Memasuki hari ke-13, banjir di Semarang berangsur surut. Meski belum semua wilayah surut, ketinggian genangan mayoritas berkurang setelah disedot dengan pompa air.
03 Nov 2025 21:06 WIB · Lingkungan
KOMPAS/KRISTI DWI UTAMI
SEMARANG, KOMPAS — Banjir yang menggenangi sejumlah wilayah di Kota Semarang, Jawa Tengah, berangsur surut pada Senin (3/11/2025) atau hari ke-13. Namun, operasi modifikasi cuaca (OMC) yang telah dilakukan sejak Sabtu (25/10/2025) tetap akan dilanjutkan hingga beberapa hari ke depan.
Setelah hampir dua pekan merendam sebagian wilayah Kota Semarang, banjir berangsur surut. Sebelumnya, banjir merendam 24 kelurahan di Pedurungan, Gayamsari, Genuk, dan Semarang Timur. Pada Senin, wilayah terendam banjir berkurang menjadi 17 kelurahan di empat kecamatan tersebut.
Di Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, misalnya, ketinggian banjir menjadi sekitar 15 sentimeter (cm) dari sebelumnya 50 cm.
Kemudian, di Jalan Pantura Kaligawe, Kota Semarang, yang sempat terendam hingga 110 cm, pada Senin sudah surut. Namun, banjir meninggalkan lubang-lubang jalan yang tergenang air dengan kedalaman hingga 10 cm.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/02/b24454e1-fce0-4056-bcd3-945f66b70960_jpg.jpg)
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, surutnya banjir di Kota Semarang terjadi setelah adanya rangkaian upaya penanganan darurat dilakukan secara terpadu.
”Alhamdulillah, ini relatif lebih baik. Meski masih ada genangan sedikit-sedikit, dua-tiga hari ini kita pastikan semuanya kering dan terkendali,” kata Suharyanto di sela-sela tinjauannya di Semarang.
Meski banjir telah berangsur surut, OMC tetap dijalankan untuk mencegah hujan dengan intensitas tinggi. Sebab, hujan deras yang menjadi salah satu penyebab banjir di Semarang, disebut Suharyanto, masih berpotensi terjadi hingga awal 2026.
Suharyanto mengatakan, OMC masih akan dilakukan hingga beberapa hari. Untuk tiga hari ke depan, OMC bakal mengerahkan dua pesawat yang terbang dari Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang, dan Bandara Adi Soemarmo, Boyolali.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/03/89eae94a0759b718ac969b62c6e15f78-IMG_6587.JPG)
”Setelah hari ketiga, satu pesawat itu akan kita tarik. Kalau kita tarik satu, pasti hujan itu nanti. Kita lihat, apakah bisa diatasi dengan pompa-pompa air yang ada supaya tidak banjir. Kalau misalnya tidak banjir, pesawatnya untuk OMC-nya kita tarik semuanya. Tapi, kalau banjir, nanti OMC lagi,” ucap Suharyanto.
Suharyanto menyebut, OMC yang dilakukan selama 10 hari di Jateng berjalan efektif mencegah hujan deras. Namun, upaya itu, dinilai Suharyanto, tidak murah. Untuk satu kali OMC, biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 200 juta.
OMC juga dikatakan Suharyanto tidak bisa terus-terusan dilakukan. Masyarakat ataupun pemerintah setempat diminta untuk meningkatkan kapasitas ataupun kesiapsiagaan sehingga bisa tangguh dalam menghadapi hujan besar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/03/47031f17e0541a8b5abf42f76f732dd8-IMG_6600.JPG)
Di samping OMC, penyedotan genangan menggunakan pompa atau pompanisasi juga digencarkan. Jumlah pompa yang dikerahkan di Kota Semarang hingga kini sebanyak 128 pompa.
Ratusan pompa baik permanen maupun portabel itu, disebut Suharyanto, dipastikan beroperasi hingga 24 jam di bawah pengawasan satuan tugas pompanisasi untuk menguras genangan.
Menurut Suharyanto, Kota Semarang bergantung pada pompanisasi dalam mengatasi banjir karena di sejumlah titik di wilayah itu posisinya lebih rendah daripada permukaan air laut. Karena itu, perlu bantuan pompa untuk membuat air bisa mengalir ke laut.
”Pompanisasi ini sempat agak terhambat karena ada berberapa pompa yang rusak, terlambat diperbaiki, lalu ada yang kekurangan pompa. Persoalan ini diatasi dengan membentuk satgas pompanisasi,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/03/857a91da44935a3832236be3fc52e716-IMG_6608.JPG)
Selain di permukiman warga, pompanisasi juga disebut Suharyanto dilakukan untuk menguras air di kolam retensi yang menjadi penampungan dan pembuangan genangan banjir.
Awalnya, arus keluar air di kolam retensi kurang optimal karena jalan keluar air atau outlet-nya kurang lebar. Kini, jalan keluar air tersebut telah dijebol hingga bisa mengalirkan air mencapai 30.000 meter kubik per detik, dari yang sebelumnya 20.000 meter kubik per detik.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng berharap bisa ada penambahan pompa dengan kapasitas hingga 1.000 meter kubik per detik. Hal itu untuk mengantisipasi banjir yang berpotensi terjadi apabila hujan deras turun bersamaan dengan masa pasang air laut di Kota Semarang.
”Kalau kondisi saat ini belum ada tambahan pompa dengan kapasitas 1.000 meter kubik per detik itu masih aman. Tapi, kami berusaha mengantisipasi, boleh dong ada tambahan pompa. Dari mana? Tadi sudah disampaikan ada potensinya dari Bali dan Jawa Barat,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/03/c8f7dfbc4282d3d76205867f883885bb-IMG_6586.JPG)
Menurut Agustina, banjir yang terjadi di wilayahnya hampir dua pekan terakhir menimbulkan kerugian besar. Agustina menduga kerugian mencapai ratusan miliar.
”Karena ini ada truk yang harusnya kirim barang, karena banjir, jadi enggak bisa jalan, ini berpotensi rugi. Kemudian, guru-guru tidak bisa mengajar, sekolahnya tutup, ini kerugian paling besar di proses pengembangan sumber daya manusia,” ucap Agustina.
Selain itu, banjir juga disebut Agustina menimbulkan kerusakan infrastruktur jalan hingga saluran air. Untuk memperbaiki jalan-jalan ataupun saluran air yang rusak, anggaran yang dibutuhkan, menurut Agustina, tidak sedikit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/03/edd2b5df43f17bf6d02ec998f6aec923-IMG_6593.JPG)
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, hujan pada Oktober-November 2025 tergolong sebagai hujan sedang. Hujan dengan intensitas tinggi akan mencapai puncaknya pada Januari-Februari 2025.
”Sebetulnya, hujan yang terjadi kali ini kategorinya masih sedang, belum kelas berat. Apalagi ini sudah ditambah OMC. Tentunya, kami berharap pemerintah daerah, utamanya BPBD, sukarelawan, ataupun masyarakat untuk waspada, selalu memantau cuaca,” ujar Bergas.
Bergas mengimbau, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir untuk ikut mengantisipasi. Salah satu caranya, menaikkan barang-barang berharga di tempat yang lebih tinggi.
Sementara itu, warga yang tinggal di kawasan rawan longsor juga diminta waspada. Mereka diharapkan bisa mencari posisi-posisi retakan, kemudian menutupnya supaya tidak berujung longsor.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto