Kompas.id Brief

Bagaimana Upaya Negara-negara Mengatasi Krisis Energi Saat Ini?

Serangan AS dan Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026 menggulirkan krisis energi global. Berbagai negara mengambil langkah mendesak untuk menyiasatinya.

27 Mar 2026 08:41 WIB · Internasional

AFP

Oleh Nur Hidayati

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Bagaimana gambaran kelangkaan bahan bakar minyak dan gas yang dialami sejumlah negara?
  2. Apakah kesulitan energi juga akan berdampak pada produksi bahan pangan?
  3. Bagaimana negara-negara menyiasati kekurangan pasokan minyak dan gas?
  4. Apakah upaya yang dilakukan untuk tetap mendapat pasokan minyak dan gas?

Sejumlah negara mengumumkan keadaan darurat energi

copy title

Memasuki pekan kelima, perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran telah membuat aliran minyak dan gas dari Timur Tengah terhambat karena penutupan Selat Hormuz. Padahal, seperlima perdagangan minyak dan gas alam global melewati selat itu. Hambatan itu membuat berbagai negara di dunia kalang kabut.

Pada Selasa (24/3/2026) Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr mendeklarasikan darurat energi. Deklarasi keadaan darurat itu merupakan langkah lanjutan Filipina menanggapi gangguan pasokan energi global.

Pada awal Maret 2026, Manila telah mengumumkan pembatasan jam kerja dan sekolah untuk menghemat energi. Namun, ketidakpastian pasokan energi terus berlanjut karena perang tak kunjung berhenti. Oleh karena itu, Manila menetapkan keadaan darurat energi nasional sampai 2027.

A woman stands beside a sign for prices at a gasoline station in Quezon City, Philippines as oil prices continues to rise on Thursday, March 19, 2026. (AP Photo/Aaron Favila)

Seorang wanita berdiri di samping papan harga BBM di sebuah SPBU di Quezon City, Filipina.

Menteri Energi Filipina Sharon Garin mengatakan, cadangan bahan bakar minyak (BBM) Filipina cukup untuk 45 hari. Manila sedang mencoba membeli satu juta barel minyak dari berbagai sumber.

Sementara itu, Perdana Menteri Slovenia Robert Golob mengumumkan pembatasan pembelian BBM pada Sabtu (21/3/2026) malam. Pada Minggu, pemerintah menggelar sidang darurat dan menegaskan pembatasan itu berlaku sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Kebijakan tersebut diumumkan setelah sejumlah SPBU di negara itu kehabisan bahan bakar dan menimbulkan kepanikan warga.

Kelangkaan energi mengancam produksi pangan

copy title

Di Myanmar, kelangkaan energi berdampak pada produksi bahan pangan, bahkan diprediksi dapat memperbesar ancaman kelaparan. Sejak pecah perang di Timur Tengah, solar makin sulit didapat di Myanmar. Padahal, bahan bakar ini sangat diperlukan petani untuk mengoperasikan traktor mereka. Traktor menjadi alat utama mengolah lahan pertanian di Myanmar.

”Naiknya harga pupuk dan langkanya BBM membuat petani kesulitan melakukan panen dan menanam ulang. Biaya produksi naik dua kali lipat kalau situasi saat ini berlanjut,” ujar Direktur Program Pangan Dunia PBB (WFP) Myanmar Michael Dunford kepada Reuters.

Dalam tiga tahun terakhir, Iran adalah pemasok utama pupuk Myanmar. Awal Maret ini, WFP mengingatkan ancaman kelaparan bisa menghantam seluruh Myanmar.

Direktur Ekonomi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Maximo Torero mengingatkan, junta Myanmar harus segera melakukan intervensi untuk mencegah jatuhnya volume panen dan kekacauan di musim tanam mendatang karena kesulitan pupuk.

Negara-negara beralih ke batubara untuk siasati kekurangan minyak dan gas

copy title

The Associated Press pada Selasa (24/3/2026) melaporkan, krisis energi telah membuat negara-negara di Asia beralih kembali ke batubara. Langkah itu untuk menutupi kekurangan pasokan gas alam cair (LNG).

Di Asia Selatan, India bersiap menghadapi musim panas yang terik. India akan lebih bergantung pada batubara untuk memenuhi permintaan listrik yang mencapai 270 gigawatt pada waktu puncak. India ditaksir memiliki stok batubara untuk sekitar tiga bulan. Sebagian dari stok itu akan dialokasikan bagi usaha kecil.

Dua kapal LNG India baru-baru ini berhasil melewati Selat Hormuz dengan membawa 92.700 ton LNG. ”Namun, LNG impor itu akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri, seperti produksi pupuk, daripada pembangkit listrik,” kata Sandeep Pai, ahli energi di Universitas Duke.

Drivers and riders wait at traffic lights on a road in Bangkok on March 17, 2026. From the capital Bangkok to Chiang Rai in the far northern reaches of the country, drivers and riders in Thailand queued for petrol Tuesday as shortages worsened and price rises loomed. Authorities imposed a cap on the retail price of diesel after the US-Israeli war with Iran disrupted shipping and damaged petroleum facilities in the Middle East, raising global oil prices. (Photo by ANTHONY WALLACE / AFP)

Lalu lintas kendaraan di Bangkok, Thailand, pada 17 Maret 2026. Dari ibu kota Bangkok hingga Chiang Rai di utara negara itu, pengemudi mobil dan pengendara sepeda motor antre untuk mendapatkan bensin karena kelangkaan dan kenaikan harga membayangi.

Bangladesh juga memilih meningkatkan pembangkit listrik tenaga batubara dan impor listrik tenaga batubara pada Maret. Adapun Pakistan berencana meningkatkan pembangkit listrik dengan batubara hasil tambang lokal ditambah listrik hasil tenaga surya.

Di Asia Tenggara, Thailand, Filipina, dan Vietnam sama saja. Negara-negara itu meningkatkan penggunaan pembangkit listrik tenaga batubara. Indonesia juga diperkirakan akan meningkatkan produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga batubara.

Di Asia Timur, China selaku konsumen dan produsen batubara terbesar membangun pembangkit listrik tenaga batubara dengan kapasitas luar biasa besar sejak tahun 2021. Korea Selatan juga akan mencabut batasan kapasitas pada pembangkit listrik tenaga batubara.

Berbagai negara terus berupaya mencari pasokan minyak dan gas

copy title

Sejumlah negara sukses melobi pihak-pihak terkait demi mengamankan pasokan energi. Sementara itu, sejumlah ”tanker hantu” terpantau melewati Selat Hormuz.

Dilaporkan Reuters pada Rabu (25/3/2026), Thailand menjadi negara terbaru yang sukses melobi untuk pasokan energi. Tanker milik Bangchak Corporation, raksasa migas Thailand, bisa melewati Selat Hormuz.

Bangchak menyebut, pelayaran itu berkat koordinasi Thailand, Oman, dan Iran. Kapal milik SCG Chemicals, raksasa petrokimia Thailand, juga sedang menanti izin melewati Selat Hormuz.

Sebelum kapal Thailand diizinkan melintas, kapal Pakistan, India, dan China sudah bisa melewati Selat Hormuz. Jepang juga menyebutkan bahwa Iran akan mengizinkan kapal-kapalnya melintas.

Bloomberg melaporkan, sejumlah ”kapal hantu” juga dilaporkan melintas selat itu. Disebut kapal hantu karena nama kapal itu, berikut alat pelacak posisinya, sudah dihapuskan dari pendaftaran dan kapalnya dihancurkan. Faktanya, kini alat pelacak kapal itu memancarkan sinyal posisi melewati Selat Hormuz.

Filipina juga sedang melobi AS untuk mendapat pengecualian sanksi AS kepada sejumlah negara. Dengan demikian, Manila bisa membeli minyak dan gas bumi dari negara-negara itu.

Lembaga pemantau data perdagangan, Kpler, melacak setidaknya dua tanker Rusia mengarah ke Filipina. Tanker-tanker itu ditaksir akan tiba di Filipina pada pekan pertama April 2026.

Filipina menjadi salah satu negara paling awal mendapatkan minyak Rusia setelah AS memberi pengecualian 30 hari bagi ekspor energi Rusia. Sejak Rusia menyerbu Ukraina, AS dan berbagai negara menjatuhkan sanksi.

Serangan AS-Israel ke Iran membuat harga minyak dan gas bumi melambung. Salah satu cara bagi AS untuk menurunkannya adalah dengan mencabut sementara sanksi terhadap ekspor energi Rusia. Seluruh minyak yang dimuat ke tanker pada 20 Maret-19 April 2026 bebas dibeli siapa saja.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nur Hidayati
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho