BINA DAMAI

Persoalan Lebanon, Hormuz, dan Nuklir Bayangi Perundingan Damai AS-Iran di Swiss

Israel terus menyerang wilayah Lebanon. Iran menuntut AS menjalankan komitmen perdamaian, termasuk menghentikan perang di Lebanon.

21 Jun 2026 12:28 WIB · Internasional

AFP

Oleh Iwan Santosa

ZURICH, MINGGU — Isu penutupan Selat Hormuz, serangan Israel ke Lebanon, dan nuklir kembali membayangi perundingan damai Amerika Serikat-Iran. Seiring kehadiran delegasi AS dan Iran ke Swiss, Minggu (21/6/2026), berita bahwa Iran kembali menutup jalur energi dunia kembali mengemuka.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dipicu oleh serangan Israel atas posisi-posisi Hizbullah di Lebanon. Selain serangan tersebut dinilai melanggar gencatan senjata yang disepakati Israel-Hizbullah, penghentian serangan ke Lebanon merupakan bagian dari kesepakatan penghentian perang AS-Iran.

Pada Sabtu pagi seorang pejabat Hizbullah mengatakan, Iran tidak akan membuka Selat Hormuz hingga Israel secara resmi mengumumkan mematuhi gencatan senjata dan mengakhiri invasi di Lebanon. Dia mengatakan, Hizbullah akan patuh mengakhiri serangan jika Israel mengikuti kesepakatan damai AS-Iran tersebut.

Mohammad Mokhber, penasihat Pemimpin Besar Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, dalam akun X menuduh AS gagal menerapkan pasal pertama dari 14 butir perjanjian, yakni menghentikan perang di semua front termasuk Lebanon.

Namun, di sisi lain, dalam kesepakatan yang ditandatangani pada 18 Juni itu, juga dinyatakan bahwa hingga 60 hari ke depan, kapal-kapal komersial dapat melewati Selat Hormuz tanpa pungutan. Persoalannya, baik Hizbullah maupun Israel bukan pihak-pihak yang turut menandatangani kesepakatan penghentian perang AS-Iran.

Situasi kian rumit karena Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan akan tetap mempertahankan kehadiran pasukan Israel di Lebanon. Alasannya, Israel ingin memastikan bahwa ancaman apa pun terhadap Israel telah dilenyapkan. Sementara itu, Hizbullah menolak untuk menghentikan serangan kecuali Israel berkomitmen untuk menarik diri dari Lebanon.

Rumitnya situasi tersebut dipahami oleh AS. Namun, Washington, sebagaimana diungkapkan Wakil Presiden AS JD Vance, memiliki optimisme. Sebelum menuju Swiss, ia berharap dapat membuat langkah maju untuk isu-isu sensitif terkait gencatan senjata di Lebanon dan persoalan nuklir. ”Itu adalah dua hal besar yang menurut saya akan menjadi fokus kita,” kata Vance.

Di sisi lain, kepada kantor berita Iran, IRNA, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan, delegasi Iran menuntut implementasi dan komitmen AS, termasuk soal Lebanon. ”Jika tidak, seluruh kesepahaman akan bermasalah,” kata Baqaei kepada IRNA.

US Vice President JD Vance boards a Gulfstream C-37, operating as Air Force Two, en route to Zurich, Switzerland, at Joint Base Andrews, Maryland, on June 20, 2026. Vance will travel to Switzerland for talks with Iran, saying negotiations were going well. An Iranian negotiating team also left Iran for Switzerland on Saturday for discussions on the implementation of its agreement with the United States to halt the Mideast war, state media said. (Photo by Elizabeth Frantz / POOL / AFP)

Sementara itu, mengenai rencana penutupan Selat Hormuz oleh Iran, Komando Tengah AS (Centcom) menyatakan bahwa hingga Minggu pagi, arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz mengalir lancar. Vance juga mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, jutaan barel minyak mentah telah melewati selat itu.

Nuklir

Isu lain yang tak kalah rumit adalah perkara program nuklir Iran. Isu sensitif itu diperkirakan akan menjadi ganjalan. Dalam laporan Kompas, Sabtu (20/6/2026), disebutkan, soal nuklir akan jadi pembahasan sulit. Merujuk pada kesepakatan nuklir 2015 yang dibatalkan sepihak oleh Donald Trump, butuh waktu 18 bulan untuk membuka perundingan ulang.

AS pun menuntut Iran memusnahkan cadangan uranium dan menghentikan riset nuklir sama sekali. Vance yang tiba di Swiss pada Minggu pagi akan membahas isu nuklir bersama dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner. Mereka akan mengkaji detail teknis pembicaraan nuklir.

Isu tersebut akan dibahas bersama dengan tim perunding Iran yang telah hadir di Swiss pada Sabtu lalu. Delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Iran Mohammad Bager Qalibaf. Dalam perundingan itu, Qalibaf didampingi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi serta pejabat dari sektor migas dan keuangan Iran.

Para mediator, antara lain Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Besar Asim Munir, dan delegasi Qatar yang dipimpin PM Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, telah hadir di Swiss. Menlu Swiss Ignazio Cassis juga turut hadir sebagai tuan rumah. (AP/AFP/REUTERS)

Iran's Parliamentary Speaker Mohammad Bagher Qalibaf, right, meets Pakistan's Army Chief Field Marshal Asim Munir in Tehran, Iran, Thursday, April 16, 2026. (Hamed Malekpour/ICANA via AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji