NEW DELHI, RABU — Pemulihan relasi China-India tidak hanya berpeluang membawa manfaat bagi kedua negara. Negara-negara di Asia Tenggara dan kawasan lain di belahan selatan Bumi bisa mendapat manfaat akurnya dua raksasa itu.
Dalam artikel di Global Times pada Rabu (20/8/2025), Maya Majueran, Direktur BRISL, lembaga kajian di Sri Lanka, menulis bahwa lawatan Menteri Luar Negeri China Wang Yi ke India bukan sekadar pemulihan relasi China-India. Lawatan itu membuka potensi kebangkitan besar Global South atau kawasan di belahan selatan Bumi.
Wang bertandang ke India pada 18-20 Agustus 2025. Ia, antara lain, diterima Perdana Menteri India Narendra Modi dan Menlu India S Jaishankar.
Pada akhir Agustus 2025, Modi akan ke China untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Shanghai Cooperation Organization (SCO). Selain di BRICS, India dan China bergabung di SCO bersama sejumlah negara Asia Tengah, Asia Selatan, dan Eropa Timur. Di sela KTT SCO, Modi dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping.
Majueran mengingatkan, India memiliki Act East. Sementara China menjalankan Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI). Lembaga BRISL yang dia pimpin fokus meneliti BRI.
Ia menyebut ada kesamaan BRI dan ACT East. Kesamaan pokoknya adalah upaya mengoptimalkan koneksi dan potensi ekonomi Asia Tenggara, Asia Selatan, dan kawasan lain di belahan selatan Bumi.
”Jika kedua upaya ini bisa diselaraskan, akan menghasilkan manfaat besar. Mengurangi biaya perdagangan, membuka potensi rantai pasok, dan semakin mengintegrasikan perekonomian kawasan,” tulisnya dalam laman media China itu.
Kerja sama India-China akan menjembatani Asia Selatan dengan Asia Tenggara. ”China dan India bisa menunjukkan kerja sama keduanya membawa manfaat, bukan hanya bagi mereka, melainkan juga bagi Global South. Inisiatif ini akan menggemakan suara bersama kawasan selatan soal tata kelola global,” ujar Majueran.
Pembukaan potensi kawasan selatan lewat penyelarasan BRI dan Act East akan meningkatkan daya tawar Global South. Penyelarasan itu akan menjadi bukti bahwa kekuatan selatan tidak bisa diremehkan. ”Dalam dunia yang terbelah seperti sekarang, relasi China-India amat penting,” lanjut Maurejan.
Negara-negara ASEAN dan Asia Selatan telah lama menjadi lokasi aneka proyek BRI. Sementara Act East baru mulai berjalan. Berbagai proyek itu membawa manfaat ekonomi pada negara-negara penerimanya.
Runtuhkan tembok
Sementara dalam artikel di The Hindu, Rajeev Ranjan Chaturvedy menjelaskan, hambatan pokok perbaikan relasi China-India bukan sengketa perbatasan. Hambatan pokoknya, menurut Koordinator Pusat Kajian Teluk Bengala (CBBS) India itu, adalah India masih mempertahankan ”Tembok China” dalam pikiran mereka.
India masih memandang China dengan penuh kecurigaan dan kekhawatiran. Di sisi lain, China belum memandang India sebagai kekuatan penting dari selatan. ”Tembok ini harus diruntuhkan,” tulis Chaturvedy di media India tersebut.
China-India, lanjut dia, punya pengalaman ribuan tahun menjalin relasi baik. Para sarjana kedua negara telah lama saling belajar dan mengunjungi. ”Sejak abad pertama Masehi, telah ada catatannya,” lanjut Chaturvedy.
Peneliti Program Asia Selatan pada Chatham House, Chietigj Bajpaee, berpendapat senada dengan Chaturvedy. Bajpaee menyebut, relasi China-India punya makna penting dalam jangka panjang. Keduanya sama-sama peradaban tua.
Di sisi lain, mereka juga bersaing menaikkan pengaruh di tengah penurunan peran Barat. Bagi Barat, relasi China-India kerap dipandang hanya soal persaingan dan sengketa perbatasan.
Dampaknya, Barat gagal memahami kekuatan geopolitik China-India. Hingga 40 persen warga dunia tinggal di kedua negara itu. Pada 2050, hingga 30 persen produk domestik bruto global diproyeksikan dikendalikan China-India.
Tidak kalah penting, mereka kuat secara militer. Bukan hanya sama-sama memiliki bom nuklir, mereka juga punya pasukan terbesar.
Bagi Antoine Levesques dari International Institute for Strategic Studies (IISS), di tengah kesan permusuhan, China-India mencatatkan kerja sama ekonomi bernilai puluhan miliar dollar AS per tahun. China salah satu sumber barang modal dan bahan baku industri India.
”Dengan semua kekhawatiran dan kewaspadaan, India tidak bisa menanggung dampak pemutusan relasi ekonomi dengan China jika mau mempertahankan pertumbuhannya,” kata Levesques.
Dampak tekanan
Media India, The Economic Times, dalam tajuk rencananya menyebut peran Presiden AS Donald Trump dalm kedekatan kembali China-India. Tekanan keras Trump pada China dan India memaksa kedua tetangga itu mengatur ulang relasi mereka.
Redaksi The Economic Times menyebut Trump menerapkan proteksionisme ekonomi. Proteksionisme Washington disikapi Beijing-New Delhi secara pragmatis.
Aneka pembatasan dagang oleh AS memaksa China mencari alternatif baru. India ada dalam daftar China. Hal itu menyebabkan China melonggarkan kontrol ekspor pupuk, mesin, logam tanah jarang, dan permesinan ke India.
Keputusan AS mengenakan tarif bea masuk impor 50 persen ke India dipandang sebagai pelecehan. Alasan AS, India terus membeli minyak Rusia dalam jumlah besar.
Di sisi lain, India diingatkan untuk tetap hati-hati mengelola relasi dengan AS-China. Bagaimanapun, AS tetap vital untuk kepentingan nasional India. Apalagi, Trump tidak akan selamanya jadi presiden dan kebijakan AS bisa berubah di masa depan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, India dan China memang membeli minyak Rusia. Walakin, caranya berbeda.
Bessent mengatakan, bagi China, minyak Rusia hanya salah satu sumber. Sejak Rusia menyerbu Ukraina, kenaikan ekspor ke China tak sampai lima persen.
Sebaliknya, ekspor minyak Rusia ke India naik lebih dari 50 persen. Penjualan ke India, kata Bessent, salah satu cara Rusia terus mendapat uang untuk mendanai serangan ke Ukraina.
India, bagi AS, memanfaatkan kesulitan Rusia mengekspor minyak sebagai kesempatan menimbun kekayaan. India membeli minyak Rusia lalu menjualnya ke berbagai negara.
Pembelinya termasuk negara-negara yang menyanksi Rusia selepas serangan ke Ukraina. "Mereka hanya mencari untung. Mereka menjual kembali," kata Bessent dalam wawancara dengan CNBC.
"Membeli minyak Rusia murah, lalu menjualnya kembali," lanjut Bessent.
Bessent mengatakan, banyak konglomerat India bertambah kaya dari menjadi perantara ekspor Rusia. AS tidak bisa menerima itu dan mengganggap India salah satu faktor penghentian perang di Ukraina sulit tercapai. "Mereka dapat untung 16 miliar dollar AS," ujarnya merujuk pada sejumlah konglomerat India. (AP/AFP)
NEW DELHI, RABU — Pemulihan relasi China-India tidak hanya berpeluang membawa manfaat bagi kedua negara. Negara-negara di Asia Tenggara dan kawasan lain di belahan selatan Bumi bisa mendapat manfaat akurnya dua raksasa itu.
Dalam artikel di Global Times pada Rabu (20/8/2025), Maya Majueran, Direktur BRISL, lembaga kajian di Sri Lanka, menulis bahwa lawatan Menteri Luar Negeri China Wang Yi ke India bukan sekadar pemulihan relasi China-India. Lawatan itu membuka potensi kebangkitan besar Global South atau kawasan di belahan selatan Bumi.
Wang bertandang ke India pada 18-20 Agustus 2025. Ia, antara lain, diterima Perdana Menteri India Narendra Modi dan Menlu India S Jaishankar.
Serial Artikel
China-India Meredam Ketegangan
China dan India terus memperbaiki hubungan diplomatik. Pengelolaan konflik perbatasan kedua negara mendorong relasi yang lebih baik dalam menghadapi tekanan AS.
Pada akhir Agustus 2025, Modi akan ke China untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Shanghai Cooperation Organization (SCO). Selain di BRICS, India dan China bergabung di SCO bersama sejumlah negara Asia Tengah, Asia Selatan, dan Eropa Timur. Di sela KTT SCO, Modi dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping.
Majueran mengingatkan, India memiliki Act East. Sementara China menjalankan Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI). Lembaga BRISL yang dia pimpin fokus meneliti BRI.
Ia menyebut ada kesamaan BRI dan ACT East. Kesamaan pokoknya adalah upaya mengoptimalkan koneksi dan potensi ekonomi Asia Tenggara, Asia Selatan, dan kawasan lain di belahan selatan Bumi.
”Jika kedua upaya ini bisa diselaraskan, akan menghasilkan manfaat besar. Mengurangi biaya perdagangan, membuka potensi rantai pasok, dan semakin mengintegrasikan perekonomian kawasan,” tulisnya dalam laman media China itu.
Kerja sama India-China akan menjembatani Asia Selatan dengan Asia Tenggara. ”China dan India bisa menunjukkan kerja sama keduanya membawa manfaat, bukan hanya bagi mereka, melainkan juga bagi Global South. Inisiatif ini akan menggemakan suara bersama kawasan selatan soal tata kelola global,” ujar Majueran.
Pembukaan potensi kawasan selatan lewat penyelarasan BRI dan Act East akan meningkatkan daya tawar Global South. Penyelarasan itu akan menjadi bukti bahwa kekuatan selatan tidak bisa diremehkan. ”Dalam dunia yang terbelah seperti sekarang, relasi China-India amat penting,” lanjut Maurejan.
Negara-negara ASEAN dan Asia Selatan telah lama menjadi lokasi aneka proyek BRI. Sementara Act East baru mulai berjalan. Berbagai proyek itu membawa manfaat ekonomi pada negara-negara penerimanya.
Serial Artikel
Metamorfosis Kebijakan India di Asia Tenggara
Pada era 1990-an, kebijakan luar negeri India berlandaskan ”melihat ke Timur”, merujuk Asia Tenggara dan ASEAN. Di bawah PM Narendra Modi, India mengenalkan kebijakan ”bertindak ke Timur” (”act east policy”).
Sementara dalam artikel di The Hindu, Rajeev Ranjan Chaturvedy menjelaskan, hambatan pokok perbaikan relasi China-India bukan sengketa perbatasan. Hambatan pokoknya, menurut Koordinator Pusat Kajian Teluk Bengala (CBBS) India itu, adalah India masih mempertahankan ”Tembok China” dalam pikiran mereka.
India masih memandang China dengan penuh kecurigaan dan kekhawatiran. Di sisi lain, China belum memandang India sebagai kekuatan penting dari selatan. ”Tembok ini harus diruntuhkan,” tulis Chaturvedy di media India tersebut.
China-India, lanjut dia, punya pengalaman ribuan tahun menjalin relasi baik. Para sarjana kedua negara telah lama saling belajar dan mengunjungi. ”Sejak abad pertama Masehi, telah ada catatannya,” lanjut Chaturvedy.
Peneliti Program Asia Selatan pada Chatham House, Chietigj Bajpaee, berpendapat senada dengan Chaturvedy. Bajpaee menyebut, relasi China-India punya makna penting dalam jangka panjang. Keduanya sama-sama peradaban tua.
Di sisi lain, mereka juga bersaing menaikkan pengaruh di tengah penurunan peran Barat. Bagi Barat, relasi China-India kerap dipandang hanya soal persaingan dan sengketa perbatasan.
Dampaknya, Barat gagal memahami kekuatan geopolitik China-India. Hingga 40 persen warga dunia tinggal di kedua negara itu. Pada 2050, hingga 30 persen produk domestik bruto global diproyeksikan dikendalikan China-India.
Tidak kalah penting, mereka kuat secara militer. Bukan hanya sama-sama memiliki bom nuklir, mereka juga punya pasukan terbesar.
Bagi Antoine Levesques dari International Institute for Strategic Studies (IISS), di tengah kesan permusuhan, China-India mencatatkan kerja sama ekonomi bernilai puluhan miliar dollar AS per tahun. China salah satu sumber barang modal dan bahan baku industri India.
”Dengan semua kekhawatiran dan kewaspadaan, India tidak bisa menanggung dampak pemutusan relasi ekonomi dengan China jika mau mempertahankan pertumbuhannya,” kata Levesques.
Serial Artikel
India Masih Membeli Minyak Rusia, Trump Ancam Naikkan Tarif
Trump berusaha menekan India agar menuruti kemauannya. Ia frustrasi dengan India yang susah diajak berunding.
Media India, The Economic Times, dalam tajuk rencananya menyebut peran Presiden AS Donald Trump dalm kedekatan kembali China-India. Tekanan keras Trump pada China dan India memaksa kedua tetangga itu mengatur ulang relasi mereka.
Redaksi The Economic Times menyebut Trump menerapkan proteksionisme ekonomi. Proteksionisme Washington disikapi Beijing-New Delhi secara pragmatis.
Aneka pembatasan dagang oleh AS memaksa China mencari alternatif baru. India ada dalam daftar China. Hal itu menyebabkan China melonggarkan kontrol ekspor pupuk, mesin, logam tanah jarang, dan permesinan ke India.
Keputusan AS mengenakan tarif bea masuk impor 50 persen ke India dipandang sebagai pelecehan. Alasan AS, India terus membeli minyak Rusia dalam jumlah besar.
Di sisi lain, India diingatkan untuk tetap hati-hati mengelola relasi dengan AS-China. Bagaimanapun, AS tetap vital untuk kepentingan nasional India. Apalagi, Trump tidak akan selamanya jadi presiden dan kebijakan AS bisa berubah di masa depan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, India dan China memang membeli minyak Rusia. Walakin, caranya berbeda.
Bessent mengatakan, bagi China, minyak Rusia hanya salah satu sumber. Sejak Rusia menyerbu Ukraina, kenaikan ekspor ke China tak sampai lima persen.
Sebaliknya, ekspor minyak Rusia ke India naik lebih dari 50 persen. Penjualan ke India, kata Bessent, salah satu cara Rusia terus mendapat uang untuk mendanai serangan ke Ukraina.
India, bagi AS, memanfaatkan kesulitan Rusia mengekspor minyak sebagai kesempatan menimbun kekayaan. India membeli minyak Rusia lalu menjualnya ke berbagai negara.
Pembelinya termasuk negara-negara yang menyanksi Rusia selepas serangan ke Ukraina. "Mereka hanya mencari untung. Mereka menjual kembali," kata Bessent dalam wawancara dengan CNBC.
"Membeli minyak Rusia murah, lalu menjualnya kembali," lanjut Bessent.
Bessent mengatakan, banyak konglomerat India bertambah kaya dari menjadi perantara ekspor Rusia. AS tidak bisa menerima itu dan mengganggap India salah satu faktor penghentian perang di Ukraina sulit tercapai. "Mereka dapat untung 16 miliar dollar AS," ujarnya merujuk pada sejumlah konglomerat India. (AP/AFP)