ENERGI

AS Serang Iran Lagi, Harga Minyak Melonjak

Dalam tiga hari terakhir saja, dua kali AS kembali menyerang Iran.  Dampaknya, harga minyak kembali naik.

28 Mei 2026 15:30 WIB · Internasional

AP

Oleh Elsa Emiria Leba

WASHINGTON, KAMIS — Sinyal tentang upaya bina damai antara Amerika Serikat dan Iran tak kunjung jelas. Ketika ada kabar kesepakatan damai segera tercapai, Washington menyerang Teheran. Harga minyak global lagi-lagi melonjak.

CNBC memberitakan, harga minyak mentah Brent naik lebih dari 3 persen menjadi 97,29 dolar AS per barel, Kamis (28/5/2026). Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) meningkat 3,42 persen menjadi 91,71 dolar AS per barel.

Penutupan Selat Hormuz akibat perang AS-Israel dan Iran sejak 28 Februari 2026 membuat harga minyak terus bergejolak. Para ekonom memperingatkan, bank sentral mungkin harus menaikkan suku bunga jika inflasi memburuk akibat perang AS-Israel terhadap Iran. Kenaikan suku bunga berujung pada peningkatan biaya pinjaman serta berpotensi membebani pertumbuhan ekonomi.

Dalam catatan yang dirilis Rabu (27/5/2026, malam, Citibank menyatakan, pasar minyak menemukan pijakan yang lebih kuat. Sebab, investor semakin memperhitungkan skenario terburuk atas gangguan pasokan. Namun, ketidakpastian mengenai waktu kesepakatan AS-Iran membuat bank sentral tetap waspada.

”Para pembuat kebijakan mempertimbangkan pengaturan moneter yang lebih ketat untuk merespons risiko inflasi akibat energi. Kenaikan harga minyak mentah yang berkepanjangan mulai berdampak pada tekanan inflasi, khususnya melalui efek lanjutan (second round effects), yang mendorong bank-bank sentral bersikap hawkish,” bunyi analisis Citibank.

Pengendara mengantre untuk mengisi bahan bakar kendaraan di sebuah stasiun pengisian bahan bakar di Hyderabad, Telangana, India, Senin (25/5/2026), setelah kenaikan harga bahan bakar di tengah krisis energi global akibat perang di Timur Tengah. Perusahaan-perusahaan bahan bakar milik negara di India kembali menaikkan harga bensin dan solar untuk keempat kalinya dalam 10 hari terakhir.
Sebuah kapal tanker minyak bersandar dan membongkar muatan minyak mentah di pelabuhan Qingdao, Provinsi Shandong, China bagian timur, Selasa (7/4/2026).

Tidak hanya minyak, sebagian besar saham di Asia, terutama negara-negara pengimpor minyak, turun. Sebab, ada kekhawatiran gencatan senjata AS-Iran yang semakin goyah.

Indeks Hang Seng di Hong Kong anjlok 1,5 persen, Korea Selatan hampir 1 persen, dan Shanghai 0,3 persen. Bursa di Indonesia sedang libur.

Tren penurunan minyak dan saham itu terjadi setelah saham global menguat pada Rabu (27/5/2026). Para investor sempat mengabaikan perkembangan di Timur Tengah karena optimisme atas kemajuan teknologi akal imitasi (AI). ”Setiap berita utama menarik pasar ke arah yang berbeda, membuat para pelaku pasar sampai pada kesimpulan yang sama yang telah mereka perjuangkan selama berminggu-minggu,” kata Stephen Innes dari SPI Asset Management.

Menurut Innes, Selat Hormuz pada akhirnya kemungkinan akan kembali dibuka sepenuhnya. ”Tetapi sampai ada sesuatu yang lebih konkret daripada rancangan proposal dan sandiwara politik, setiap barel tetap menjadi sandera volatilitas berita utama, bahkan jika harganya di bawah 100 dolar AS per barel,” tuturnya.

Permusuhan berlanjut

Kegelisahan pasar terjadi ketika upaya bina damai antara kedua pihak dengan Pakistan sebagai mediator tidak kunjung membuahkan hasil positif. Menurut The New York Times, baik AS maupun Iran kini melanjutkan permusuhan kedua dalam tiga hari terakhir.

AS kembali menyerang Iran dengan alasan melindungi diri, Kamis waktu setempat. Washington menyasar situs militer di kota pelabuhan serta menembak empat pesawat nirawak.

”Salah stasiun kendali darat di Bandar Abbas yang hendak meluncurkan pesawat nirawak kelima, terkena serangan tersebut. Tindakan ini terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk menjaga gencatan senjata,” kata seorang pejabat Komando Tengah AS (Centcom).

Pada Kamis dini hari, media Iran Fars melaporkan tiga ledakan keras terdengar dari timur Bandar Abbas. Ledakan menyebabkan sistem pertahanan udara Bandar Abbas diaktifkan untuk sementara waktu.

Serangan ini merupakan serangan lanjutan setelah AS memulai kembali serangan ke Iran, Senin (25/5). Serangan itu juga menargetkan Bandar Abbas serta sekitar Selat Hormuz, khususnya situs rudal dan kapal-kapal Teheran yang mencoba memasang ranjau di perairan.

Pengendara melintas di dekat papan reklame politik besar di kawasan Lapangan Enghelab, Teheran, Iran, Selasa (26/5/2026). Pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan semalam terhadap lokasi rudal di Iran dan kapal-kapal yang dituduh tengah berupaya menebar ranjau di perairan Teluk sementara upaya diplomatik untuk mengakhiri perang terus berlangsung.

Setelah serangan terbaru AS, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan, telah menargetkan pangkalan udara AS sekitar pukul 04.50 pada Kamis. CNN mencatat, lokasi pangkalan udara tersebut tidak disebutkan. AS memiliki pangkalan udara di sejumlah negara di Timur Tengah.

Media Iran, IRIB, juga menyatakan, militer Teheran telah menembak empat kapal di Selat Hormuz, Kamis, pukul 12.35. ”Empat kapal itu mencoba menyeberangi Selat Hormuz dan memasuki Teluk Persia tanpa koordinasi dengan pasukan keamanan,” tulis IRIB di Telegram.

Pada Selasa (26/5), IRGC juga menyatakan menjatuhkan satu pesawat nirawak AS serta mengincar sebuah jet tempur dan pesawat nirawak lain di wilayah udara Iran. Tidak jelas kapan penembakan ini terjadi.

Di kawasan, Kuwait menyatakan, sistem pertahanan udara negara itu menanggapi serangan rudal dan pesawat nirawak dari ”musuh”, Kamis. Pernyataan ini tidak menyebutkan dari mana serangan berasal. Selama perang AS-Israel dan Iran, Kuwait menjadi salah satu negara yang terkena serangan balasan Iran karena menampung militer AS.

Sinyal beragam

Seiring situasi saling serang teranyar itu, AS dan Iran terus memberi sinyal yang berbeda terkait progres upaya bina damai. Iran meyakini, permusuhan baru antara Teheran dan Washington tidak mungkin terjadi.

”Kemungkinan perang rendah karena kelemahan musuh. Namun, militer Iran tetap bersiap siaga dengan amunisi penuh jika diserang,” kata pejabat IRGC Mohammad Akbarzadeh kepada Tasnim, Rabu.

Sebagai tanda kemungkinan situasi kembali normal, otoritas Iran memulihkan sebagian akses ke internet global, pekan ini. Internet Iran ditutup selama tiga bulan selama perang berlangsung.

Presiden AS Donald Trump, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dan beberapa pejabat AS turut berupaya menjamin prospek perdamaian sudah dekat. Namun, Trump juga memberikan pernyataan keras terkait Iran, Selat Hormuz, dan Oman.

”Iran sangat ingin membuat kesepakatan. Sejauh ini, kami tidak puas, tetapi kami akan puas. Entah kesepakatan tercapai atau kami akan harus menyelesaikan pekerjaan. Iran bernegosiasi dengan sisa-sisa kekuatannya,” kata Trump dalam rapat kabinet, Rabu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara dalam rapat kabinet di Ruang Kabinet Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (27/5/2026). Trump bertemu para anggota kabinet beberapa hari setelah mengatakan kesepakatan damai dengan Iran “sebagian besar telah dirundingkan”. Tampak pula Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Perang AS Pete Hegseth, dan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick.
Kapal-kapal terlihat berlabuh di sekitar Selat Hormuz, tepatnya di lepas Kota Khasab, Semenanjung Musandam bagian utara, Oman, Minggu (17/5/2026).

Trump turut memperingatkan Oman, sekutu AS, ketika ditanya tentang kemungkinan pengaturan jangka pendek yang memungkinkan Iran-Oman mengendalikan Selat Hormuz. Menurut dia, selat harus terbuka untuk semua.

Sinyal yang beragam tersebut menggarisbawahi kondisi rapuh pembicaraan AS-Iran. Fokus utama kesepakatan damai awal AS-Iran adalah menghentikan perang, memulihkan lalu lintas Selat Hormuz, dan melanjutkan pembicaraan tentang program nuklir Teheran.

Trump juga menambah kerumitan situasi dengan menuntut negara-negara Teluk, Pakistan, dan lainnya menandatangani Perjanjian Abraham sebagai bagian dari kesepakatan damai AS-Iran. Inti Perjanjian Abraham adalah pengakuan terhadap Israel.

AS-Israel memulai perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Sementara perang berlangsung, Tel Aviv turut berperang melawan Hizbollah, sekutu penting Iran di Lebanon. Israel ikut menyerang Lebanon setelah AS memulai kembali serangan ke Iran, pekan ini. (AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W