Aparat menyebut perusahaan sawit PT TBS diduga membuka lahan dan menyebabkan banjir bandang yang menewaskan 47 orang di Batang Toru.
10 Des 2025 17:49 WIB · Lingkungan
KOMPAS/PANDU WIYOGA
BATANG TORU, KOMPAS — Badan Reserse Kriminal Polri menemukan perusahaan kelapa sawit yang diduga membuka lahan dan menyebabkan banjir bandang di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Meluapnya Daerah Aliran Sungai Garoga mengakibatkan 47 orang tewas dan 22 jiwa hilang.
Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigadir Jenderal (Pol) Mohammad Irhamni di Batang Toru, Rabu (10/12/2025), mengatakan, Desa Garoga berada di antara dua aliran Sungai Garoga. Pada 25 November lalu, tumpukan kayu menutup dua jembatan di kedua aliran sungai sehingga air meluap.
”Dampaknya sangat fatal, banjir menyapu seluruh perumahan yang diapit kedua sungai serta permukiman di kiri dan kanan sungai. Lebih kurang 1.000 rumah hanyut,” kata Irhamni.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/10/e7d7ed96ac237bb982d304f7fe5dc9fd-photo_2025_12_10_17_08_28.jpg)
Sejak 5 Desember, anggota Bareskrim dan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) diturunkan ke Batang Toru untuk menyelidiki asal potongan-potongan kayu yang hanyut ke Desa Garoga. Ada 43 sampel kayu yang diambil oleh tim dari sejumlah titik di lokasi terdampak bencana.
Ahli Muda Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan pada Satuan Kerja Balai Pengelolaan Hutan Lestari Wilayah II Medan Kementerian Kehutanan Yandi Irawan Sutisna menyebut ada 15 sampel kayu yang telah teridentifikasi. Potongan kayu yang ditemukan di sekitar lokasi bencana paling banyak jenisnya karet, meranti, sawit, durian, dan bayur.
”Setelah mengidentifikasi jenis kayu, kami lalu mencocokkan vegetasi di hilir dan hulu. Yang cocok adalah jenis karet dan bayur,” ujar Irawan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/10/543c4e12a27bb0eaa9810fb92912a858-DSC09579.jpg)
Irhamni menambahkan, berdasarkan citra satelit, ada 110 titik pembukaan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga. Tim telah mendatangi empat titik di antaranya dan menemukan pembukaan lahan seluas 6-30 hektar. Empat titik itu berada di lereng bukit yang amat curam sehingga ketika hujan lebat, material lumpur dan kayu langsung terbawa aliran air ke badan sungai.
”Di Kilometer 8, kami menemukan alat berat, dua ekskavator, dan satu buldoser. Kami sudah menemukan dua alat bukti adanya pidana, maka ini akan kami formalkan menjadi penyidikan untuk mencari siapa pelaku yang harus bertanggung jawab,” tuturnya.
Irhamni menyebut, pembukaan lahan di empat titik di DAS Garoga dilakukan perusahaan sawit PT TBS. Ia menegaskan, aparat tidak akan berhenti untuk mengusut 106 titik penggundulan lahan lain sesuai pantauan lewat citra satelit.
”Kami akan coba cari lagi ke atas. Kami sedang bekerja keras, semoga kami cepat menemukan semua penyebab banjir,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/10/17cbb1518ea2bf1abd1d92980f27600c-DSC09666.jpg)
Kepala Subdirektorat Perencanaan Pengelolaan DAS Direktorat Perencanaan dan Pengawasan Pengelolaan DAS Kemenhut Catur Basuki Setyawan mengatakan, ada 92 titik banjir dari 13 DAS di 11 kabupaten/kota di Sumut. Dibandingkan tahun 2019, tutupan lahan di 13 DAS di Sumut itu berkurang 9.424 hektar.
Menurut Catur, lahan kritis atau lahan tanpa tutupan hutan di DAS Garoga luasnya 7.921 hektar atau 17,8 persen dari total luas DAS 44.610 hektar. Tak jauh dari Sungai Garoga, ada pula DAS Batang Toru yang kini lahan kritisnya telah mencapai 10,2 persen dari luas total atau 35.092 hektar.
Ia menyebut, DAS Garoga termasuk sungai pendek karena panjangnya dari hulu sampai ke laut hanya sekitar 58 kilometer. Selain itu, DAS Garoga juga terletak di sekitar lereng-lereng bukit yang amat curam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/09/1a22f9ea3099117bc46aef8d474c3cdb-4.DSC09485.jpg)
”Itu menyebabkan terjadinya banjir bandang, membawa batu dan lumpur, di wilayah Garoga. Banjir jenis ini adalah yang paling berbahaya,” kata Catur.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, hingga pukul 17.00 pada 10 Desember, ada 85 korban meninggal dan 30 jiwa masih hilang akibat banjir bandang di Tapanuli Selatan yang mayoritas disebabkan oleh meluapnya DAS Garoga dan Batang Toru. Adapun di delapan kabupaten/kota yang terdampak bencana di Sumatera Utara, total 340 orang meninggal dan 128 orang hilang.
Penulis:
Pandu WiyogaEditor:
Johanes Galuh BimantaraPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar