ASEAN Tegas Hadapi AS dan China

Makin besar tantangan geoekonomi dan geopolitik, ASEAN kompak menyatakan mereka pemain global yang penting bagi rantai pasok. Netral berarti aktif di multilateral.

02 Jun 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar, Elsa Emiria Leba

Konferensi Tingkat Tinggi Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara atau ASEAN yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, telah usai. ASEAN tetap menegaskan, mereka mengedepankan sentralitas organisasi kawasan tersebut, sekaligus mengajak semua pihak tetap menjaga multilateralisme, terutama untuk menyelesaikan tantangan global.

Beberapa kali di dalam KTT, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan, isolasionisme dan proteksionisme unilateral menyakiti semua masyarakat di dunia. Ucapan ini menyitir perbuatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menjatuhkan tarif impor kepada semua negara mitra dagang.

Negara-negara anggota ASEAN dikenai tarif impor dengan rentang 10-49 persen. Basis penjatuhan tarif ini, menurut Trump, berdasar besaran defisit neraca perdagangan AS dengan masing-masing negara anggota ASEAN. Para ahli ekonomi beramai-ramai mengatakan, cara Trump menghitung defisit itu keliru.

Saat ini sepuluh negara anggota ASEAN, masing-masing, tengah melakukan perundingan bilateral dengan AS. Pada saat yang sama, Anwar mengatakan, pihaknya berusaha memastikan agar ASEAN sebagai satu blok kawasan bisa berunding dalam jadwal tersendiri dengan AS. Apabila semua berjalan sesuai rencana, perundingan bisa terwujud per akhir Juni 2025.

Tarikan arus

KTT ASEAN diadakan di tengah kondisi persaingan geopolitik dan geoekonomi yang semakin rumit. ASEAN selama ini merupakan kawasan yang paling stabil dan damai di dunia. Akan tetapi, menjaga keadaan agar tetap demikian semakin sulit. Tarikan geopolitik seolah semakin memaksa setiap negara anggota condong kepada adidaya tertentu.

Sejauh ini, yang aktif mendekati ASEAN adalah China. Beijing berusaha menampilkan bahwa mereka mitra dagang yang paling bisa dipercaya. Bahkan, sikap Beijing bertolak belakang dengan Washington. Di bawah kepemimpinan Trump, AS justru mengisolasi diri, bahkan egois dengan prinsip mengutamakan diri sendiri. Sebaliknya, China justru yang muncul dan menyerukan agar dunia berkomitmen kepada pendekatan multilateral yang mengedepankan dialog.

Para pemimpin negara di Asia Tenggara berfoto sebelum pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-46 di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (26/5/2025).

”Sikap Trump membuat geopolitik berubah. Negara-negara akhirnya mencari mitra-mitra baru untuk membangun kerja sama,” kata peneliti isu ASEAN di Badan Riset dan Inovasi Nasional, Khanisa Krisman, di Jakarta, Kamis (29/5/2025).

Khanisa mengatakan, sedekat apa pun upaya China merayu negara-negara anggota ASEAN, semua menyadari prinsip ”tidak ada makan siang yang gratis”. Artinya, sebagus apa pun tawaran kerja sama, semua selalu ada nilai atau sesuatu yang harus dipertukarkan.

”Kedekatan ASEAN dengan China sangat bergantung dengan hubungan bilateral setiap anggota dengan China. Ada negara ASEAN yang relatif tidak memiliki masalah dengan China, tetapi ada juga Filipina yang memiliki sengketa wilayah Laut China Selatan sehingga lebih mewaspadai gerak-gerik Beijing,” tutur Khanisa.

ASEAN memang tidak sepenuhnya lugu mempercayai China seratus persen. Bagaimana pun, prinsip utama ASEAN adalah sentralitas organisasi. Selain itu, ASEAN juga ”menuntut” ada pembuktian dan komitmen dari negara-negara mitra wicara untuk mendukung Pandangan Indo-Pasifik ASEAN (AOIP). Artinya, ASEAN mendesak agar semua dinamika di kawasan Indo-Pasifik didekati menggunakan pendekatan inklusif berbasis sentralitas ASEAN. Salah satu alasannya adalah Asia Tenggara adalah pusat dari kawasan tersebut.

Selain itu, ASEAN selalu menjaga kedaulatan dan independensi setiap anggotanya. Pada saat yang sama, segala diplomasi bilateral para anggota tidak boleh bertentangan dengan prinsip sentralitas ASEAN.

Di sisi lain, untuk menjaga hal itu tidak mudah. Di tengah tarikan arus dua raksasa dunia, kerap muncul godaan, yaitu memilih salah satu kubu karena terkesan langsung memberi keuntungan. Ini tantangan bagi ASEAN sebagai organisasi yang bukan supranasional.

Memperkokoh regionalisme

Tantangan itu kini kian kuat karena dunia kini multipolar. Tidak ada kekuatan ataupun pandangan tunggal yang mendominasi. Pemain-pemain baru bermunculan. China dan Rusia muncul ke permukaan menyaingi pengaruh ekonomi dan politik yang selama ini dipegang oleh Barat.

China menjadi sumber pendanaan pembangunan terbesar bagi negara-negara berkembang. Hal ini juga sejalan dengan mundurnya negara-negara ataupun lembaga keuangan Barat dari program pembiayaan proyek-proyek infrastruktur di negara berkembang, seperti yang mereka lakukan sampai dengan tahun 1990-an.

”Menghadapi situasi ini, pendekatan yang paling masuk akal bagi negara berkembang ataupun negara kecil ialah dengan memperkuat regionalisme,” kata pengamat hubungan internasional Universitas Kebangsaan Malaysia, Haris Zuan.

Tujuannya demi memperkuat kerja sama dan ketahanan ekonomi bersama. Ketidakstabilan geopolitik dan geoekonomi ini semestinya menjadi panggilan bagi ASEAN memperkuat perdagangan dan integrasi ekonomi antaranggota. Integrasi ini selain meningkatkan perekonomian kawasan juga memperkuat posisi ASEAN sebagai kekuatan di Asia Tenggara.

Fakta bahwa AS dan China adalah mitra dagang terbesar ASEAN tidak akan berubah. Akan tetapi, Haris menerangkan, keliru jika membaca kedekatan ekonomi ASEAN kepada suatu negara sama dengan kedekatan politik, apalagi aliansi.

”Negara-negara ASEAN pandai menjaga hubungan strategis dengan China untuk kemajuan ekonomi dan, di saat yang sama, menjaga hak-hak kedaulatan mereka,” tuturnya.

Ilustrasi Trump dan perang tarif.

Justru langkah China mendekati ASEAN adalah strategi ekonomi mereka mencari mitra dagang di luar mitra tradisional, yaitu AS, Jepang, dan Korea Selatan. China masih trauma akibat perang dagang dengan AS pada 2018. Mereka secara bertahap menggeser porsi kerja sama ekonomi, perdagangan, dan investasi supaya lebih banyak ke negara-negara selatan.

Haris melihat China kian menganggap ASEAN sebagai kawasan strategis untuk ekonominya. Tampak dari 16,4 persen ekspor China tujuannya ke negara-negara Asia Tenggara. Di sini ASEAN ditantang menjaga kekompakannya sebagai suatu organisasi, bukan sekadar kumpulan sepuluh negara. Perwujudan ekonomi dan pasar terintegrasi akan menjadi keunggulan ASEAN dan bukti sebagai kesatuan yang kuat.

”Kenetralan strategis ASEAN selalu berarti ASEAN aktif di kancah global. ASEAN harus semakin proaktif melakukan pendekatan multilateral dan membuktikan betapa pentingnya organisasi ini untuk rantai pasok dunia. ASEAN bukan condong ke suatu kubu, melainkan bisa berdiri tegak,” kata Haris.

Pesan jelas

Selain menunggu jadwal perundingan dengan AS, ASEAN juga terus memantau perkembangan perundingan tarif AS-China. Perang dagang di antara kedua negara ini berdampak serius kepada perekonomian ASEAN. Jika tidak ditangani dengan baik, pertumbuhan kawasan dengan sasaran 5 persen bisa gagal.

Ekonom Universitas Filipina Diliman Jan Carlo Punongbayan mengatakan, ASEAN harus mendekati Washington dengan pesan yang jelas dan tegas. ”ASEAN bukan pemain pasif dalam perekonomian global dan tidak akan membiarkan diri menjadi korban perang dagang adidaya,” ujarnya.

Sejauh ini, setiap negara anggota ASEAN seolah memohon agar dicabut tarifnya oleh Trump. Pendekatan yang dilakukan ASEAN semestinya kebalikan dari itu. ASEAN harus menekankan kolektivitas mereka dan menegaskan bahwa mereka adalah pemain penting di dalam rantai pasok untuk kesejahteraan serta keamanan AS.

ASEAN bisa merangkai argumen negosiasi terkait kepentingan bersama, antara lain akses pasar, kestabilan pasar, dan keuntungan investasi. Ini yang bisa melawan pemikiran bahwa di dalam hubungan selalu ada yang kalah dan menang (zero-sum-game). ASEAN juga harus bisa mengaitkan perekonomian mereka dengan kepentingan AS. Apabila AS menjauhi atau merugikan ASEAN, sudah pasti China yang akan menggantikan AS.

ASEAN juga sepenuhnya menyadari, selantang apa pun China menyuarakan multilateral, praktiknya mereka selalu melakukan pendekatan bilateral. Di sini, kemampuan ASEAN memastikan bahwa setiap perundingan tidak dikuasai satu pihak menjadi kunci.

”ASEAN tentu saja tetap bekerja sama erat dengan China, selama jelas dan tegas batasannya. Ini mencakup memastikan semua perjanjian dilakukan dengan transparan, menghindari proyek yang berpotensi menjadi perangkap utang, dan memastikan suatu proyek tidak menjadi senjata politik,” papar Punongbayan.

Suasana tempat bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (11/4/2025). Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda kenaikan tarif bea masuk impor selama 90 hari. Sebelumnya,Trump memberlakukan tarif impor resiprokal sebesar 32 persen kepada Indonesia.

Pada saat yang sama, ASEAN terus meluaskan pasar. Uni Eropa adalah pasar yang sangat potensial, tidak hanya dari segi besarannya, tetapi juga standar. Berbagai persyaratan dari Uni Eropa memang terkesan merepotkan, tetapi persyaratan itu apabila dipenuhi membuat kualitas proses produksi dan jenis produk dari ASEAN sangat tinggi. Pengelolaan yang manusiawi, ramah lingkungan, dan berkeadilan juga akan menguntungkan negara-negara ASEAN.

India juga pasar yang strategis dan patut dijajaki lebih lanjut. Jepang dan Korea Selatan tetap mitra strategis di bidang teknologi. ”Ada baiknya ASEAN tidak hanya mengandalkan adidaya, tetapi juga membangun jaringan dengan negara-negara berkekuatan menengah yang lebih luas dan beragam,” kata Punongbayan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar, Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra