Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa Pelatih Brasil Carlo Ancelotti meminta maaf setelah timnya ditahan Maroko?
- Mengapa Brasil di era Carlo Ancelotti belum terlihat meyakinkan?
- Bagaimana Australia bisa kalahkan Turki meskipun tak diperkuat banyak pemain bintang?
- Bagaimana Skotlandia mampu tundukkan Haiti meskipun tidak mendominasi penguasaan bola?
- Mengapa Qatar dan Lopetegui meraih lompatan besar setelah menahan Swiss?
- Mengapa jersei robek menjadi sorotan saat Korsel kalahkan Ceko?
Piala Dunia, ajang terbesar sepak bola, telah bergulir di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sejak Jumat (12/6/2026). Sejumlah kejutan pun tercipta. Di luar dugaan, tim-tim asal Konfederasi Asia (AFC), seperti Korea Selatan dan Australia, mampu tampil perkasa sejauh ini di fase grup.
Adapun tim-tim unggulan, seperti Brasil, terlihat masih tertatih-tatih. Mereka ditahan Maroko, 1-1. Sementara barisan tuan rumah mampu mengoptimalkan dukungan suporter dengan tampil gemilang, seperti AS yang menang telak 4-1 atas Paraguay dan Meksiko yang menang 2-0 atas Afrika Selatan di laga pembuka Piala Dunia 2026.
Mengapa Pelatih Brasil Carlo Ancelotti meminta maaf setelah timnya ditahan Maroko?
Pada jumpa pers seusai laga melawan Maroko, Pelatih Brasil Carlo Ancelotti meminta maaf kepada para penggemar. Permintaan maaf itu muncul setelah seorang jurnalis menyinggung fakta bahwa Brasil tetap gagal menemukan ”magis samba” meskipun mendapat dukungan mayoritas penonton di stadion.
Akibatnya, juara dunia lima kali itu pun harus puas bermain imbang 1-1. ”Saya berterima kasih kepada pendukung dengan atmosfer yang mereka ciptakan, tetapi saya minta maaf dengan performa tim,” kata pelatih asal Italia ini dalam jumpa pers yang dihadiri Kompas di Pusat Media Stadion MetLife, New Jersey, Sabtu (13/6/2026) sore waktu setempat.
Pendukung Brasil sudah menciptakan atmosfer samba, dengan energi meriah, dinamis, dan penuh kegembiraan sejak tiba di stadion. Beberapa jam sebelum laga dimulai, mereka sudah membentangkan banner bergambar para legenda Brasil dan bernyanyi gembira.
Banner raksasa itu kemudian mereka bentangkan di dalam stadion. Sayangnya, atmosfer itu tidak menular pada permainan para pemain ”Selecao”.
Apakah permintaan maaf itu cukup bagi publik Brasil? Pertanyaan bertubi-tubi terhadap Ancelotti pada jumpa pers seusai laga itu sepertinya mewakili frustrasi para pendukung.
Kecuali penampilan gemilang Vinicius Junior, penampilan tim Brasil memang jauh dari harapan. Pergantian pemain yang dilakukan Ancelotti tidak terlalu banyak mengangkat permainan tim.
Ancelotti juga dianggap terlalu berhati-hati dan kurang berani karena tidak mau memasukkan Endrick. Ditanya soal Endrick, Ancelotti mengatakan, ”Saya di sini bukan untuk berbicara individu pemain, saya hanya berbicara tentang tim.”
Mengapa Brasil di era Carlo Ancelotti belum terlihat meyakinkan?
Carlo Ancelotti dikenal sebagai pelatih yang piawai merangkai kecemerlangan individu-individu pemain menjadi kesatuan istimewa. Namun, dalam debut kepelatihannya di Piala Dunia, sentuhan magis sang maestro belum terlihat berhasil bersama tim nasional Brasil.
Brasil ditahan Maroko, 1-1, dalam laga pembuka Grup C di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (14/6/2026) WIB. Sergapan Maroko di awal laga sempat berbuah keunggulan lewat penyerang Ismael Saibari, tetapi langsung dibalas megabintang Brasil, Vinicius Junior, hanya dalam rentang 11 menit.
”Saya pikir, kami tidak memulai dengan baik, saya agak khawatir. Kami kalah dalam banyak duel dan kehilangan penguasaan, tetapi kami berkembang di paruh kedua. Maroko adalah tim yang bagus. (Apakah saya) Puas? Tidak terlalu. Saya berharap awal yang lebih baik,” tutur Ancelotti.
Skuad Brasil tampak mewah, banyak nama besar di dalam susunan 11 pertama. Duo pemain sensasional di Liga Spanyol, Vinicius dan Raphinha, mengisi sayap mereka. Di ujung tombak, terdapat striker Brentford, Igor Thiago, yang sukses mengguncang Liga Inggris pada musim terakhir.
Meskipun begitu, Maroko justru mampu menjadi tim yang paling agresif pada 30 menit awal. Setelah menghujani pertahanan Brasil dengan tembakan, mereka unggul lebih dulu pada menit ke-21 lewat serangan balik kilat yang dikreasikan oleh gelandang serang Real Madrid, Brahim Diaz.
Umpan Diaz membelah pertahanan garis tinggi Brasil. Saibari lolos di antara dua bek tengah lawan yang baru saja berlaga di final Liga Champions, yaitu Gabriel Magalhaes (Arsenal) dan Marquinhos (Paris Saint-Germain). Proses itu diakhiri cungkilan Saibari ke gawang kiper Alisson Becker.
Sebelum skor kembali imbang lewat aksi individu Vinicius pada menit ke-32, Maroko sudah menciptakan 12 tembakan. Catatan itu tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan Brasil. Achraf Hakimi dan rekan-rekan mampu memanfaatkan kesalahan tim lawan yang terlalu sering salah umpan.
Bagaimana Australia bisa kalahkan Turki meskipun tak diperkuat banyak pemain bintang?
Australia, salah satu wakil Asia, memberikan pelajaran penting di Piala Dunia 2026. Permainan kolektif jauh lebih penting dan bermanfaat untuk meraih kemenangan dibandingkan dengan mengandalkan pemain berlabel bintang.
Pada duel kontra Turki di laga pertama Grup D, Minggu (14/6/2026) pagi WIB, di Stadion BC Place, Vancouver, Kanada, ”Socceroos” jelas tidak diunggulkan. Mereka tidak memiliki pemain bintang serupa sang lawan yang bergantung kepada nama besar, seperti Hakan Calhanoglu (Inter Milan), Arda Guler (Real Madrid), dan Kenan Yildiz (Juventus).
Pelatih Australia Tony Popovic bahkan menurunkan 11 pemain utama termuda dalam delapan laga yang telah berjalan di Piala Dunia 2026. Skuad pertama Australia berusia rerata 24 tahun. Tidak ada tim lain yang menurunkan skuad dengan rata-rata usia lebih muda dari 25,7 tahun pada tujuh laga sebelumnya. Adapun Turki tampil dengan skuad berusia rerata 27,5 tahun.
Meskipun terkesan timpang, Australia tampil brilian dengan mengeksekusi rencana taktik dengan sempurna. Hasilnya, mereka bisa meraup kemenangan 2-0 lewat serangan balik yang dialiri oleh Nestory Irankunda di menit ke-27, lalu Connor Metcalfe pada menit ke-76.
Irankunda mencetak gol pembuka Australia hanya dengan tiga sentuhan bola. Pemain tim Divisi Championship Inggris, Watford, itu menggetarkan jala gawang Turki hanya berjarak 17 detik dari tembakan Guler yang ditangkap kiper Australia, Patrick Beach.
Metcalfe pun memanfaatkan dengan baik lubang di pertahanan Turki. Setelah merebut penguasaan bola pemain Turki di sepertiga tengah lapangan, proses gol Metcalfe sekadar membutuhkan waktu penguasaan bola selama enam detik.
Tak ayal, Socceroos menuliskan kemenangan kedua mereka pada laga pertama babak penyisihan Piala Dunia. Hasil positif pertama mereka pada laga awal di Piala Dunia tercipta pada 20 tahun lalu, yaitu ketika menumbangkan Jepang, 3-1, di Jerman 2006.
Bagaimana Skotlandia mampu tundukkan Haiti meskipun tidak mendominasi penguasaan bola?
Kunci pertandingan sepak bola adalah mencetak gol. Haiti punya segalanya, mulai dari kebanggaan dan harapan dari masyarakat yang bergejolak, hingga kemampuan fisik dan penguasaan bola di lapangan. Namun, pada akhirnya, Skotlandia yang jadi pemenangnya karena bisa mencetak gol.
Skotlandia menaklukkan Haiti, 1-0, pada laga Grup C Piala Dunia 2026 di Stadion Boston, Massachusetts, AS, Minggu (14/6/2026) pagi WIB. Gol semata wayang John McGinn pada menit ke-28 menyempurnakan kebahagiaan Skotlandia yang kembali ke Piala Dunia setelah 28 tahun. Peluang mereka melaju ke babak gugur pun terbuka.
”Kami mungkin sedikit membuat para pendukung kecewa. Semua orang mengatakan itu adalah pertandingan yang harus dimenangkan. Kami memenangi pertandingan,” kata Pelatih Skotlandia Steve Clarke kepada Radio BBC.
”Secara defensif, kami luar biasa. Kami mungkin bisa sedikit lebih baik dalam penguasaan bola, tetapi siapa peduli?” ujarnya lagi.
Kemenangan atas Haiti mengakhiri penantian Skotlandia selama 36 tahun. Skotlandia terakhir kali meraih kemenangan di laga Piala Dunia pada 1990 ketika menaklukkan Swedia, 2-1.
Seperti yang dikatakan Clarke, hasil pertandingan itu bukanlah kemenangan yang ”cantik”. Skotlandia bukan tim yang mendominasi pertandingan atau lebih banyak menciptakan peluang.
Haiti, dengan penguasaan bola 47 persen, mampu melepaskan total 15 tembakan. Masalahnya, hanya dua tembakan yang mengarah ke gawang. Jumlah itu sama dengan tembakan tepat sasaran Skotlandia dari total 9 upaya tembakan yang dilakukan.
Mengapa Qatar dan Lopetegui meraih lompatan besar setelah menahan Swiss?
Tim nasional Qatar dan Pelatih Julen Lopetegui membuat lompatan besar saat menahan imbang Swiss, 1-1, dalam laga penyisihan Grup B Piala Dunia di Stadion Levi’s, California, Amerika Serikat, Minggu (14/6/2026) dini hari WIB. Terkurung sepanjang laga dan tertinggal satu gol, Qatar mencetak gol penyeimbang pada menit akhir.
Sebelum turnamen, baik Qatar dan Lopetegui sama-sama terluka. Tahun ini adalah penampilan kedua Qatar pada babak utama Piala Dunia.
Pada edisi sebelumnya, ”Merah Marun” lolos otomatis melalui jalur tuan rumah. Saat itu, Qatar gagal total akibat tiga kekalahan pada fase penyisihan grup.
Dengan performa tidak meyakinkan itu, banyak pihak menuding Qatar sulit lolos ke Piala Dunia 2026 jika tetap menggunakan format 32 tim. Penambahan jumlah peserta menjadi 48 tim memberikan berkah bagi Qatar yang lolos lewat jalur playoff.
Keraguan itu kian membesar saat Qatar memilih Lopetegui sebagai pelatih. Kiprahnya bersama timnas Spanyol pada Piala Dunia 2018 bahkan usai sebelum dimulai.
Lopetegui dipecat hanya beberapa hari sebelum Piala Dunia setelah mengumumkan rencananya melatih Real Madrid seusai Piala Dunia. Tindakan tersebut dinilai tidak pantas oleh Federasi Sepak Bola Spanyol.
Dengan latar belakang itu, baik Qatar maupun Lopetegui ingin berbuat lebih banyak di Piala Dunia 2026. Tak ingin sekadar menjadi pelengkap, tetapi bersaing dengan tim lain.
”Kami sudah mewujudkan satu mimpi ketika tiba di sini. Hari ini kami menjalani mimpi lainnya. (Ke depan,) Kami berhak untuk terus bermimpi itu,” ucap Lopetegui seusai laga itu.
Mengapa jersei robek menjadi sorotan saat Korsel kalahkan Ceko?
Korea Selatan menjadi wakil pertama Asia yang meraih kemenangan di Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Ceko, 2-1, di Stadion Akron, Guadalajara, Meksiko, Jumat (12/6/2026) waktu Indonesia. Kemenangan ”Kesatria Taeguk” berlangsung dramatis.
Mereka tertinggal lebih dulu melalui gol Ladislav Krejci pada menit ke-59. Tak mau menyerah, Korsel justru membalikkan keadaan lewat gol Hwang In-beom pada menit ke-67 dan Oh Hyeon-gyu pada menit ke-80.
Namun, selain hasil pertandingan, laga Grup A ini juga diwarnai sejumlah sorotan lain. Selain stadion yang lengang, muncul kejadian robeknya jersei pemain Ceko.
Insiden tersebut terjadi pada menit ke-25 ketika bek Korsel, Lee Han-beom, berupaya menghentikan pergerakan gelandang Ceko, Pavel Sulc, dengan menarik bagian jerseinya. Jersei putih Sulc, pemain terbaik Ceko 2025, itu pun robek di bagian belakang kanan punggungnya.
Wasit Amin Mohamed kemudian menghentikan permainan dan meminta Sulc mengganti pakaian. Han-beom hanya diganjar pelanggaran tanpa kartu pascakejadian itu.
Hal itu dengan cepat menjadi perbincangan di media sosial. Warganet mempertanyakan ketahanan jersei buatan Puma itu. Hingga laporan ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari Puma.
Peristiwa ini menambah daftar insiden serupa yang pernah terjadi dalam kompetisi besar. Salah satu yang diingat adalah saat Piala Eropa 2016. Kala itu, jersei Puma dikenakan sejumlah pemain Swiss dalam laga melawan Perancis di Stadion Pierre-Mauroy, Lille, 19 Juni.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa Pelatih Brasil Carlo Ancelotti meminta maaf setelah timnya ditahan Maroko?
- Mengapa Brasil di era Carlo Ancelotti belum terlihat meyakinkan?
- Bagaimana Australia bisa kalahkan Turki meskipun tak diperkuat banyak pemain bintang?
- Bagaimana Skotlandia mampu tundukkan Haiti meskipun tidak mendominasi penguasaan bola?
- Mengapa Qatar dan Lopetegui meraih lompatan besar setelah menahan Swiss?
- Mengapa jersei robek menjadi sorotan saat Korsel kalahkan Ceko?
Piala Dunia, ajang terbesar sepak bola, telah bergulir di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sejak Jumat (12/6/2026). Sejumlah kejutan pun tercipta. Di luar dugaan, tim-tim asal Konfederasi Asia (AFC), seperti Korea Selatan dan Australia, mampu tampil perkasa sejauh ini di fase grup.
Adapun tim-tim unggulan, seperti Brasil, terlihat masih tertatih-tatih. Mereka ditahan Maroko, 1-1. Sementara barisan tuan rumah mampu mengoptimalkan dukungan suporter dengan tampil gemilang, seperti AS yang menang telak 4-1 atas Paraguay dan Meksiko yang menang 2-0 atas Afrika Selatan di laga pembuka Piala Dunia 2026.
Mengapa Pelatih Brasil Carlo Ancelotti meminta maaf setelah timnya ditahan Maroko?
Pada jumpa pers seusai laga melawan Maroko, Pelatih Brasil Carlo Ancelotti meminta maaf kepada para penggemar. Permintaan maaf itu muncul setelah seorang jurnalis menyinggung fakta bahwa Brasil tetap gagal menemukan ”magis samba” meskipun mendapat dukungan mayoritas penonton di stadion.
Akibatnya, juara dunia lima kali itu pun harus puas bermain imbang 1-1. ”Saya berterima kasih kepada pendukung dengan atmosfer yang mereka ciptakan, tetapi saya minta maaf dengan performa tim,” kata pelatih asal Italia ini dalam jumpa pers yang dihadiri Kompas di Pusat Media Stadion MetLife, New Jersey, Sabtu (13/6/2026) sore waktu setempat.
Pendukung Brasil sudah menciptakan atmosfer samba, dengan energi meriah, dinamis, dan penuh kegembiraan sejak tiba di stadion. Beberapa jam sebelum laga dimulai, mereka sudah membentangkan banner bergambar para legenda Brasil dan bernyanyi gembira.
Banner raksasa itu kemudian mereka bentangkan di dalam stadion. Sayangnya, atmosfer itu tidak menular pada permainan para pemain ”Selecao”.
Apakah permintaan maaf itu cukup bagi publik Brasil? Pertanyaan bertubi-tubi terhadap Ancelotti pada jumpa pers seusai laga itu sepertinya mewakili frustrasi para pendukung.
Kecuali penampilan gemilang Vinicius Junior, penampilan tim Brasil memang jauh dari harapan. Pergantian pemain yang dilakukan Ancelotti tidak terlalu banyak mengangkat permainan tim.
Ancelotti juga dianggap terlalu berhati-hati dan kurang berani karena tidak mau memasukkan Endrick. Ditanya soal Endrick, Ancelotti mengatakan, ”Saya di sini bukan untuk berbicara individu pemain, saya hanya berbicara tentang tim.”
Mengapa Brasil di era Carlo Ancelotti belum terlihat meyakinkan?
Carlo Ancelotti dikenal sebagai pelatih yang piawai merangkai kecemerlangan individu-individu pemain menjadi kesatuan istimewa. Namun, dalam debut kepelatihannya di Piala Dunia, sentuhan magis sang maestro belum terlihat berhasil bersama tim nasional Brasil.
Brasil ditahan Maroko, 1-1, dalam laga pembuka Grup C di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (14/6/2026) WIB. Sergapan Maroko di awal laga sempat berbuah keunggulan lewat penyerang Ismael Saibari, tetapi langsung dibalas megabintang Brasil, Vinicius Junior, hanya dalam rentang 11 menit.
”Saya pikir, kami tidak memulai dengan baik, saya agak khawatir. Kami kalah dalam banyak duel dan kehilangan penguasaan, tetapi kami berkembang di paruh kedua. Maroko adalah tim yang bagus. (Apakah saya) Puas? Tidak terlalu. Saya berharap awal yang lebih baik,” tutur Ancelotti.
Skuad Brasil tampak mewah, banyak nama besar di dalam susunan 11 pertama. Duo pemain sensasional di Liga Spanyol, Vinicius dan Raphinha, mengisi sayap mereka. Di ujung tombak, terdapat striker Brentford, Igor Thiago, yang sukses mengguncang Liga Inggris pada musim terakhir.
Meskipun begitu, Maroko justru mampu menjadi tim yang paling agresif pada 30 menit awal. Setelah menghujani pertahanan Brasil dengan tembakan, mereka unggul lebih dulu pada menit ke-21 lewat serangan balik kilat yang dikreasikan oleh gelandang serang Real Madrid, Brahim Diaz.
Umpan Diaz membelah pertahanan garis tinggi Brasil. Saibari lolos di antara dua bek tengah lawan yang baru saja berlaga di final Liga Champions, yaitu Gabriel Magalhaes (Arsenal) dan Marquinhos (Paris Saint-Germain). Proses itu diakhiri cungkilan Saibari ke gawang kiper Alisson Becker.
Sebelum skor kembali imbang lewat aksi individu Vinicius pada menit ke-32, Maroko sudah menciptakan 12 tembakan. Catatan itu tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan Brasil. Achraf Hakimi dan rekan-rekan mampu memanfaatkan kesalahan tim lawan yang terlalu sering salah umpan.
Bagaimana Australia bisa kalahkan Turki meskipun tak diperkuat banyak pemain bintang?
Australia, salah satu wakil Asia, memberikan pelajaran penting di Piala Dunia 2026. Permainan kolektif jauh lebih penting dan bermanfaat untuk meraih kemenangan dibandingkan dengan mengandalkan pemain berlabel bintang.
Pada duel kontra Turki di laga pertama Grup D, Minggu (14/6/2026) pagi WIB, di Stadion BC Place, Vancouver, Kanada, ”Socceroos” jelas tidak diunggulkan. Mereka tidak memiliki pemain bintang serupa sang lawan yang bergantung kepada nama besar, seperti Hakan Calhanoglu (Inter Milan), Arda Guler (Real Madrid), dan Kenan Yildiz (Juventus).
Pelatih Australia Tony Popovic bahkan menurunkan 11 pemain utama termuda dalam delapan laga yang telah berjalan di Piala Dunia 2026. Skuad pertama Australia berusia rerata 24 tahun. Tidak ada tim lain yang menurunkan skuad dengan rata-rata usia lebih muda dari 25,7 tahun pada tujuh laga sebelumnya. Adapun Turki tampil dengan skuad berusia rerata 27,5 tahun.
Meskipun terkesan timpang, Australia tampil brilian dengan mengeksekusi rencana taktik dengan sempurna. Hasilnya, mereka bisa meraup kemenangan 2-0 lewat serangan balik yang dialiri oleh Nestory Irankunda di menit ke-27, lalu Connor Metcalfe pada menit ke-76.
Irankunda mencetak gol pembuka Australia hanya dengan tiga sentuhan bola. Pemain tim Divisi Championship Inggris, Watford, itu menggetarkan jala gawang Turki hanya berjarak 17 detik dari tembakan Guler yang ditangkap kiper Australia, Patrick Beach.
Metcalfe pun memanfaatkan dengan baik lubang di pertahanan Turki. Setelah merebut penguasaan bola pemain Turki di sepertiga tengah lapangan, proses gol Metcalfe sekadar membutuhkan waktu penguasaan bola selama enam detik.
Tak ayal, Socceroos menuliskan kemenangan kedua mereka pada laga pertama babak penyisihan Piala Dunia. Hasil positif pertama mereka pada laga awal di Piala Dunia tercipta pada 20 tahun lalu, yaitu ketika menumbangkan Jepang, 3-1, di Jerman 2006.
Bagaimana Skotlandia mampu tundukkan Haiti meskipun tidak mendominasi penguasaan bola?
Kunci pertandingan sepak bola adalah mencetak gol. Haiti punya segalanya, mulai dari kebanggaan dan harapan dari masyarakat yang bergejolak, hingga kemampuan fisik dan penguasaan bola di lapangan. Namun, pada akhirnya, Skotlandia yang jadi pemenangnya karena bisa mencetak gol.
Skotlandia menaklukkan Haiti, 1-0, pada laga Grup C Piala Dunia 2026 di Stadion Boston, Massachusetts, AS, Minggu (14/6/2026) pagi WIB. Gol semata wayang John McGinn pada menit ke-28 menyempurnakan kebahagiaan Skotlandia yang kembali ke Piala Dunia setelah 28 tahun. Peluang mereka melaju ke babak gugur pun terbuka.
”Kami mungkin sedikit membuat para pendukung kecewa. Semua orang mengatakan itu adalah pertandingan yang harus dimenangkan. Kami memenangi pertandingan,” kata Pelatih Skotlandia Steve Clarke kepada Radio BBC.
”Secara defensif, kami luar biasa. Kami mungkin bisa sedikit lebih baik dalam penguasaan bola, tetapi siapa peduli?” ujarnya lagi.
Kemenangan atas Haiti mengakhiri penantian Skotlandia selama 36 tahun. Skotlandia terakhir kali meraih kemenangan di laga Piala Dunia pada 1990 ketika menaklukkan Swedia, 2-1.
Seperti yang dikatakan Clarke, hasil pertandingan itu bukanlah kemenangan yang ”cantik”. Skotlandia bukan tim yang mendominasi pertandingan atau lebih banyak menciptakan peluang.
Haiti, dengan penguasaan bola 47 persen, mampu melepaskan total 15 tembakan. Masalahnya, hanya dua tembakan yang mengarah ke gawang. Jumlah itu sama dengan tembakan tepat sasaran Skotlandia dari total 9 upaya tembakan yang dilakukan.
Mengapa Qatar dan Lopetegui meraih lompatan besar setelah menahan Swiss?
Tim nasional Qatar dan Pelatih Julen Lopetegui membuat lompatan besar saat menahan imbang Swiss, 1-1, dalam laga penyisihan Grup B Piala Dunia di Stadion Levi’s, California, Amerika Serikat, Minggu (14/6/2026) dini hari WIB. Terkurung sepanjang laga dan tertinggal satu gol, Qatar mencetak gol penyeimbang pada menit akhir.
Sebelum turnamen, baik Qatar dan Lopetegui sama-sama terluka. Tahun ini adalah penampilan kedua Qatar pada babak utama Piala Dunia.
Pada edisi sebelumnya, ”Merah Marun” lolos otomatis melalui jalur tuan rumah. Saat itu, Qatar gagal total akibat tiga kekalahan pada fase penyisihan grup.
Dengan performa tidak meyakinkan itu, banyak pihak menuding Qatar sulit lolos ke Piala Dunia 2026 jika tetap menggunakan format 32 tim. Penambahan jumlah peserta menjadi 48 tim memberikan berkah bagi Qatar yang lolos lewat jalur playoff.
Keraguan itu kian membesar saat Qatar memilih Lopetegui sebagai pelatih. Kiprahnya bersama timnas Spanyol pada Piala Dunia 2018 bahkan usai sebelum dimulai.
Lopetegui dipecat hanya beberapa hari sebelum Piala Dunia setelah mengumumkan rencananya melatih Real Madrid seusai Piala Dunia. Tindakan tersebut dinilai tidak pantas oleh Federasi Sepak Bola Spanyol.
Dengan latar belakang itu, baik Qatar maupun Lopetegui ingin berbuat lebih banyak di Piala Dunia 2026. Tak ingin sekadar menjadi pelengkap, tetapi bersaing dengan tim lain.
”Kami sudah mewujudkan satu mimpi ketika tiba di sini. Hari ini kami menjalani mimpi lainnya. (Ke depan,) Kami berhak untuk terus bermimpi itu,” ucap Lopetegui seusai laga itu.
Mengapa jersei robek menjadi sorotan saat Korsel kalahkan Ceko?
Korea Selatan menjadi wakil pertama Asia yang meraih kemenangan di Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Ceko, 2-1, di Stadion Akron, Guadalajara, Meksiko, Jumat (12/6/2026) waktu Indonesia. Kemenangan ”Kesatria Taeguk” berlangsung dramatis.
Mereka tertinggal lebih dulu melalui gol Ladislav Krejci pada menit ke-59. Tak mau menyerah, Korsel justru membalikkan keadaan lewat gol Hwang In-beom pada menit ke-67 dan Oh Hyeon-gyu pada menit ke-80.
Namun, selain hasil pertandingan, laga Grup A ini juga diwarnai sejumlah sorotan lain. Selain stadion yang lengang, muncul kejadian robeknya jersei pemain Ceko.
Insiden tersebut terjadi pada menit ke-25 ketika bek Korsel, Lee Han-beom, berupaya menghentikan pergerakan gelandang Ceko, Pavel Sulc, dengan menarik bagian jerseinya. Jersei putih Sulc, pemain terbaik Ceko 2025, itu pun robek di bagian belakang kanan punggungnya.
Wasit Amin Mohamed kemudian menghentikan permainan dan meminta Sulc mengganti pakaian. Han-beom hanya diganjar pelanggaran tanpa kartu pascakejadian itu.
Hal itu dengan cepat menjadi perbincangan di media sosial. Warganet mempertanyakan ketahanan jersei buatan Puma itu. Hingga laporan ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari Puma.
Peristiwa ini menambah daftar insiden serupa yang pernah terjadi dalam kompetisi besar. Salah satu yang diingat adalah saat Piala Eropa 2016. Kala itu, jersei Puma dikenakan sejumlah pemain Swiss dalam laga melawan Perancis di Stadion Pierre-Mauroy, Lille, 19 Juni.