Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa persaingan bakal sengit sejak babak pertama?
- Perang di Timur Tengah berdampak ke sejumlah pemain, seperti apa?
- Bagaimana peluang wakil Indonesia bersaing di All England 2026?
- Mengapa barisan ganda putra Indonesia bisa saling bersaing di All England 2026?
Di tengah kemelut perang di Timur Tengah, duta Indonesia berjuang di Inggris untuk kejuaraan bergengsi bulu tangkis All England 2026. Turnamen BWF World Tour Super 1000 kedua pada 2026 tersebut digelar di Birmingham, Inggris, pada 3 hingga 8 Maret mendatang.
All England setara Wimbledon, salah satu dari empat Grand Slam di arena tenis profesional. Sebagai kejuaraan tertua di cabang masing-masing, All England (digelar sejak 1899) dan Wimbledon (1877) menjadi kejuaraan paling presitisius dengan atmosfer ”magis”. Rasanya, tak ada atlet yang tak punya keinginan menjadi juara All England.
Indonesia punya catatan cukup baik di All England dengan total 52 gelar juara. Dari lima nomor, ganda putra menjadi yang tersukses dengan 24 gelar, diikuti tunggal putra yang mengumpulkan 16 gelar.
Indonesia pun berharap tahun ini mampu meraih gelar setelah gagal pada tahun lalu. Pada 2025, atlet-atlet ”Merah Putih” kalah bersaing dengan Korea Selatan, China, dan Jepang. Hasil terbaik Indonesia adalah final yang dicapai Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana.
Sebagai bagian dari persiapan untuk memperbaiki hasil tersebut, PBSI menjalankan program yang tak pernah dilakukan, yaitu aklimatisasi di Inggris sedini mungkin sebagai lanjutan dari latihan di Indonesia.
Mengapa persaingan bakal sengit sejak babak pertama?
Dengan level BWF World Tour Super 1000, All England adalah turnamen yang akan menyajikan persaingan ketat pada banyak laga. Tak hanya pada babak-babak akhir, potensi sengitnya persaingan juga bisa terjadi sejak babak pertama.
Ada berbagai indikator yang membuat pertandingan bisa menjadi seru di Utilita Arena, Birmingham, Inggris, 3-8 Maret. Salah satunya adalah statistik head to head di antara para pemain yang bertemu. Namun, ini tak menjadi satu-satunya patokan.
Rekam jejak performa atlet, terutama pada beberapa turnamen terakhir, juga melahirkan kemungkinan laga sengit.
Pertandingan seru pada fase awal ini tak hanya melibatkan atlet senior, tetapi juga mereka yang akan merasakan persaingan All England untuk pertama kali. Beberapa di antara mereka adalah Raymond Indra/Nikolaus Joaquin dan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu.
Jafar/Felisha, misalnya, akan langsung menghadapi lawan sulit asal Thailand, Pakkapon Teeraratsakul/Sapsiree Taerattanachai, di babak pertama. Pertandingan ini akan menjadi ujian level tinggi bagi Jafar/Felisha pada awal perjalanan di All England. Felisha akan beradu cepat dan cerdik dengan Taerattanachai dalam mengatur permainan di lapangan depan.
Wakil Indonesia lainnya, Putri Kusuma Wardani, akan diuji tunggal putri Denmark, Mia Blichfeldt, di babak awal. Putri tampil sebagai unggulan keenam berkat posisi terbaik yang pernah ditempatinya dalam peringkat dunia, yaitu ranking keenam. Namun, dalam persaingan di All England, dia kalah pengalaman dari Blichfeldt.
Putri baru menjalani debut All England pada 2025 ketika mencapai babak kedua, sedangkan Blichfeldt sudah tampil di Birmingham sejak 2018 dengan hasil terbaik dua kali perempat final. Selain itu, Putri tertinggal 1-2 dalam statistik pertemuan dengan Blichfeldt.
Perang di Timur Tengah berdampak ke sejumlah pemain, seperti apa?
Ketika banyak atlet telah tiba di Birmingham, atlet tunggal putri India, Pusarla V Sindhu, terjebak di bandara Dubai, Uni Emirat Arab. Pesawat yang ditumpangi Sindhu mendarat di Dubai, Sabtu, dan tak bisa melanjutkan penerbangan karena konflik di Timur Tengah.
Ledakan rudal dalam konflik tersebut terdengar di Dubai dan Abu Dhabi, termasuk oleh pelatih Sindhu. ”Beberapa jam lalu, terdengar ledakan yang sangat dekat dari tempat kami menunggu di bandara. Pelatih saya pun berlari menjauh. Situasinya sangat menegangkan dan menakutkan bagi kami,” tulis Sindhu dalam akun Instagram.
Meski demikian, Sindhu mengatakan, dia dan tim berada dalam kondisi aman. ”Kepada semua yang telah mengirim pesan dan menanyakan kabar, terima kasih. Itu sangat berarti. Sekarang, kami mencoba untuk beristirahat dan berharap semuanya membaik,” katanya.
Sindhu, yang bermain di All England sejak 2012, akan tampil untuk ke-14 kali. Semifinalis pada 2018 dan 2021 itu akan mengawali penampilan melawan atlet Thailand, Supanida Katethong, dan berpeluang melawan unggulan kedua, Wang Zhi Yi, pada babak kedua.
Adapun duta-duta Indonesia tak terlalu terdampak dengan perang di Timur Tengah karena telah tiba lebih awal di Inggris, yaitu sejak awal pekan lalu. Mereka berangkat pada 24 Februari menuju Milton Keynes, kota di tenggara Birmingham. Di kota tersebut, atlet menjalani aklimatisasi, yaitu penyesuaian diri dengan cuaca, lingkungan, dan kondisi lain yang berbeda dengan Indonesia.
Bagaimana peluang wakil Indonesia bersaing di All England 2026?
Di antara lima sektor, tunggal dan ganda putra menjadi nomor dengan peluang terbesar Indonesia untuk mewujudkan target meraih gelar. Ada Jonatan Christie, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, dan Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani dengan statistik penampilan yang lebih baik dibandingkan rekan-rekan mereka.
Mereka pun mempunyai catatan positif di All England. Jonatan menjadi juara pada 2024 melalui final sesama atlet Indonesia saat melawan Anthony Sinisuka Ginting.
Pada tahun itu pula, Fajar menjadi juara untuk kedua kali beruntun bersama partner sebelumnya, Muhammad Rian Ardianto. Adapun Fikri mendahului senior yang kini menjadi partnernya ketika menjadi juara pada 2022 bersama Bagas Maulana.
Sabar/Reza belum pernah menjadi juara, tetapi mereka melangkah jauh pada 2025 saat menjadi semifinalis meskipun akhirnya kalah dari sesama pemain Indonesia, Leo/Bagas.
Bersaing dalam nomor dengan persaingan merata, Jonatan, Fajar/Fikri, dan Sabar/Reza bisa melihat situasi tersebut dari sudut pandang positif dan memanfaatkannya. Sama seperti peserta lain, terutama para unggulan, yaitu Shi Yu Qi, Kunlavut Vitidsarn, dan Kim Won-ho/Seo Seung-jae, para duta Indonesia itu pun memiliki peluang setara untuk juara.
Jika berhasil meraih gelar suara, Fajar/Fikri akan mencatatkan diri sebagai pemain yang meraih gelar dengan pasangan berbeda. Atlet Indonesia yang terakhir kali meraih prestasi ini adalah Praveen Jordan sebagai juara ganda campuran 2016 bersama Debby Susanto dan saat bermain bersama Melati Daeva Oktavianti (2020).
Adapun di ganda putra, atlet terakhir yang mencapainya adalah Candra Wijaya. Candra menjadi juara bersama Sigit Budiarto pada 2003 setelah empat tahun sebelumnya berdiri di podium tertinggi bersama Tony Gunawan.
Mengapa barisan ganda putra Indonesia bisa bersaing di All England 2026?
Berdasarkan undian yang dirilis Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), Selasa (24/2/2026), empat pasangan Indonesia yang tergabung di paruh atas adalah Sabar Karyaman Gutama/M Reza Pahlevi Isfahani, Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana, Fajar Alfian/M Shohibul Fikri, dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin. Adapun satu pasangan lain yang terpisah dari rekan-rekannya adalah Rahmat Hidayat/Muhammad Rian Ardianto.
Kondisi tersebut bisa dipandang dari dua sisi, salah satunya merugikan karena mereka bisa bertemu pada babak-babak awal. Pertemuan paling dini bisa terjadi antara Fajar/Fikri dan Raymond/Nikolaus, yaitu pada babak kedua.
Fajar/Fikri akan bersaing dengan bekal gelar juara All England bersama pasangan sebelumnya. Fajar/Rian meraih gelar juara pada 2023 dan 2024, sementara Fikri/Bagas juara pada 2022.
Pasangan paling senior dan paling muda di pelatnas utama ganda putra tersebut sudah dua kali bertemu dengan hasil yang sama, yaitu kemenangan bagi Raymond/Nikolaus. Pertemuan itu terjadi di final Australia Terbuka 2025 dan perempat final Indonesia Masters 2026.
Setelah itu, salah satu di antara mereka bisa berjumpa dengan Leo/Bagas di perempat final. Salah satu dari tiga pasangan pelatnas itu bahkan juga bisa bertemu Sabar/Reza, yang juga berada di paruh atas, jika melaju ke semifinal.
Situasi tersebut bisa juga dilihat dari sudut pandang positif karena akan ada wakil Indonesia yang melangkah lebih jauh dari pertemuan dengan rekan mereka.
Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa persaingan bakal sengit sejak babak pertama?
- Perang di Timur Tengah berdampak ke sejumlah pemain, seperti apa?
- Bagaimana peluang wakil Indonesia bersaing di All England 2026?
- Mengapa barisan ganda putra Indonesia bisa saling bersaing di All England 2026?
Di tengah kemelut perang di Timur Tengah, duta Indonesia berjuang di Inggris untuk kejuaraan bergengsi bulu tangkis All England 2026. Turnamen BWF World Tour Super 1000 kedua pada 2026 tersebut digelar di Birmingham, Inggris, pada 3 hingga 8 Maret mendatang.
All England setara Wimbledon, salah satu dari empat Grand Slam di arena tenis profesional. Sebagai kejuaraan tertua di cabang masing-masing, All England (digelar sejak 1899) dan Wimbledon (1877) menjadi kejuaraan paling presitisius dengan atmosfer ”magis”. Rasanya, tak ada atlet yang tak punya keinginan menjadi juara All England.
Indonesia punya catatan cukup baik di All England dengan total 52 gelar juara. Dari lima nomor, ganda putra menjadi yang tersukses dengan 24 gelar, diikuti tunggal putra yang mengumpulkan 16 gelar.
Indonesia pun berharap tahun ini mampu meraih gelar setelah gagal pada tahun lalu. Pada 2025, atlet-atlet ”Merah Putih” kalah bersaing dengan Korea Selatan, China, dan Jepang. Hasil terbaik Indonesia adalah final yang dicapai Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana.
Sebagai bagian dari persiapan untuk memperbaiki hasil tersebut, PBSI menjalankan program yang tak pernah dilakukan, yaitu aklimatisasi di Inggris sedini mungkin sebagai lanjutan dari latihan di Indonesia.
Mengapa persaingan bakal sengit sejak babak pertama?
Dengan level BWF World Tour Super 1000, All England adalah turnamen yang akan menyajikan persaingan ketat pada banyak laga. Tak hanya pada babak-babak akhir, potensi sengitnya persaingan juga bisa terjadi sejak babak pertama.
Ada berbagai indikator yang membuat pertandingan bisa menjadi seru di Utilita Arena, Birmingham, Inggris, 3-8 Maret. Salah satunya adalah statistik head to head di antara para pemain yang bertemu. Namun, ini tak menjadi satu-satunya patokan.
Rekam jejak performa atlet, terutama pada beberapa turnamen terakhir, juga melahirkan kemungkinan laga sengit.
Pertandingan seru pada fase awal ini tak hanya melibatkan atlet senior, tetapi juga mereka yang akan merasakan persaingan All England untuk pertama kali. Beberapa di antara mereka adalah Raymond Indra/Nikolaus Joaquin dan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu.
Jafar/Felisha, misalnya, akan langsung menghadapi lawan sulit asal Thailand, Pakkapon Teeraratsakul/Sapsiree Taerattanachai, di babak pertama. Pertandingan ini akan menjadi ujian level tinggi bagi Jafar/Felisha pada awal perjalanan di All England. Felisha akan beradu cepat dan cerdik dengan Taerattanachai dalam mengatur permainan di lapangan depan.
Wakil Indonesia lainnya, Putri Kusuma Wardani, akan diuji tunggal putri Denmark, Mia Blichfeldt, di babak awal. Putri tampil sebagai unggulan keenam berkat posisi terbaik yang pernah ditempatinya dalam peringkat dunia, yaitu ranking keenam. Namun, dalam persaingan di All England, dia kalah pengalaman dari Blichfeldt.
Putri baru menjalani debut All England pada 2025 ketika mencapai babak kedua, sedangkan Blichfeldt sudah tampil di Birmingham sejak 2018 dengan hasil terbaik dua kali perempat final. Selain itu, Putri tertinggal 1-2 dalam statistik pertemuan dengan Blichfeldt.
Perang di Timur Tengah berdampak ke sejumlah pemain, seperti apa?
Ketika banyak atlet telah tiba di Birmingham, atlet tunggal putri India, Pusarla V Sindhu, terjebak di bandara Dubai, Uni Emirat Arab. Pesawat yang ditumpangi Sindhu mendarat di Dubai, Sabtu, dan tak bisa melanjutkan penerbangan karena konflik di Timur Tengah.
Ledakan rudal dalam konflik tersebut terdengar di Dubai dan Abu Dhabi, termasuk oleh pelatih Sindhu. ”Beberapa jam lalu, terdengar ledakan yang sangat dekat dari tempat kami menunggu di bandara. Pelatih saya pun berlari menjauh. Situasinya sangat menegangkan dan menakutkan bagi kami,” tulis Sindhu dalam akun Instagram.
Meski demikian, Sindhu mengatakan, dia dan tim berada dalam kondisi aman. ”Kepada semua yang telah mengirim pesan dan menanyakan kabar, terima kasih. Itu sangat berarti. Sekarang, kami mencoba untuk beristirahat dan berharap semuanya membaik,” katanya.
Sindhu, yang bermain di All England sejak 2012, akan tampil untuk ke-14 kali. Semifinalis pada 2018 dan 2021 itu akan mengawali penampilan melawan atlet Thailand, Supanida Katethong, dan berpeluang melawan unggulan kedua, Wang Zhi Yi, pada babak kedua.
Adapun duta-duta Indonesia tak terlalu terdampak dengan perang di Timur Tengah karena telah tiba lebih awal di Inggris, yaitu sejak awal pekan lalu. Mereka berangkat pada 24 Februari menuju Milton Keynes, kota di tenggara Birmingham. Di kota tersebut, atlet menjalani aklimatisasi, yaitu penyesuaian diri dengan cuaca, lingkungan, dan kondisi lain yang berbeda dengan Indonesia.
Bagaimana peluang wakil Indonesia bersaing di All England 2026?
Di antara lima sektor, tunggal dan ganda putra menjadi nomor dengan peluang terbesar Indonesia untuk mewujudkan target meraih gelar. Ada Jonatan Christie, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, dan Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani dengan statistik penampilan yang lebih baik dibandingkan rekan-rekan mereka.
Mereka pun mempunyai catatan positif di All England. Jonatan menjadi juara pada 2024 melalui final sesama atlet Indonesia saat melawan Anthony Sinisuka Ginting.
Pada tahun itu pula, Fajar menjadi juara untuk kedua kali beruntun bersama partner sebelumnya, Muhammad Rian Ardianto. Adapun Fikri mendahului senior yang kini menjadi partnernya ketika menjadi juara pada 2022 bersama Bagas Maulana.
Sabar/Reza belum pernah menjadi juara, tetapi mereka melangkah jauh pada 2025 saat menjadi semifinalis meskipun akhirnya kalah dari sesama pemain Indonesia, Leo/Bagas.
Bersaing dalam nomor dengan persaingan merata, Jonatan, Fajar/Fikri, dan Sabar/Reza bisa melihat situasi tersebut dari sudut pandang positif dan memanfaatkannya. Sama seperti peserta lain, terutama para unggulan, yaitu Shi Yu Qi, Kunlavut Vitidsarn, dan Kim Won-ho/Seo Seung-jae, para duta Indonesia itu pun memiliki peluang setara untuk juara.
Jika berhasil meraih gelar suara, Fajar/Fikri akan mencatatkan diri sebagai pemain yang meraih gelar dengan pasangan berbeda. Atlet Indonesia yang terakhir kali meraih prestasi ini adalah Praveen Jordan sebagai juara ganda campuran 2016 bersama Debby Susanto dan saat bermain bersama Melati Daeva Oktavianti (2020).
Adapun di ganda putra, atlet terakhir yang mencapainya adalah Candra Wijaya. Candra menjadi juara bersama Sigit Budiarto pada 2003 setelah empat tahun sebelumnya berdiri di podium tertinggi bersama Tony Gunawan.
Mengapa barisan ganda putra Indonesia bisa bersaing di All England 2026?
Berdasarkan undian yang dirilis Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), Selasa (24/2/2026), empat pasangan Indonesia yang tergabung di paruh atas adalah Sabar Karyaman Gutama/M Reza Pahlevi Isfahani, Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana, Fajar Alfian/M Shohibul Fikri, dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin. Adapun satu pasangan lain yang terpisah dari rekan-rekannya adalah Rahmat Hidayat/Muhammad Rian Ardianto.
Kondisi tersebut bisa dipandang dari dua sisi, salah satunya merugikan karena mereka bisa bertemu pada babak-babak awal. Pertemuan paling dini bisa terjadi antara Fajar/Fikri dan Raymond/Nikolaus, yaitu pada babak kedua.
Fajar/Fikri akan bersaing dengan bekal gelar juara All England bersama pasangan sebelumnya. Fajar/Rian meraih gelar juara pada 2023 dan 2024, sementara Fikri/Bagas juara pada 2022.
Pasangan paling senior dan paling muda di pelatnas utama ganda putra tersebut sudah dua kali bertemu dengan hasil yang sama, yaitu kemenangan bagi Raymond/Nikolaus. Pertemuan itu terjadi di final Australia Terbuka 2025 dan perempat final Indonesia Masters 2026.
Setelah itu, salah satu di antara mereka bisa berjumpa dengan Leo/Bagas di perempat final. Salah satu dari tiga pasangan pelatnas itu bahkan juga bisa bertemu Sabar/Reza, yang juga berada di paruh atas, jika melaju ke semifinal.
Situasi tersebut bisa juga dilihat dari sudut pandang positif karena akan ada wakil Indonesia yang melangkah lebih jauh dari pertemuan dengan rekan mereka.