Hidup bayi mungil di Gaza bergantung pada alat bantu pernapasan dan selang makanan yang sudah bobrok. Desakan agar Israel mengakhiri blokade terus diteriakkan.
26 Jun 2025 19:38 WIB · Internasional
Seham Fawzy Khodeir memperhatikan putranya, Hisham al-Lahham, yang terbaring lemah di inkubator bobrok di bangsal perawatan anak Rumah Sakit Nasser, Gaza, Palestina. Tangisan Hisham, yang baru berusia beberapa hari, hanya terdengar samar, bercampur dengan suara peralatan lain yang sama bobroknya akibat perang.
Hidup Hisham saat ini bergantung pada alat bantu pernapasan dan selang makanan yang terpasang di hidung mungilnya. Kini, kekhawatiran lain ibu berusia 24 tahun itu adalah ketiadaan susu formula medis.
Susu formula medis untuk bayi sudah langka. Persediaannya hampir habis. ”Tidak ada susu lagi,” ujar Khodeir.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/22/94d941cd-d12d-4929-b949-5efb3272859a_jpg.jpg)
Hisham adalah salah satu dari 580 bayi prematur yang kini dalam kondisi kritis. Kepala Departemen Pediatri dan Kebidanan RS Nasser di Gaza selatan, Dr Ahmed al-Farah, menyebut harapan bayi-bayi itu untuk tetap hidup sangat tipis. Pekan lalu, al-Farah telah mengingatkan bahwa persediaan susu formula medis di rumah sakit itu benar-benar habis.
Dia tidak mau mendahului kehendak Sang Pencipta. Dia menyebut bencana dapat dihindari jika dalam dua atau tiga hari ke depan Hisham dan ratusan bayi itu mendapat asupan susu formula medis. ”Bayi-bayi ini tidak punya waktu lagi. Mereka tidak bisa bersuara,” kata al-Farah.
Peringatan al-Farah berdampak. Rumah sakit itu mendapat kiriman 20 kotak susu formula pada akhir pekan dari Rahma Worldwide, kelompok bantuan Amerika Serikat. Namun, itu tidak cukup. Jumlah tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan 10 bayi selama dua pekan. Tidak ada jaminan keberlanjutan pasokan.
”Ini sama sekali tidak cukup. Ini hanya memecahkan masalah sementara. Yang kita butuhkan adalah solusi permanen: penghentian blokade,” katanya.
Situasi mirip dihadapi oleh RS Al-Rantisi. Tidak hanya untuk bayi, tetapi juga untuk sang ibu. ”Banyak ibu tidak bisa menyusui karena kekurangan gizi yang parah,” kata Jamil Sulaiman, dokter dan direktur RS al-Rantisi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/15/8ea4f5531cda86b9c3f4edadd42b8feb-000_424D9ZQ.jpg)
Bayi, anak balita, dan ibu menyusui menjadi salah satu yang paling terdampak akibat blokade Israel terhadap wilayah Palestina. Nyaris tidak ada asupan makanan bergizi bagi mereka setelah Israel melarang masuk makanan, air, obat-obatan. Bahkan, mereka kesulitan tempat untuk berteduh.
Meski tekanan internasional sempat membuat Israel membuka akses bantuan kemanusiaan, jumlahnya sama sekali tak cukup. Pejabat kesehatan Gaza mengatakan, untuk kebutuhan bayi-bayi ini, bantuan tersebut belum mencakup obat-obatan penting, susu formula, peralatan medis, dan suku cadang untuk menjaga alat bantu yang ada tetap beroperasi.
Laporan Pusat Hak Asasi Manusia Palestina, Senin (23/6/2025), mengatakan, susu formula bayi hampir habis dari pasar lokal. Kalaupun tersedia, barang itu dijual dengan harga amat tinggi. ”Jauh melampaui daya beli sebagian besar keluarga,” katanya.
Operasi militer Israel di wilayah Gaza telah menimbulkan kehancuran masif dan penderitaan di luar batas perikemanusiaan. Data Kementerian Kesehatan Gaza menyebut, jumlah warga sipil yang tewas telah mendekati angka 57.000 jiwa. Sejumlah 131.000 lainnya terluka.
Akan tetapi, menurut perhitungan Garb GaYaakov, profesor bidang sosiologi dan antropologi Universitas Ben Gurion di Beersheba, Israel, angka kematian di Gaza sedikitnya 377.000 jiwa. Separuhnya adalah anak-anak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/26/2f6fe5471e3ab49d5f8b8b98d7d2368c-000_63EV3KE.jpg)
Operasi militer Israel menghilangkan tidak hanya satu, tetapi beberapa generasi bangsa Palestina sekaligus. Dalam laporan terbaru, Human Rights Watch menyebut, semua fasilitas medis di Gaza tidak laik beroperasi. Peralatannya tidak higienis, kekurangan obat-obatan yang sangat serius, termasuk untuk anestesi.
Pada saat yang bersamaan, pasien terus berdatangan karena serangan militer Israel tak kunjung berhenti.
”Sejak dimulainya permusuhan di Gaza, perempuan dan anak perempuan menjalani kehamilan tanpa perawatan kesehatan dasar, sanitasi, air, dan makanan,” kata Belkis Wille, associate director untuk urusan krisis, konflik, dan persenjataan di Human Rights Watch.
”Mereka dan bayi mereka yang baru lahir berada pada risiko kematian yang dapat dicegah,” ujarnya.
Jonathan Whittall, kepala kantor urusan kemanusiaan PBB untuk wilayah Palestina menyatakan, tanpa pencabutan blokade kemanusiaan, kematian akan terus membayangi rakyat Palestina. Hal itu seharusnya dapat dicegah.
”Situasi di sini mengerikan, tidak bermoral, dan tidak berperikemanusiaan,” katanya.
Desakan untuk mendorong gencatan senjata dalam perang Israel dan Hamas di Gaza kembali menguat setelah gencatan senjata antara Israel dan Iran berhasil dicapai.
Israel menyerang Iran pada Jumat (13/6/2025) dini hari, Iran membalas serangan itu dan selama hampir dua pekan pecah konflik terbuka. Belasan orang tewas dan puluhan lainnya terluka di Israel. Di Iran, korban tewas mendekati angka 1.000 jiwa dan ratusan terluka. Pada Selasa (24/6/2025), gencatan senjata Iran dan Israel disepakati.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/26/80c174c028a3b39b75992ed5fd68f452-000_63CP8T2.jpg)
”Pemerintah Israel memulai perang dengan Iran tanpa menghentikan perang yang masih berlangsung di Gaza,” kata Viki Cohen, warga Israel. Saat ini putra Cohen, Nimrod, masih disandera oleh Hamas.
Saat sirene serangan udara meraung, memperingatkan bahwa rudal Iran sedang menuju ke wilayah Israel, warga bergegas menuju bunker, mencari perlindungan. Selama itu juga, pemerintah dan para petinggi militer Israel, menurut Cohen, tidak ada yang membicarakan para sandera. ”Seolah-olah mereka dilupakan,” katanya.
Nimrod Cohen, disandera Hamas sejak penyerangan ke Israel pada 7 Oktober 2023. Dalam serangan itu, Hamas menyandera 251 orang. Sebagian besar sandera itu telah dibebaskan, tidak termasuk Cohen.
Selepas gencatan senjata Iran-Israel, keluarga para sandera kembali turun ke jalan, menuntut pembebasan anak dan sanak saudara mereka yang masih disandera. ”Mereka yang mampu mencapai gencatan senjata dengan Iran juga dapat mengakhiri perang di Gaza,” kata Forum Sandera dan Keluarga Hilang, asosiasi utama keluarga para sandera yang diculik di Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/26/785ba65695a11f146d9d19f246b1403a-000_63HB3QG.jpg)
Harapan untuk terjadinya gencatan senjata di Gaza sangat besar setelah melihat yang terjadi di Iran. Presiden AS Donald Trump sempat menyebut sejumlah kemajuan telah dicapai untuk menghentikan perang Israel-Hamas di Gaza, 20 bulan sejak serangan terjadi.
”Saya pikir kemajuan besar telah dicapai di Gaza,” kata Trump, Rabu (25/6/2025).
Seorang pejabat senior Hamas mengatakan, diskusi soal gencatan senjata semakin intensif beberapa hari terakhir. Pembahasan soal gencatan senjata di Gaza itu difasilitasi negara-negara mediator, yakni Mesir dan Qatar.
”Komunikasi kami dengan para mediator di Mesir dan Qatar tidak pernah berhenti dan semakin intensif dalam beberapa jam terakhir,” kata Taher al-Nunu, Rabu. Meski begitu, mereka belum menerima usulan baru yang bisa dipakai sebagai fondasi untuk mengakhiri perang.
Di Israel, seruan bagi pemerintah dan militer untuk menghentikan perang semakin menguat. Tidak hanya dari keluarga korban, tetapi juga dari politisi dan anggota militer Israel sendiri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/26/72f9bcd069751c3e980acb90fee3a182-000_63CQ6KF.jpg)
”Saya tidak dapat menyelesaikan tugas militer saya. Kondisi mental saya sangat buruk sehingga saya didemobilisasi,” kata mantan prajurit Israel yang hanya menyebut namanya Ariel.
”Saya telah melihat begitu banyak anak seperti saya meninggal. Sudah saatnya perang ini dihentikan,” tambahnya saat menghadiri pemakaman Ronel Ben-Moshe, anggota militer Israel berusia 20 tahun.
Salah satu insiden yang paling mematikan bagi militer Israel adalah ketika Selasa kemarin, tujuh anggota militer Israel (IDF) tewas. Total kematian anggota militer Israel kini adalah 441 jiwa.
Situasi itu mendorong partai ultra-ortodoks Israel, United Torah Judaism, mengkritik pilihan kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk tetap melanjutkan perang. ”Saya masih tidak mengerti mengapa kita bertempur di sana. Tentara terus-menerus terbunuh,” kata Moshe Gafni, anggota parlemen Israel. (AFP/AP)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul