Denmark dan Greenland gagal membujuk AS agar batal mencaplok Greenland. Jerman, Swedia, Norwegia, dan Perancis akan mengirim pasukan ke Greenland.
15 Jan 2026 08:42 WIB · Internasional
AP
WASHINGTON, KAMIS — Denmark dan Amerika Serikat tetap berbeda pandangan terkait Greenland. Pertemuan Denmark-AS yang berlangsung ”terus terang, tetapi konstruktif” di Gedung Putih tidak menghasilkan kesepakatan apa pun. Presiden AS Donald Trump bersikeras untuk mengambil alih Greenland, sementara Denmark tak bisa menggoyahkan tekadnya.
Kedua belah pihak hanya sepakat membentuk kelompok kerja tingkat tinggi. Lantaran pembicaraan buntu, negara-negara Eropa, antara lain Jerman, Perancis, Norwegia, dan Swedia, akan mengirimkan pasukan ke Greenland sekaligus menggelar latihan militer.
”Kami masih memiliki perbedaan pendapat mendasar. Kami tidak berhasil mengubah posisi Amerika. Presiden AS tetap ingin menaklukkan Greenland,” kata Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen, dikutip Associated Press, Kamis (15/1/2026).
Pertemuan Denmark-AS dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan dihadiri Menlu AS Marco Rubio. Trump tak hadir, tetapi ia percaya diri pertemuan itu akan berhasil karena AS punya hubungan yang baik dengan Denmark.
Di media sosial, Trump terus mendesakkan keinginannya. Trump beralasan AS butuh Greenland untuk tujuan keamanan nasional. Lokasi Arktik strategis bagi sistem pertahanan rudal Golden Dome yang ingin dibangun Trump.
”Masalahnya, Denmark tidak bisa berbuat apa-apa jika Rusia atau China ingin menduduki Greenland, tetapi kita bisa berbuat banyak. NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) akan jauh lebih tangguh dan efektif jika Greenland di tangan AS,” ujarnya.
Merespons cuitan-cuitan Trump di media sosial, Denmark dan Greenland mengumumkan akan meningkatkan kehadiran militer di dalam dan sekitar Greenland. Mereka bekerja sama dengan negara-negara sekutu di NATO. Tujuannya melatih kemampuan beroperasi dalam kondisi Arktik yang unik serta memperkuat jejak aliansi di Arktik demi keamanan Eropa dan transatlantik.
Wakil Perdana Menteri Greenland Mute Egede mengungkapkan, pasukan NATO yang membawa pesawat dan kapal militer mulai berdatangan pada Rabu hingga beberapa hari mendatang.
Jerman mengirimkan tim pengintai Bundeswehr sebagai tim awal untuk membicarakan bantuan militer yang dibutuhkan guna memastikan keamanan Greenland. Presiden Perancis Emmanuel Macron juga berkomitmen mendukung Greenland sepenuhnya.
”Greenland tidak untuk dijual. Greenland tidak ingin diperintah oleh AS. Greenland tidak ingin menjadi bagian dari AS. Kami memilih Greenland yang sekarang ini, yang jadi bagian dari Kerajaan Denmark,” kata Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen di Kopenhagen.
Jajak pendapat The Economist-YouGov yang diterbitkan pada Selasa menunjukkan ketidaksetujuan publik AS terhadap upaya Washington mengambil alih Greenland melalui aksi militer atau melalui pembayaran kepada rakyat Greenland. Lebih dari dua pertiga warga AS menentang gagasan Trump.
Jajak pendapat Reuters/Ipsos terhadap 1.217 warga di AS menemukan hal serupa. Hanya 17 persen warga AS yang mendukung akuisisi Greenland. Sebanyak 47 persen responden tidak setuju AS mencaplok Greenland. Mayoritas pendukung Partai Demokrat dan Partai Republik juga menentang penggunaan kekuatan militer.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/15/4c50fb02ea9ea5f7e257766da43a18bd-Greenland_Daily_Life.jpg)
Denmark sudah memperingatkan penggunaan kekuatan militer akan menandai berakhirnya NATO, perjanjian pertahanan transatlantik yang menjadi pilar utama tatanan dunia sejak 1949. Sekitar 66 persen responden, termasuk 91 persen pendukung Demokrat dan 40 persen pendukung Republikan, khawatir AS akan merusak aliansi NATO dan hubungan AS dengan negara-negara sekutu di Eropa.
Para pendukung Trump pun kecewa karena dalam kampanye pemilihan presiden, ia pernah berjanji menghindari perang. Rakyat AS sudah lelah dengan perang di Irak dan Afghanistan. Keinginan untuk konflik dengan asing, termasuk upaya untuk memperluas wilayah AS, rendah sepanjang masa jabatan kedua Trump.
Greenland dianggap penting dan strategis karena perubahan iklim menyebabkan es mencair dan membuka kemungkinan rute perdagangan yang lebih pendek ke Asia. Hal itu juga dapat mempermudah ekstraksi dan pengangkutan cadangan mineral penting yang belum dimanfaatkan yang dibutuhkan untuk komputer dan ponsel.
Trump juga menginginkan Greenland untuk memperluas jaring keamanan wilayah AS. Ia berulang kali menyebut ada ancaman dari kapal-kapal Rusia dan China yang beroperasi di sekitar Greenland.
Namun, para ahli dan penduduk Greenland mempertanyakan klaim tersebut. ”Satu-satunya orang China yang saya lihat adalah ketika saya pergi ke pasar makanan cepat saji,” kata Lars Vintner, teknisi pemanas. Dia sering berlayar dan berburu serta belum pernah melihat ada kapal Rusia atau China.
Trump mengatakan, Greenland sangat penting bagi program pertahanan rudal Golden Dome (Kubah Emas). AS mengandalkan jaringan satelit dan stasiun radar peringatan dini untuk mendeteksi dan melacak rudal.
Saat ini, sistem tersebut ditempatkan di Kepulauan Aleutian di Pasifik, Alaska, Inggris, dan Greenland. Ada pula sistem pertahanan udara Aegis Ashore yang berbasis di kota Redzikowo, Polandia, yang mampu mencegat rudal balistik jarak pendek hingga menengah. Selain itu terdapat radar di Deveselu, Romania.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/15/9d8f7b14bd63168f0724e47e9a6f61f0-wires_photo_136.jpg)
AS memiliki beberapa jenis rudal pencegat, termasuk 44 GBI, yang ditempatkan di California dan Alaska. ”Rudal-rudal tersebut digunakan untuk menangkal ancaman dari Asia, tetapi silo GBI tidak berada di posisi yang tepat untuk mencegat ancaman yang datang dari Rusia,” kata Etienne Marcuz, peneliti di lembaga kajian Perancis, Yayasan Penelitian Strategis.
Rudal balistik antarbenua (ICBM) diluncurkan oleh mesinnya ke ketinggian beberapa ratus kilometer. Setelah berada di ruang angkasa, rudal bergerak tanpa daya di sepanjang lintasan balistik sebelum melepaskan hulu ledaknya. Fase terakhir penerbangan melibatkan hulu ledak yang memasuki kembali atmosfer.
Jika tujuannya untuk melindungi dari ancaman Asia, kata Marcuz, lebih masuk akal untuk mengerahkan rudal GBI di Amerika Serikat bagian timur laut, bukan Greenland. Ide Trump untuk menempatkan antena radar dan pencegat di Greenland dinilainya hanya dalih untuk mencaplok Greenland.
Proyek Kubah Emas yang jadi impian Trump adalah upaya melindungi wilayah AS dari segala jenis rudal. Trump berencana mengalokasikan 175 miliar dolar AS untuk program ini. Ia ingin Kubah Emas sudah ada pada akhir masa jabatannya. Banyak ahli menganggap keinginan itu tidak realistis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/12/22935f2e2b403d02cc0c4d29ef4f3bfa-20260112_ADI_Greenland_mumed.png)
Todd Harrison dari American Enterprise Institute memperkirakan proyek Kubah Emas dapat menelan biaya hingga 1 triliun dolar AS selama 20 tahun. Inti dari rencana ini adalah armada satelit pencegat di orbit Bumi rendah yang dirancang untuk meninggalkan orbit dan bertabrakan dengan rudal selama penerbangan mereka di ruang angkasa.
Rudal balistik antarbenua yang diarahkan ke AS pasti akan melewati Kutub Utara. Jadi, memiliki radar deteksi dan kemampuan intersepsi di sana akan masuk akal.
Militer AS saat ini mengoperasikan sistem radar di pangkalan Pituffik. Marcuz menambahkan, punya radar di Greenland sebenarnya tidak banyak gunanya. Sebab, AS saat ini mengerahkan satelit orbit rendah SBIRS khusus untuk melacak rudal dalam fase ekso-atmosfer. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto