AS Stop Pasok Intelijen ke Ukraina

Penghentian laporan intelijen AS berpengaruh pada pertahanan udara Ukraina.

06 Mar 2025 08:41 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

WASHINGTON DC, KAMIS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin gencar menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy agar menyetujui rencana gencatan senjata versi dirinya. Setelah memutuskan menyetop bantuan militer untuk Ukraina, kali ini, AS memotong semua laporan intelijen yang biasanya mereka pasok ke Ukraina untuk membantu peperangan.

Demikian diumumkan Direktur Badan Pusat Intelijen AS (CIA) John Ratcliffe pada Rabu (5/3/2025) waktu setempat atau Kamis (6/3/2025) waktu Indonesia. Penghentian pasokan intelijen ini menyusul penghentian bantuan persenjataan untuk Ukraina yang dimulai awal pekan ini.

”Kita harus memastikan Ukraina bekerja sama apabila menginginkan gencatan senjata dan perundingan damai terlaksana,” kata Ratcliffe dalam wawancara dengan Fox News.

Central Intelligence Agency Director John Ratcliffe arrives before President Donald Trump addresses a joint session of Congress at the Capitol in Washington, Tuesday, March 4, 2025. (Win McNamee/Pool Photo via AP)

Ketika ditanya lebih lanjut mengenai penghentian itu, Ratcliffe tidak banyak menjelaskan. Ia hanya mengatakan, sifatnya sementara. Artinya, apabila ada perubahan keadaan yang menurut Trump positif, bantuan kemungkinan dilanjutkan. Ratcliffe tidak bisa menjamin hal tersebut.

Laporan intelijen AS sangat membantu Ukraina mengantisipasi serangan rudal dan pesawat nirawak Rusia. Perang dimulai sejak 24 Februari 2022 ketika Rusia menginvasi Ukraina karena tidak menyetujui keinginan Kyiv bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Tanpa bantuan intelijen, Ukraina berisiko kehilangan lebih banyak orang.

Di dalam perang, Ukraina mengoperasikan persenjataan pemberian AS, antara lain rudal ATACMS dan sistem roket artileri HIMARS. Keduanya bergantung pada laporan intelijen untuk menemukan posisi sasaran militer Rusia dan memperkirakan serangan dari Rusia.

”Keterlaluan sekali kita menahan informasi dari orang-orang Ukraina yang sedang berjuang dan sekarat,” kata anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Jim Himes, terhadap keputusan Trump. Himes adalah anggota Komite Intelijen DPR AS.

Di luar korban militer, Ukraina setidaknya mencatat 12.000 warga sipil mereka tewas. Sebanyak 2 juta warga Ukraina mengungsi ke negara-negara lain di Eropa.

Tekanan AS

Zelenskyy selama ini mengatakan mau berunding dengan Rusia asalkan terpenuhi dua persyaratan. Keinginan Ukraina adalah Rusia mengembalikan lima wilayah yang mereka duduki selama konflik—termasuk Semenanjung Crimea—dan jaminan keamanan dari AS untuk menggentarkan niat Rusia kalau-kalau mereka mau menginvasi lagi.

Demi terwujudnya hal tersebut, Zelenskyy mengatakan siap mundur sebagai kepala negara jika menjamin keanggotaan Ukraina di NATO. Ia juga mau memberi kuota eksploitasi sangat besar kepada AS mengakses cadangan logam tanah jarang Ukraina.

Namun, keinginan itu rontok di dalam kunjungan Zelenskyy ke Washington DC pekan lalu. AS menolak memberikan jaminan keamanan militer kepada Ukraina. Menurut Trump, jika ada perusahaan AS beroperasi di tambang logam tanah jarang Ukraina, sudah cukup untuk mencegah risiko serangan Rusia.

Trump juga mengatakan kepada Zelenskyy agar tidak meminta kembalinya lima wilayah yang diduduki Rusia. Demikian pula dengan niat Ukraina bergabung dengan NATO, sebaiknya dibatalkan.

Selain itu, Trump terkesan memihak kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dan malah menyalahkan Zelenskyy atas perang di negaranya. Walhasil, Trump, Wakil Presiden AS JD Vance, dan Zelenskyy cekcok di depan para wartawan ketika jumpa pers.

President Donald Trump meets with Ukraine President Volodymyr Zelenskyy in the Oval Office at the White House in Washington, Friday, Feb. 28, 2025. (AP Photo/Mstyslav Chernov)

Setelah kejadian itu, Trump mengumumkan penghentian segala jenis bantuan untuk Ukraina. Menurut Ratcliffe, ini menunjukkan Trump tidak ragu mengambil langkah ekstrem guna mewujudkan perdamaian di Ukraina.

Bagi Gedung Putih, taktik itu dinilai membuahkan hasil. Pada Selasa, Trump menerima surat dari Zelenskyy yang menyatakan Ukraina siap memulai hubungan baru dan berlandaskan iktikad baik dengan AS.

Dalam pidato di hadapan Kongres AS, Trump mengungkapkan, isi surat itu mengatakan Ukraina siap memulai kembali perjanjian ekstraksi logam tanah jarang. Selain itu, Trump mengatakan sudah berbicara dengan Putin yang menyatakan siap melakukan perundingan damai dengan Ukraina.

Sementara itu, Zelenskyy melalui unggahan di media sosial mengatakan bahwa perdamaian bisa dicapai di bawah kerja sama AS dan Eropa. ”Ukraina menginginkan perdamaian abadi, bukan cuma gencatan senjata. Kami ingin perang berhenti selamanya. Jika kita berkoordinasi di bawah kepemimpinan AS, semua bisa tercapai,” tuturnya.

Ia mengatakan, ada perkembangan positif terkait hubungan Ukraina-AS. Tampaknya, tidak lama lagi, Zelenskyy dan Trump akan mengadakan pertemuan kembali untuk memperbaiki relasi. Ia mengungkapkan, Kepala Kantor Staf Presiden Ukraina Andriy Yermak sudah berbicara dengan Penasihat Keamanan Gedung Putih Mike Waltz.

”Semestinya, pekan depan sudah ada kepastian hasil,” cuit Zelenskyy di media sosial.

A Ukrainian serviceman prepares to fire a M777 howitzer towards Russian positions at the frontline near Donetsk, Ukraine, Monday, March 3, 2025. (AP Photo/Roman Chop)

Rapat Eropa

Sementara itu, pada Kamis, negara-negara Eropa menggelar rapat darurat untuk membicarakan perkembangan terkini. Mereka juga hendak membahas keamanan di benua tersebut karena AS tidak lagi mau membantu.

”Eropa menghadapi bahaya laten dengan skala lebih besar daripada yang kita bayangkan selama ini,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Rapat itu tidak menjadikan Ukraina sebagai topik utama. Di Eropa, ada aset beku Rusia sebesar 183 miliar euro. Aset itu sejatinya bisa dipakai menyokong Ukraina, tetapi belum ada pembahasan soal itu.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan, setiap negara anggota diimbau meningkatkan anggaran pertahanan masing-masing menjadi 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sebelumnya, besaran anggaran pertahanan adalah 2 persen dari PDB.

AS mengucurkan 3,4 persen PDB untuk NATO. Jumlah yang menurut Trump tidak adil. Apalagi, ada tujuh anggota NATO yang iurannya di bawah 2 persen PDB mereka. Oleh sebab itu, Trump meminta negara-negara Eropa mengucurkan 5 persen PDB mereka untuk NATO jika masih mau dukungan AS. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari