Bagaimana Tarif Trump Memengaruhi Ekspor dan Kondisi Ekonomi Makro Indonesia?

Tarif resiprokal yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan berdampak besar bagi perekonomian negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia.

08 Apr 2025 15:50 WIB · Riset

Oleh Antonius Purwanto

Pemerintah Amerika Serikat akan menerapkan tarif resiprokal sebesar 32 persen pada produk-produk Indonesia mulai 9 April nanti, di luar tarif dasar 10 persen yang sudah berlaku 5 April kemarin. Bagaimana dampaknya terhadap ekspor dan kondisi makro keuangan Indonesia?

Tarif resiprokal yang akan diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diperkirakan berdampak besar bagi Indonesia sebagai mitra dagangnya. Dalam daftar negara yang terkena dampak kebijakan ini, Indonesia menempati urutan kedelapan dengan tarif yang dikenakan mencapai 32 persen.

Tarif 32 persen ini lebih tinggi daripada beberapa negara lain, seperti Afrika Selatan (30 persen), India (26 persen), dan Brasil (10 persen), tetapi lebih rendah dibandingkan dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Kamboja (49 persen), Laos (48 persen), dan Vietnam (46 persen).

Tarif Trump ini dimaksudkan untuk melindungi industri AS dengan membuat barang impor lebih mahal sehingga mendorong konsumsi domestik terhadap produk yang diproduksi secara lokal. Namun, bagi negara pengekspor seperti Indonesia, tindakan ini menimbulkan tantangan terhadap neraca perdagangan dan stabilitas ekonomi.

Tarif resiprokal ini diperkirakan akan semakin memukul sektor padat karya Indonesia yang selama ini memiliki ketergantungan relatif besar pada pasar AS. Dengan demikian, kemungkinan besar akan turut berdampak pada kinerja ekspor nasional berikut penyerapan lapangan kerjanya. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan perlambatan ekonomi menjadi ancaman di depan mata.

Infografik riset

Apa saja barang ekspor Indonesia ke AS dan dampak dari tarif Trump?

Jika melihat data The United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) Trade Analysis Information System (TRAINS), ada banyak barang Indonesia yang selama ini menikmati tarif rendah. Sebanyak 3.834 produk Indonesia bahkan menikmati tarif 0 persen ke AS.

Produk-produk tersebut tersebar dalam beberapa kategori yang dikelompokkan berdasarkan kode HS 2 digit. Nasib mereka kini terancam karena tarif 0 persen kemungkinan akan dihapus dan diganti tarif baru. Artinya, ribuan barang itu akan menjadi lebih mahal di AS sehingga daya saingnya akan tergerus.

Pada 2024, ekspor Indonesia ke AS mencapai 26,4 miliar dollar AS atau 9,96 persen dari total ekspor nasional. Sektor manufaktur, tekstil, elektronik, dan pertanian menjadi tulang punggung utama ekspor ke AS. Dengan regulasi fiskal AS itu, sejumlah komoditas andalan ekspor nasional akan menghadapi hambatan signifikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya terdapat 10 komoditas nonmigas unggulan Indonesia yang diekspor ke AS hingga Februari 2025. Sejumlah komoditas itu di antaranya mesin dan perlengkapan elektronik, pakaian, serta aksesori (rajutan) dan alas kaki.

Dari 10 komoditas utama ekspor Indonesia ke AS, ada tiga produk dari sektor usaha padat karya yang diperkirakan akan terpukul. Ketiga komoditas tersebut adalah pakaian dan aksesorinya—rajutan (HS 61), pakaian dan aksesorinya—bukan rajutan (HS 62), serta mebel, furnitur, dan perabotan (HS94). Secara keseluruhan, nilai ekspor tiga komoditas ini ke AS mencapai 6,0 miliar dollar AS pada 2024.

Sepanjang periode 2020-2024, Amerika Serikat menyerap lebih dari separuh total ekspor tiga produk asal Indonesia tersebut yang dikirim ke seluruh dunia. Nilainya selama periode 2020-2024 mencapai 30,4 miliar dollar AS. Untuk pakaian dan aksesori yang termasuk rajutan, misalnya, yang diserap pasar Amerika mencapai 60,5 persen atau senilai 12,2 miliar dollar AS selama lima tahun ini.

Sementara itu, daya serap AS untuk komoditas pakaian dan aksesorinya yang bukan rajutan asal Indonesia, nilainya mencapai 10,7 miliar dollar AS atau 50,5 persen dari total ekspor Indonesia ke dunia sepanjang periode 2020-2024.

Begitu pun dengan komoditas mebel, furnitur, dan perabotan, Amerika menyerap 58,2 persen atau sekitar 7,5 miliar dollar AS. Ekspor alas kaki ke AS mencapai 2,39 miliar dollar AS pada 2024. Selanjutnya, untuk ekspor pertanian senilai 4,25 miliar dollar AS, terutama karet, minyak sawit, dan kopi.

Infografik riset Sepuluh Komoditas Ekspor Indonesia ke AS Tahun 2024

Produk lainnya adalah produk olahan dari daging, ikan, krustasea, dan moluska. Sepanjang 2020-2024, pasar Amerika menyerap 4,3 miliar dollar AS atau 60,2 persen dari total ekspor Indonesia untuk komoditas tersebut.

Namun, dari 10 komoditas ekspor Indonesia ke AS, yang terbesar diekspor ke AS masih komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85). Nilainya mencapai 4,18 miliar dollar AS pada 2024 atau senilai 14,7 miliar dollar AS untuk periode 2020-2024. Namun, dari total ekspor Indonesia ke dunia untuk komoditas tersebut, rata-rata daya serap pasar Amerika hanya 22,6 persen.

Kebijakan tarif Trump itu berpotensi besar memengaruhi nasib jutaan tenaga kerja domestik. Sektor tekstil tercatat mempekerjakan hingga 3,98 juta orang pada 2025. Berikutnya, untuk industri furnitur mempekerjakan lebih dari 962.000 tenaga kerja, baik di industri kecil, menengah, maupun besar di tahun 2023.

Di saat tarif resiprokal 32 persen dikenakan pada komoditas Indonesia, maka secara linier akan menurunkan daya saing ekspor secara drastis, terutama pada sektor padat karya seperti tekstil, mebel, dan alas kaki. Perkiraan ini mempertimbangkan dampak langsung dan tak langsung pemberlakukan tarif itu bagi Indonesia.

Dampak langsungnya, ekspor berbagai komoditas Indonesia ke AS bakal turun. Pasalnya, produk-produk ini bergantung pada harga kompetitif di pasar AS. Tarif setinggi 32 persen akan menaikkan harga jual dan mendorong pembeli berpaling ke negara lain.

Sementara itu, dampak tidak langsungnya, ketika ekspor negara-negara mitra dagang RI ke AS turun akibat kebijakan tarif AS, ekspor Indonesia ke negara-negara tersebut juga bakal turun. Contohnya, ketika ekspor China ke AS turun, ekspor Indonesia ke China juga berpotensi turun. Pasalnya, China kemungkinan juga akan mengurangi permintaannya terhadap produk asing serta mengoptimalkan industri dalam negeri dan pasar domestiknya.

Penurunan ekspor akibat dampak langsung dan tak langsung itu akan menyebabkan perlambatan produksi di Indonesia sehingga meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja massal di dalam negeri.

Bagaimana imbas Tarif Trump terhadap nilai tukar rupiah, harga emas, hingga pasar modal?

Tarif resiprokal Trump terhadap Indonesia dan juga ratusan negara lainnya, tak hanya berdampak pada ekspor semata. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, harga emas, hingga pasar saham juga mengalami imbasnya.

Sejak tarif Trump diumumkan, nilai tukar dollar AS terhadap rupiah mengalami tekanan ke bawah. Bahkan, mencapai level yang mengingatkan pada krisis keuangan sebelumnya.

Nilai tukar dollar AS terhadap rupiah sempat menembus Rp 17.217 pada Senin (7/4/2025) sekitar pukul 09.15 WIB. Namun, posisi tersebut hanya bertahan singkat dan pada pukul 14.30 bertengger pada level Rp 16.799,5. Angka ini naik 147 poin atau 0,88 persen dari pembukaannya.

Kondisi nilai tukar rupiah saat ini telah melebihi titik terlemah dalam sejarah, yaitu level krisis ekonomi 1998 ketika rupiah sempat terperosok hingga Rp 16.800 per dollar AS. Depresiasi ini disebabkan oleh kekhawatiran atas berkurangnya pendapatan ekspor dan implikasi yang lebih luas dari potensi perang dagang​ dunia.

Perajin membuat produk rotan di gudang mitra PT Masagena Maruarar Salawasna (Molja Furniture) di Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa (10/9/2024). Usaha mikro kecil menengah binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon ini telah merambah pasar ekspor. Pada Selasa, UMKM ini mengirim tiga kontainer produk rotan senilai 10.250 dollar Amerika Serikat ke Perancis.

Volatilitas ini bisa menciptakan ketidakpastian bagi bisnis Indonesia, yang memengaruhi kemampuan mereka untuk merencanakan dan berinvestasi. Selain itu, depresiasi rupiah pada akhirnya akan memberatkan perusahaan-perusahaan swasta dalam negeri. Khususnya bagi mereka yang memiliki utang dalam bentuk valuta asing di atas 50 persen.

Data Bank Indonesia mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia yang terdiri dari utang pemerintah dan swasta pada Januari 2025 tercatat 427,5 miliar dollar AS. Nilai itu setara dengan Rp 7.081 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.566 per dollar.

Sementara itu, ULN swasta tercatat 194,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.200 triliun. Adanya tekanan utang yang makin besar imbas pelemahan rupiah membuat perusahaan bisa saja melakukan efisiensi.

Kebijakan tarif Trump juga diikuti dengan menurunnya harga emas dunia. Mengutip laman Goldprice, harga emas dunia yang berkisar 3.120 dollar AS per troy ons perlahan turun setelah pengumuman kebijakan perdagangan krusial AS yang menyasar hingga lebih dari 180 negara di dunia.

Pada Senin (7/4/2025), harga emas dunia jatuh ke level 3.024 dollar AS per troy ons atau terkoreksi sekitar 3 persen dari pekan sebelumnya. Penurunan ini lebih cepat daripada kenaikan harga emas dunia dalam sebulan terakhir yang sebanyak 144 poin atau mencapai 5 persen.

Di dalam negeri, harga emas PT Aneka Tambang (Antam) Persero Tbk ikut menyesuaikan. Hari ini, harga emas per 1 gram terpangkas Rp 23.000 dibandingkan dengan hari sebelumnya, dari Rp 1,781 juta menjadi Rp 1,758 juta per gram. Dibandingkan dengan Kamis (3/4/2025), harga 1 gram emas Antam sudah turun 4,2 persen hingga Senin ini.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami tekanan, dengan penurunan signifikan. Sentimen investor pun terpengaruh secara negatif, yang menyebabkan arus keluar modal dan peningkatan volatilitas di pasar saham.

Bahkan, menghadapi pembukaan kembali pasar saham seusai libur panjang, Selasa (8/4/2025), Bursa Efek Indonesia mengubah ketentuan pelaksanaan penghentian sementara perdagangan efek atau trading halt di bursa dan mengurangi persentase batas minimum penurunan harga saham atau auto rejection bawah (ARB).

Kendaraan Stellantis diparkir di Pabrik Perakitan Stellantis Sterling Heights di Sterling Heights, Michigan, Amerika Serikat, Sabtu (5/4/2025). Stellantis mengumumkan bahwa mereka akan memberhentikan sementara sekitar 900 pekerjanya di AS di beberapa pabrik pengepresan dan penggerak di seluruh negeri, termasuk Pabrik Pengepresan Sterling, karena tarif yang dikenakan pada mobil dan suku cadang mobil impor oleh Presiden Donald Trump mulai berlaku.

Tak hanya di Indonesia, bursa saham global masih didominasi koreksi atau penurunan sepanjang Senin (7/4/2025). Sejak 27 Maret lalu, indeks harga saham di global mengalami penurunan dan fluktuasi harga 5-11 persen.

Bursa Amerika Serikat kehilangan valuasi setara produk domestik bruto Indonesia selama dua tahun. Dalam penutupan perdagangan pada Kamis (3/4/2025) malam waktu New York atau Jumat pagi WIB, semua indeks utama bursa AS memerah. S&P 500, Dow 30, dan Nasdaq anjlok masing-masing 4,84 persen; 3,98 persen; dan 5,97 persen. Sementara Indeks Nikkei-225 di Bursa Tokyo, Jepang, ditutup turun 7,83 persen.

Bagaimana tarif Trump memengaruhi kondisi ekonomi makro Indonesia?

Di tengah kondisi tersebut, tarif Trump dapat memiliki konsekuensi ekonomi yang lebih luas bagi Indonesia. Jika ekspor ke AS terpukul, rantai dampaknya bisa panjang. Mulai dari industri manufaktur dalam negeri, nilai tukar rupiah, hingga kepercayaan investor global terhadap Indonesia.

Selain dampak langsung terhadap perdagangan dan pasar modal, meningkatnya biaya ekspor dapat menyebabkan harga barang impor di AS menjadi lebih tinggi sehingga berpotensi mengurangi permintaan produk Indonesia. Di dalam negeri, pelemahan rupiah terhadap dollar AS dapat membuat barang impor menjadi lebih mahal, yang berkontribusi terhadap inflasi.

Tarif juga bisa menimbulkan unsur ketidakpastian yang dapat menghalangi investasi langsung asing karena investor mungkin mengambil pendekatan menunggu dan melihat mengingat meningkatnya ketegangan perdagangan. Sebab, jika ekonomi AS melambat akibat perang dagang yang semakin luas, investor global cenderung menarik dananya dari negara berkembang seperti Indonesia. Investor cenderung akan menyimpan uangnya di negara yang cenderung stabil ekonominya ataupun di negara-negara maju.

Infografik Proporsi Tenaga Kerja pada Sektor Industri Manufaktur Indonesia

Dalam kondisi tersebut, Indonesia dapat mengalami penurunan pendapatan devisa dan melemahnya kepercayaan investor. Selain itu, langkah tersebut dapat membebani neraca perdagangan negara dan memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Walaupun Indonesia telah menunjukkan ketahanan selama ketegangan perdagangan global di masa lalu, tarif 32 persen tersebut pada akhirnya bisa meningkatkan tekanan pada kerangka kebijakan fiskal dan moneter negara.

Bagaimana rencana Pemerintah Indonesia mengatasi tarif Trump?

Menghadapi tarif Amerika Serikat (AS), Indonesia tak menempuh jalur retaliasi dan memilih jalur diplomasi, baik bilateral maupun multilateral, termasuk bersama negara ASEAN lain, guna menghindari dampak merugikan lebih besar pada ekonomi dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa Indonesia akan menempuh jalur diplomasi dan negosiasi untuk menemukan solusi yang saling menguntungkan setelah Trump mengumumkan tarif global yang luas.

Airlangga menegaskan bahwa pendekatan Indonesia berakar pada upaya melindungi hubungan dagang bilateral jangka panjang dan menjaga iklim investasi serta stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, Menteri Perdagangan Budi Santoso, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno, dan CEO Citi Indonesia Batara Sianturi (kiri ke kanan) mendampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) memberi keterangan kepada wartawan terkait penerapan tarif perdagangan baru Amerika serikat terhadap negara mitra, di Jakarta, Senin (7/4/2025). Indonesia, seperti negara ASEAN lainnya, akan menempuh jalur negosiasi menghadapi kebijakan tarif perdagangan baru oleh Presiden AS Donald Trump.

Selain itu, Pemerintah Indonesia akan mengumpulkan masukan dari para pelaku usaha untuk membantu merumuskan strategi dalam mengatasi tarif AS dan akan mencari cara untuk meningkatkan perdagangan dengan negara-negara Eropa sebagai alternatif AS dan China.

Presiden Prabowo Subianto menugaskan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Menteri Luar Negeri Sugiono ke Amerika Serikat untuk menegosiasikan tarif resiprokal yang akan diberlakukan Presiden AS Donald Trump. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Antonius Purwanto
 | 

Editor:

Budiawan Sidik A
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati