ALL ENGLAND

Senior Berburu Gelar, Yunior Mencari Pengalaman

All England menjadi puncak persaingan atlet bulu tangkis di bulan Maret. Sebanyak 24 atlet Indonesia turut berburu gelar dalam turnamen paling prestisius tersebut.

28 Feb 2026 07:00 WIB · Olahraga

AP

Oleh Yulia Sapthiani

Sebanyak 24 atlet Indonesia yang akan tampil di All England 2026 terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu para senior yang mempunyai target juara dan yunior yang mencari pengalaman dalam debut mereka. Mereka akan tampil dalam persaingan ketat sejak fase awal untuk memperbaiki hasil tanpa gelar juara di All England 2025.

All England 2026 di Utilita Arena, Birmingham, Inggris, 3-8 Maret, adalah turnamen BWF World Tour Super 1000 kedua pada tahun ini setelah Malaysia Terbuka pada Januari lalu. Kedua turnamen itu berlevel sama, seperti juga Indonesia Terbuka yang akan berlangsung 2-7 Juni dan China Terbuka (21-26 Juli). Namun, All England selalu punya makna spesial bagi atlet bulu tangkis.

All England setara Wimbledon, salah satu dari empat Grand Slam di arena tenis profesional. Sebagai kejuaraan tertua di cabang masing-masing, All England (digelar sejak 1899) dan Wimbledon (1877) menjadi kejuaraan paling presitisius dengan atmosfer ”magis”. Rasanya, tak ada atlet yang tak punya keinginan menjadi juara All England.

Indonesia punya catatan cukup baik di All England dengan total 52 gelar juara. Dari lima nomor, ganda putra menjadi yang tersukses dengan 24 gelar, diikuti tunggal putra yang mengumpulkan 16 gelar.

Infografik Skuad Indonesia di All England 2026

Namun, pada 2025, atlet-atlet ”Merah Putih” kalah bersaing dengan Korea Selatan, China, dan Jepang. Hasil terbaik Indonesia adalah final yang dicapai Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana. Mereka menjadi salah satu dari hanya tiga wakil yang bisa menembus babak perempat final atau lebih selain Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani (semifinal) dan Gregoria Mariska Tunjung (perempat final).

Sebagai bagian dari persiapan untuk memperbaiki hasil tersebut, PBSI menjalankan program yang tak pernah dilakukan, yaitu aklimatisasi di Inggris sedini mungkin sebagai lanjutan dari latihan di Indonesia.

Quote

Di antara lima sektor, tunggal dan ganda putra menjadi nomor dengan peluang terbesar Indonesia untuk mewujudkan target meraih gelar.

Atlet-atlet pelatnas yang akan bersaing di All England, kecuali Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi yang tampil di Jerman Terbuka, beradaptasi dengan cuaca dan perbedaan waktu antara Indonesia dan Inggris dengan berangkat pada Rabu (25/2/2026). Fajar Alfian dan kawan-kawan berlatih di Milton Keynes sebelum berpindah ke Birmingham pada 1 Maret 2026.

Sebagai perbandingan, atlet yang langsung bermain di All England 2025, 11-16 Maret, berangkat ke Inggris pada 7 Maret. Aklimatisasi dilakukan di Birmingham mendekati turnamen itu.

Tim Indonesia berfoto bersama pebulu tangkis Inggris di Milton Keynes, Inggris, Kamis (26/2/2026). Atlet Indonesia menjalani aklimatisasi di kota tersebut menjelang All England, 3-8 Maret.

Maka, perbedaan waktu, cuaca, dan hal-hal lainnya yang menyangkut kondisi geografis Indonesia dan Inggris seharusnya tak menjadi kendala ketika tiba waktunya bertanding. Absen di Jerman Terbuka juga bisa menjadi keuntungan sehingga fokus atlet langsung diarahkan di All England.

Di antara lima sektor, tunggal dan ganda putra menjadi nomor dengan peluang terbesar Indonesia untuk mewujudkan target meraih gelar. Ada Jonatan Christie, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, dan Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani dengan statistik penampilan yang lebih baik dibandingkan rekan-rekan mereka.

Mereka pun mempunyai catatan positif di All England. Jonatan menjadi juara pada 2024 melalui final sesama atlet Indonesia saat melawan Anthony Sinisuka Ginting.

Pada tahun itu pula, Fajar juara untuk kedua kali beruntun bersama partner sebelumnya, Muhammad Rian Ardianto. Adapun Fikri mendahului senior yang kini menjadi partnernya ketika menjadi juara pada 2022 bersama Bagas Maulana.

Ganda Indonesia Sabar Karyaman Gutama/M Reza Pahlevi Isfahani  bertanding melawan pasangan Malaysia Man Wei Wong/Kai Wun Tee  di perempat final Daihatsu Indonesia Master 2026. Sabar/Reza menang 22-20, 21-19.

Sabar/Reza belum pernah juara, tetapi mereka melangkah jauh pada 2025 saat menjadi semifinalis meskipun akhirnya kalah dari sesama pemain Indonesia, Leo/Bagas.

Bersaing dalam nomor dengan persaingan merata, Jonatan, Fajar/Fikri, dan Sabar/Reza, bisa melihat situasi tersebut dari sudut pandang positif dan memanfaatkannya. Sama seperti peserta lain, terutama para unggulan seperti Shi Yu Qi, Kunlavut Vitidsarn, dan Kim Won-ho/Seo Seung-jae, para duta Indonesia itu pun memiliki peluang setara untuk juara.

Jika juara, Fajar/Fikri akan mencatatkan diri sebagai pemain yang meraih gelar dengan pasangan berbeda. Atlet Indonesia yang terakhir kali meraih prestasi ini adalah Praveen Jordan sebagai juara ganda campuran 2016 bersama Debby Susanto dan saat bermain bersama Melati Daeva Oktavianti (2020).

Adapun di ganda putra, atlet terakhir yang melakukan itu adalah Candra Wijaya. Candra juara bersama Sigit Budiarto pada 2003 setelah empat tahun sebelumnya berdiri di podium tertinggi bersama Tony Gunawan.

Multicolor Doodle Creative Process Steps Diagram Infographic - 1

Persaingan merata

Namun, sebelum memandang terlalu jauh untuk membuat catatan itu, Fajar/Fikri harus mengatasi tantangan besar dalam setiap babak sejak awal. Tampil dalam nomor dengan persaingan paling merata, mereka tak boleh lengah. Atlet yang tak diunggulkan bahkan bisa tampil lebih baik karena setiap pemain memiliki keinginan tampil sebaik mungkin di All England.

Fajar/Fikri, yang menjadi unggulan kelima, akan berhadapan dengan pemain berpengalaman asal Malaysia, Ong Yew Sin/Teo Ee Yi, pada babak pertama. Setelah itu, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin atau Kang Min-hyuk/Ki Dong-ju (Korea Selatan) bisa menjadi pesaing di babak kedua. Lawan-lawan pada fase-fase awal ini bukanlah pasangan yang akan mudah ditaklukkan.

Raymond/Nikolaus adalah yunior Fajar/Fikri di pelatnas. Meskipun baru memasuki level pelatnas utama pada 2026, mereka selalu menang atas seniornya tersebut dalam dua pertemuan. Terbaru, Raymond/Nikolaus menang atas Fajar/Fikri di perempat final Indonesia Masters, Januari.

Calon lawan lainnya dari Fajar/Fikri pada paruh atas undian adalah unggulan ketiga asal China, Liang Wei Keng/Wang Chang, lalu Sabar/Reza atau Kim/Seo. Adapun Sabar/Reza akan menghadapi ujian dari Christo Popov/Toma Junior Popov pada babak pertama, lalu berpeluang melawan Takuro Hoki/Yugo Kobayashi di babak kedua, dan Kim/Seo pada perempat final.

Ganda Raymond Indra/Nikolaus Joaquin bertanding melawan rekan senegaranya, Fajar Alfian/M Shohibul Fikri dalam perempat final Daihatsu Indonesia Master 2026. Pasangan Indra/Joaquin berhasil mengalahkan Fajar/Fikri 18-21, 21-19, 21-14.

Di antara semua peserta, status favorit juara ada di tangan pasangan nomor satu dunia yang juga juara bertahan, Kim/Seo. Namun, seperti dikatakan Fajar, lawan berat bukan hanya Kim/Seo. Maka, mereka akan senantiasa waspada sejak fase awal.

Di tunggal putra, Jonatan Christie akan menjalani laga pembuka melawan Jia Heng Jason Teh dan bisa berhadapan dengan Christo, Kodai Naraoka, atau Loh Kean Yew di perempat final. Jonatan bergabung bersama Vitidsarn dan Chou Tien Chen di paruh bawah undian.

Jonatan tampil di All England setelah absen di Indonesia Masters. Dia memilih tak jadi tampil di hadapan publik sendiri karena membutuhkan waktu untuk memulihkan fisik setelah bermain hingga babak semifinal di Malaysia Terbuka dan final di India Terbuka.

Barisan debutan

Bersama para senior, termasuk Gloria Emanuelle Widjaja yang berpasangan dengan Hee Yong Kai Terry (Singapura), ada 11 atlet lain yang akan merasakan atmosfer persaingan All England untuk pertama kalinya. Mereka adalah Raymond/Nikolaus, Alwi Farhan, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum, Rahmat Hidayat, dan Meilysa Trias Puspitasari.

Tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, takluk di final India Terbuka 2026 dalam waktu 38 menit Lin Chun-yi (Taiwan) dengan skor 21-10, 21-18 di Stadion Indira Gandhi Indoor, New Delhi, Minggu (18/1/2026).

Selain itu, ada pula Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah yang juga akan menjalani debut meski tergolong senior dengan usia 27 tahun dan 24 tahun.

Skuad debutan tersebut pernah merasakan tampil dalam turnamen Super 1000 lain, seperti Malaysia dan Indonesia Terbuka. Hal itu bisa menjadi gambaran bahwa mereka harus tancap gas sejak babak pertama. Tak ada istilah ”pertandingan pemanasan” di All England meskipun lawan yang dihadapi adalah atlet dengan peringkat lebih rendah.

Alwi sangat antusias menjalani debut All England untuk berhadapan dengan siapa pun. Apalagi, dia punya bekal juara Indonesia Masters sebagai gelar pertama dari turnamen Super 500. Atlet berusia 20 tahun ini akan berhadapan dengan pemain seangkatannya, Ayush Shetty (India), pada babak pertama, lalu berpeluang melawan Chou Tien Chen di laga berikutnya.

Indra Widjaja, pelatih tunggal putra Indonesia, mengatakan, Alwi akan melalui proses yang belum pernah dialami saat bertanding di All England. ”Kata orang, All England itu punya suasana ’angker’. Apa pun itu, ini pengalaman baik untuk dia,” kata Indra.

Aksi pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan, setelah mengalahkan pebulu tangkis Thailand, Panitchaphon Teeraratsakul, di final Daihatsu Indonesia Master 2026 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (25/1/2026). Alwi akan tampil pertama kali di All England, 3-8 Maret.
Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, ganda campuran Indonesia, tampil pada babak pertama turnamen bulu tangkis Malaysia Terbuka di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (6/1/2026). Mereka menjadi salah satu debutan skuad Indonesia untuk turnamen All England, 3-8 Maret.
Pasangan Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, bertanding di final Daihatsu Indonesia Master 2026, Minggu (25/1/2026). Raymond/Nikolaus akan menjalani debut di All England yang akan berlangsung di Birmingham, Inggris, 3-8 Maret.
Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum, ganda putri Indonesia, akan tampil di All England, 3-8 Maret, untuk pertama kalinya. Mereka memiliki hasil terbaik ketika menjuarai Australia Terbuka 2025.
Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, ganda putri Indonesia, bermain pada perempat final Malaysia Terbuka di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Jumat (9/1/2026). Meilysa (kanan) menjadi salah satu atlet Indonesia yang akan menjalani debut di All England, 3-8 Maret.

Performa Raymond/Nikolaus juga akan dinanti penggemar bulu tangkis Indonesia setelah nama mereka naik daun ketika menjuarai Australia Terbuka 2025 dan mencapai final Indonesia Masters.

Jafar/Felisha akan merasakan All England setelah ditempa persaingan keras ganda campuran dalam turnamen level tinggi selama 2025. Mereka mencapai semifinal China Terbuka pada tahun itu, tetapi punya pekerjaan rumah saat melawan pasangan peringkat empat besar dunia.

”Bertanding di level Super 1000 adalah ujian kualitas dan mental. Kami ingin mereka berani menghadapi tekanan, belajar dari pertandingan besar dan menunjukkan permainan terbaik,” ujar Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Eng Hian tentang para atlet yang akan menjalani All England pertamanya.

Ujian putri

Untuk sebagian besar atlet tunggal dan ganda putri, All England bukanlah turnamen yang asing. Meski demikian, turnamen tahun ini akan bermakna berbeda bagi mereka.

Putri Kusuma Wardani akan berjuang sendirian di tunggal putri dengan absennya Gregoria Mariska Tunjung. Putri, yang menjalani debut All England pada 2025 dan mencapai babak kedua, menyadari beratnya berjuang sendiri dalam kepungan atlet-atlet top yang masih sulit dikalahkannya, seperti An Se-young, Akane Yamaguchi, dan Chen Yu Fei.

Namun, ada sisi positif yang bisa dibawanya, yaitu status sebagai unggulan keenam. Dia mendapatkan posisi tersebut karena berkembang dalam setahun terakhir hingga berada pada peringkat keenam dunia sejak akhir 2025, posisi terbaik yang pernah ditempatinya. Atlet berusia 24 tahun itu pun tinggal memelihara rasa percaya diri saat melawan atlet dengan peringkat di atasnya.

Putri Kusuma Wardani, tunggal putri Indonesia, berlatih di Milton Keynes, Inggris, Kamis (26/2/2026). Putri bersiap untuk menghadapi turnamen All England, 3-8 Maret, di Birmingham.

Atlet ganda putri bisa menjadikan All England sebagai alat ukur untuk melihat level mereka dibandingkan pasangan top dunia. Apalagi, tiga pasangan yang akan tampil belum setahun berduet. Fadia/Amallia bahkan baru berpartner pada tahun ini.

Fadia/Amallia menjuarai Thailand Masters Super 300 dalam turnamen kedua mereka. Rachel/Febi juga punya gelar juara, yaitu Australia Terbuka, sementara Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa mencapai final Australia Terbuka 2025 dan perempat final Malaysia Terbuka 2026 sebagai hasil terbaik.

Di All England, saatnya mereka menaikkan level performa dan kepercayaan diri. Bukan hanya untuk hasil terbaik dalam turnamen tersebut, melainkan sebagai bekal jangka panjang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan