Banjir Berulang Jabodetabek Membuat Warga Makin Kesal

Banjir berulang di wilayah Jabodetabek membuat warga geram. Bencana itu membuat aktivitas warga terhambat.

13 Agt 2025 20:29 WIB · Metropolitan

Oleh Rhama Purna Jati

Banjir berulang di Jabodetabek membuat warga semakin kesal.

Reynas Abdila, warga Tambun Utara Bekasi, geram. Tahun ini, ia sudah beberapa kali terdampak banjir. Banjir itu akibat luapan Kali Bekasi yang jaraknya 1,5 kilometer dari rumahnya.

”Setelah bulan Maret, saya kena banjir lagi di awal Juli 2025,” kata Reynas menambahkan pernah disapa kasus serupa pada tahun 2020.

Saat itu, banjir merendam akses jalan menuju rumahnya. Akibat banjir setinggi sekitar 40 sentimeter itu, semua kegiatannya berantakan.

”Memang keluarga kami tidak ada yang mengungsi, tetapi banjir saat itu sudah sangat meresahkan,” kata Reynas.

Menurut dia, dampak banjir akan berpengaruh besar terhadap kehidupannya. ”Karena sering banjir, saya khawatir nilai investasi rumah saya turun,” kata Reynas.

Karena itu, ia berharap pemerintah mengambil tindakan. Pengerukan Kali Bekasi dan membuang sampah yang ada di dalam kali penting dilakukan agar keberadaannya tidak menghambat aliran air.

”Karena ketika Kali Bekasi dangkal sudah pasti akan mendatangkan petaka," kata Reynas.

Rafi (25), warga Tangerang Selatan, juga geram ketika banjir datang. "Setiap kali ada jalan akses yang banjir pasti akan berdampak pada kemacetan panjang," katanya.

Kondisi ini ia alami saat dirinya beraktivitas dan melewati kawasan yang banjir. Hal yang paling menjengkelkan adalah ketika dia harus menerobos banjir yang berujung motornya mogok.

”Karena masalah banjir, motor saya harus diperbaiki dan mengeluarkan uang yang cukup besar,” katanya.

Syafiq menepikan sepeda motor milik keluarganya yang tak sempat diselamatkan ketika banjir merendam Perumahan Vila Pamulang, Pondok Petir, Bojongsari, Kota Depok, Minggu (10/8/2025). Banjir terjadi akibat tanggul Kali Angke yang melintasi perumahan Vila Pamulang jebol dan menyebabkan sekitar 2.000 warga dari 8 RTdi RW 5 menjadi korban.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
10-08-2025

Karena itu, dia berharap pemerintah memperhatikan sistem drainase, terutama di ruas jalan strategis. Semua demi banjir tidak terulang dan menghambat aktivitas warga.

Penatalayanan Operasional Danton Penanggulangan Bencana di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangerang Selatan Dian Wiryawan mengatakan, banjir disebabkan beberapa faktor, seperti banjir kiriman dan intensitas hujan yang tinggi.

Kedua penyebab ini diperparah dengan kondisi drainase yang kurang baik di beberapa tempat. ”Air tidak mengalir dengan baik karena terhambat beberapa barang terutama sampah,” katanya.

Ke depan, Dian berharap agar masyarakat tetap waspada dengan potensi banjir yang masih kerap menghantui. ”Warga diimbau tetap waspada terutama saat hujan lebat turun lebih dari satu jam,” katanya.

Dia juga meminta agar warga benar-benar memperhatikan volume air di saluran drainase dan anak sungai di tempat tinggalnya.

”Saya berharap warga tetap menjaga kondisi saluran drainase tetap terhindar dari sampah plastik,” kata Dian.

Banjir di Tangsel sudah berulang kali terjadi. Bahkan, dalam tiga hari terakhir, Tangsel dilanda dua kali banjir. Banjir juga terjadi pada Minggu (10/8/2025).

”Banjir saat itu bukan karena hujan, melainkan karena air kiriman dari wilayah yang lebih tinggi,” kata Dian.

Warga melintasi genangan banjir di Jalan Kemang Utara IX, Duren Tiga, Jakarta, Senin (7/7/2025). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat pada pukul 20.00 WIB sebanya 12 RT di Jakarta terendam banjir akibat hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Diperkirakan RT yang terendam banjir akan terus bertambah hingga Selasa (8/7/2025) dini hari.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
07-07-2025

Pada Minggu, misalnya, diawali dengan banjir di wilayah Villa Pamulang kemudian meluber hingga ke wilayah sekitarnya, terutama di Kecamatan Serpong dan Ciputat Timur. Banjir kala itu disebabkan luapan Kali Angke dan Kali Pesanggrahan.

Berbeda halnya dengan banjir pada Selasa (12/8/2025) sore, disebabkan intensitas hujan yang tinggi dan juga kondisi drainase yang kurang optimal. Beberapa awasan yang dilanda banjir seperti Kecamatan Serpong, Ciputat, dan Kecamatan Pondok Aren.

Fenomena atmosfer

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan di awal hingga pertengahan Agustus, wilayah Jabodetabek mengalami hujan lebat dan ekstrem. Hal ini mengakibatkan beberapa titik mengalami banjir, salah satunya di Kawasan Jatiasih,Bekasi.

Hujan ekstrem ini dipicu oleh kombinasi fenomena atmosfer seperti, Madden-Julian Oscillation (MJO), bibit siklon tropis 90S dan 96W, sirkulasi siklonik dan indeks

dipole mode negatif. "Karena itu peringata dini dikeluarkan untuk periode 11 Agustus sampai 13 Agustus 2025, dengan potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang.

Adapun pada dasarian III atau akhir Agustus, tepatnya mulai 14 Agustus sampai 16 Agustus, intensitas hujan diperkirakan menurun secara signifikan.

Pada periode itu, BMKG memprediksi hanya akan terjadi hujan ringan hingga sedang, tanpa indikasi hujan sangat lebat atau ekstrem. Wilayah seperti Jakarta Selatan, Timur, Utara, Bekasi, Depok, dan Bogor masih berpotensi diguyur hujan ringan hingga sedang, namun dalam level yang aman.

Seorang pekerja di kawasan perkantoran Jalan MH Thamrin, Jakarta, berjalan pulang saat hujan turun mengguyur kawasan tersebut, Selasa (12/8/2025). Cuaca hujan diperkirakan masih akan terus terjadi dalam beberapa hari di pekan ini. 


KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
12-8-2025

Adapun peningkatan intensitas hujan diperkirakan akan berakhir menjelang pertengahan Agustus. "Pada dasarian III (akhir Agustus), hujan masih mungkin terjadi, namun dengan intensitas yang lebih ringan dan terkendali," kata Guswanto.

Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani mengatakan, Indeks Dipole Mode yang saat ini bernilai negatif juga berperan, menandakan adanya aliran massa udara dari Samudra Hindia menuju Indonesia.

Gabungan faktor dinamika atmosfer tersebut mendorong pertumbuhan awan hujan masif yang berpotensi memicu hujan lebat disertai petir dan angin kencang.

Andri mengatakan, berdasarkan analisis BMKG, potensi hujan sedang hingga lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang pada 11–13 Agustus 2025 dapat terjadi di sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Sementara itu, pada 14–16 Agustus 2025, intensitas hujan diperkirakan menurun, tetapi wilayah Bengkulu, Kalimantan Timur, dan Papua Pegunungan tetap berpotensi mengalami hujan lebat.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rhama Purna Jati
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase