Banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah daerah di Jateng terus meluas. Banjir yang semula hanya melanda pantura timur turut melanda pantura barat Jateng.
18 Jan 2026 15:20 WIB · Lingkungan
KOMPAS
SEMARANG, KOMPAS — Banjir yang terjadi di sejumlah daerah di pesisir pantai utara (pantura) Jawa Tengah terus meluas. Ribuan orang mengungsi karena rumah-rumah mereka masih terendam air. Banjir juga menyebabkan sejumlah perjalanan kereta api dibatalkan.
Banjir yang lebih dari sepekan melanda sejumlah daerah di pantura timur Jateng belum juga surut hingga Minggu (18/1/2026). Banjir justru meluas ke desa ataupun kecamatan lain yang semula tak terdampak. Di Kabupaten Pati, misalnya, banjir kini merendam 127 desa di 20 kecamatan. Akibat bencana itu, sedikitnya 900 jiwa mengungsi di sejumlah titik.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, banjir mengakibatkan sekitar 8.000 rumah yang dihuni sekitar 20.000 jiwa terdampak. Sekitar 1.300 hektar lahan pertanian dan sekitar 200 hektar tambak juga terendam dan terancam gagal panen.
Tak hanya itu, sejumlah infrastruktur, seperti 44 titik talud, tanggul, bendungan, dan akses jalan juga terdampak kerusakan akibat banjir. Total kerugian akibat bencana yang mulai terjadi setelah hujan lebat pada Jumat (9/1/2026) itu diperkirakan mencapai Rp 3 miliar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/15/e16a5f6f-6d7b-4ab0-8dbf-a6f9e1a9acde.jpg)
Di Kudus, banjir dilaporkan merendam 38 desa di tujuh kecamatan. Sebanyak 7.273 unit rumah terdampak, di mana 5.890 unit rumah masih terendam hingga Minggu.
”Banjir tersebut membuat 47.050 jiwa dari 14.972 keluarga terdampak. Akibat bencana itu, sedikitnya 1.805 jiwa dari 678 keluarga yang rumahnya masih tergenang harus mengungsi. Banjir juga merenggut dua korban jiwa di Kudus,” kata Kepala BPBD Jateng Bergas Catursasi Penanggungan saat dihubungi, Minggu.
Tak hanya banjir, Kudus juga dilanda bencana tanah longsor. Bencana itu terjadi di 14 desa di 3 kecamatan. Ada setidaknya 132 titik longsoran di 14 desa tersebut. Akibat bencana itu, 33 unit rumah terdampak hingga membuat 1.115 jiwa terdampak, di mana satu orang di antaranya meninggal dunia.
Di Jepara, banjir dan tanah longsor juga terjadi. Banjir terjadi di 13 desa di enam kecamatan, seperti Nalumsari, Kalinyamatan, Mayong, Welahan, Pecangaan, dan Kedung. Sebanyak 7.702 jiwa terdampak banjir dan 30 jiwa di antaranya mengungsi.
Sementara itu, tanah longsor terjadi Desa Tempur, Kecamatan Keling, menyebabkan sebanyak 3.642 jiwa terdampak. Desa sempat terisolasi serta jaringan listrik dan internet sempat mati.
Kemudian, banjir juga merendam 11 desa di lima kecamatan di Demak. Sebanyak 3.815 unit rumah yang ditinggali 14.789 jiwa dari 4.707 keluarga terdampak. Meski ketinggian banjir mencapai 65 sentimeter (cm), tidak ada warga yang dilaporkan mengungsi dalam kejadian tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/15/d59c00c0-d440-4784-b301-3b20209f3869.jpg)
Beralih ke wilayah pantura bagian barat, banjir merendam 25 desa di lima kecamatan di Kabupaten Kendal sejak Kamis (15/1/2026). Dalam bencana itu, lebih kurang 10.000 unit rumah yang ditinggali 25.239 jiwa dari 10.539 keluarga terdampak.
”Banjir juga melanda sembilan desa di Kecamatan Batang, Kabupaten Batang. Sebanyak 2.200 unit rumah yang ditinggali oleh 15.184 jiwa dari 3.796 keluarga terendam banjir dengan ketinggian mencapai 130 cm. Puluhan warga mengungsi di salah satu masjid,” ucap Bergas.
Di Kota Pekalongan, banjir menggenangi sejumlah titik di empat kecamatan akibat limpasan dari Sungai Bremi. Ribuan rumah yang dihuni lebih kurang 8.692 keluarga tergenang banjir dengan ketinggian mencapai 100 cm. Dalam bencana itu, 927 jiwa dilaporkan mengungsi di sembilan titik.
Banjir juga merenggut dua korban jiwa di Kudus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/18/5d53c8d66641b4e287d7386b0353ce07-IMG_0045.jpeg)
Adapun di Kabupaten Pekalongan, banjir merendam Desa Pait, Kecamatan Siwalan. Banjir merendam puluhan rumah yang dihuni oleh 285 jiwa dari 90 keluarga dan mengakibatkan sebanyak 68 jiwa dari 15 keluarga mengungsi.
Di Pemalang, banjir melanda tujuh desa di lima kecamatan, di antaranya Ulujami, Petarukan, Pemalang, dan Randudongkal. Hingga Minggu, sebagian besar genangan dilaporkan telah surut.
Wilayah yang masih tergenang air dengan ketinggian mencapai 80 cm adalah Desa Sidomulyo dan Desa Mojo di Kecamatan Ulujami. Sebanyak 1.777 unit rumah yang ditinggali sebanyak 7.426 jiwa terdampak.
Kemudian, banjir juga melanda Kabupaten Tegal, tepatnya di Desa Kaligayam dan Pakulaut, Kecamatan Margasari. Bencana itu terjadi pada Sabtu (17/1/2026) malam seusai hujan lebat yang melanda wilayah itu sejak siang menyebabkan air Sungai Kumsik meluap.
Sejumlah rumah dan jalanan sempat tergenang air dengan ketinggian mencapai 100 cm. Pada Minggu pagi, banjir dilaporkan sudah surut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/18/7b8c9e15670da0cdcd9e9aa9b9fb9a6c-IMG_0047.jpeg)
Banjir yang terjadi di pantura barat, khususnya di wilayah Kendal, Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, dan Pemalang, turut merendam jalur-jalur kereta api. Salah satu titik yang masih terendam hingga minggu ialah jalur kereta api petak Pekalongan-Sragi Kilometer 88 dan 89 di Kabupaten Pekalongan.
Kondisi itu pun membuat sejumlah perjalanan kereta terganggu, bahkan sebanyak 9 perjalanan kereta pada Minggu dibatalkan. Hingga Minggu, PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 4 Semarang telah melayani sebanyak 4.915 pembatalan tiket kereta api.
”Jumlah tersebut terdiri dari pembatalan pada hari Sabtu sejumlah 2.479 penumpang kelas ekonomi dan 761 penumpang kelas eksekutif. Kemudian, pada Minggu sejumlah 1.201 penumpang kelas eksekutif dan 474 penumpang kelas ekonomi,” ujar Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Luqman Arif.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/18/1b886b0c97173f08edecfe73b780e75d-IMG_0046.jpeg)
Menurut Luqman, KAI memberikan pengembalian bea tiket sebesar 100 persen sesuai ketentuan. Hal itu sebagai bentuk tanggung jawab kepada penumpang.
Luqman menambahkan, pihaknya terus melakukan pemantauan intensif serta pemeriksaan teknis secara menyeluruh guna memastikan keselamatan perjalanan. Untuk menekan risiko perjalanan kereta api, KAI Daop 4 melakukan sejumlah upaya seperti rekayasa pola operasi, termasuk pengalihan rute, dan pembatasan kecepatan.
Pada Minggu KAI Daop 4 Semarang juga memberlakukan pola operasi memutar untuk sembilan perjalanan kereta. Kereta api yang biasanya melintasi pantura barat Jateng diputar pola operasinya menjadi melintasi wilayah Semarang, Demak, Surakarta, Yogyakarta (Daerah Istimewa Yogyakarta) Tegal, kemudian Cirebon (Jawa Barat) dan sebaliknya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/15/5434725e-5aa5-4ecd-b4f5-6fa3ad16379f.jpg)
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, curah hujan di beberapa daerah, termasuk di Jateng, pada Januari ini diprediksi masih tinggi. Untuk meminimalkan curah hujan, BNPB berupaya melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Pati, Kudus, Jepara, dan Demak.
Suharyanto mengatakan, dalam beberapa hari terakhir, BNPB mengerahkan dua pesawat untuk melakukan OMC di Jateng. Meski demikian, hujan masih terus terjadi. Untuk itu, Suharyanto meminta Pemerintah Provinsi Jateng turut berkontribusi menambah satu armada untuk OMC.
”Jadi untuk yang OMC ini, kita akan melaksanakan terus. Mudah-mudahan dalam waktu beberapa hari ke depan, kalau memang hujannya tidak berhenti secara total, paling tidak bisa dikurangi,” kata Suharyanto.
Menurut Suharyanto, OMC bakal dilakukan selama lima hari. Namun, tak menutup kemungkinan, kegiatan itu diperpanjang untuk mengoptimalkan penanganan bencana hidrometeorologi di Jateng.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto