Asia Tenggara, Kawasan Gila Bola yang Dijauhi Piala Dunia

Sekitar 10 persen pencinta sepak bola di bumi berada di Asia Tenggara. Program naturalisasi jalan pintas tim ASEAN menuju Piala Dunia di tengah keterbatasan.

11 Okt 2025 19:36 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Sepak bola adalah napas bagi lebih dari 400 juta manusia yang mendiami 11 negara di kawasan Asia Tenggara. Olahraga populer itu dimainkan di setiap sudut kota, ditonton oleh anak-anak dan manula. Namun, ASEAN belum pernah memiliki satu pun representasi di turnamen terakbar, Piala Dunia.

Merujuk Nielsen World Football Report 2022, lima negara terbesar di ASEAN, yaitu Indonesia, Vietnam, Thailand, Filipina, dan Malaysia, tercatat memiliki lebih dari 50 persen populasi yang melabeli diri mereka pencinta sepak bola. Tepatnya, Vietnam dengan 75 persen; Indonesia 69 persen, bahkan dalam laporan TGM Research jumlah itu mencapai 78 persen; Thailand 68 persen; Filipina dengan 62 persen; sedangkan Malaysia berada di angka 53 persen.

Adapun Ipsos, lembaga riset pemasaran, menyebut 36 persen masyarakat Singapura rutin mengikuti sepak bola. Singapura memiliki 14 persen penduduk yang menyebut diri mereka sangat menggandrungi sepak bola.

Negara-negara lain, seperti Kamboja, Laos, Brunei Darussalam, Timor Leste, dan Myanmar, tidak memiliki data resmi. Akan tetapi, jika melihat antusiasme setiap tim nasional dan tim lokal bertanding di level internasional, pengikut sepak bola di lima negara itu berpotensi di atas 50 persen dari total populasi.

Dengan menggunakan data World Bank 2024-2025, jumlah manusia di kawasan ASEAN mencapai 699,77 juta jiwa. Dengan menghitung rata-rata persentase itu, sebanyak 61 persen penduduk ASEAN ialah pencinta sepak bola sehingga jumlah pencinta sepak bola di kawasan ini mencapai sekitar 427 juta.

Indonesia's Jay Noah Idzes, left, is challenged by Saudi Arabia's Aiman Yahya during the World Cup 2026 Asian qualifier fourth-round Group B soccer match between Saudi Arabia and Indonesia at Alinma Bank Stadium in King Abdullah Sports City, in Jiddah, Saudi Arabia, Wednesday, Oct. 8, 2025. (AP Photo)

Dengan mengikuti asumsi hasil riset Nielsen Global Sports Report (Juni 2025) bahwa sebanyak 51 persen populasi bumi saat ini menyukai sepak bola, diperkirakan ada sekitar 4 miliar manusia yang menggandrungi si kulit bundar.

Itu artinya sekiranya 10 persen pencinta sepak bola berada di Asia Tenggara. Untuk kawasan yang belum memiliki wakil di pentas tertinggi, Piala Dunia, persentase itu sungguh di luar nalar bagi orang-orang yang memiliki tim nasional kuat di belahan dunia lain.

”Kami memiliki pendukung terbaik. Di laga kandang dan tandang, kami selalu mendapatkan dukungan penuh,” ucap Jay Idzes, bek tengah dan kapten timnas Indonesia.

Jalan pintas

Ketika ambisi menembus Piala Dunia kian tak tertahankan, negara-negara di ASEAN cenderung memiliki kebijakan yang sama. Mereka menaturalisasi diaspora dan pemain-pemain asing yang telah bermain di kompetisi domestik.

Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Timor Leste telah melakukan kebijakan itu. Naturalisasi yang memfokuskan diaspora Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia mampu mencapai perjalanan terjauh di kualifikasi Piala Dunia, termasuk jarak terdekat ke turnamen terakbar, dengan menembus putaran keempat pra-Piala Dunia 2026.

Gelandang Johor Darul Ta'zim dan timnas Malaysia, Hector Hevel, berusaha mengontrol bola pada gim Kejuaraan Klub ASEAN 2024-2026 kontra Lion City Sailors, 21 Agustus 2025 di Stadion Sultan Ibrahim, Johor Bahru, Malaysia. Hevel menjadi salah satu dari tujuh pemain naturalisasi timnas Malaysia yang disanksi denda dan larangan bermain satu tahun akibat pelanggaran dokumen naturalisasi.

Kondisi itu membuat rival kawasan untuk meniru hal serupa. Malaysia, misalnya, mendatangkan tujuh pemain naturalisasi, Juni lalu. Namun, pemain-pemain itu ternyata tidak memiliki darah Malaysia. FIFA pun menghukum Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) dan para pemain yang terlibat pemalsuan identitas itu.

Adapun timnas ASEAN murni lokal terbaik di ajang pra-Piala Dunia masih dipegang Thailand. Tim ”Gajah Perang” telah merasakan berada di babak akhir pada edisi 2002 dan 2018. Putaran itu sudah memperebutkan tiket langsung ke putaran utama Piala Dunia.

Vietnam pun pernah berada di tahap itu pada kualifikasi Piala Dunia 2022. Sayang, hanya satu kemenangan yang bisa diraih Vietnam sehingga mimpi ke Piala Dunia pupus.

”Saya berharap Arab Saudi tidak perlu melakukan naturalisasi. Fokus pada pembinaan lebih penting,” ucap Pelatih Saudi Herve Reynard menyoroti pemain naturalisasi milik Indonesia.

Saudi Arabia team players pose prior to the start of the World Cup 2026 Asian qualifier fourth-round Group B soccer match between Saudi Arabia and Indonesia at Alinma Bank Stadium in King Abdullah Sports City, in Jiddah, Saudi Arabia, Wednesday, Oct. 8, 2025. (AP Photo)

Harapan peningkatan pembinaan itu telah dijalankan dengan baik oleh Saudi di tengah kehadiran pemain bintang di Liga Saudi. Satu negara yang membuktikan pembinaan dari akar rumput harus diutamakan dibandingkan program jalan pintas ialah Uzbekistan dan Jordania.

Dua negara itu untuk pertama kali lolos ke Piala Dunia 2026. Mereka sama sekali tidak mencari pemain naturalisasi untuk lolos ke pentas sepak bola terbesar tahun depan.

Fabio Cannavaro, kapten Italia ketika juara Piala Dunia 2006, bakal kembali ke ajang Piala Dunia sebagai pelatih Uzbekistan. Ia akan tercatat sebagai juru taktik pertama tim ”Serigala Putih” di Piala Dunia.

Cannavaro menyebut keputusannya untuk menerima tawaran Uzbekistan adalah komitmen dan program timnas yang berkesinambungan dari level terendah. Demi membentuk tim kompetitif, Cannavaro pun fokus untuk mencari pemain di kompetisi domestik, alih-alih berburu data diaspora Uzbekistan sebagai negara pecahan Uni Soviet.

”Kami meminta pelatih di seluruh klub untuk mengirim data performa pemain secara harian, pekan, dan bulanan. Hal itu demi kami bisa memantau adanya perkembangan dari setiap pemain atau tidak,” tutur Cannavaro dilansir The Times of Central Asia.

A former Italy defender Fabio Cannavaro, a new coach of the Uzbekistan national soccer team, listens to a journalist's question during his news conference ahead of its first World Cup, in Tashkent, Uzbekistan, Monday, Oct. 6, 2025. (AP Photo)

Selain itu, permasalahan profesionalisme juga masih menjadi penghambat sepak bola ASEAN. Tanpa sikap profesional, sepak bola ASEAN masih serupa Eropa sebelum era 1970-an. Meskipun perputaran uang amat besar, kenyataannya banyak pihak yang mengalami kerugian dan mencoreng asas profesionalisme itu, salah satunya tunggakan gaji yang membayangi klub di kompetisi domestik.

”Banyak orang ingin mendapat perhatian, padahal mereka tidak memiliki kemampuan baik. Saya meminta orang-orang yang tidak layak tidak lagi mengurus klub (sepak bola). Sebab, dunia melihat bagaimana klub diurus, bagaimana mereka membayar gaji, atau merawat kesejahteraan pemain,” ujar Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia Hannah Yeoh menanggapi sejumlah klub Malaysia yang memiliki masalah finansial.

Dengan kondisi saat ini, Piala Dunia sepertinya masih sulit berpihak kepada tim-tim ASEAN…. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra