Barcelona tampil nyaris tanpa cela saat mengalahkan Borussia Dortmund pada perempat final Liga Champions. Merawat mimpi meraih empat trofi musim ini.
10 Apr 2025 05:58 WIB · Olahraga
BARCELONA, KAMIS — Barcelona menjejakkan satu kaki di semifinal seusai membekap Borussia Dortmund, 4-0, di Stadion Olimpiade Lluis Companys, Kamis (10/4/2025) dini hari WIB. Rencana Dortmund untuk mengubah jati diri Barca di laga ini gagal total. Sebaliknya, hal itu justru membuka jalan bagi Barca dalam menyempurnakan pesta gol.
Robert Lewandowski bersinar pada laga ini dengan menyumbangkan dua gol kemenangan Barca. Sekali lagi, Lewy, sapaan akrabnya, menjadi momok bagi Dortmund yang dulu pernah dibelanya selama empat musim. Tidak banyak pesepak bola yang begitu mematikan bagi bekas klubnya, kecuali Lewy. Kini Lewy total sudah mencetak 29 gol dan tiga asis dalam 28 pertandingan menghadapi Dortmund.
”Saya sangat senang. Saya selalu berpikir untuk tidak hanya menang, tetapi juga membantu tim dengan kualitas saya, dan juga dengan mencetak gol,” kata Lewy yang dinobatkan sebagai pemain terbaik seusai laga.
Meski panggung akhirnya menjadi milik Lewy, pesta gol Barca menjadi kian sempurna berkat sentuhan dingin dari Raphinha. Pemain timnas Brasil tersebut menginspirasi kemenangan timnya dengan mencetak gol pembuka. Pergerakannya, bersama dengan Lewy, yang begitu dinamis di sayap kiri telah merepotkan barisan pertahanan Dortmund.
Pelatih Dortmund Niko Kovac menyadari betapa berbahayanya Barca saat bermain di markas sendiri. Sejak fase penyisihan grup hingga kini belum sekali pun ”Blaugrana” menelan kekalahan di markasnya. Di samping itu, Kovac mengetahui Barca sangat gemar mengeksploitasi ruang di antara bek dan kiper dengan gaya bermain menyerang langsung (direct).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/dd416017e242b08b3bcc7cacf1840450-wires_photo_34_.jpg)
Cara bermain dengan menyerang langsung tanpa melewati fase penguasaan bola sudah menjadi ciri khas tersendiri Barca di bawah asuhan Hansi Flick musim ini. Di masa lalu, Barca dikenal sebagai tim dengan kekuatan pada penguasaan bola. Flick merancang ulang pendekatan Barca dengan bermain lebih direct. Dengan cara itu, Barca terhindar kehilangan momentum menyerang akibat melewati fase-fase dalam mengoper bola pendek.
Kovac kemudian menginstruksikan para pemainnya untuk tidak terlalu terpancing permainan agresif Barca. Caranya adalah dengan bertahan cukup dalam dengan formasi 4-4-2 saat sedang tidak menguasai bola. Ruang antarlini juga ditekan semaksimal mungkin untuk membatasi ruang gerak lini serang Barca yang dikomandoi Raphinha dan Lamine Yamal.
Langkah ini berhasil memaksa Barca mengubah jati dirinya dari bermain direct menjadi lebih mengalirkan bola dari kaki ke kaki untuk membongkar pertahanan Dortmund. Statistik menyebutkan penguasaan bola Barca di babak pertama mencapai 67 persen. Barca juga tercatat melepaskan 286 operan akurat, unggul jauh atas Dortmund yang melepaskan 115 operan.
Sulit bermain direct, Barca kehilangan tajinya. Rangkaian serangan Barca beberapa kali menemui jalan buntu. Namun, gol pembuka yang ditunggu-tunggu Barca akhirnya tercipta berkat sontekan Raphinha yang bermula dari skema bola mati.
”Di babak pertama kami bermain dengan sedikit menggebu-gebu, mungkin. Kami ingin mencetak lebih banyak gol dan kami melakukannya di babak kedua,” kata gelandang Barca, Fermin Lopez.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/00bcd769c5fa26725ef13923c529f64b-wires_photo_30_.jpg)
Gol Raphinha membuat jalannya pertandingan tidak lagi sama. Untuk mengatasi ketertinggalan, Dortmund mau tidak mau meningkatkan intensitas serangan. Secara otomatis pertahanan Dortmund pun tidak lagi menjadi sesolid pada babak pertama. Hal ini berbuah gol kedua Barca yang dicetak Lewy lewat sundulan kepala. Gol ini mengandalkan transisi cepat dan switch play yang akurat dari Yamal.
Unggul dua gol, Barca semakin nyaman menguasai jalannya laga. Di sisi lain, motivasi para pemain Dortmund seketika runtuh. Visi memaksa Barca menanggalkan jati dirinya berantakan. Sebaliknya, hal itu justru membuka keran gol Barca sederas mungkin sekaligus menyempurnakan pesta mereka di hadapan pendukung sendiri.
Aspek lain yang mengakibatkan kekalahan telak Dortmund adalah upaya dalam menekan Barca yang tidak diimbangi dengan penguatan pada rest defense. Kelengahan seperti itu mayoritas diperlihatkan duet bek sayap Dortmund, Ramy Bensebaini dan Julian Ryerson, yang beberapa kali terlambat menutup ruang. Gol ketiga Barca, yang dicetak Lewy, dan gol keempat dari Yamal memanfaatkan kesalahan tersebut.
”Kami tidak bermain dengan baik. Kami bermain terlalu lemah, tidak cukup kompak, dan melakukan kesalahan-kesalahan sederhana. Di level ini, mereka menghukum kami sangat berat. Itulah sebabnya, kami kalah di sini,” kata kapten Dortmund, Emre Can.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/1ba6fd674e3553ee550b3e19d06096b7-wires_photo_31_.jpg)
Meski lebih difavoritkan melaju ke semifinal, Flick tidak mau timnya jemawa. Ia menyebut Barca belum memastikan apa-apa. Selain itu, Dortmund masih sangat mungkin membalikkan keadaan pada pertemuan kedua pekan depan.
”Kami belum lolos. Menang dengan selisih gol sebanyak ini penting dan ketika sebuah tim bermain sebaik itu, gol biasanya akan mengalir. Kami tidak berpikir kami lolos karena Anda tidak pernah tahu apa yang mungkin terjadi. Sepak bola itu gila. Kami akan bertekad untuk bermain seperti ini lagi minggu depan,” tutur Flick.
Di sisi lain, kemenangan ini merawat angan Barca meraih empat trofi sekaligus musim ini (quadruple). ”Blaugrana” telah memenangi Piala Super Spanyol yang menjadi trofi pertama. Barca masih berpeluang menjuarai Liga Spanyol, Liga Champions, dan terakhir Piala Raja Spanyol. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .