BBM Sulit Didapat hingga Listrik Tidak Stabil, Penyaluran Bantuan di Aceh Terhambat

Meski terjadi antrean pembelian BBM di sejumlah SPBU, Pemerintah Aceh pastikan stok BBM aman. Mereka menengarai antrean dipicu oleh kekhawatiran berlebihan warga.

02 Des 2025 19:39 WIB · Lingkungan

HENDRI UNTUK KOMPAS

Oleh Adrian Fajriansyah

Dalam lima hari terakhir, bahan bakar minyak atau BBM sulit didapatkan di wilayah terdampak bencana di Aceh. Antreannya panjang. Butuh waktu berjam-jam untuk mendapatkannya. Tidak hanya menyulitkan warga, sukarelawan pun kerepotan menyalurkan bantuan.  

Keresahan itu dirasakan warga Kabupaten Aceh Besar, sekaligus sukarelawan dari komunitas Land Rover Club Aceh (LRCA), Hendri (36). Sehari setelah bencana terjadi, tepatnya pada Kamis (27/11/2025), dia tidak diam.

Seusai memastikan istri dan keluarga istri di Bireuen baik-baik saja, Hendri bersama anggota LRCA lainnya mulai ikut membagikan bantuan kepada warga terdampak.

LRCA bersama komunitas lain menggalang bantuan dari masyarakat. Bantuan akan dikirim ke wilayah terdampak parah, terutama di Pidie Jaya dan Bireuen.

Semula, mobilitas mereka lancar. BBM masih mudah didapat, baik di Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, maupun Bireuen.

Akan tetapi, dua hari pascabencana atau Jumat (28/11/2025), BBM berangsur sulit didapat yang dimulai dari wilayah Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen.

”Untuk dapat BBM di sana, warga harus antre 1-2 kilometer. Bahkan, banyak warga yang menginap di SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) agar bisa dapat BBM yang distok ulang setiap dini hari,” kata Hendri.

Sebaliknya, BBM di Banda Aceh dan Aceh Besar masih mudah didapat. Karena itu, Hendri dan banyak warga lain menstok atau mengisi penuh tangki BBM kendaraan di Banda Aceh atau Aceh Besar sebelum melanjutkan perjalanan ke arah Bireuen.

Suasana antrean pembelian BBM di SPBU yang berada di pusat kota Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, Minggu (30/11/2025).

Akan tetapi, lima hari pascabencana atau Senin (1/12/2025), BBM di Banda Aceh dan Aceh Besar menjadi sulit didapat. Setidaknya, terakhir kali mengisi BBM di kawasan Saree, Aceh Besar, pada Senin malam, Hendri harus mengantre hingga lebih kurang 2 jam. Semua mesti dilakukan sekadar untuk mendapatkan 7 liter Pertamax.

”Antrean berkilo-kilometer hingga berjam-jam lamanya ini terjadi merata di banyak SPBU di Banda Aceh dan Aceh Besar. Stok BBM pun cepat habis. Ada warga yang sudah mengantre berjam-jam, tetapi mereka tidak dapat BBM karena sudah kehabisan,” ujar Hendri.

Bukan hanya di SPBU, BBM eceran juga mulai sulit didapat. Kalau ada, harganya melambung sangat tinggi. Hendri sempat membeli BBM Pertamax di penjual eceran yang harganya Rp 40.000 per liter atau hampir tiga kali lipat harga normal.

”Karena butuh untuk melanjutkan perjalanan dari arah Bireuen ke Aceh Besar di Senin sore, mau tidak mau, saya tetap membeli BBM yang harganya selangit itu,” katanya.

Aktivitas terganggu

Keadaan itu membuat aktivitas masyarakat terganggu, khususnya bagi para sukarelawan berbasis komunitas atau yang bersifat mandiri. Sebab, BBM sangat dibutuhkan untuk banyak aktivitas mendesak, mulai dari mobilitas untuk evakuasi korban hingga pendistribuan bantuan.

Akibatnya, banyak komunitas sukarelawan yang menunda pendistribusian bantuan, terutama bantuan berskala besar. Tak pelak, sejumlah bantuan menumpuk di tempat penyimpanan.

”Padahal, saat ini, banyak warga yang sangat membutuhkan bantuan, terlebih di wilayah pelosok di Pidie Jaya dan Bireuen,” tutur Hendri.

Sukarelawan dari komunitas Darah untuk Aceh Nurjanah Husien (55) mengatakan, agar tidak betul-betul menghentikan pendistribusian bantuan, mereka tetap menyalurkan bantuan seadanya.

Bantuan yang terdiri dari makanan, air bersih, peralatan mandi, dan pakaian itu coba disalurkan dengan skala kecil ke wilayah-wilayah yang lebih dekat.

Suasana antrean pembelian BBM di SPBU yang berada di pusat kota Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, Senin (1/12/2025).

”Kasihan warga kalau pendistribusian bantuan ditunda. Sebab, banyak yang sudah mulai kelaparan karena stok makanan dan air bersih semakin menipis. Tak sedikit juga warga yang mulai terserang penyakit, seperti penyakit kulit karena tidak ada peralatan mandi dan pakaian ganti,” ujarnya.

Menurut Nurjanah, selain BBM, banyak kebutuhan dasar lain yang sulit didapat, mulai dari bahan makanan seperti telur, obat-obatan seperti untuk penyakit kulit, hingga elpiji. Itu sangat menyulitkan warga terdampak.

Situasi itu menjadi dilema. Kadang, bahan makanan tersedia, tetapi tidak bisa dimasak warga. Kadang pula, warga bisa masak, tetapi tidak ada bahan makanannya.

”Contohnya elpiji. Sekarang, mencari dan mendapatkan elpiji mulai susah. Akhirnya, walau dapat bantuan bahan makanan, warga tidak bisa juga memasaknya,” kata Nurjanah.

Stok BBM aman

Meski begitu, pemerintah Aceh memastikan, stok BBM dalam kondisi aman. Juru Bicara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh Murthalamuddin menuturkan, tidak ada masalah dengan stok BBM di Banda Aceh.

Terkait ada antrean mengular di sejumlah SPBU tersebut, Murthalamuddin menjelaskan, akar masalahnya dipicu ketidakstabilan suplai listrik PLN. Karena itu, proses ataupun layanan pengisian BBM di SPBU terhambat. Di sisi lain, SPBU tidak memungkinkan untuk beroperasi penuh selama 24 jam dengan mengandalkan mesin genset.

”Gangguan di SPBU terjadi karena ketersediaan listrik PLN yang tidak konstan, masih ada pemadaman bergilir. Akibatnya, pengisian BBM dalam jumlah besar ikut terhambat,” tutur Murthalamuddin dalam konferensi pers secara hibrida dari Banda Aceh, Selasa.

Suasana antrean pembelian BBM di SPBU di kawasan Saree, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Senin (1/12/2025) malam.

Situasi itu yang menimbulkan kekhawatiran berlebihan di tengah masyarakat sehingga terjadi pembelian panik (panic buying). Itu yang akhirnya menyebabkan antrean mengular di sejumlah SPBU. Padahal, klaim dia, stok BBM di Banda Aceh dijamin aman.

”Jadi, kami imbau masyarakat agar tidak perlu panic buying karena stok BBM kita aman,” ujar Murthalamuddin.  

Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Aceh Nahrawi Noerdin turut menegaskan, stok BBM di Banda Aceh aman. Bahkan, pasokan tambahan dijadwalkan kembali masuk pada Selasa malam.

”Kapal pembawa BBM akan tiba lagi ke sini malam nanti. Jadi, kami harap masyarakat tetap tenang karena stok aman,” katanya.

Quote

Stok BBM di Banda Aceh aman. Bahkan, pasokan tambahan dijadwalkan kembali masuk pada Selasa malam.

Mengenai ketidakstabilan suplai listrik PLN, Nahrawi menyampaikan, dampaknya membuat operasional SPBU terganggu. Kini, rata-rata SPBU beroperasi dengan mengandalkan genset. Namun, itu tidak bisa dipaksakan terus-menerus selama 24 jam.

Oleh karena itu, SPBU hanya beroperasi dengan genset dari pagi hingga malam hari. Pada akhirnya, itu memicu spekulasi yang menyebabkan masyarakat melakukan panic buying.

”Menanggapi persoalan ini, kami harap PLN memprioritaskan suplai listrik ke SPBU agar pelayanan kembali normal. Kalau suplai listrik stabil, SPBU siap melayani masyarakat hingga 24 jam sehari,” tuturnya.  


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase