Benang kusut negosiasi AS-Iran terus dicoba diurai. Babak demi babak negosiasi digelar untuk menembus kabut ketidakpastian yang menyelimuti perundingan.
27 Mei 2026 15:30 WIB · Internasional
KOMPAS/TIURMA CLARA JESSICA
”Negosiasi dengan Iran berjalan dengan baik,” tulis Presiden AS Donald Trump di media sosial Truth Social, Selasa (26/5/2026). Pernyataan itu seolah memberi sinyal positif terkait perundingan kedua negara. Namun, sesungguhnya, belum ada kepastian kapan perang akan berakhir.
Apalagi, pernyataan Trump selalu dibumbui ancaman. Berulang kali ia mengatakan akan menyerang Iran besar-besaran jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan. Negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman akan membuatnya rapuh karena salah satu pihak memaksakan kehendak.
”Kesepakatan itu hanya akan menguntungkan semua pihak atau tidak ada kesepakatan sama sekali, kembali ke medan perang dan baku tembak, tetapi lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya. Tidak ada yang menginginkan itu,” jelas Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/26/7d7c70b0f63440a97142060e2f367154-wires_photo_31.jpg)
Sejauh ini, perang telah menewaskan lebih dari 3.300 orang di Iran dan melukai puluhan ribu warga. Banyak warga terpaksa mengungsi, bahkan hingga ke luar Iran. Serangan AS-Israel juga menyasar sejumlah fasilitas sipil, seperti sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, jembatan, dan infrastruktur energi.
Belum jelas kapan dan bagaimana kesepakatan itu akan dirampungkan. Negara-negara di Timur Tengah pun terlibat dalam mengupayakan negosiasi AS-Iran untuk mengakhiri perang. Sebab, perang telah meluas di seluruh kawasan.
Delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf terbang ke Qatar, Senin. Belum jelas apa yang dibahas dalam kunjungan itu. Qatar merupakan salah satu sekutu AS di Teluk.
Ghalibaf juga memimpin delegasi Iran dalam negosiasi dengan AS yang dimediasi oleh Pakistan pada April lalu. Saat itu, delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance. Namun, negosiasi gagal mencapai kesepakatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/12/30b6eafb-ef4f-47b5-a69d-cbb5ae770785.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/12/ad4fd791c49f2184a72050af67900cf9-wires_photo_2026_04_12T080149.727.jpg)
Perundingan tak cuma membahas masalah di Iran. Iran ingin kesepakatan juga harus mengakhiri pertempuran di semua lini, termasuk terhadap Hizbullah di Lebanon. Konflik Hizbullah dan Israel semakin memanas sejak tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara AS dan Israel.
Pejabat AS yang menolak disebutkan identitasnya mengatakan kepada Associated Press, draf perundingan Iran mencakup pengakhiran perang antara Israel dan Hizbullah, serta komitmen untuk tidak ikut campur dalam urusan domestik negara-negara di kawasan tersebut. Hal itu merujuk pada dukungan Iran terhadap kelompok proksi, termasuk Houthi di Yaman, Hamas di Gaza, dan kelompok bersenjata Syiah di Irak.
”AS menginginkan agar Israel memiliki kebebasan untuk merespons apa yang mereka anggap sebagai ancaman di Lebanon, tetapi Iran menolaknya,” ujar pejabat tersebut.
AS dan Israel punya tujuan yang sama, yaitu mengakhiri program nuklir Iran, mengekang program rudalnya, dan mengakhiri dukungannya terhadap kelompok proksi bersenjata. Namun, Iran tidak gampang tunduk dengan syarat-syarat yang diajukan untuk mengakhiri perang itu.
Pejabat itu mengatakan, berdasarkan kesepakatan potensial tersebut, Iran kemungkinan akan setuju untuk melepaskan persediaan uraniumnya. Jika Iran tidak menyerahkan persediaan uraniumnya selama periode 60 hari itu, pencabutan sanksi tidak akan dilakukan.
Negosiasi pun berjalan alot. Iran juga belum melepaskan cengkeramannya dalam memblokade Selat Hormuz. Perairan sempit yang memisahkan jazirah Arab dengan daratan utama Iran itu merupakan jalur distribusi 20 persen minyak global. AS membalasnya dengan memblokade kapal dan pelabuhan Iran sejak pertengahan April lalu.
”Berdasarkan kesepakatan yang sedang dirancang, selat tersebut akan secara bertahap dibuka kembali bersamaan dengan berakhirnya blokade pelabuhan Iran yang diberlakukan AS,” kata pejabat itu.
Seorang pejabat AS yang diberi pengarahan tentang negosiasi itu menyampaikan, AS akan mengizinkan Iran untuk menjual minyaknya melalui keringanan sanksi. Pelepasan dana miliaran dolar AS milik Iran yang dibekukan akan dinegosiasikan selama periode 60 hari.
Perundingan juga mencakup kekhawatiran AS-Israel bahwa Iran akan mengembangkan senjata nuklir. Pejabat itu mengatakan, berdasarkan kesepakatan potensial tersebut, Iran kemungkinan akan setuju untuk melepaskan persediaan uraniumnya. Jika Iran tidak menyerahkan persediaan uraniumnya selama periode 60 hari itu, pencabutan sanksi tidak akan dilakukan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/df03a28d11de6bc3a4b00d6ec31bcb21-20260205_ANU_AFP_Instalasi_Nuklir_Iran_mumed.jpg)
”Sebagian (uranium) kemungkinan akan dikurangi dan sisanya akan dialihkan ke negara ketiga,” ujarnya. Rusia telah menawarkan untuk menerimanya.
Akan tetapi, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, memberikan pernyataan berbeda. Ia mengatakan, meskipun kesepahaman telah dicapai pada sebagian besar masalah, masih ada pekerjaan yang harus dilakukan.
”Fokus negosiasi adalah mengakhiri perang, dan pada tahap ini kami tidak membahas detail masalah nuklir,” ucapnya.
Iran telah berulang kali menyatakan program nuklirnya hanya untuk tujuan damai, yaitu pada sektor energi. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, mereka siap untuk meyakinkan dunia bahwa pihaknya tidak menginginkan senjata nuklir.
Di tengah gencatan senjata yang rapuh, konflik di Timur Tengah masih memanas. AS kembali menyerang wilayah Iran, Selasa. Sementara Israel membombardir Lebanon dengan lebih dari 120 serangan udara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/cfc1757a-4432-4c09-88e2-7237bdff0fd3.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/27/8fafbf47ac20bd689ec0368d2836d943-APTOPIX_Lebanon_Israel_Iran_War.jpg)
Otoritas Iran menganggap AS telah melanggar gencatan senjata dengan menyerang target di dekat Selat Hormuz. Mereka menyebut serangan itu sebagai pelanggaran berat terhadap gencatan senjata. Sementara AS mengklaim serangannya bersifat defensif dengan menargetkan lokasi rudal dan kapal yang mencoba memasang ranjau.
AS juga menuntut Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Mesir, Turki, dan Jordania untuk segera menandatangani Kesepakatan Abraham atau Abraham Accords. Kesepakatan yang bertujuan menormalisasi hubungan dengan Israel itu diminta jadi bagian dari perjanjian untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran.
”Ini akan menjadi kesepakatan terpenting yang pernah ditandatangani oleh negara-negara besar ini yang selalu berkonflik. Tidak ada yang akan melampauinya pada masa lalu atau di masa depan. Oleh karena itu, saya dengan tegas meminta agar semua negara segera menandatangani Kesepakatan Abraham,” kata Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/27/57e4a7bb78de0ef228df5610634cb251-Israel_Palestinians_Gaza.jpg)
Akan tetapi, hal itu dinilai tidak realistis. Sentimen negara-negara Arab terhadap Israel mengeras selama perang di Gaza. Serangan Israel sejak Oktober 2023 sebagai respons terhadap serangan Hamas telah menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina.
”Bagi sebagian besar negara yang disebutkan, biaya politik untuk bergabung dalam kondisi saat ini akan sangat mahal. Perang Gaza masih berlangsung, aneksasi Tepi Barat semakin cepat, pasukan Israel tetap berada di Lebanon selatan,” kata HA Hellyer, peneliti senior di Royal United Services Institute dan Center for American Progress.
Yossi Mekelberg, ahli Timur Tengah di lembaga pemikir Chatham House mengatakan, tuntutan Trump terhadap sejumlah negara untuk menandatangani Kesepakatan Abraham tidak lebih dari sekadar iming-iming bagi Israel. Ia memprediksi tuntutan itu tidak akan terpenuhi.
”Mengapa negara-negara ini akan memberi penghargaan kepada (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu setelah begitu banyak kerusakan di kawasan itu dan terhadap kepentingan mereka,” ujarnya. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase