Otak di Balik Penggelapan Mobil Rental Belum Tertangkap

Polisi masih memburu dua tersangka penggelapan mobil rental milik Ilyas Abdurrahman. Salah satu tersangka diduga sebagai ”auktor intelektualis” dalam kasus ini.

08 Jan 2025 19:36 WIB · Metro

Oleh Rhama Purna Jati

JAKARTA, KOMPAS — Polisi masih memburu dua tersangka kasus penggelapan mobil milik Ilyas Abdurrahman (48). Kedua tersangka dinilai memiliki peran krusial, bahkan salah satu tersangka yang masih buron adalah otak di balik penggelapan kendaraan.

Kepala Bidang Humas Polda Banten Komisaris Besar Didik Hariyanto, Rabu (8/1/2025), menyatakan, saat ini Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Tangerang dibantu Direktorat Kriminal Umum Polda Banten tengah memburu dua tersangka tersebut, yakni IH dan RH.

Keduanya dianggap memiliki peran yang cukup krusial dalam kasus itu. IH merupakan orang yang menyuruh Ajat Supriatna (AS) untuk mencari mobil rental yang rencananya akan digelapkan untuk kemudian dijual kembali.

Bahkan, IH membekali AS dengan kartu tanda penduduk dan kartu keluarga palsu. Dua identitas palsu itu kemudian digunakan AS sebagai syarat penyewaan mobil.

Adapun RH merupakan orang yang memiliki keahlian untuk mencabut sistem pemosisi global (GPS) yang tersemat di dalam mobil. Dua dari tiga GPS Honda Brio warna oranye yang telah disewa oleh AS diketahui sudah tak terdeteksi.

Jajaran Polresta Tangerang memeriksa lokasi minimarket yang ada di KM 45 Tol Jakarta- Merak, Kamis (2/1/2025).  Pemeriksaan ini dilakukan untuk menggali informasi terkait penembakan bos rental.

Didik mengatakan, setelah berhasil menyewa mobil milik Ilyas, AS memberikan mobil itu kepada IH. Berdasarkan pengakuan dari AS diketahui bahwa IH menjanjikan uang sekitar Rp 5 juta untuk setiap mobil rental yang bisa ia bawa.

Namun, AS tertangkap polisi sebelum menerima uang yang dijanjikan IH. AS ditangkap oleh jajaran Reserse Mobil Polda Banten dan Reserse Kriminal Polres Pandeglang pada Jumat (3/1/2025).

Selanjutnya, IH diketahui menjual mobil tersebut kepada RH, yang juga masih buron, seharga Rp 23 juta. ”RH merupakan orang yang mencabut GPS yang ada di mobil tersebut,” kata Didik.

Lalu RH menjual mobil kepada IS seharga Rp 30 juta. Selanjutnya, IS menjual mobil itu kepada AA yang merupakan anggota TNI Angkatan Laut seharga Rp 40 juta. ”Jadi, mobil itu sudah berpindah tangan beberapa kali,” kata Didik.

Soal kemungkinan adanya tersangka baru, Didik menyatakan bahwa saat ini pemeriksaan masih berlangsung. ”Kita tunggu hasil penyidikan yang sedang berjalan,” kata Didik.  

Tiga anggota Polsek Cinangka dimutasi dan terancam disanksi demosi hingga pemberhentian tidak dengan hormat atau PTDH lantaran menolak menindaklanjuti laporan pihak rental mobil.

Sebelumnya, Kepala Polda Banten Inspektur Jenderal Suyudi Ario Seto mengungkapkan, dari keterangan para saksi, pihaknya telah menetapkan empat tersangka berinisial AS, IS, IH, dan RH. Namun, IH dan RH belum tertangkap dan hingga kini masih dalam pengejaran polisi.

”AS berperan sebagai orang yang melakukan penggelapan mobil Honda Brio milik korban dengan cara menyewa kendaraan tersebut. Setelah dikuasai, mobil diserahkan kepada IH untuk dijual,” ujar Suyudi, Selasa (7/1/2025).

Suyudi mengatakan, mobil yang disewa AS tersebut digelapkan atas perintah IH. Tak hanya itu, IH berperan menyiapkan dokumen palsu AS untuk syarat menyewa kendaraan. Adapun AS menyerahkan mobil kepada IH untuk dijual ke RH.

Sebelumnya, Kepala Seksi Humas Polresta Tangerang Inspektur Dua Purbawa mengatakan, sejak awal, sindikat ini sudah merencanakan pencurian. IH bahkan sudah menyiapkan identitas palsu bagi AS yang akan menyewa mobil.

”Pada kasus ini, untuk dua pelaku yang sudah berhasil ditangkap dijerat pasal kasus tindak pidana penipuan dan atau penggelapan sebagaimana dimaksud dengan Pasal 378 KUHP dan atau 372 KUHP yang berujung insiden penembakan di rest area Kilometer 45 Jalan Tol Merak-Tangerang,” kata Purbawa.

Kapolda Banten Irjen Suyudi Ario Seto Kompas/Hendra A Setyawan stok potraits

Dalam tayangan Kompas TV, anak Ilyas Abdurrahman, Muhammad Agam, menyangkal soal pengeroyokan 15 orang sebelum penembakan terjadi. Menurut dia, pernyataan itu salah besar.

”Kalau tidak dijelaskan, dikhawatirkan tidak kronologis, tidak sempurna, justru kita dituduh sebagai pengeroyok,” katanya.

Setelah dirinya memberikan keterangan di Markas Pusat Polisi Militer TNI Angkatan Laut, menurut Agam, penyidik mulai terbuka. Bahkan, saat pemeriksaan yang berlangsung selama lima jam itu, penyidik turut memperlihatkan foto dari  oknum TNI AL yang terlibat dalam peristiwa penembakan.

Agam merupakan saksi kunci dari kasus penggelapan mobil sekaligus penembakan itu. Dia adalah orang yang turut mengikuti jejak GPS yang masih tersemat di mobil milik ayahnya.

Agam pun sempat meminta pendampingan ke Polsek Cinangka sebelum pengejaran mobil kendati permintaannya itu dinilai diabaikan polisi. Agam pula yang melihat langsung proses penembakan dan melihat ayahnya tewas ditembak di bagian dada dan rekan ayahnya juga kritis akibat tembakan di bahu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rhama Purna Jati
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan