Gerakan membaca buku bersama belakangan berkembang di sejumlah taman-taman kota di Jakarta seiring dengan upaya revitalisasi dari pemerintah.
02 Jun 2025 07:55 WIB · Metro
Oleh Fransiskus WIsnu Wardhana Dhany, Atiek Ishlahiyah Al Hamasy, Tatang Mulyana Sinaga, Harry Susilo
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Apa saja yang dilakukan warga dalam menikmati taman-taman di Jakarta?
2. Bagaimana gerakan literasi turut tumbuh di taman-taman kota di Jakarta?
3. Bagaimana upaya pemerintah dalam merevitalisasi taman di Jakarta?
4. Seperti apa ruang terbuka hijau di Jakarta saat ini?
5. Mengapa sejumlah taman di Jakarta dibuka 24 jam?
Taman-taman di Jakarta menjadi ruang ekspresi warga untuk beragam aktivitas, mulai dari berjalan santai, joging, bermain dengan anak-anak, hingga berkumpul dan berpiknik bersama keluarga atau komunitas. Misalnya di Taman Cempaka, warga datang sejak pagi untuk menikmati udara segar sambil melakukan berbagai kegiatan seperti observasi burung, lokakarya menggambar, karaoke, hingga “kencan buta” dengan buku. Festival Taman 2023 yang diadakan di taman ini menunjukkan antusiasme warga untuk meramaikan taman melalui acara yang edukatif dan menghibur.
Selain rekreasi, taman juga dijadikan tempat berkebun dan pemberdayaan ekonomi oleh warga. Di pojok Taman Cempaka, warga RW 004 Kelurahan Cilangkap menanam sayur dan tanaman obat keluarga, bahkan menghasilkan produk jahe kemasan yang dijual di sekitar taman. Dengan demikian, taman bukan hanya tempat bersantai, tetapi juga berkontribusi pada ekonomi warga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/08/91d78cb0-c5fa-3613-8799-15c95a6d6682_jpg.jpg)
Warga seperti Minti (58) rutin mengunjungi taman bersama tetangganya. Mereka menempuh jarak ratusan meter dengan berjalan kaki hanya untuk menikmati suasana taman dan melihat anak-anak bermain bebas. Taman juga menyediakan ruang yang memungkinkan berbagai kelompok usia berinteraksi dan beraktivitas tanpa batasan.
Menurut Niken Prawestiti dari komunitas Ayo ke Taman, kegiatan rutin minimal di akhir pekan sangat penting agar taman tidak hanya menjadi bangunan fisik, tetapi juga ruang hidup yang aktif digunakan. Hal ini akan menciptakan kebiasaan baru yang menyenangkan bagi warga dan menghidupkan kembali hubungan sosial dalam komunitas
Dengan semakin baiknya akses transportasi umum seperti LRT dan Mikrotrans, serta dorongan untuk hidup sehat dan ramah lingkungan, taman kini menjadi tujuan utama warga untuk menikmati hari bebas kendaraan, menyegarkan pikiran, atau sekadar menyaksikan aktivitas seni dan budaya secara langsung.
Gerakan literasi di taman kota berkembang melalui inisiatif komunitas dan dukungan fasilitas publik seperti perpustakaan taman. Salah satu contoh mencolok adalah kegiatan Baca Bareng Silent Book Club yang diadakan rutin di Taman Langsat. Kegiatan ini memungkinkan peserta membaca dalam suasana hening bersama-sama tanpa tekanan diskusi. Peserta seperti Silmi dan Noka merasa taman memberi suasana ideal untuk membaca tanpa harus memikirkan biaya atau keharusan sosial tertentu.
Pegiat literasi seperti Hestia Istiviani yang menggagas silent book club sejak 2019 mengatakan bahwa ruang publik Jakarta, meski masih minim secara standar, mulai memungkinkan komunitas literasi untuk beraktivitas. Pemerintah dianggap cukup mendukung dari sisi penyediaan ruang meski masih dibutuhkan transparansi birokrasi dan izin kegiatan agar komunitas tidak takut dibubarkan atau dikenakan biaya tiba-tiba.
Selain itu, perpustakaan terbuka seperti Taman Literasi Martha Christina Tiahahu telah menjadi magnet minat baca warga. Dilengkapi koleksi buku anak, novel, sejarah, hingga ilmu memasak, taman ini ramai dikunjungi berbagai kalangan. Alvaro dan teman-temannya, misalnya, datang setelah bersepeda dari sekolah untuk membaca dengan santai. Konsep taman literasi yang nyaman dan mudah diakses ini membedakannya dari perpustakaan formal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/19/a768b1d66a15477ab7d494390ccad154-WhatsApp_Image_2025_03_19_at_14.15.20.jpeg)
Inisiatif seperti Bookhive juga memberi alternatif untuk berbagi bahan bacaan. Lemari buku berbentuk trapesium hadir di taman-taman seperti Taman Suropati dan Taman Banteng. Pengunjung bisa membaca atau menitipkan buku di lemari tersebut. Aktivitas ini memperkaya ekosistem literasi dan membuka akses pada bahan bacaan di ruang terbuka.
Dengan kegiatan literasi yang merakyat dan tanpa syarat rumit, taman-taman kota menjadi titik harapan untuk mendorong budaya baca. Literasi tidak lagi terkungkung di ruang tertutup dan formal, tetapi hidup berdampingan dengan rekreasi, seni, dan aktivitas warga di ruang terbuka hijau.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta aktif melakukan revitalisasi taman, tidak hanya dari aspek fisik, tetapi juga dari fungsi sosial dan budaya. Salah satu proyek penting adalah penataan tiga taman di Blok M—Taman Ayodya, Taman Langsat, dan Taman Leuser—untuk dijadikan taman utama ASEAN. Dana penataan berasal dari kompensasi koefisien lantai bangunan (KLB) swasta, bukan APBD. Tujuannya adalah menjadikan Blok M pusat aktivitas ASEAN karena letaknya dekat dengan kantor Sekretariat ASEAN.
Penataan taman mencakup penambahan fasilitas seperti jogging track, perbaikan toilet, dan area parkir. Gubernur Pramono Anung menekankan bahwa taman harus menjadi ruang aktivitas warga tanpa perlu hiburan besar. Ia juga menekankan bahwa penataan taman harus memperhatikan kenyamanan dan fungsi sosial, bukan hanya estetika semata.
Pemprov DKI Jakarta juga tengah mengerjakan pembangunan 23 taman baru seluas 6,73 hektare untuk menambah cakupan ruang terbuka hijau. Pembangunan taman ini dianggarkan Rp 1–1,2 miliar per taman dan ditargetkan selesai akhir 2023. Namun, revitalisasi taman juga membutuhkan komitmen dalam perawatan. Firdaus Ali dari Kementerian PUPR menyoroti masih adanya rumput kering dan danau kotor di taman-taman yang seharusnya bisa dimanfaatkan secara optimal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/29/07911ae7d88e80ad0cf29196df623bee-20250529YGA07.jpg)
Warga pun berharap revitalisasi dilakukan secara menyeluruh, termasuk memastikan taman tetap bersih dan aman setelah direnovasi. Teresia, warga Jakarta Selatan, menyebut Taman Ayodya sebagai favoritnya karena tersedia Wi-Fi dan fasilitas yang lengkap. Namun, ia menekankan pentingnya melibatkan warga dalam proses perencanaan agar taman tidak hanya bagus di atas kertas, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan publik.
Secara keseluruhan, revitalisasi taman di Jakarta menunjukkan upaya serius menjadikan taman sebagai ruang hidup kota yang terhubung dengan sistem transportasi, ekonomi lokal (UMKM), dan kehidupan sosial warga. Namun, kesuksesannya tetap bergantung pada pengelolaan, perawatan, dan pelibatan komunitas secara konsis
Hingga 2025, luas ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta tercatat sebesar 35,99 kilometer persegi atau sekitar 5,45 persen dari total wilayah seluas 660,98 km². Angka ini masih jauh dari target 30 persen yang diamanatkan dalam undang-undang. Pemerintah DKI Jakarta tengah menambah cakupan RTH melalui pembangunan taman-taman baru dan revitalisasi taman eksisting.
Data terbaru menunjukkan Jakarta Timur memiliki proporsi RTH terbesar, yakni 24,51 persen dari total RTH, diikuti Jakarta Selatan (23,63 persen), Jakarta Utara (19,49 persen), Jakarta Pusat (11,76 persen), Jakarta Barat (10,09 persen), dan sisanya tersebar di area lain. Jenis RTH ini meliputi taman kota, taman lingkungan, taman interaktif, jalur hijau, hutan kota, pemakaman, dan lainnya.
Taman-taman yang menjadi bagian dari RTH juga terus ditambah jumlahnya. Dinas Pertamanan dan Hutan Kota sedang membangun 23 taman dengan total luas 6,73 hektar, dan DPRD Jakarta telah mendorong pemerintah memaksimalkan aset tanah untuk pengembangan RTH.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/14/1e6e6a92-7ebf-406a-906e-bb645206e104_jpg.jpg)
Meski ada kemajuan, kualitas dan persebaran RTH belum merata. Banyak taman masih kurang terawat, minim fasilitas, atau berada jauh dari permukiman padat. Warga pun menyoroti pentingnya memperhatikan aksesibilitas dan kenyamanan taman agar benar-benar bisa dimanfaatkan seluruh lapisan masyarakat.
Upaya memperluas RTH harus dibarengi dengan penegakan tata kelola lingkungan, pembenahan fasilitas publik, dan partisipasi warga agar ruang hijau menjadi bagian dari ekosistem sosial, ekologis, dan budaya perkotaan yang sehat dan inklusif.
Kebijakan membuka lima taman di Jakarta selama 24 jam setiap hari merupakan bagian dari program 100 hari Gubernur dan Wakil Gubernur Pramono Anung–Rano Karno. Tujuannya adalah menghadirkan ruang publik yang hidup, aman, dan inklusif bagi warga untuk berekspresi dan beraktivitas kapan pun. Taman yang dibuka 24 jam adalah Taman Menteng, Taman Lapangan Banteng, Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Literasi Marta Christina Tiahahu.
Menurut Pramono, taman yang dibuka 24 jam bisa menjadi contoh untuk taman-taman lain yang menyusul. Ia ingin menjadikan taman sebagai instrumen pemerataan akses ruang hijau dan sarana mendidik warga, terutama anak-anak dari keluarga prasejahtera penerima KJP dan KJMU, agar punya mimpi dan akses pada ruang pengetahuan.
Kebijakan ini disambut baik oleh warga, terutama mereka yang kesulitan beraktivitas di siang hari karena kesibukan kerja. Namun, sejumlah kekhawatiran juga muncul, seperti soal keamanan malam hari dan kondisi taman yang belum memadai secara fasilitas. Warga berharap taman 24 jam dilengkapi penerangan yang baik, toilet bersih, dan pengamanan yang memadai.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/08/bf5450f7e5e8e8a12a7b43f5a4a05896-20250508YGA14.jpg)
Di sisi lain, tidak semua taman cocok dibuka 24 jam. Rencana membuka Tebet Eco Park 24 jam dibatalkan setelah menerima penolakan warga. Gubernur akhirnya memutuskan taman ini hanya buka hingga pukul 22.00. Ini menunjukkan pentingnya pelibatan masyarakat dalam menentukan kebijakan tata kota agar tidak menimbulkan resistensi.
Secara umum, pembukaan taman 24 jam adalah langkah progresif untuk menjawab kebutuhan ruang publik yang lebih luas. Namun, perlu pengawasan, pemeliharaan, dan partisipasi aktif dari warga agar taman bisa menjadi ruang inklusif yang aman dan nyaman bagi semua.
Penulis:
Fransiskus WIsnu Wardhana Dhany, Atiek Ishlahiyah Al Hamasy, Tatang Mulyana Sinaga, Harry SusiloEditor:
Harry SusiloPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .