Prestasi tim sepak bola putri U-12 dan U-14 asal Indonesia menyalakan asa olahraga ini pada masa depan. Prestasi ini jadi bukti pentingnya pembinaan yang serius.
23 Apr 2025 07:45 WIB · Olahraga
Alya Putri Ariyanto (12) tak bisa menahan kesedihannya di lapangan The Arena Singapura, Singapura, Minggu (20/4/2025). Selepas wasit meniup peluit panjang, Alya menangis. Bersama rekan setimnya, MilkLife Shakers, Alya meratapi kekalahan pada babak final turnamen sepak bola putri kelompok umur se-Asia, JSSL Singapore 7’s 2025.
Alya berhak bersedih. Debut di turnamen internasional, dia ingin pulang membawa gelar juara. Itu oleh-oleh terbaiknya ketika pulang ke Indonesia, saat sampai di Kudus, Jawa Tengah, bertemu orangtuanya.
Namun, tim Alya kalah 0-1 dari National Development Center A Singapura pada babak final sehingga harus puas pulang sebagai runner-up. Kekalahan itu menyakitkan, terutama karena Alya sebagai penjaga gawang menjadi tembok terakhir pertahanan tim. Gol itu juga menjadi satu-satunya yang bersarang di gawang Alya sepanjang turnamen.
Walakin, Alya sebenarnya sudah melangkah jauh dari titik awalnya. Pada 2023, Alya adalah satu dari ratusan siswi sekolah dasar yang untuk pertama kalinya menjajal sepak bola. Tidak pernah tebersit dalam benak Alya sebelumnya untuk bermain sepak bola.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/23/3af081becf12985987b7bdc7670b079a-887DEE83_7A99_4F0A_A2AD_32C46F2FAF0A.jpeg)
Di Stadion Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Alya berlaga, membela tim sekolahnya, dan mulai bermimpi menjadi pesepak bola putri. Siapa sangka, dua tahun dari momen itu, Alya bisa bermain di turnamen internasional dan menjadi wakil Indonesia.
”Dulu, aku awalnya main bola voli. Sekarang malah jadi ketagihan main sepak bola. Aku ingin main jadi pemain timnas,” kata Alya pada awal tahun ini setelah dinobatkan sebagai kiper terbaik turnamen MLSC All Stars.
Alya bersama 11 pemain MilkLife Shakers merupakan pemain-pemain yang pernah bertanding di turnamen sepak bola putri antarsekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah, MilkLife Soccer Challenge. Mereka berasal dari berbagai daerah, tempat turnamen tersebut diadakan sejak 2023.
Setiap daerah menggelar dua seri turnamen. Pemain terbaik dipilih untuk memperkuat tim All-Stars tiap-tiap daerah yang saling berlaga. Para pemain terbaik lantas dipilih lagi untuk memperkuat tim yang bertanding di Singapura.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/26/e495c12e487f31f39e9ee53673d1bf03-20250126kum7.jpg)
Selain MilkLife Shakers yang merupakan tim kelompok umur 12 tahun, ada pula Hydroplus Strikers yang diperkuat pemain kelompok umur 14 tahun. Hydroplus Strikers, yang juga keluar sebagai runner-up, menjalani proses yang sama hingga akhirnya bisa bertanding di Singapura.
”Karena ini menjadi pengalaman perdana bertanding melawan atlet dari berbagai negara, pasti ada kekurangan yang seharusnya bisa dihindari agar bermain lebih all out. Tapi, kami tetap bangga karena mental mereka sebagai atlet sudah mulai terbentuk,” kata pelatih kepala kedua tim, Timo Scheunemann.
Mentalitas yang dimaksud Timo, antara lain, ditunjukkan Locita Waranggani Olah Nismara (12). Meski sedih tidak bisa juara, Locita mengaku senang karena bisa mencicipi turnamen internasional dan bertemu lawan dari berbagai negara.
”Kami enggak takut dengan lawan yang (posturnya) lebih besar, skill kami bisa diadu,” kata siswi SDN Pacarkeling V Surabaya tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/23/ef6ddb66515bc9e277aa548d7f13ec21-CAAA6B85_317C_4054_8009_9CE96624CE78.jpeg)
Di sisi lain, MilkLife Shakers ataupun Hydroplus Strikers juga menunjukkan penampilan impresif sepanjang turnamen. Hydroplus Strikers, misalnya, mampu meraih enam kemenangan dan tiga hasil imbang dalam sembilan laga babak kualifikasi.
Mereka melanjutkan tren positif pada babak semifinal sebelum akhirnya menelan kekalahan pertama pada partai puncak. Sementara MilkLife Shakers menyapu bersih tujuh laga babak penyisihan. Kekalahan pada partai final menjadi satu-satunya hasil negatif mereka pada turnamen tersebut.
Timo berharap, para atlet memetik pengalaman dan pelajaran dari turnamen itu. Mantan pelatih timnas sepak bola putri ini juga optimistis torehan para jebolan MilkLife Soccer Challenge tersebut dapat lebih moncer pada masa yang akan datang.
Turnamen di Singapura dan keberhasilan para pemain meraih prestasi di sana adalah pencapaian awal dari serangkaian proses yang panjang. Timo, yang juga merupakan pelatih kepala turnamen MilkLife Soccer Challenge, selalu mengatakan sejak awal, bakat-bakat sepak bola putri Indonesia akan muncul apabila diberi wadah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/23/656c9a416e675ba3428a4352ce027848-20250123kum24.jpg)
Turnamen seperti MilkLife Soccer Challenge menjadi wadah bagi mereka. Dengan turnamen, anak-anak putri seperti Alya dan Locita menjajal sepak bola, mencoba berlaga, dan akhirnya menunjukkan potensinya. Ini pun menjadi bagian dari pembinaan sejak usia belia.
Namun, terpenting, upaya membangun sepak bola putri dengan pembinaan dari level anak-anak ini diiringi komitmen untuk melakukan secara berkelanjutan dan berjenjang. Timo percaya, upaya serius itu tidak akan mengkhianati hasil. Prestasi di Singapura seharusnya bisa menjadi bukti dari optimisme Timo.
Direktur Program MilkLife Soccer Challenge Teddy Tjahjono juga menilai, capaian kedua tim tersebut sudah baik. Menurut Teddy, tujuan utama memberangkatkan Hydropus Strikers dan MilkLife Shakers ke turnamen internasional sebenarnya untuk mengukur kemampuan para pesepak bola putri belia.
”Setelah ini, tentu kami akan melakukan evaluasi agar bisa menorehkan prestasi serta bertanding di ajang yang lebih prestisius,” kata Teddy.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/23/6b88da72fd67927d5fb08a1b15d642c6-96196782_9CB7_454C_BBD8_DB8545DABEE7.jpeg)
Di Singapura, air mata memang tumpah, tapi asa justru menyala lebih terang. Dari kaki-kaki kecil yang berlari tanpa takut, lahir harapan besar tentang masa depan sepak bola putri Indonesia. Jalan mereka masih panjang, tetapi pijakan awal ini sudah begitu menjanjikan.
Apabila komitmen pembinaan terus dirawat dan diikuti banyak pihak, bukan tak mungkin, tangis di final hari ini berubah jadi senyum juara di panggung dunia esok nanti.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto