resor Swiss tersebut.
”Kemajuan yang menggembirakan telah dicapai, termasuk saluran kontak yang dibentuk untuk menghindari insiden dan miskomunikasi di Selat Hormuz,” ujar para mediator.
Upaya pemenuhan komitmen lain dalam nota kesepahaman AS-Iran pun sebagian sudah berjalan meski rapuh. Di Washington, Trump mengatakan, Selat Hormuz sekarang ”sepenuhnya terbuka” untuk pelayaran setelah Iran menutupnya selama awal perang sehingga mengguncang harga minyak dunia.
”Kami sedang bernegosiasi. Kita akan lihat bagaimana semuanya berjalan, tetapi kami memiliki dua hal, yakni selat yang terbuka dan negara yang tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” ujar Trump.
Data pelacakan, Senin, menunjukkan, kapal-kapal masih melintasi Selat Hormuz. Namun, situasi di selat belum pasti setelah Iran menyatakan menutup selat lagi karena serangan Israel di Lebanon, Sabtu (20/6/2026). Aksi Trump yang menebar ancaman serangan terkait penutupan Selat Hormuz selama negosiasi turut menambah kerentanan situasi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mencatat, ekspor minyak dan petrokimia dibebaskan, blokade dicabut, beberapa aset yang dibekukan dilepaskan. ”Rencana rekonstruksi dan pembangunan besar diluncurkan untuk Iran,” tulisnya di X.
Salah satu kesepakatan AS-Iran mencakup akses investasi swasta sebesar 300 miliar dolar AS untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Teheran. Menurut Reuters, lebih dari setengah jumlah dana itu telah dijanjikan oleh perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS, Teluk Arab, Asia, Amerika Selatan, dan Afrika.
Menlu AS Marco Rubio berencana memulai perjalanan ke Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain. Menurut juru bicara Rubio, lawatan bertujuan membahas kesepakatan tersebut serta upaya untuk mengamankan transit di Selat Hormuz yang bebas dan lancar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/06/23/50c56c78-aa8c-4be9-b821-6784512b72ae_jpg.jpg)
Implementasi poin dalam nota kesepahaman yang belum menemukan titik terang adalah soal aset Iran. Jumlah pastinya tidak jelas. Laporan resmi dan estimasi para ahli menyebutkan jumlah total lebih dari 100 miliar dolar AS.
Vance mengatakan, aset Iran belum dicairkan. Namun, Utusan Gedung Putih Jared Kushner telah menyusun sebuah proses yang memberi AS dan Qatar kendali ketika dana tersebut dicairkan. Jika pencairan terjadi, aset tersebut akan digunakan untuk membeli barang-barang AS, seperti kedelai, jagung, dan gandum.
”Ini kesepakatan khas Trump. Jika aset Iran suatu saat dicairkan, aset tersebut akan digunakan untuk memperkaya petani Amerika dan memberi makan rakyat Iran,” tuturnya.
Namun, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengatakan, tidak ada kewajiban seperti itu. Menurut dia, setidaknya sebagian dari dana yang dibekukan dapat digunakan untuk membeli barang-barang lain yang tidak dikenai sanksi, seperti yang dilaporkan kantor berita Tasnim.
Isu perang Israel dan Hizbullah di Lebanon selama ini menjadi salah satu ganjalan besar dalam negosiasi damai AS-Iran. Perang di Lebanon terjadi setelah Hizbullah, sekutu Iran, menyerang Israel atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Maret lalu.
Selama ini, Israel menyatakan keraguan yang mendalam atas kesepakatan damai AS-Iran. Meski terlibat langsung dalam perang, Israel bukan pihak yang termasuk dalam kesepakatan tersebut.
”Pasukan Israel memiliki kebebasan bertindak penuh untuk menggagalkan setiap ancaman langsung atau yang sedang berkembang di Lebanon selatan,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Senin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/06/10/b79486da-0cc5-4547-87e5-a84dfa139457_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/06/23/17d6cfa1-12ae-453c-a176-1ee875d55e6c_jpg.jpg)
Namun, Araghchi mengatakan, mediasi Pakistan dan Qatar telah menghasilkan kemajuan besar untuk mengakhiri perang di Lebanon. Israel-Hizbullah akhirnya menyetujui gencatan senjata baru pada pekan lalu. Situasi di Lebanon mulai tenang sejak Sabtu (20/6/2026) malam, menurut para pejabat Lebanon.
”Ini dua hari pertama yang tenang sejak perang dimulai. Saya memantau situasi hari demi hari dan sebagian besar waktu saya tidur di rumah sakit. Ini gencatan senjata terlama yang pernah berlangsung,” ujar Hassan Wazni, direktur sebuah rumah sakit di kota Nabatieh, Lebanon, yang mendapat serangan hebat.
Israel dan Lebanon dijadwalkan memulai putaran pembicaraan baru di Washington, Selasa (23/6/2026). Beirut bertekad untuk melanjutkan negosiasi langsung walau Iran juga membahas Lebanon dalam negosiasinya dengan AS.
Jumlah korban tewas secara keseluruhan akibat pertempuran Israel di Lebanon telah melampaui 4.100 orang, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon. Lebih dari 1 juta warga Lebanon terpaksa mengungsi. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan