Aymen Hussein hancur berkali-kali, apalagi seusai tragedi penembakan ayahnya. Namun, dari puing kehancuran, ia bangkit dan jadi pencipta sejarah Irak di Piala Dunia.
17 Jun 2026 14:38 WIB · Olahraga
AP Photo/Martin Meissner
Skor 4-1 untuk Norwegia berarti kekalahan bagi Irak di laga pertama Piala Dunia 2026. Namun, gol semata wayang Irak lewat Aymen Hussein berbicara banyak hal. Gol itu dibangun setelah menjadi saksi krisis keamanan dalam negeri, mengalami tragedi penembakan ayah dan kehilangan kakak yang diculik, hingga kesulitan di imigrasi.
Aymen Hussein melihat dengan jeli umpan lambung Amir Al-Ammari ke dalam kotak penalti sebagai kesempatan berharga. Penyerang Irak ini langsung melompat tinggi, mengungguli para pemain bertahan Norwegia, lalu menanduk bola. Gol penyeimbang pun tercipta.
Dalam laga penyisihan Grup I Piala Dunia 2026 itu, Hussein menyaingi gol pembuka Norwegia yang diciptakan Erling Haaland. Tandukan Hussein pada menit ke-39 di Stadion Boston, Amerika Serikat, Rabu (17/6/2026) pagi WIB itu, menjadi sejarah tersendiri baginya dan Irak di Piala Dunia.
Meski pada akhirnya hanya menjadi gol hiburan, juga diimbangi gol bunuh diri menjelang akhir laga, momen itu tetap begitu bermakna. Gol tersebut mewarnai momen kembalinya Irak Piala Dunia setelah 40 tahun lamanya.
”Dia adalah tipe pemain yang sangat sulit dikendalikan di dalam kotak penalti dan saya sangat senang dan bangga kepadanya,” kata Pelatih Irak Graham Arnold tentang Hussein dikutip dari BBC.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/a5b61df6fdaae10b2021c7023f0152b9-APTOPIX_Norway_Iraq_WCup_Soccer.jpg)
Gol Hussein bukan sekadar lesakan ke gawang lawan. Bagi pemain yang dominan di udara dan tajam di dalam kotak penalti itu, gol di panggung Piala Dunia adalah bukti kebangkitan yang dibangun dari puing kehancuran berkali-kali.
Hussein tumbuh di tengah gejolak dan perang di Irak. Saat umurnya 11 tahun, Hussein menyaksikan sepak bola hadir sebagai penawar kekacauan dan momen persatuan. Momen itu tercipta ketika Irak menjuarai Piala Asia 2007.
Namun, setahun berselang, tragedi pribadi menimpa dirinya. BBC melaporkan, ayah Hussein yang merupakan seorang tentara di angkatan darat Irak ditembak mati oleh kelompok militan Al Qaeda. Penembakan terjadi saat ayah Hussein sedang membeli bahan bangunan untuk membangun rumah mereka.
Beberapa tahun kemudian, kakak laki-laki Hussein diculik selama masa kerusuhan. Sejak saat itu, sang kakak tidak terlihat lagi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/8ed7c986bd0ceb153140b2c28cc80ce1-Norway_Iraq_WCup_Soccer_2.jpg)
”Saya memutuskan untuk berhenti bermain sepak bola untuk mengurus keluarga saya, tetapi ibu saya menolak,” kata Hussein.
Ibu Hussein tahu, anaknya punya mimpi menjadi pesepak bola. Ia ingin Hussein mengejar mimpi yang akhirnya membawanya memimpin Irak ke Piala Dunia pertama mereka sejak 1986 dan mencetak gol di laga perdana pada edisi 2026.
Namun, setelah memutuskan bermain sepak bola lagi, perjalanan Hussein tidak lantas mulus. Irak bahkan harus menempuh jalur kualifikasi terpanjang di Asia untuk kembali ke Piala Dunia. Hussein dan kawan-kawan menjalani total 19 laga sepanjang kualifikasi zona Asia sebelum akhirnya bertemu Bolivia, wakil Amerika Selatan, dalam playoff interkontinental.
Irak sebenarnya tampil impresif dengan menyapu bersih enam pertandingan di putaran kedua kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Namun, pada putaran ketiga, mereka gagal lolos otomatis karena penampilan yang tidak konsisten.
Meski menang 1-0 melawan Indonesia dan imbang 0-0 melawan Arab Saudi pada putaran keempat, Irak kalah selisih poin dalam perebutan tiket langsung ke Amerika Utara. Irak harus menjalani putaran kelima kualifikasi menghadapi Uni Emirat Arab sebelum melaju ke playoff interkontinental.
”Singa Mesopotamia” kemudian berhasil mengalahkan Bolivia 2-1. Hussein mencetak gol kemenangan untuk membawa Irak menjadi tim ke-48 atau tim yang meraih tiket terakhir ke Piala Dunia 2026.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/06/5dfb1dcf-b773-4ff1-8765-252aebeaa143_jpg.jpg)
Hussein menjadi pemain terbaik Irak selama fase kualifikasi Piala Dunia itu dengan mencetak 12 gol. Jumlah tersebut lebih banyak dua kali lipat dari rekan setimnya.
Namun, menjelang Piala Dunia, performanya dipertanyakan karena Hussein kesulitan mendapatkan menit bermain di klubnya, Al Karma. Belum lagi cedera juga sempat menimpa pemain berusia 30 tahun ini.
”Ia mengalami beberapa cedera selama musim ini dan baginya untuk bermain selama 90 menit dengan energi seperti itu dan mencetak gol sungguh fantastis,” kata Arnold.
Setelah laga di Piala Dunia semakin di depan mata, cobaan belum juga selesai. Saat tiba di Amerika Serikat awal bulan ini, Hussein ditahan dan diinterogasi selama sekitar tujuh jam di Bandara O’Hare Chicago.
Hussein baru diizinkan masuk ke AS setelah proses yang panjang itu. Sementara itu, fotografer tim Irak, Talal Salah, diminta untuk meninggalkan wilayah AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/09/fbbe3170872c494dcbe645cb3740c4d8-000_B6G73X8.jpg)
Ibarat bangunan, Hussein roboh berkali-kali akibat ”gempa” dari tragedi dan kesulitan. Yang tersisa adalah debu, puing, dan kenangan.
Namun, justru dari puing-puing itu, Hussein bangkit dan membangun ulang kehidupannya. Gol ke gawang Norwegia adalah bukti bahwa bangunan itu bisa kembali kokoh berdiri.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan