Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Bagaimana nasib perundingan gencatan senjata tahap kedua?
- Bagaimana perkembangan pembebasan sandera dan tahanan antara Israel dan Hamas?
- Apa yang dialami para warga Israel yang disandera di Gaza dan warga Palestina yang ditahan di Israel?
- Setelah gencatan senjata Hamas-Israel, apa yang dilakukan warga Palestina di Jalur Gaza?
- Apa yang sudah atau sedang dilakukan negara-negara Arab dan Teluk untuk membantu Gaza?
Bagaimana nasib perundingan gencatan senjata tahap kedua?
Perundingan gencatan senjata Hamas-Israel tahap dua di Gaza mulai bergulir di Kairo, Mesir, Kamis (27/2/2025) waktu setempat atau Jumat waktu Indonesia. Gencatan senjata tahap dua dimaksudkan sebagai kelanjutan dari tahap satu yang berakhir pada Sabtu (1/3/2025). Keengganan Israel menarik pasukan dari Koridor Philadelphia kembali menjadi ganjalan.
Pembicaraan itu sempat tertunda sekitar dua pekan. Selain saling tuduh bahwa pihak lawan melakukan pelanggaran gencatan senjata, pembicaraan juga tertunda karena jenazah warga Israel yang dikembalikan Hamas tak sesuai identitasnya.
Layanan Informasi Pemerintah Mesir mengatakan, pejabat Israel, Qatar, dan Amerika Serikat (AS) memulai diskusi intensif mengenai fase kedua perjanjian gencatan senjata tersebut.
"Para mediator juga membahas cara untuk meningkatkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza sebagai bagian dari upaya untuk meringankan penderitaan penduduk dan mendukung stabilitas di kawasan tersebut," kata pernyataan itu.
Perundingan untuk tahap dua dimaksudkan untuk menegosiasikan akhir perang dan pengembalian semua warga Israel tersisa yang masih disandera di Gaza. Perundingan juga membahas penarikan semua pasukan Israel dari wilayah Gaza. Adapun pengembalian jenazah warga Israel yang disandera akan dilakukan pada tahap tiga.
Bagaimana perkembangan pembebasan sandera dan tahanan antara Israel dan Hamas?
Pada 19 Januari 2025, dengan mediasi Mesir, Hamas dan Israel mencapai perjanjian gencatan senjata fase pertama. Isinya, Hamas mengembalikan 33 orang sandera, termasuk 8 orang yang sudah meninggal. Sejauh ini, sudah 29 sandera yang dipulangkan. Hamas mengembalikan jenazah empat sandera lagi, Kamis (27/2/2025).
Sebagai balasan, Israel membebaskan 620 tahanan Palestina. Menurut catatan, tahanan yang dibebaskan itu terdiri dari 445 laki-laki dan 24 perempuan serta anak. Dalam kesepakatan gencatan itu juga disebutkan tentara Israel harus mundur dari Gaza dan berbagai bantuan sosial harus diizinkan masuk ke Gaza.
Fase pertama gencatan senjata berakhir per Jumat (28/2/2025). Per Sabtu (1/3/2025), semestinya masuk fase kedua. Sejauh ini, belum ada pengumuman Hamas-Israel mengenai jalannya gencatan senjata fase kedua. Masih ada 59 sandera lagi yang belum dilepas oleh Hamas.
"Belum ada proposal mengenai fase kedua, meskipun kami sudah siap untuk melangkah lebih jauh," demikian keterangan Hamas, seperti dikutip oleh media ABC.
Apabila merujuk kepada perjanjian gencatan senjata 19 Januari lalu, fase kedua juga selama 42 hari seperti fase pertama. Perjanjiannya adalah pemulangan sisa sandera Hamas. Di pihak lain, Israel menarik seluruh pasukan dari Gaza dan menghentikan serangan apapun secara permanen. Israel juga membebaskan warga Palestina yang ditahan sesuai jumlah yang disepakati.
Setelah fase kedua selesai, ada fase ketiga selama 42 hari pula. Ini adalah pemulangan sisa jenazah para sandera maupun tahanan oleh kedua belah pihak. Di fase ini, pembangunan Gaza akan dimulai. Ganti rugi kepada orang-orang yang dirugikan dilakukan di bawah pengawasan beberapa negara dan lembaga. Beberapa di antaranya ialah Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mesir, dan Qatar.
Apa yang dialami warga Israel yang disandera di Gaza dan warga Palestina yang ditahan di Israel?
Agam Berger (20), salah satu sandera Israel yang telah dibebaskan dari Jalur Gaza, menuturkan keimanan telah membuatnya mampu bertahan selama hampir 16 bulan disandera di Jalur Gaza. Ia memanfaatkan beberapa perlengkapan yang tersedia, termasuk buku-buku doa Yahudi yang diberikan oleh para penyandera, untuk menjalankan ibadah Yahudi.
Penuturan seputar kisah penyanderaannya berada di Jalur Gaza diceritakan Berger dalam wawancara dengan radio Israel, Reshet Bet, Selasa (25/2/2025). Berger adalah perempuan anggota militer Israel dengan tugas sebagai pengintai. Wawancara Berger merupakan wawancara pertama sandera yang dibebaskan dalam gencatan senjata dengan media.
Kepada radio Reshet Bet, Berger menuturkan, dia dipindahkan secara terus-menerus ke berbagai lokasi dalam 16 bulan terakhir di Gaza. Dia ditahan di apartemen, dan terowongan, bersama perempuan sandera lain. Berger mengatakan, kondisi tempat penyanderaan beragam, tergantung dari lokasi penyanderaan dan siapa penjaga sandera.
”Kami diberi makan dan berada dalam kondisi yang sebagian besar oke ketika Anda tahu apa saja yang bisa terjadi,” tuturnya. ”Namun, ketika Anda memikirkan lagi hal itu, kondisinya tidak layak untuk manusia.” Sejumlah sandera lainnya menuturkan, melalui keterangan yang disampaikan oleh keluarga masing-masing bahwa mereka kelaparan, diborgol, dan disiksa.
Perlakuan buruk juga dialami sebagian dari 183 tahanan Palestina yang dibebaskan. Badan mereka kurus dan tampak mengalami penyiksaan fisik. Bahkan ada seorang warga Palestina yang dibebaskan dengan kondisi alat bantu pernapasan (ventilator) terpasang. Sebanyak tujuh tahanan dikabarkan dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat. Sebagian tahanan Palestina dibawa ke Tepi Barat, Gaza, ataupun Mesir.
Hamas menuduh Israel mengadopsi kebijakan ”pembunuhan perlahan-lahan” terhadap warga Palestina yang ditahan.
Setelah gencatan senjata Hamas-Israel, apa yang dilakukan warga Palestina di Jalur Gaza?
Warga Palestina di Jalur Gaza meninggalkan tempat pengungsian untuk kembali ke rumah mereka. Ada rumah yang masih utuh berdiri, tetapi kebanyakan telah hancur.
Laporan pekan lalu oleh Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa memproyeksikan, pembangunan kembali Jalur Gaza akan menelan ongkos 53 miliar dollar AS. Untuk saat ini, hampir tidak ada kapasitas atau dana untuk memulai proyek pembangunan kembali secara signifikan.
Prioritas sekarang adalah membuat Gaza segera layak huni. Hamas mengancam penundaan pembebasan sandera kecuali bantuan kemanusiaan, berupa tenda dan tempat penampungan sementara, diizinkan masuk ke Gaza. Israel akhirnya setuju untuk mengizinkan tenda dan peralatan konstruksi masuk.
Menurut PBB, badan-badan kemanusiaan telah meningkatkan layanan serta mendirikan dapur gratis dan stasiun pengiriman air. Tenda dan terpal telah didistribusikan kepada ratusan ribu orang di seluruh Gaza. Pemerintah Kota Gaza mulai memperbaiki beberapa saluran air dan membersihkan puing-puing dari jalan, tetapi kekurangan peralatan berat.
Apa yang sudah atau sedang dilakukan negara-negara Arab dan Teluk untuk membantu isu Gaza?
Gagasan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mengambil alih Jalur Gaza membuat negara-negara Arab bersatu dan bersepakat menghadangnya. Para pemimpin Bahrain, Yordania, Kuwait, Mesir, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab berkumpul di Riyadh, Jumat (21/2/2025).
Hanya saja, belum ada kesepakatan final mengenai ”rencana tandingan” dari negara-negara Arab itu. Belum ada rencana rekonstruksi pascaperang Gaza, terutama mengenai siapa yang akan memerintah Gaza dan bagaimana pendanaan rekonstruksinya. Gagasan Trump untuk Gaza memicu kemarahan global ketika dia mengusulkan AS ”mengambil alih” Jalur Gaza dan merelokasi lebih dari dua juta penduduknya ke Mesir dan Yordania.
Kedua negara itu sudah menolak gagasan tersebut dengan alasan masalah keamanan nasional, lebih karena ada unsur Hamas. Yordania khawatir rencana relokasi warga Gaza akan memicu radikalisme yang akan menyebarkan kekacauan di Timur Tengah dan membahayakan perdamaian Yordania dengan Israel. Tetapi, ada persoalan lain, Mesir dan Yordania sangat bergantung pada dukungan finansial dan militer AS.
Negara-negara Arab Teluk membutuhkan AS untuk payung keamanan. Jadi, mereka mungkin tidak bisa bersikap tegas kepada Trump. Mesir sedang mengembangkan rencana komprehensif membangun kembali Gaza tanpa relokasi paksa warga Palestina. Rencana ini akan menjadi proposal tandingan atas proposal yang diajukan Trump. Akan tetapi, rencana pembangunan Gaza masih terhambat negosiasi gencatan senjata yang rapuh.
Rencana Mesir mencakup proses rekonstruksi tiga tahap yang akan memakan waktu lima tahun. Rinciannya, rencana tersebut menetapkan tiga ”zona aman” di Gaza untuk merelokasi warga Palestina selama ”periode pemulihan awal” untuk enam bulan pertama. Zona tersebut akan dilengkapi dengan tenda dan tempat penampungan yang didukung oleh bantuan kemanusiaan.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Bagaimana nasib perundingan gencatan senjata tahap kedua?
- Bagaimana perkembangan pembebasan sandera dan tahanan antara Israel dan Hamas?
- Apa yang dialami para warga Israel yang disandera di Gaza dan warga Palestina yang ditahan di Israel?
- Setelah gencatan senjata Hamas-Israel, apa yang dilakukan warga Palestina di Jalur Gaza?
- Apa yang sudah atau sedang dilakukan negara-negara Arab dan Teluk untuk membantu Gaza?
Bagaimana nasib perundingan gencatan senjata tahap kedua?
Perundingan gencatan senjata Hamas-Israel tahap dua di Gaza mulai bergulir di Kairo, Mesir, Kamis (27/2/2025) waktu setempat atau Jumat waktu Indonesia. Gencatan senjata tahap dua dimaksudkan sebagai kelanjutan dari tahap satu yang berakhir pada Sabtu (1/3/2025). Keengganan Israel menarik pasukan dari Koridor Philadelphia kembali menjadi ganjalan.
Pembicaraan itu sempat tertunda sekitar dua pekan. Selain saling tuduh bahwa pihak lawan melakukan pelanggaran gencatan senjata, pembicaraan juga tertunda karena jenazah warga Israel yang dikembalikan Hamas tak sesuai identitasnya.
Layanan Informasi Pemerintah Mesir mengatakan, pejabat Israel, Qatar, dan Amerika Serikat (AS) memulai diskusi intensif mengenai fase kedua perjanjian gencatan senjata tersebut.
"Para mediator juga membahas cara untuk meningkatkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza sebagai bagian dari upaya untuk meringankan penderitaan penduduk dan mendukung stabilitas di kawasan tersebut," kata pernyataan itu.
Perundingan untuk tahap dua dimaksudkan untuk menegosiasikan akhir perang dan pengembalian semua warga Israel tersisa yang masih disandera di Gaza. Perundingan juga membahas penarikan semua pasukan Israel dari wilayah Gaza. Adapun pengembalian jenazah warga Israel yang disandera akan dilakukan pada tahap tiga.
Bagaimana perkembangan pembebasan sandera dan tahanan antara Israel dan Hamas?
Pada 19 Januari 2025, dengan mediasi Mesir, Hamas dan Israel mencapai perjanjian gencatan senjata fase pertama. Isinya, Hamas mengembalikan 33 orang sandera, termasuk 8 orang yang sudah meninggal. Sejauh ini, sudah 29 sandera yang dipulangkan. Hamas mengembalikan jenazah empat sandera lagi, Kamis (27/2/2025).
Sebagai balasan, Israel membebaskan 620 tahanan Palestina. Menurut catatan, tahanan yang dibebaskan itu terdiri dari 445 laki-laki dan 24 perempuan serta anak. Dalam kesepakatan gencatan itu juga disebutkan tentara Israel harus mundur dari Gaza dan berbagai bantuan sosial harus diizinkan masuk ke Gaza.
Fase pertama gencatan senjata berakhir per Jumat (28/2/2025). Per Sabtu (1/3/2025), semestinya masuk fase kedua. Sejauh ini, belum ada pengumuman Hamas-Israel mengenai jalannya gencatan senjata fase kedua. Masih ada 59 sandera lagi yang belum dilepas oleh Hamas.
"Belum ada proposal mengenai fase kedua, meskipun kami sudah siap untuk melangkah lebih jauh," demikian keterangan Hamas, seperti dikutip oleh media ABC.
Apabila merujuk kepada perjanjian gencatan senjata 19 Januari lalu, fase kedua juga selama 42 hari seperti fase pertama. Perjanjiannya adalah pemulangan sisa sandera Hamas. Di pihak lain, Israel menarik seluruh pasukan dari Gaza dan menghentikan serangan apapun secara permanen. Israel juga membebaskan warga Palestina yang ditahan sesuai jumlah yang disepakati.
Setelah fase kedua selesai, ada fase ketiga selama 42 hari pula. Ini adalah pemulangan sisa jenazah para sandera maupun tahanan oleh kedua belah pihak. Di fase ini, pembangunan Gaza akan dimulai. Ganti rugi kepada orang-orang yang dirugikan dilakukan di bawah pengawasan beberapa negara dan lembaga. Beberapa di antaranya ialah Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mesir, dan Qatar.
Apa yang dialami warga Israel yang disandera di Gaza dan warga Palestina yang ditahan di Israel?
Agam Berger (20), salah satu sandera Israel yang telah dibebaskan dari Jalur Gaza, menuturkan keimanan telah membuatnya mampu bertahan selama hampir 16 bulan disandera di Jalur Gaza. Ia memanfaatkan beberapa perlengkapan yang tersedia, termasuk buku-buku doa Yahudi yang diberikan oleh para penyandera, untuk menjalankan ibadah Yahudi.
Penuturan seputar kisah penyanderaannya berada di Jalur Gaza diceritakan Berger dalam wawancara dengan radio Israel, Reshet Bet, Selasa (25/2/2025). Berger adalah perempuan anggota militer Israel dengan tugas sebagai pengintai. Wawancara Berger merupakan wawancara pertama sandera yang dibebaskan dalam gencatan senjata dengan media.
Kepada radio Reshet Bet, Berger menuturkan, dia dipindahkan secara terus-menerus ke berbagai lokasi dalam 16 bulan terakhir di Gaza. Dia ditahan di apartemen, dan terowongan, bersama perempuan sandera lain. Berger mengatakan, kondisi tempat penyanderaan beragam, tergantung dari lokasi penyanderaan dan siapa penjaga sandera.
”Kami diberi makan dan berada dalam kondisi yang sebagian besar oke ketika Anda tahu apa saja yang bisa terjadi,” tuturnya. ”Namun, ketika Anda memikirkan lagi hal itu, kondisinya tidak layak untuk manusia.” Sejumlah sandera lainnya menuturkan, melalui keterangan yang disampaikan oleh keluarga masing-masing bahwa mereka kelaparan, diborgol, dan disiksa.
Perlakuan buruk juga dialami sebagian dari 183 tahanan Palestina yang dibebaskan. Badan mereka kurus dan tampak mengalami penyiksaan fisik. Bahkan ada seorang warga Palestina yang dibebaskan dengan kondisi alat bantu pernapasan (ventilator) terpasang. Sebanyak tujuh tahanan dikabarkan dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat. Sebagian tahanan Palestina dibawa ke Tepi Barat, Gaza, ataupun Mesir.
Hamas menuduh Israel mengadopsi kebijakan ”pembunuhan perlahan-lahan” terhadap warga Palestina yang ditahan.
Setelah gencatan senjata Hamas-Israel, apa yang dilakukan warga Palestina di Jalur Gaza?
Warga Palestina di Jalur Gaza meninggalkan tempat pengungsian untuk kembali ke rumah mereka. Ada rumah yang masih utuh berdiri, tetapi kebanyakan telah hancur.
Laporan pekan lalu oleh Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa memproyeksikan, pembangunan kembali Jalur Gaza akan menelan ongkos 53 miliar dollar AS. Untuk saat ini, hampir tidak ada kapasitas atau dana untuk memulai proyek pembangunan kembali secara signifikan.
Prioritas sekarang adalah membuat Gaza segera layak huni. Hamas mengancam penundaan pembebasan sandera kecuali bantuan kemanusiaan, berupa tenda dan tempat penampungan sementara, diizinkan masuk ke Gaza. Israel akhirnya setuju untuk mengizinkan tenda dan peralatan konstruksi masuk.
Menurut PBB, badan-badan kemanusiaan telah meningkatkan layanan serta mendirikan dapur gratis dan stasiun pengiriman air. Tenda dan terpal telah didistribusikan kepada ratusan ribu orang di seluruh Gaza. Pemerintah Kota Gaza mulai memperbaiki beberapa saluran air dan membersihkan puing-puing dari jalan, tetapi kekurangan peralatan berat.
Apa yang sudah atau sedang dilakukan negara-negara Arab dan Teluk untuk membantu isu Gaza?
Gagasan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mengambil alih Jalur Gaza membuat negara-negara Arab bersatu dan bersepakat menghadangnya. Para pemimpin Bahrain, Yordania, Kuwait, Mesir, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab berkumpul di Riyadh, Jumat (21/2/2025).
Hanya saja, belum ada kesepakatan final mengenai ”rencana tandingan” dari negara-negara Arab itu. Belum ada rencana rekonstruksi pascaperang Gaza, terutama mengenai siapa yang akan memerintah Gaza dan bagaimana pendanaan rekonstruksinya. Gagasan Trump untuk Gaza memicu kemarahan global ketika dia mengusulkan AS ”mengambil alih” Jalur Gaza dan merelokasi lebih dari dua juta penduduknya ke Mesir dan Yordania.
Kedua negara itu sudah menolak gagasan tersebut dengan alasan masalah keamanan nasional, lebih karena ada unsur Hamas. Yordania khawatir rencana relokasi warga Gaza akan memicu radikalisme yang akan menyebarkan kekacauan di Timur Tengah dan membahayakan perdamaian Yordania dengan Israel. Tetapi, ada persoalan lain, Mesir dan Yordania sangat bergantung pada dukungan finansial dan militer AS.
Negara-negara Arab Teluk membutuhkan AS untuk payung keamanan. Jadi, mereka mungkin tidak bisa bersikap tegas kepada Trump. Mesir sedang mengembangkan rencana komprehensif membangun kembali Gaza tanpa relokasi paksa warga Palestina. Rencana ini akan menjadi proposal tandingan atas proposal yang diajukan Trump. Akan tetapi, rencana pembangunan Gaza masih terhambat negosiasi gencatan senjata yang rapuh.
Rencana Mesir mencakup proses rekonstruksi tiga tahap yang akan memakan waktu lima tahun. Rinciannya, rencana tersebut menetapkan tiga ”zona aman” di Gaza untuk merelokasi warga Palestina selama ”periode pemulihan awal” untuk enam bulan pertama. Zona tersebut akan dilengkapi dengan tenda dan tempat penampungan yang didukung oleh bantuan kemanusiaan.