TIMUR TENGAH

AS dan Iran Beradu Pengaruh Energi di Tengah Perang

Iran mulai membuka akses Selat Hormuz bagi beberapa negara. Di sisi lain, AS masih mencoba berbagai cara untuk meredam gejolak harga minyak selama perang.

21 Mar 2026 20:00 WIB · Internasional

ap/Altaf Qadri

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel tidak cuma menyangkut adu kekuatan militer. AS dan Iran juga beradu pengaruh di sektor energi. Sektor ini akan menentukan arah perang ke depan.

Sudah tiga pekan Iran menutup Selat Hormuz sejak dimulainya perang pada 28 Februari 2026. Penutupan jalur vital energi global ini menghambat pengiriman 20 persen minyak dunia. Kapal-kapal tanker yang biasanya membawa minyak dari negara Teluk dilarang melintas.

Alhasil, sejumlah negara, seperti Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, terpaksa mengurangi produksinya karena tangki penyimpanan penuh akibat berkurangnya kemampuan untuk mengekspor minyak. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.

Kondisinya semakin runyam karena aksi berbalas serangan juga menghantam fasilitas energi di Timur Tengah. Produksi sejumlah kilang minyak dan ladang gas terganggu. Sektor energi pun kian tertekan.

Lorries roll along the highway between Riyadh and al-Ahsa, some 200 kilometers east of the Saudi capital, on March 15, 2026. The war sparked by US-Israel strikes on Iran on February 28 has sparked chaos on global markets, and sent the price of oil soaring after the Islamic republic imposed control by force over the crucial artery. (Photo by AFP) /

AS mendesak sekutu-sekutunya untuk menekan Iran dengan mengirimkan kapal perang di Selat Hormuz. Namun, sejumlah negara lebih memilih bernegosiasi dengan Iran. Tujuannya agar tanker diizinkan lewat sehingga mengamankan kebutuhan energi dalam negeri.

Jepang menjadi salah satu negara yang mendapatkan ”lampu hijau” dari Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan telah berkomunikasi dengan Jepang terkait kemungkinan pembukaan Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang memasok energi negara itu.

”Iran, tentu saja, siap mendukung lewatnya kapal-kapal yang terkait dengan Jepang melalui Selat Hormuz,” katanya kepada kantor berita Kyodo, Jumat (20/3/2026).

Jepang menerima sekitar 90 persen pengiriman minyaknya melalui Selat Hormuz. Pengiriman itu tersendat sejak perang tiga pekan lalu. Kondisi ini mendorong Jepang dan sejumlah negara lain untuk melepaskan cadangan minyaknya.

infografik
AFP
Perang Timur Tengah: Hanya Sedikit Kapal yang Masih Melintasi Selat Hormuz

Langkah itu dilakukan untuk meredam gejolak harga. Serangan gabungan AS-Israel ke Iran telah memicu meroketnya harga minyak mentah dunia di atas 100 dolar AS per barel. Harga sejumlah kebutuhan bahan pokok pun ikut naik.

Araghchi menyebutkan, Jepang mempunyai hubungan yang sangat bersahabat dengan Iran. Ia menegaskan, serangan AS-Israel merupakan invasi yang tidak dapat dibenarkan dan ilegal terhadap negaranya.

Ia pun menyerukan kepada komunitas internasional, termasuk Jepang, untuk menentang serangan tersebut. ”Ini tindakan agresi ilegal. Respons (serangan balasan) Iran merupakan pembelaan diri dan akan berlanjut selama diperlukan,” ucapnya.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi telah bertemu dengan Presiden AS Donald Trump untuk membahas masalah Iran. Trump mendesak Jepang mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz untuk membuka blokade oleh Iran.

Quote

Perang di Timur Tengah telah menunjukkan fasilitas energi di kawasan itu sebagai target yang sangat berbahaya. Hal ini dapat memicu dampak yang lebih luas, bukan hanya krisis keamanan, melainkan juga ancaman krisis energi.

Takaichi mengatakan, ia telah memberi tahu Trump tentang dukungan apa yang dapat dan tidak dapat diberikan Jepang di selat tersebut berdasarkan hukum Jepang. Tindakan ”Negeri Matahari Terbit” itu dibatasi oleh Konstitusi Pasifis pascaperang. Namun, undang-undang keamanan tahun 2015 memungkinkan Jepang untuk menggunakan kekuatan di luar negeri jika serangan, termasuk terhadap mitra keamanan dekat, mengancam kelangsungan hidup Jepang dan tidak ada cara lain yang tersedia untuk mengatasinya.

AS longgarkan sanksi

Berbagai upaya dilakukan AS untuk meredam gejolak harga minyak. Jika harga minyak tetap tinggi, Trump berpotensi mendapatkan tekanan politik di negaranya. Sebab, harga bensin dan sejumlah barang di AS ikut naik.

AS pun mencabut sanksi atas pembelian minyak Iran di laut hingga 30 hari ke depan. Pelonggaran sanksi ini akan membawa sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, upaya itu dapat membantu mengurangi tekanan pada pasokan energi dunia.

TOPSHOT - An Emirates aircraft prepares for landing as a smoke plume rises from an ongoing fire near Dubai International Airport in Dubai on March 16, 2026. Flights were gradually resuming at Dubai airport on March 16, previously the world's busiest for international flights, the airport operator said, after a "drone-related incident" sparked a fuel tank fire nearby, as Iran kept up its Gulf attacks. (Photo by AFP) /

Langkah tersebut mencerminkan kekhawatiran Gedung Putih mengenai lonjakan harga minyak setelah tiga minggu serangan AS-Israel terhadap Iran. Hal itu merugikan sektor bisnis dan konsumen AS menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang. Padahal, Partai Republik yang mendukung Trump berharap untuk mempertahankan kendali Kongres dengan menghindari kebijakan yang merugikan kepentingan domestik AS.

”Pada intinya, kita akan menggunakan minyak Iran untuk melawan Teheran guna menjaga harga tetap rendah saat kita melanjutkan Operasi Epic Fury,” kata Bessent.

Operasi Epic Fury merupakan kampanye militer intensif AS terhadap target strategis di Iran. Sejak operasi ini digelar tiga pekan lalu, lebih dari 1.000 orang di Iran tewas. AS mengandalkan serangan udara gabungan bersama Israel untuk menggempur Iran.

Infografik Serangan AS-Israel ke Iran

Analis energi dari Obsidian Risk Advisors, Brett Erickson, mengatakan, upaya AS untuk mengendalikan harga minyak tidak akan berdampak berarti sampai Selat Hormuz dibuka. Menurut dia, pelonggaran sanksi justru menimbulkan kekhawatiran tentang menipisnya instrumen ekonomi Washington dengan cepat.

”Jika kita telah mencapai titik melonggarkan sanksi terhadap negara yang sedang kita perangi, kita benar-benar kehabisan pilihan,” ucapnya.

39 fasilitas energi rusak

Perang di Timur Tengah telah menunjukkan fasilitas energi di kawasan itu sebagai target yang sangat berbahaya. Hal ini dapat memicu dampak yang lebih luas, bukan hanya krisis keamanan, melainkan juga ancaman krisis energi.

Laporan The New York Times menyebutkan, setidaknya 39 kilang minyak, ladang gas alam, dan infrastruktur energi lainnya di sembilan negara rusak sejak AS dan Israel mulai membombardir Iran. Bahkan, beberapa fasilitas telah dihantam serangan drone lebih dari sekali.

Missiles are seen in the skies over Doha on March 3, 2026. Qatar's military intercepted two ballistic missiles early in the morning of March 3, the country's defence ministry said in a statement, after AFP reporters heard loud explosions across Doha. (Photo by MAHMUD HAMS / AFP)

”Semakin lama perang ini berlangsung, semakin besar kemungkinan kedua belah pihak akan memainkan kartu andalan mereka yang paling kuat, yaitu pengaruh energi,” kata Clayton Seigle, ahli energi di Center for Strategic and International Studies, kelompok riset di Washington.

Dalam serangan terbaru, Israel menyerang ladang gas alam South Pars di lepas pantai Iran, Rabu (18/3/2026). Sementara Iran membalasnya pada hari yang sama dengan menyerang fasilitas energi negara-negara tetangganya di Teluk, termasuk fasilitas gas alam utama di Qatar.

Sejumlah serangan tersebut menyebabkan harga minyak dan gas alam melonjak. Hal ini disebabkan kekhawatiran sebagian besar pasokan energi dari Teluk akan terisolasi untuk sementara waktu.

Infografik riset Perkembangan Harga Minyak (Brent) Dunia Dampak Perang AS-Israel dan Iran.

Harga minyak mentah Brent, patokan minyak internasional, sempat mencapai 119 dolar AS per barel, Kamis. Padahal, harga minyak dunia kurang dari 73 per barel sebelum perang dimulai.

Jadi, selain penutupan Selat Hormuz, serangan terhadap fasilitas energi membuat gejolak harga minyak semakin sulit diredam. ”Efek kumulatif inilah yang benar-benar mendorong krisis ini,” ujar analis risiko politik yang berbasis di Washington, Raad Alkadiri.

Tiga pekan perang berlangsung, lonjakan harga minyak masih sulit dikendalikan. Trump yang sebelumnya sesumbar dampak kenaikan harga ini hanya jangka pendek, kini mulai melunak dengan melonggarkan sanksi terhadap minyak Iran. Dunia menunggu perang berakhir agar tidak terjadi krisis energi. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto