PROGRAM NUKLIR

Garda Revolusi Iran Berlatih di Selat Hormuz, Perang Kian Dekat?

Iran merespons langkah AS yang menambah kekuatan militernya di Timur Tengah. Garda Revolusi Iran latihan di Selat Hormuz yang menjadi jalur perdagangan energi dunia.

17 Feb 2026 10:00 WIB · Internasional

AFP/IRANIAN ARMY OFFICE

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

TEHERAN, SELASA – Saat Amerika Serikat menambah kekuatan militernya di Timur Tengah, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mulai berlatih di Selat Hormuz. Ketegangan ini berlangsung menjelang pertemuan tak langsung kedua negara di Geneva, Swiss, untuk membahas program nuklir Iran, Selasa (17/2/2026).

Latihan Garda Revolusi Iran juga digelar menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan melancarkan aksi militer ke Iran jika perundingan gagal mencapai kesepakatan. Dalam beberapa waktu terakhir, AS meningkatkan kekuatan militernya di sekitar Iran. Hal ini sebagai antisipasi jika terjadi perang.

”Latihan perang di Selat Hormuz yang durasinya tidak ditentukan bertujuan untuk mempersiapkan Garda Revolusi menghadapi potensi ancaman keamanan dan militer di selat tersebut,” lapor kantor berita Iran, IRNA.

Foto yang dirilis kantor Angkatan Darat Iran pada Rabu (13/10/2021), menunjukkan latihan gabungan antara tentara Iran dan Garda Revolusi Islam (IRGC) pada hari kedua di sebuah tempat yang tidak disebutkan. Iran memulai latihan pertahanan udara besar-besaran selama dua hari di gurun tengah negara itu. Photo by - / Iranian Army office / AFP) *** Local Caption *** This handout photo made available by the Iranian Army office on October 13, 2021 shows soldiers during the second day of a joint military exercise between the Iranian army and the Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). (Photo by - / Iranian Army office / AFP)

Selat Hormuz merupakan perairan yang memisahkan Iran dengan Jazirah Arab. Selat ini terletak di antara Teluk Arab dan Teluk Oman. Perairan strategis ini merupakan jalur perdagangan energi dunia. Lebih dari 17 juta barel minyak mentah, atau sekitar 20 persen dari total produksi minyak global, melintasi Selat Hormuz setiap hari. 

Para politisi Iran telah berulang kali mengancam akan memblokade Selat Hormuz. Jika hal ini terjadi, pasokan energi dunia akan terganggu. Sejumlah negara di Timur Tengah pun berharap perang AS-Iran tidak terjadi.

Latihan Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz menjadi demonstrasi kekuatan militer merespons langkah AS yang menambah kekuatannya di sekitar Iran. Sejak Januari lalu, sedikitnya 163 pesawat angkut militer strategis C-17 dan C-5 milik AS telah bergerak dari AS dan Jepang ke Timur Tengah melalui Eropa.

Peta lokasi Selat Hormuz
Kapal induk USS Abraham Lincoln (kiri) melintasi Selat Hormuz pada 19 November 2019. Sebuah kelompok serang angkatan laut AS yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln telah dikerahkan ke perairan Timur Tengah, menurut pemerintah Amerika Serikat pada 26 Januari 2026. Iran balas memperingatkan AS.

AS juga mengirimkan kapal USS Gerald R Ford ke Timur Tengah. Armada ini akan memperkuat militer AS di Laut Arab setelah gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di perairan itu pada Januari 2026.

Sebelumnya, jet tempur AS menembak jatuh pesawat nirawak (drone) Iran di Laut Arab pada awal Februari 2026. AS menyebutkan, drone Shahed-139 milik Iran ditembak saat mendekati USS Abraham Lincoln. Pada hari yang sama, pasukan Iran mencoba menahan kapal tanker berbendera AS di Selat Hormuz.

Pada Jumat (13/2/2026), Trump mengatakan, pergantian pemerintahan di Iran akan menjadi hal terbaik. Pernyataan itu disampaikan di tengah demonstrasi menentang pemerintah yang digelar di luar Iran, termasuk di AS.

Quote

Latihan perang di Selat Hormuz yang durasinya tidak ditentukan bertujuan untuk mempersiapkan Garda Revolusi menghadapi potensi ancaman keamanan dan militer di selat tersebut.

AS lebih realistis

Perundingan AS-Iran yang dimediasi Oman dijadwalkan digelar di Geneva, Selasa ini. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah tiba di Geneva. Pertemuan tersebut merupakan perundingan kedua setelah perundingan di Muskat, Oman, pada 6 Februari 2026.

Araghchi menyebut akan bertemu dengan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi untuk diskusi teknis mendalam terkait nuklir. Ia juga dijadwalkan bertemu dengan koleganya dari Swiss dan Oman.

”Dari diskusi yang telah berlangsung di Muskat hingga saat ini, setidaknya yang telah kami dengar adalah posisi AS mengenai isu nuklir Iran telah bergeser ke arah yang lebih realistis,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei.

In this handout photo obtained from Iran’s foreign ministry delegation on February 6, 2026, Iran’s Foreign Minister Abbas Araghchi (C) arrives for a meeting in Muscat. Iran and the United States began talks on February 6 in Oman, with Washington refusing to rule out military action against its foe if diplomacy fails while the Islamic republic vowed to defend itself against "any excessive demands". (Photo by Omani Foreign Ministry / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / IRAN FOREIGN MINISTRY" - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Akan tetapi, negosiasi tersebut terancam alot. Sebab, Iran ingin negosiasi sebatas membahas program nuklirnya. Sementara AS ingin memperluas pembahasan, termasuk mengenai pembatasan rudal balistik Iran dan mengakhiri dukungan Iran terhadap kelompok militan di sekitarnya.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Hamid Ghanbari mengatakan, negaranya sedang mencari kesepakatan dengan AS yang akan menghasilkan manfaat ekonomi bagi kedua negara, khususnya di sektor penerbangan, pertambangan, serta minyak dan gas. ”Agar kesepakatan dapat berjalan dengan baik, sangat penting AS juga dapat memperoleh manfaat darinya di bidang-bidang dengan potensi pengembalian ekonomi yang kuat dan cepat,” ujarnya.

AS telah mengirimkan Utusan Khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, untuk negosiasi kedua di Geneva. Keduanya juga terlibat dalam negosiasi pertama di Oman.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, AS berharap tercapai kesepakatan dalam perundingan itu. ”Presiden (Trump) selalu lebih menyukai hasil damai dan hasil negosiasi daripada konflik,” ucapnya. (AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul