Bagaimana Thunder Mengubah Tumpukan Potensi Menjadi Trofi NBA?

Kejayaan Oklahoma City Thunder berawal dari banyak keputusan tepat di belakang layar. Mereka menyusun kepingan juara dengan pertaruhan besar terhadap potensi pemain.

23 Jun 2025 20:00 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Publik Oklahoma berpesta. Untuk pertama kali sejak klub itu berganti nama dan kota asal pada 2008, Oklahoma City Thunder menjuarai NBA. Bagi mereka, momen kejayaan itu terasa lebih spesial karena proses yang dilalui. Lima tahun lalu, mereka hanyalah tim minim ambisi yang dipandang sebelah mata.

Begitu banyak sosok penting yang berperan dalam kejayan Thunder di podium juara, mulai dari sang megabintang Shai Gilgeous-Alexander yang terpilih sebagai Most Valuable Player Final, pemain veteran Alex Caruso yang membawa pengalaman juara, hingga pelatih berbakat Mark Daigneault.

Namun, dari semua itu, tidak ada yang lebih berjasa daripada Manajer Umum Sam Presti. Dia sudah menjabat posisi tersebut sejak 2007, yaitu saat klub masih bermarkas di kota Seattle dan bernama Supersonics. Presti mengantarkan Thunder ke puncak dunia dengan banyak keputusan tepat dari balik meja.

Presti membuat pertaruhan terbesar pada pertengahan 2019. Hanya ada dua pilihan untuk Thunder saat itu, yaitu antara bangkit atau hancur total di masa depan. Thunder merombak total skuad yang diperkuat duo bintang Paul George dan Russell Westbrook. Kedua pemain itu ditukar dalam rentang sehari.

Thunder ”menang banyak” dalam pertukaran George ke Los Angeles Clippers. Mereka mendapatkan Shai dan Danilo Gallinari serta paket lima pilihan pertama draft. Shai, berusia 20 tahun dan baru semusim di NBA ketika itu, perlahan berubah dari pemain buangan menjadi ikon tim itu.

Bintang Oklahoma City Thunder Shai Gilgeous-Alexander dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Final NBA (Finals MVP) 2025 setelah memimpin timnya meraih kemenangan 103-91 atas Indiana Pacers dalam Gim 7 Final NBA, Senin (23/6/2025) wib. Gilgeous-Alexander menjadi pemain keempat sepanjang sejarah NBA yang berhasil menyapu tiga gelar prestisius dalam satu musim yaitu pencetak angka terbanyak, MVP musim reguler, dan MVP Final. Sebelumnya, prestasi ini hanya dicapai oleh Michael Jordan (empat kali), Kareem Abdul-Jabbar (1971), dan Shaquille OÕNeal (2000).

Sempat diragukan

Strategi Presti sempat diragukan. Dia seperti terobsesi dengan pilihan draft. Banyak transaksi dilakukan hanya demi mendapatkan kesempatan memilih pemain debutan. Padahal, pemain potensial yang dipilih dalam draft belum tentu akan berhasil. Tingkat risikonya sangat tinggi.

Quote

Kami masih memiliki banyak ruang untuk tumbuh. Itulah yang paling menyenangkan dari kemenangan ini. Ini adalah permulaan yang hebat bagi kami. - Shai Gilgeous-Alexander -

Prinsipnya, Thunder berupaya mendatangkan pemain berbakat sebanyak mungkin. Mereka berharap, para pemain bisa ”dipetik” bersamaan pada masa depan. Tujuannya bukan berprestasi dalam waktu dekat. Hal itu berbeda dengan kebanyakan tim lainnya yang langsung mengincar pemain bintang.

Perjalanan itu jauh dari kata mudah. Pada musim 2020-2021 dan 2021-2022, mereka terpuruk di peringkat kedua terbawah Wilayah Barat. ”Itu tidak ada dalam rencana, tetapi kami hanya coba mengontrol apa yang kami bisa. Para pemain melakukan pekerjaan hebat untuk membawa kami ke tempat seharusnya,” kata Daigneaut.

Strategi Presti terbukti jitu pada akhir musim ini. Para pemain kunci dari skuad juara Thunder, seperti Jalen Williams (2022), Chet Holmgren (2022), dan Aaron Wiggins (2021), berasal dari pilihan draft. Adapun Williams dan Holmgren merupakan pencetak angka terbanyak di final setelah Shai.

Pemain veteran Alex Caruso tidak diambil oleh Thunder lewat draft. Namun, mereka mendapatkan Caruso lewat pertukaran dengan Josh Giddey yang dipilih dalam draft 2021. Caruso memberikan pengalaman juara ke skuad termuda di liga itu sekaligus fleksibilitas dalam bertahan.

Pebasket Andrew Nembhard dari Indiana Pacers (kiri) melakukan tembakan melawan Chet Holmgren dari Oklahoma City Thunder pada kuarter pertama gim 7 Final NBA di Paycom Center, Oklahoma City, Amerika Serikat, Senin (22/6/2025) wib.

Thunder tidak hanya punya para pemain muda berbakat dengan rerata usia skuad 25,6 tahun, tetapi juga kedalaman istimewa. ”Oklahoma adalah tim sebenarnya, bukan juara biasa. Pemain kami muda, tetapi selalu mengutamakan dan mengorbankan apa pun untuk menang. Semuanya terjadi begitu cepat,” kata Presti.

Bibit kejayaan Thunder sebenarnya sudah terlihat sejak musim lalu. Shai dan rekan-rekan memuncaki Wilayah Barat di musim reguler dengan rekor 57 menang-25 kalah. Namun, mereka masih terlalu ”polos” dalam perjalanan pertama di playoff dan kalah dari Dallas Mavericks di semifinal wilayah.

Tiga poros utama tim itu, Shai, Williams, dan Holmgren, masih mencari chemistry terbaik saat bermain bersama. Holmgren memang sudah masuk ke dalam tim sejak musim 2022-23. Namun, dia absen semusim penuh akibat cedera. Sang forward baru menjalani debut pada musim 2023-2024.

Pembeda Thunder musim ini adalah kedewasaan. Shai berevolusi dari bintang biasa menjadi sosok megabintang. Hal itu dibuktikan dengan gelar MVP musim reguler pertama dalam kariernya. Begitu juga dengan Williams yang untuk pertama kali bisa mencetak rerata lebih dari 20 poin di musim reguler.

Bak Jordan dan Pippen

Saking dominan di keranjang lawan, duo Shai dan Williams sampai dijuluki sebagai versi terbaru dari pasangan legendaris Chicago Bulls, Michael Jordan-Scottie Pippen. Adapun Shai dan Williams berhasil mencetak total 377 poin di final. Mereka melampaui rekor Jordan-Pippen pada 1993 (373 poin).

Kehadiran Caruso pada awal musim turut menyempurnakan tim muda Thunder. Caruso, 31 tahun, merupakan pemain tertua dan satu-satunya yang pernah juara sebelumnya. Semua kepingan itu bersatu padu menghasilkan salah satu tim paling dominan dalam sejarah NBA. Adapun Thunder berstatus tim terbaik di musim reguler (68-14) dan akhir musim.

Suasana pertandingan saat Bennedict Mathurin dari Indiana Pacers dan Chet Holmgren dari Oklahoma City Thunder (biru) berebut bola dalam Pertandingan gim ke-7 Final NBA 2025 di Paycom Center, Oklahoma City, Amerika Serikat, Senin (22/6/2025) wib.Laga final NBA 2025 antara Thunder melawan Pacers berlangsung sengit.  *** Local Caption ***

Williams berkata, Thunder spesial karena semua pemain berada dalam satu ”kapal”. Mereka ingin juara bersama, bukan mengincar keberhasilan individu semata. Baginya, itulah yang membedakan tim muda yang dibangun lewat proses panjang dengan tim instan yang punya banyak megabintang.

”Itu (pendekatan Thunder) terlihat seperti cetak biru NBA ke depannya. Ketika mendapatkan sekelompok pemain yang suka bermain bersama, suka melakukan sesuatu dan berkorban untuk satu sama lain, serta bersedia berkorban lebih, itu membuat Anda jadi tim yang bagus,” tutur Williams.

Thunder membuktikan, talenta lebih berharga dibandingkan pengalaman atau status kebintangan. Tim terakhir yang mampu membuktikan hal serupa dengan tampil fenomenal adalah Golden State Warriors pada musim 2014-15. Stephen Curry dan rekan-rekan juga menjadi juara pada musim tersebut.

Satu dekade berselang, Warriors sudah memiliki empat trofi juara. Thunder sangat bisa mereplikasi kesuksesan dinasti Warriors. Thunder masih memiliki banyak pilihan draft berharga pada beberapa tahun ke depan berkat hasil investasi dari banyak pertukaran pemain sebelumnya.

Menariknya lagi, Shai (26), Williams (24), dan Holmgren (23) juga akan semakin matang pada musim depan. ”Kami masih memiliki banyak ruang untuk tumbuh. Itulah yang paling menyenangkan dari kemenangan ini. Ini adalah permulaan yang hebat bagi kami,” tutur Shai. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan