Iran akhirnya mau menyepakati gencatan senjata karena di menit-menit terakhir ada China dan Turki yang ikut menekan Iran.
09 Apr 2026 17:00 WIB · Internasional
AP
Pakistan sukses membuat Amerika Serikat-Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Seperti Oman dan negara lain yang pernah jadi penengah Teheran-Washington DC, tugas Pakistan adalah meneruskan pesan di antara AS dan Iran.
Pakistan menjalin hubungan dekat dengan AS ataupun Iran. Presiden AS Donald Trump menyebut, Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Besar Asim Munir mengenal Iran lebih baik dari siapa pun. Ia mengaku suka dengan Munir.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut, Islamabad tak bekerja sendirian. Di media sosial pada Rabu (8/4/2026), ia menyebut kesepakatan AS-Iran juga berkat usaha dari China, Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Qatar.
”Kepemimpinan semua negara saudara kita dan Amerika Serikat menunjukkan wawasan strategis, kebijaksanaan, dan kesabaran yang luar biasa dalam memberikan kesempatan kepada perdamaian. Saya juga berterima kasih kepada semua mitra dan teman kami di seluruh dunia yang telah menghubungi dan mengakui upaya tulus Pakistan untuk perdamaian global. Mari kita semua bekerja sama untuk menciptakan perdamaian abadi di kawasan ini dan di luarnya!” tulis Sharif.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/30/4aa7f78f-e13e-4243-89a0-4ae3d7a2828f_jpg.jpg)
Unggahan Sharif menunjukkan kelegaan luar biasa. Ini karena, menurut BBC, suasana perundingan di detik-detik akhir suram dan sangat serius. Apalagi, saat Israel menyerang Iran, Senin, kemudian Iran membalas dengan menyerang Arab Saudi.
Akhirnya, Sharif mengumumkan gencatan senjata tepat sebelum pukul 05.00 pada 8 April 2026. Kedua pihak diundang untuk bertemu di Islamabad, Jumat (10/4/2026), untuk negosiasi lebih lanjut.
Harian Financial Times, Rabu, menyebutkan, Gedung Putih mendorong gagasan gencatan senjata sementara dengan Iran. Bahkan, dorongan disampaikan kala ancaman Trump ke Iran meningkat. Trump juga mengklaim Iran ”memohon” untuk kesepakatan.
Padahal, merujuk laporan Financial Times, justru AS mendesak Pakistan agar segera mewujudkan gencatan senjata dengan Iran. AS mendesak Pakistan mencari cara agar Iran mau berhenti membalas serangan AS-Israel dan membuka lagi Selat Hormuz.
AS berharap Pakistan bisa meyakinkan Iran sebagai negara tetangga yang juga mayoritas Muslim. Pakistan yang terhindar dari serangan rudal dan pesawat tak berawak Iran telah berupaya untuk tetap netral sepanjang konflik.
Iran, seiring waktu, menjadi lebih terbuka untuk mengurangi dan menerima batasan pada persediaan uraniumnya. Garda Revolusi Iran (IRGC), kekuatan militer dan politik dominan Iran, diduga sekarang terpecah belah.
Maka, Iran jadi lebih terbuka. Beberapa elemen sangat menentang pengakhiran perang, pelonggaran kendali atas selat, dan kembali ke perundingan dengan AS.
Para pejabat Pakistan khawatir masih ada banyak pihak yang ingin menggagalkan gencatan senjata. Serangan pesawat tak berawak Iran menghantam pusat petrokimia Arab Saudi di Jubail, Selasa. Pakistan menilai ini upaya menggagalkan perundingan dan menujukan amarah kepada Iran.
Pakistan juga memiliki keberatan tentang beberapa komponen dari proposal 10 poin Iran, khususnya ketentuan tentang kendali Iran atas Selat Hormuz dan hak untuk memungut biaya tol.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/02/b8187743042cff12ac71d40dc9fc23e7-wires_photo_2026_04_02T182934.699.jpg)
Seseorang yang mengetahui situasi tersebut mengatakan, China telah membantu meredam situasi tersebut dengan mengumumkan rencana lima poin dengan Pakistan yang membantu menekan Iran untuk membuka Selat Hormuz.
Ketika ditanya dalam sebuah wawancara dengan kantor berita AFP, apakah China mendorong Iran untuk menyetujui gencatan senjata, Trump mengatakan: ”Saya mendengar, ya”. Namun, AS tidak memberikan informasi apa pun tentang tekanan langsung dari Beijing.
Ada sumber yang mengatakan Iran berharap mendapatkan lebih banyak dukungan dari China, tetapi Beijing juga khawatir dengan ancaman terhadap negara-negara Teluk.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/08/ef780643-f27f-4b75-99a4-c79ef14304c4.jpg)
Harian The New York Times, Rabu, menyebutkan, Pakistan dan Iran sama-sama sangat bergantung pada China. Pinjaman dari China penting untuk menjaga perekonomian Pakistan yang terlilit utang tetap berjalan. China selama bertahun-tahun menjadi salah satu jalur terpenting Iran.
China membeli hampir semua ekspor minyak Iran kala negara lain menghindari berbisnis dengan Iran karena program senjata nuklirnya. China melindungi Iran secara diplomatik dan membantunya melewati isolasi internasional.
China—bersama dengan Rusia—memveto resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dapat membuka jalan bagi aksi militer untuk membuka Selat Hormuz. China tentu berkepentingan menghentikan perang berkepanjangan karena mengganggu pasokan energi dan bisa memicu resesi global.
Perang juga merugikan negara-negara Teluk yang juga berhubungan dekat dengan China. Di balik layar, menurut keterangan para pejabat Iran, China mendesak Iran meredakan ketegangan. China memanfaatkan pengaruhnya untuk menekan Iran agar menerima gencatan senjata dengan AS.
China meminta Iran fleksibel dan meredakan ketegangan. Menurut para pejabat Iran, Iran kemudian mau menerima kesepakatan itu.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi meminta Iran memperhatikan kekhawatiran negara-negara tetangganya. China sering mencoba menampilkan dirinya sebagai mediator.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/25/352f8b5b84bb2d69af378b896b03752f-20260325_H01_NNN_Tanker_Hormuz_mumed.png)
Salah satu contohnya saat membantu menengahi rekonsiliasi yang mengejutkan antara Arab Saudi dan Iran pada 2023. Akan tetapi, ada juga yang kurang berhasil.
Seperti rencana perdamaian 12 poin yang diajukan untuk perang Rusia di Ukraina dan usulan tiga bagian untuk solusi dua negara antara Israel dan Palestina. Nasib keduanya tidak jelas dan tidak ada tindak lanjutnya.
Selain China, Organisasi Intelijen Nasional Turki (MIT) juga ikut berperan penting karena punya kontak langsung dengan Iran, khususnya Garda Revolusi Iran. MIT menjaga saluran komunikasi tetap terbuka untuk mencegah kesalahpahaman dan membujuk dilakukannya de-eskalasi. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra