Iga Swiatek memenangi babak pertama Australia Terbuka dengan kemenangan dua set. Namun, dia mendapat perlawanan ketat dari petenis kualifikasi.
19 Jan 2026 21:55 WIB · Olahraga
AP
MELBOURNE, SENIN — Iga Swiatek menjalani laga yang tak mudah, bahkan, sejak babak awal untuk menggapai gelar pertamanya dari turnamen tenis Grand Slam Australia Terbuka. Dia melewati laga sulit saat melawan petenis yang lolos dari babak kualifikasi.
Pada pertandingan di Rod Laver Arena, lapangan terbesar di Melbourne Park, Australia, Senin (19/1/2026), Swiatek berhadapan dengan Yuan Yue, petenis China yang harus memenangi tiga babak lebih dulu untuk tampil pada babak utama. Prestasi mereka berbeda jauh (Swiatek memiliki enam gelar Grand Slam, Yuan hanya pernah mencapai babak ketiga AS Terbuka 2022), tetapi Swiatek tak mudah mengalahkannya.
Saya bermain terlalu terburu-buru pada awal pertandingan hingga tak bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik. Meski demikian, saya tahu, jika tetap berusaha, saya bisa bermain lebih baik.
Swiatek bahkan memerlukan waktu dua jam untuk menang dengan skor 7-6 (5), 6-3. Servisnya pada gim pembuka dipatahkan Yuan hingga tertinggal 0-2. Pada set kedua, keunggulan Swiatek 3-0 diubah lawannya menjadi 4-3, sebelum petenis unggulan kedua itu memenangi dua gim berikutnya. Sebanyak 35 unforced error menjadi catatan buruk Swiatek pada pertandingan tersebut untuk dibawa pada laga berikutnya melawan petenis Ceko, Marie Bouzkova.
Performanya belum juga solid setelah bermain pada kejuaraan beregu campuran, Piala United, sebagai salah satu ajang pemanasan Australia Terbuka. Dalam lima pertandingan, Swiatek dua kali kalah, yaitu dari Cori ”Coco” Gauff dan Belinda Bencic.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/b04d869b89b4d3639e7aec0ac9e35b44-TENNIS_AUS_OPEN_135396786.jpg)
”Saya bermain terlalu terburu-buru pada awal pertandingan hingga tak bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik. Meski demikian, saya tahu, jika tetap berusaha, saya bisa bermain lebih baik. Banyak momen naik-turun pada pertandingan tadi, banyak pula yang harus saya perbaiki, dan saya fokus untuk memperbaiki kesalahan tersebut,” tutur Swiatek.
Petenis Polandia berusia 24 tahun itu dalam perjalanan meraih gelar pertama dari Australia Terbuka. Meskipun memiliki empat gelar juara Perancis Terbuka, satu dari Wimbledon, dan satu dari AS Terbuka, Swiatek tak pernah menembus final di Melbourne Park. Hasil terbaiknya adalah semifinal pada 2022 dan 2025.
Seandainya bisa menciptakan ”Career Slam”, yaitu menjuarai semua turnamen Grand Slam, Swiatek akan menjadi tunggal putri ketujuh yang melakukannya pada era Terbuka. Dia bisa menjadi tunggal putri termuda ketiga yang mempunyai gelar Grand Slam secara lengkap, setelah Steffi Graf dan Serena Williams. Graf meraih pencapaian itu pada 1988 dalam usia 19 tahun dan Serena melakukannya dalam usia 23 tahun pada 2003.
Namun, berbicara tentang pencapaian itu tampaknya masih terlalu jauh bagi Swiatek. Performanya menurun pada 2025 dibandingkan tiga tahun sebelumnya, meski masih bisa menjuarai Wimbledon, dan belum terlihat perbaikan signifikan pada tahun ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/232a3c2ccb56309af9929fa080ff93fd-Australian_Open_Tennis_135396867.jpg)
Dia mengakui bahwa pergerakan kakinya terlalu kaku saat melawan Yuan. ”Saya pun harus lebih berani dalam membuat keputusan,” katanya.
Pada pertandingan sesi siang, Coco masih berkutat dengan kesalahan servis meski menang 6-2, 6-3. Juara AS Terbuka 2023 dan Perancis Terbuka 2025 itu membuat tujuh double fault, enam kali dilakukan pada set pertama. Meski memiliki pelatih yang fokus pada biomekanika untuk memperbaiki servis, pukulan pembuka dalam setiap perebutan poin itu masih menjadi masalah bagi Coco.
”Saya membuat banyak double fault hanya pada set pertama. Saya pikir, kami berdua kesulitan di salah satu sisi lapangan karena sinar matahari. Namun, setelah melewati kesulitan pada gim pertama, saya kira, servis saya lebih baik,” komentar Coco yang akan berhadapan dengan Olga Danilovic pada babak kedua.
Ketika Coco dan Swiatek masih bisa menang straight sets dalam laga sulit, unggulan keenam Mirra Andreeva harus bermain tiga set. Dia kehilangan set pertama saat melawan Donna Vekic sebelum akhirnya menang 4-6, 6-3, 6-0.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/e51f13dfe13040e3a7c7f204c646c582-APTOPIX_Australian_Open_Tennis_135399563.jpg)
Dalam persaingan tunggal putra, Novak Djokovic menjalani laga pertama dengan solid. Bertanding dalam usia 38 tahun, Djokovic mengalahkan Pedro Martinez, 6-3, 6-2, 6-2.
Meskipun baru memenangi babak awal, hasil tersebut menjadi catatan istimewa bagi petenis Serbia tersebut. Itu menjadi kemenangan ke-100 di Melbourne Park hingga Djokovic menjadi tunggal putra pertama yang memiliki 100 kemenangan atau lebih di tiga Grand Slam.
Pencapaian baru itu menambah daftar rekor 24 gelar juara Grand Slam, sebagai yang terbanyak di tunggal putra, penampilan ke-21 di Australia Terbuka, dan ke-81 di arena Grand Slam. ”Saya suka mendengar istilahnya, ’Centurion’. Sangat indah,” kata Djokovic.
(AP/AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar