Beijing memakai sejumlah aturan untuk menekan negosiasi perdagangan menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
27 Apr 2026 13:43 WIB · Internasional
AP/MARK SCHIEFELBEIN
BEIJING, SENIN — Ketika Amerika Serikat sibuk dengan perang di Timur Tengah, China justru berupaya memperkuat tekanan ekonomi. Upaya ini dapat meningkatkan daya tawar Beijing menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, Mei nanti.
AS-China sedang menjalani gencatan perang dagang melalui tarif impor. Gencatan berlaku hingga November 2026. Pada saat yang bersamaan, Beijing terus memupuk ”amunisi” untuk menguatkan posisi dalam negosiasi perdagangan di antara kedua negara.
Sejak Oktober 2025, China memberlakukan aturan untuk menghukum entitas asing yang mengalihkan rantai pasok dari China, memperketat ekspor logam tanah jarang (LTJ), melarang cip akal imitasi (AI) asing, serta menghentikan penggunaan perangkat lunak keamanan siber AS dan Israel oleh perusahaan China. Aturan lain juga sedang dicanangkan.
China tengah mempertimbangkan pembatasan ekspor peralatan manufaktur tenaga surya ke AS. Beijing memproduksi lebih dari 80 persen komponen panel surya dunia.
”Harapan di pihak China adalah gencatan senjata yang lebih langgeng dan lebih luas, tetapi dengan logika ’jika Anda menginginkan perdamaian, persiapkan perang’,” kata Joe Mazur, analis geopolitik di perusahaan konsultan Trivium China di Beijing, kepada Reuters edisi Senin (27/4/2026).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/30/1232e010-acc4-4d8a-9df0-13d8d6936262_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/12/7e45a137-f182-42b4-a4e2-e5d88d982da4_jpeg.jpg)
Langkah China tidak berhenti di situ. Pada April 2026, Perdana Menteri China Li Qiang menandatangani dua peraturan. Pertama, mengizinkan tindakan balasan terhadap negara asing yang dianggap melakukan ”yurisdiksi ekstrateritorial yang melanggar hukum”. Kedua, mengizinkan pihak berwenang menyelidiki dan menindak pihak-pihak yang mendiskriminasi rantai industri dan pasokan China.
”Perusahaan-perusahaan sekarang menghadapi ketidakseimbangan: China dapat mengurangi pembelian dari perusahaan asing tanpa konsekuensi berarti, sementara perusahaan asing yang mengurangi ketergantungannya pada China berisiko diselidiki,” ujar Michael Hart, Presiden Kamar Dagang AS di China (Amcham China).
China juga menahan diri untuk mengkritik Trump atas perang AS-Israel terhadap Iran di Timur Tengah sejak 28 Februari 2026. Konflik ini telah membebani harga minyak global akibat penutupan Selat Hormuz. Selama perang, China mempertajam fokus pada langkah ekonomi baru karena AS mengancam untuk menjatuhkan sanksi bagi pembeli minyak Iran, April lalu. Sekitar 80 persen minyak Teheran dibeli Beijing.
”Akan ada lebih banyak upaya dari pihak China untuk mengidentifikasi di mana titik-titik tekanan (chokepoints) itu berada. Mereka akan terus mencoba berbagai hal untuk melihat mana yang berhasil,” ujar Mazur.
Kementerian Perdagangan China tidak segera menanggapi permintaan komentar. Begitu pula dengan Kementerian Luar Negeri China.
AS tidak berdiam diri. Meski fokus sedang terbagi dengan perang, Washington sudah menerapkan alat tekanannya sendiri.
Pada Maret 2026, AS meluncurkan penyelidikan perdagangan terhadap kelebihan kapasitas industri dan penggunaan kerja paksa di China. Di samping itu, ekspor peralatan pembuatan semikonduktor dan cip canggih dibatasi guna memperlambat produksi negara itu.
”Karena kontrol ekspor itulah mengapa China tidak memiliki akses ke beberapa peralatan manufaktur semikonduktor tercanggih di dunia,” tutur Chim Lee, analis kebijakan industri di Economist Intelligence Unit.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/21/889d1099-7b34-42e8-b9fc-62c8276f7def_jpg.jpg)
China turut mengalami kesulitan untuk mencapai kesepakatan pembelian pesawat Boeing senilai puluhan miliaran dolar AS. Beijing mengincar pesawat dan suku cadang dari perusahaan AS itu. Akan tetapi, menurut pejabat pemerintah dan pejabat perusahaan, Washington membutuhkan pengiriman LTJ tipe itrium dari China untuk membuat mesin jet.
”Penerapan kontrol ekspor ekstrateritorial oleh China dapat mengganggu rantai pasok global dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang menyebabkan kerusakan ekonomi dan non-ekonomi,” tulis Kamar Dagang Eropa di China dalam laporan April ini.
Dalam isu LTJ dan mineral penting, China memang lebih unggul dari AS. Selama bertahun-tahun, China menjadi produsen terbesar LTJ di dunia. Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan, sebanyak 61 persen produksi LTJ yang ditambang berasal dari China dan 92 persen produksi global dalam tahap pemrosesan dikendalikan China.
Dalam menghadapi kontrol ekspor LTJ dan mineral penting, AS sudah berusaha mengurangi ketergantungannya kepada China. Beberapa kesepakatan dagang terbaru Trump dengan negara lain, termasuk China, menyinggung akses terhadap dua hal itu.
Penggunaan aturan sebagai alat tekanan ekonomi pernah berhasil. Ketika China membatasi ekspor LTJ, semua rantai pasok otomotif AS kekurangan pasokan dalam beberapa minggu. Trump-Xi akhirnya menandatangani perjanjian untuk meredakan perang dagang di Busan, Korea Selatan, Oktober lalu.
Menurut rencana, Trump dan Xi akan bertemu lagi di Beijing pada 14-15 Mei 2026. Pertemuan kedua pemimpin pada akhir Maret lalu batal karena perang Timur Tengah.
”Trump dan Xi kemungkinan akan mencoba menstabilkan hubungan bilateral AS-China secara lebih luas yang tegang akibat perselisihan, termasuk geopolitik dan perdagangan. Negara-negara lain akan senang karena mereka tidak perlu memilih pihak dan dapat memperoleh beberapa hal positif untuk waktu yang akan datang,” kata Pendiri dan Presiden Pusat untuk China dan Globalisasi Henry Huiyao Wang, menurut Forbes.
Wang menduga, dalam kesempatan itu, kedua pemimpin akan menyetujui pembentukan Dewan Perdagangan dan Dewan Investasi antara China dan AS. Kedua lembaga itu bakal menjadi mekanisme yang baik guna mengevaluasi produk dagang yang dibeli, meningkatkan impor dan ekspor, serta memacu investasi di antara kedua negara.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/30/08ccad5f-8b97-441d-a85f-d312ea084f28_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/12/2df7d23e-ed10-4970-822b-adbd9eacefd0_jpg.jpg)
Isu lain yang kemungkinan mengemuka adalah penurunan tarif AS untuk fentanil serta pembukaan visa bebas bagi warga AS ke China. Trump dan Xi bisa saja membahas lebih lanjut mengenai status Taiwan.
Selain perdagangan, pembahasan isu perang di Timur Tengah tampaknya akan muncul. Wang menjelaskan, China memiliki pengaruh yang kuat di kawasan.
Beijing adalah mitra dagang terbesar dengan Iran dan semua negara Teluk di dekatnya, termasuk Arab Saudi dan Pakistan. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri China Wang Yi sudah melakukan hampir 30 panggilan telepon dengan rekan-rekan di seluruh wilayah, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Uni Eropa terkait dengan perang di Timur Tengah.
”Saya pikir pertama-tama, mereka akan menstabilkan krisis yang sedang terjadi di Iran,” ujar Wang yang turut menduga pembahasan krisis energi dan perang Ukraina-Rusia dapat mencuat.
BBC mencatat, China memiliki kepentingan agar perang di Timur Tengah segera berakhir. Karena perang, ekspor mobil listrik meningkat 140 persen pada Maret 2026 dibandingkan tahun lalu. Namun, pengiriman terhambat di pelabuhan, termasuk ke pasar di Timur Tengah. (REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji