Luluk, lifter yunior non-pelatnas, membuat kejutan dengan mengalahkan juara Asia dan wakil tuan rumah. Luluk menyalakan asa regenerasi di kelas ringan putri.
13 Des 2025 18:48 WIB · Olahraga
KOMPAS/KELVIN HIANUSA
CHONBURI, KOMPAS — Lifter Indonesia, Luluk Diana Tri Wijayana, memang perlu menunggu kegagalan tiga lifter pesaing dalam angkatan terakhir untuk memastikan emas SEA Games Thailand 2025. Namun, prestasi itu lebih dari sekadar faktor keberuntungan. Ambisi besar di dada Luluk dan strategi jitu sang pelatih adalah kuncinya.
Saking kalut, Luluk belum menyadari dirinya berhasil meraih emas kelas 48 kilogram putri ketika di depan podium. ”Di belakang cuma bisa berdoa, ya Allah, kalau rezeki enggak akan ke mana. Terus pelatih nutupin muka saya pakai handuk. Saya kira dapat perak atau perunggu, baru ngeh emas pas di atas (panggung). Baru nangis lagi,” tuturnya.
Momen dramatis tersaji dalam penentuan pemenang 48 kg putri di Gedung Chonburi Sport School, Choburi, Thailand, Sabtu (13/12/2025). Luluk sudah menyelesaikan semua angkatan dengan total 184 kg dari snatch 84 kg dan clean and jerk 100 kg. Dia menempati peringkat teratas sementara, tetapi harus menanti angkatan tiga lifter lain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/13/e0b042c851944691920394ac3024e86b-1000045620.jpg)
Sukcharoen Thanyathon (Thailand), Nguyen Thi Thu Trang (Vietnam), dan Ramos Rosegie (Filipina) bisa menyusul. Mereka sama-sama mematok angkatan 102 kg dalam kesempatan terakhir clean and jerk. Jika ketiganya sukses mengangkat, Luluk yang merupakan lifter termuda akan pulang dengan tangan kosong.
Namun, ”langit” berpihak kepada lifter berusia 20 tahun itu. Thanyathon, Trang, dan Rosegie gagal bergantian. Luluk pun tetap berada di posisi puncak dengan hanya unggul total angkatan satu kg atas wakil Thailand. Kegagalan itu dirayakan oleh para pendukung Indonesia yang datang, salah satunya Wakil Ketua Umum PB PABSI Djoko Pramono.
Luluk, yang masih syok, tak mampu membendung rasa haru di podium tertinggi. Dia menangis kejer sepanjang lagu ”Indonesia Raya” berkumandang. Air mata mengalir deras di pipinya. Bagi sang atlet non-pemusatan latihan nasional, emas itu tidak diperkirakan sebelumnya.
Sebab, Luluk harus menghadapi Thanyathon yang jauh lebih senior dan baru saja menang di Kejuaraan Asia pada Oktober lalu. ”Yang jelas senang bisa ngibarin bendera Indonesia. Terus balas dendam saya juga terpenuhi. Tentu tidak nyangka dapat emas karena Thailand, kan, senior. Ekspektasi saya dari awal perak atau perunggu,” ujarnya dengan nada lembut.
Balas dendam yang dimaksud lifter asal Pacitan, Jatim, itu adalah tentang kekecewaan saat berlomba di Kejuaraan Dunia Remaja dan Yunior Peru 2025. Ketika itu, dia berhasil menjadi juara dunia snatch, tetapi gagal dalam semua percobaan angkatan clean and jerk. Momen buruk itu terus menghantuinya setelah pulang, sampai menjelang SEA Games.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/13/90768670fc3a21687b3c33cc9858987c-1000045621.jpg)
Tak ada yang lebih mengenal karakter dan kemampuan Luluk dibandingkan pelatihnya, yaitu Samsuri. Samsuri merupakan orang yang pertama mengenalkan angkat besi kepada Luluk. Dia pula yang membina sang lifter sejak usia 12 tahun. Wajar jika Samsuri ikut diberangkatkan ke Thailand walaupun bukan bagian dari tim pelatnas.
Samsuri menggunakan strategi yang cenderung aman. Luluk sudah biasa melahap snatch 80 kg dan clean and jerk 100 kg di latihan, tetapi sang pelatih tidak ingin langsung tancap gas. Snatch pertama Luluk hanya 79 kg, diikuti dengan 82 kg (kedua), dan 84 kg (ketiga). Adapun angkatan clean and jerk dimulai dari 96 kg.
”Karena kami tahu harus safety, ya. Peta kekuatan sudah tahu, jadi kami enggak boleh nafsu juga. Sebenarnya Luluk 80 kg (snatch) dan 100 kg (clean and jerk) itu sudah sehari-hari. Rekor snatch dia ada di 87 kg. Repetisinya di antara 80 kg dan 83 kg. Jadi, 82 kg harusnya safety. Setelah itu, coba dapatin 84 buat bekal di clean and jerk,” kata Samsuri.
Strategi terbukti jitu. Luluk mengeksekusi semua angkatan snatch, lalu unggul di klasemen sementara sebelum beralih ke clean and jerk. Kepercayaan diri itu dibawa sang lifter untuk mengalahkan trauma dari Peru. Terbukti, Luluk bisa membuka angkatan 96 kg clean and jerk tanpa masalah berarti.
Luluk memang sempat gagal di angkatan kedua clean and jerk, 98 kg. Dia kehilangan keseimbangan karena sabuk di pinggangnya terlepas tiba-tiba. Namun, tanpa ragu, Samsuri menaikkan angkatan ke 100 kg di percobaan ketiga. Walaupun berat itu sama dengan angkatan yang gagal di Peru, Luluk berhasil mengeksekusi dengan sempurna.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/13/847928328a5ed62ac082f1df536b0bd8-1000045616.jpg)
Samsuri berkata, perjuangan mereka tidak mudah sebagai wakil non-pelatnas. Beruntung, Luluk merupakan seorang petarung sejati. ”Kami harus ada titik temu lebih dulu. Anda mau ke mana. Kalau mau ke sana, ayuk sama-sama. Harus berkomitmen, risikonya berat, latihan harus seperti ini. Namun, Alhamdulillah, dari dulu anaknya mau fight, bisa diajak perang,” ujarnya.
Jangan pandang sebelah mata badan Luluk yang mungil atau suaranya yang lemah lembut. Ketika sudah di panggung lomba, dia selalu berubah jadi sosok berbeda. Seperti tadi, setiap sebelum mengangkat beban, dia selalu berteriak ”Wayaaa!”. Teriakan itu menggetarkan seisi gedung. Tanpa gentar, dia mengangkat barbel seperti jagoan.
Hal terbaik dari penampilan Luluk di SEA Games adalah peningkatan prestasi. Dia meningkatkan capaian perunggu di edisi Kamboja 2023 jadi emas. Selain itu, total angkatannya juga meningkat pesat dari dua tahun lalu yang hanya 173 kg. Adapun Luluk bermain di kelas yang satu kilogram lebih berat di Kamboja, yakni 49 kg.
Prestasi Luluk turut menghidupkan lagi asa regenerasi di lifter putri kelas ringan. Sebelumnya, ada nama Windy Cantika Aisah yang sempat meraih perunggu di Olimpiade Tokyo 2020. ”Pastinya. Ini akan menjadi dorongan ke depan di kelas tersebut,” tegas Djoko.
Terlepas dari itu, pekerjaan rumah Luluk masih banyak. Thanyathon sedang tidak tampil dalam performa terbaik walaupun berlomba di kandang sendiri. Standar angkatan totalnya sudah di atas 190 kg, bahkan mencapai 200 kg pada Kejuaraan Asia lalu.
Penulis:
Kelvin Hianusa, Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto