Efisiensi anggaran pemerintah kemungkinan besar akan memengaruhi bisnis pertemuan, insentif, konvensi, dan ekshibisi (MICE).
09 Mar 2025 07:00 WIB · Riset
Efisiensi anggaran pemerintah kemungkinan besar akan memengaruhi bisnis pertemuan, insentif, konvensi, dan ekshibisi. Jika sektor ini terpuruk, efek domino yang ditimbulkan bisa merugikan banyak pihak, terutama sektor jasa penunjang bisnis kegiatan pertemuan itu.
Industri Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions atau MICE telah menjadi salah satu pilar utama dalam dunia perjalanan bisnis global maupun nasional. Tidak hanya menciptakan platform untuk pertukaran pengetahuan dan peluang bisnis saja, industri ini juga berkontribusi terhadap kemajuan perekonomian.
Sejumlah acara MICE umumnya membawa ribuan delegasi dari berbagai negara ke Indonesia, yang pada gilirannya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Para delegasi sering kali memanfaatkan kesempatan ini untuk memperpanjang masa tinggal mereka dan menjelajahi beberapa destinasi wisata lain di Indonesia.
Bisnis ini juga memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan negara melalui pajak dan pengeluaran delegasi. Selain itu, meningkatnya kegiatan MICE juga menciptakan lapangan kerja baru dalam sektor pariwisata, baik langsung maupun tidak langsung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/d169a3e2-7f85-4585-9943-1dc8e33bcd55_jpg.jpg)
Namun demikian, bisnis MICE ini kini tengah menghadapi tantangan yang tidak mudah. Awan mendung tampaknya akan menyelimuti sektor MICE, setelah pemerintah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun Anggaran 2025.
Kebijakan ini bertujuan menghemat anggaran dengan memangkas berbagai belanja operasional dan nonoperasional, termasuk perjalanan dinas, rapat, seminar, dan kegiatan sejenisnya. Hal itu tentu membuat banyak event yang berkaitan dengan pemerintahan terancam batal, sehingga berdampak pada perkembangan industri MICE.
Industri MICE di tingkat global dan nasional menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut terungkap dalam laporan yang diterbitkan oleh Allied Market Research, berjudul, “Mice Industry by Type (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition): Opportunity Analysis and Industry Forecast, 2023-2032”.
Dalam laporan tersebut, pasar MICE global diperkirakan akan tumbuh kuat dalam beberapa tahun ke depan. Pada tahun 2022, industri MICE global senilai 598,2 miliar dollar AS dan diperkirakan tumbuh hingga mencapai 1,33 triliun dollar AS pada tahun 2028 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 8,6 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh permintaan aktivitas bisnis dan penguatan hubungan strategis melalui event MICE.
Sama seperti di tingkat global, bisnis MICE di Tanah Air juga potensial bertumbuh. Pada tahun 2022, bisnis MICE mencatatkan peningkatan sebesar 14 persen dengan nilai 2,23 milliar dollar AS dibandingkan tahun 2021 yang senilai 1,95 miliar dollar AS. Pada tahun 2023, nilai bisnis MICE secara nasional kembali naik mencapai sekitar 3 miliar dollar AS atau senilai Rp 45 triliun.
Selain digerakkan oleh kegiatan-kegiatan pemerintah, bisnis MICE di Indonesia juga dipengaruhi oleh aktivitas organisasi-organisasi profesi internasional.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/07/d3e8e200-6543-4104-b7fa-51e313288d11_png.png)
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencatat, bisnis MICE memiliki kontribusi yang tinggi terhadap perekonomian masyarakat. Sebab, turis MICE ditengarai mempunyai spending 3-4 kali lebih besar dari aktivitas leisure dan memiliki lama tinggal lebih panjang. Selain itu, kegiatan MICE berskala internasional merupakan ajang promosi yang efektif bagi Indonesia di kancah global.
Meskipun demikian, potensi industri MICE di Indonesia belum tumbuh secara sigifikan sehingga relatif masih tertinggal cukup jauh dengan negara sekitarnya. Dalam pasar pertemuan internasional, Indonesia berada di urutan ke-10 di kawasan Asia Pasifik dan jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand
Berdasarkan data Asosiasi Kongres dan Konvensi Internasional (International Congress and Convention Association/ICCA) menunjukkan pada tahun 2023 Indonesia menduduki posisi ke-40 untuk Ranking Dunia Destinasi Pertemuan Asosiasi Internasional dengan total 68 pertemuan tingkat regional dan dunia. Secara proporsional, Jakarta menyumbang agenda acara hingga sebesar 55 persen, dan selanjutnya disusul Bali dan Bandung.
Industri MICE merupakan salah satu sektor yang paling dinamis dalam industri pariwisata dan perhotelan. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini telah mengalami banyak perubahan yang didorong oleh kebutuhan akan solusi yang lebih berkelanjutan, kemajuan teknologi, dan perubahan perilaku konsumen.
Keberlanjutan telah menjadi faktor penentu dalam industri MICE, dengan prioritas penyelenggaraan acara yang mengedepankan lokasi ramah lingkungan, strategi pengurangan limbah, dan inisiatif kompensasi karbon. Misalnya, penyedia layanan MICE mulai menggunakan digitalisasi undangan atau dokumen untuk mengurangi penggunaan kertas.
Tren acara hibrida, yang menggabungkan pengalaman fisik dan virtual, diperkirakan akan semakin populer pada tahun ini. Acara seperti ini memungkinkan penyelenggara untuk menjangkau audiens yang lebih luas tanpa batas geografis. Peserta yang tidak bisa hadir langsung tetap dapat menikmati acara secara virtual dengan pengalaman yang hampir serupa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/04/a07ecf90-7ef3-4d21-a58b-25b35f002fb5_jpg.jpg)
Teknologi streaming langsung berkualitas tinggi dan aplikasi interaktif menjadi elemen penting dalam keberhasilan acara hibrida. Dengan adanya tren ini, partisipasi dalam acara MICE menjadi lebih fleksibel, sehingga siapa pun, di mana pun, dapat ikut serta.
Perubahan perilaku konsumen juga akan mewarnai tren MICE tahun ini. Personalisasi menjadi elemen kunci dalam meningkatkan pengalaman peserta di acara MICE. Penyelenggara akan semakin memanfaatkan data untuk memahami preferensi peserta. Misalnya, agenda acara dapat disesuaikan dengan minat individu atau memberikan opsi makan yang sesuai dengan kebutuhan diet peserta.
Ke depan, perkembangan tersebut akan menjadi tolok ukur baru bagi industri ini, yang memadukan inovasi dengan kepraktisan.
Meskipun Indonesia berpotensi besar dalam bisnis MICE, tetapi masih ada berbagai tantangan yang harus diatasi. Salah satunya, industri ini akan terdampak kebijakan baru yang dapat mengurangi aktivitas MICE domestik.
Terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 membawa dampak langsung terhadap sektor MICE. Sebab, pasar terbesar MICE di Indonesia berasal dari Kementerian/Lembaga sehingga memberikan tekanan tersendiri bagi pelaku industri ini.
Kalangan pengusaha MICE menyebut, pangsa pasar pemerintah dalam rapat, konvensi, dan konferensi mencapai 70 persen dalam industri ini. Meski bakal terdampak pemangkasan anggaran kementerian/lembaga, pihak swasta diproyeksikan masih menopang dari sisi kegiatan pameran hingga 50 persen.
Jika merunut ke belakang, tekanan pada industri MICE bukan kali ini saja. Kebijakan serupa pernah terjadi pada awal pemerintahan sebelumnya, yakni pada tahun 2014 dan 2019, dengan adanya larangan kegiatan rapat dinas pemerintahan di hotel sejak 1 Desember 2014. Pada pemerintahan yang baru ini, kebijakan efisiensi kembali diterapkan dengan memangkas berbagai belanja termasuk untuk agenda rapat, seminar, dan perjalanan dinas.
Dengan adanya pemangkasan belanja tersebut berpotensi menimbulkan dampak pada pengusaha sektor jasa terkait. Hotel-hotel yang selama ini mengandalkan MICE akan mengalami penurunan okupansi kamar dan penyewaan ruang pertemuan secara drastis.
Kontraksi itu juga akan merembet ke berbagai sektor terkait, seperti katering, jasa event organizer, hingga penyedia transportasi yang turut menggantungkan pendapatan dari aktivitas perjalanan dinas.
Efisiensi anggaran juga akan berdampak pada industri transportasi, baik darat, laut, maupun udara. Pengurangan perjalanan dinas otomatis menurunkan permintaan tiket pesawat, kereta, bus, dan layanan transportasi lainnya.
Hotel-hotel yang mengalami penurunan tingkat hunian juga akan berimbas pada layanan taksi, rental mobil, hingga moda transportasi berbasis aplikasi. Begitu juga dengan restoran yang biasanya mendapatkan kunjungan dari peserta seminar dan acara pemerintahan.
Dampak lanjutannya akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi di sejumlah daerah, terutama daerah-daerah yang sangat bergantung pada sektor jasa pariwisata, seperti Bali contohnya. Daerah ini berisiko mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat berkurangnya perputaran uang dari kegiatan yang biasanya didanai oleh pemerintah.
Oleh karena itu, pemerintah perlu mencari keseimbangan antara efisiensi anggaran dan keberlanjutan ekonomi industri MICE. Sebab, jika sektor ini terpuruk, efek domino yang ditimbulkan bisa jauh lebih merugikan ketimbang manfaat efisiensi.
Di samping itu, industri MICE kembali dipacu kreativitasnya untuk bertindak entrepreneurial dan inovatif dalam menyikapi peraturan dan kompetisi. Salah satu solusinya, industri ini perlu mengelola potensi pasar selain pemerintahan, yakni sektor swasta, yang berkontribusi bagi pertumbuhan serta keberlanjutan industri MICE di masa depan. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Antonius PurwantoEditor:
Budiawan Sidik APenyelaras Bahasa:
Kusnadi .