Memanfaatkan kelengahan Swiss, Qatar mencetak penampilan bersejarah dengan meraih angka untuk pertama kalinya di Piala Dunia.
14 Jun 2026 09:14 WIB · Olahraga
AP Photo/Eugene Hoshiko
CALIFORNIA, MINGGU — Tim nasional Qatar dan Pelatih Julen Lopetegui membuat lompatan besar saat menahan imbang Swiss, 1-1, dalam laga penyisihan Grup B Piala Dunia di Stadion Levi’s, California, Amerika Serikat, Minggu (14/6/2026) dini hari WIB. Terkurung sepanjang laga dan tertinggal satu gol, Qatar mencetak gol penyeimbang pada menit akhir.
Sebelum turnamen, baik Qatar dan Lopetegui sama-sama terluka. Tahun ini adalah penampilan kedua Qatar pada babak utama Piala Dunia.
Pada edisi sebelumnya, ”Merah Marun” lolos otomatis melalui jalur tuan rumah. Saat itu, Qatar gagal total akibat tiga kekalahan pada fase penyisihan grup.
Dengan performa tidak meyakinkan itu, banyak pihak menuding Qatar sulit lolos ke Piala Dunia 2026 jika tetap menggunakan format 32 tim. Penambahan jumlah peserta menjadi 48 tim memberikan berkah bagi Qatar yang lolos lewat jalur playoff.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/4b4addd0c60be2259057760262a01b47-Qatar_v_Switzerland__Group_B_FIFA_World_Cup_2026_4_.jpg)
Keraguan itu kian membesar saat Qatar memilih Lopetegui sebagai pelatih. Kiprahnya bersama timnas Spanyol pada Piala Dunia 2018 bahkan usai sebelum dimulai.
Lopetegui dipecat hanya beberapa hari sebelum Piala Dunia setelah mengumumkan rencananya melatih Real Madrid seusai Piala Dunia. Tindakan tersebut dinilai tidak pantas oleh Federasi Sepak Bola Spanyol.
Dengan latar belakang itu, baik Qatar maupun Lopetegui ingin berbuat lebih banyak di Piala Dunia 2026. Tak ingin sekadar menjadi pelengkap, tetapi bersaing dengan tim lain.
”Kami sudah mewujudkan satu mimpi ketika tiba di sini. Hari ini kami menjalani mimpi lainnya. (Ke depan), kami berhak untuk terus bermimpi itu,” kata Lopetegui seusai laga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/ade2f4452b4c7a548990763684196258-Qatar_v_Switzerland__Group_B_FIFA_World_Cup_2026_3_.jpg)
Namun, tidak bisa dimungkiri, cara Qatar dan Lopetegui menjalani mimpi itu jauh dari mudah. Juara bertahan Piala Asia ini terkurung permainan Swiss.
Hingga akhirnya petaka itu datang pada menit ke-17. Swiss mendapat penalti setelah Remo Freuler dijatuhkan kiper Mahmud Abunada. Penyerang Breel Embolo sukses mengeksekusi peluang itu.
Cara Embolo mengeksekusi penalti sebenarnya cukup menggambarkan permainan Swiss. Penyerang Rennes di Ligue 1 itu begitu tenang saat menendang bola. Itu mirip dengan cara bermain Swiss yang percaya diri mengurung Qatar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/15859dd7927d4f11fd21b924f6c66ec1-Switzerland_Qatar_WCup_Soccer.jpg)
Otak serangan tetap ada dalam diri Granit Xhaka. Ditambah pergerakan Ruben Vargas di sayap kiri, lini pertahanan Qatar benar-benar kewalahan. Pemain terbaik Qatar, Akram Afif, seperti hilang dari lapangan karena minim peluang.
Sayangnya, Swiss seperti lupa diri. Melihat Qatar tak berdaya, Pelatih Murat Yakin menarik Vargas dan Freuler di babak kedua karena melihat lawannya susah payah mencari peluang.
Hingga kebuntuan Qatar itu datang pada waktu tambahan jelang laga berakhir. Bek kiri Swiss, Miro Muheim, yang berduel udara dengan bek tengah Qatar, Boualem Khouki, justru menyundul bola ke gawangnya sendiri. Menurut Yakin, gol bunuh diri yang membuat Qatar menyamakan kedudukan seharusnya bisa diantisipasi.
”Sungguh kami seharusnya tidak perlu kehilangan bola dan memberi lawan kesempatan. Ini benar-benar menyakitkan. Sekarang kami harus kembali ke titik awal, mengevaluasi pertandingan, dan kembali lebih kuat,” ujar Yakin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/3fe4c04566d47d2d32adee495e91ce57-Qatar_v_Switzerland__Group_B_FIFA_World_Cup_2026_2_.jpg)
Abunada yang dinobatkan sebagai pemain terbaik karena banyak mementahkan peluang Swiss mensyukuri hasil imbang ini. Baginya, poin itu sangat bersejarah karena yang pertama yang diraih Qatar di Piala Dunia. Meski hanya satu angka, tetap saja lompatan besar bagi Qatar.
”Ini adalah poin pertama dalam sejarah timnas Qatar. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan. Sejujurnya, pertandingan ini dimainkan dengan tekad yang besar dari seluruh pemain,” katanya. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan