Beda Turnamen, Juara Pun Berganti

Persaingan turnamen tenis profesional pada awal 2025 begitu terbuka. Petenis top dunia tersingkir di awal hingga juara turnamen kerap berbeda.

25 Feb 2025 17:37 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Dua bulan berlalu sejak kompetisi tenis musim 2025 dimulai pada akhir tahun sebelumnya. Tersingkirnya petenis top dunia pada babak-babak awalhhingga munculnya juara yang selalu berganti memperlihatkan persaingan yang begitu terbuka.

Persaingan petenis putri dalam turnamen profesional WTA pada 2025 dimulai tanpa kejutan. Atlet ranking teratas dunia, Aryna Sabalenka, menjuarai WTA 500 Brisbane, salah satu turnamen pada pekan pertama yang merupakan ajang pemanasan untuk Grand Slam Australia Terbuka.

Sabalenka, bahkan, hampir menciptakan hattrick juara Australia Terbuka, prestasi yang terakhir kali dibuat Martina Hingis pada persaingan tunggal putri di Melbourne Park. Hingis menjuarai Australia Terbuka 1997-1999, selain menjadi yang terbaik di Wimbledon dan Amerika Serikat Terbuka 1997.

Namun, Sabalenka ternyata diungguli Keys yang tampil solid selama dua pekan di Melbourne Park. Dalam perjalanan mendapat trofi pertama dari level Grand Slam, Keys mengalahkan empat unggulan 10 besar, tiga di antaranya juara Grand Slam, yaitu Elena Rybakina pada babak keempat, Iga Swiatek (semifinal), dan Sabalenka (final).

Munculnya Keys sebagai juara Australia Terbuka menjadi salah satu momen yang memperlihatkan terbukanya persaingan tunggal putri pada awal tahun dan kemungkinan akan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.

USA's Madison Keys celebrates with the Daphne Akhurst Memorial Cup after defeating Belarus' Aryna Sabalenka during their women's singles final match on day fourteen of the Australian Open tennis tournament in Melbourne on January 25, 2025. (Photo by Martin KEEP / AFP) / -- IMAGE RESTRICTED TO EDITORIAL USE - STRICTLY NO COMMERCIAL USE --

Dua ajang besar di Timur Tengah, pada Februari, memperlihatkan potensi tersebut. Amanda Anisimova dan Mirra Andreeva meraih gelar pertama pada level WTA 1000, masing-masing, di Doha, Qatar (9-15 Februari), dan Dubai, Uni Emirat Arab (16-22 Februari). Dalam tiga tahun sebelumnya, gelar juara di Doha atau Dubai didapat juara Grand Slam, seperti Swiatek dan Barbora Krejcikova.

Pada 2025, peluang Swiatek untuk mendapat hattrick juara di Doha dihentikan Jelena Ostapenko pada semifinal. Ostapenko pun menjadi satu-satunya petenis yang selalu menang dalam lima pertemuan dari Swiatek. Padahal, dengan lima gelar, Swiatek memiliki reputasi sebagai petenis aktif dengan gelar Grand Slam terbanyak kedua setelah Venus Williams.

Dengan semakin jarangnya Venus bertanding, Swiatek, bahkan, bisa dikatakan sebagai petenis aktif dengan trofi juara Grand Slam terbanyak. Sembilan petenis lain dengan jumlah gelar Grand Slam yang lebih banyak adalah para pensiunan. Salah satunya adalah Serena Williams (23 gelar Grand Slam) sebagai petenis yang terakhir pensiun, pada 2022.

Dari 16 unggulan di Doha, Swiatek menjadi salah satu dari hanya tiga petenis yang bisa mencapai perempat final. Dua lainnya adalah Rybakina dan Jessica Pegula yang terhenti pada babak delapan besar. Sebelas unggulan lainnya lebih banyak tersingkir pada babak pertama dan kedua, termasuk Sabalenka, Cori ”Coco” Gauff, dan Zheng Qin Wen. Andreeva, yang menjadi unggulan ke-12, juga tersingkir pada babak kedua.

Situasi tak banyak berubah di Dubai, pada pekan berikutnya. Swiatek mundur selangkah setelah dikalahkan Andreeva pada perempat final, sementara, Sabalenka hanya bisa satu langkah lebih baik dibandingkan di Doha. Coco dan Zheng tersingkir pada babak kedua. Adapun Jasmine Paolini dan Pegula bermain hingga babak ketiga.

Di antara petenis top, hanya Rybakina yang bisa menembus semifinal, sebelum dihentikan petenis 17 tahun Andreeva yang menjadi juara. Dalam laga perebutan gelar juara, Andreeva mengalahkan Clara Tauson yang saat tampil di Dubai menempati ranking ke-38 dunia. Setelah momen tersebut, keduanya memiliki ranking terbaik dalam karier, yaitu Andreeva pada peringkat kesembilan dan Tauson di urutan ke-23.

Juara turnamen tenis Tur WTA periode Januari-Februari 2025

Andreeva menjadi petenis kesepuluh yang menjadi juara dari 11 turnamen WTA yang telah digelar selama tujuh pekan pada 2025. Gelar juara dari Dubai didapat dalam final pertamanya pada level WTA 1000.

Setahun lalu, Andreeva juga menang dalam final pertama di Tur WTA, yaitu pada turnamen WTA 250 Iasi di Romania. Pada tahun yang sama, dia juga menjalani debut final pada turnamen WTA 500, yaitu di Ningbo, China, tetapi kalah dari Daria Kasatkina.

Dengan perjalanan di arena tenis profesional yang baru berjalan sejak 2022, karier Andreeva bisa dikatakan melesat, bahkan, lebih cepat dari Coco. Keduanya memberi kejutan awal saat mencapai babak keempat Wimbledon sebagai petenis kualifikasi pada tahun berbeda. Coco mencapainya di Wimbledon 2019 pada usia 15 tahun, sementara Andreeva pada usia 16 tahun (Wimbledon 2023).

Setahun kemudian, Andreeva bertahan hingga semifinal Grand Slam, yaitu di Perancis Terbuka. Adapun Coco mencapai tahap tersebut pada usia 18 tahun ketika menembus final ajang yang sama pada 2022.

Coco juga berusia lebih tua, yaitu 19 tahun, saat mendapat gelar pertama dari WTA 1000, di Cincinnati 2023. Gelar itu membawanya pada pencapaian lebih tinggi, tiga pekan kemudian, dengan menjuarai Grand Slam, Amerika Serikat Terbuka.

Akan tetapi, kelemahan yang masih sering terlihat, seperti double fault dan lunturnya semangat saat tidak dalam kondisi terbaik, membuat prestasi Coco tak stabil. Padahal, dia telah menjadi bagian dari petenis ranking tiga besar dunia sejak September 2023.

Russia's Mirra Andreeva returns to Denmark's Clara Tauson during the Dubai Duty Free Tennis Championship final match in Dubai, United Arab Emirates, on Saturday, Feb. 22, 2025. (AP Photo/Altaf Qadri)

Kekalahan pada babak kedua di Doha dan Dubai, setelah tersingkir pada perempat final Australia Terbuka, menjadi representasi kekurangan Coco. Situasi ini dimanfaatkan petenis lain, seperti Marta Kostyuk yang mengalahkannya di Doha dan McCartney Kessler di Dubai.

Swiatek tak menampik bahwa performanya di Timur Tengah mengecewakan. Saat melawan Ostapenko di Doha, dia bahkan tak dapat menahan emosi hingga membanting raket saat bertanding. Dari tiga turnamen individu pada 2025, petenis ranking kedua dunia itu belum sekali pun mencapai final.

Kekecewaan kalah dari Keys pada semifinal Australia Terbuka begitu membekas pada Swiatek yang selalu bersikap keras pada dirinya sendiri. Apalagi, perjalanan menuju empat besar di Melbourne Park tahun ini begitu mulus dengan hanya kehilangan 14 gim pada lima babak dan menciptakan skor ”bagel” (6-0) pada tiga babak.

Untuk pertama kalinya sejak debut  pada 2019, petenis Polandia itu memiliki peluang terbaik menjuarai Australia Terbuka. Peluangnya itu, bahkan, lebih besar dibandingkan saat dia mencapai semifinal 2022 karena penampilannya pada 2025 begitu solid. Namun, alih-alih bangkit, seperti ketika menjuarai WTA Doha setelah kalah pada babak ketiga Australia Terbuka 2024, performa Swiatek menurun.

Juara turnamen tenis Tur ATP periode Januari-Februari 2025

Dalam persaingan tenis putra, Carlos Alcaraz belum bisa memperlihatkan kemampuan terbaiknya meski menjuarai ATP 500 Rotterdam pada 9 Februari. Di Australia Terbuka, saat datang sebagai salah satu kandidat juara, dia membiarkan pikirannya terganggu oleh kondisi cedera Novak Djokovic, lawannya pada perempat final. Alcaraz pun kehilangan fokus pada permainannya hingga kalah dari Djokovic yang akhirnya mundur saat menjalani semifinal (melawan Alexander Zverev) karena terdapat robekan pada hamstring kiri.

Setelah juara di Rotterdam, dalam wawancara dengan Eurosport, Juan Carlos Ferrero berharap anak didiknya bisa bangkit. Apalagi, turnamen lapangan tertutup, seperti ATP Rotterdam selalu menjadi mimpi buruk bagi Alcaraz.

Namun, petenis Spanyol berusia 21 tahun itu belum bisa kembali tampil seperti ketika menjuarai dua Grand Slam beruntun, Perancis Terbuka dan Wimbledon, pada 2024. Alcaraz disingkirkan Jiri Lehecka pada perempat final ATP 500 Doha, 17-22 Februari.

Seusai kalah dari Lehecka, Alcaraz bahkan kebingungan ketika diminta wartawan untuk memberi penilaian atas penampilannya. Dia pun menggunakan waktu setelah kekalahan di Doha untuk bersiap menjalani Indian Wells Masters, 5-16 Maret, turnamen yang dijuarainya dalam dua penyelenggaraan terakhir.

Jika Alcaraz bisa mengatasi kekurangannya dari tiga turnamen pada awal 2025, dia memiliki peluang besar untuk kembali menjadi juara di Indian Wells. Pesaing terkuatnya yang juga petenis nomor satu dunia, Jannik Sinner, akan absen karena sanksi skors tiga bulan dari Badan Antidoping Dunia (WADA). Sinner, yang mempertahankan gelar juara Australia Terbuka, baru bisa bertanding kembali pada awal Mei.

Djokovic masih diragukan bisa pulih saat persaingan di Indian Wells dimulai. Apalagi, turnamen di lapangan keras dengan format best of three sets membuka peluang menang lebih merata dibandingkan Grand Slam yang menggunakan best of five sets untuk tunggal putra.

Dari 13 turnamen yang telah digelar hingga pekan ketujuh 2025, terdapat 12 petenis yang membawa gelar turnamen ATP. Hanya Felix Auger-Aliassime yang menjuarai dua turnamen, itu pun pada level rendah, yaitu ATP 250 Adelaide dan Montpellier.

Carlos Alcaraz of Spain reacts following a fall during his quarterfinal match against Novak Djokovic of Serbia at the Australian Open tennis championship in Melbourne, Australia,  early Wednesday, Jan. 22, 2025. (AP Photo/Vincent Thian)

Jadwal padat

Swiatek sebenarnya tak terkejut dengan banyaknya petenis top yang tersingkir dengan cepat pada awal 2025, terutama dalam turnamen di Timur Tengah, termasuk dirinya. Dengan jadwal yang padat, mereka kesulitan untuk mempertahankan performa level atas pada setiap ajang. Apalagi, petenis yang tergolong top committed players memiliki kewajiban mengikuti turnamen dengan kategori dan jumlah tertentu.

Quote

Sudah pasti ada masalah dengan jadwal. Apalagi, kami harus berpindah benua, beradaptasi dengan lapangan dan bola.

Atlet top committed players adalah mereka yang menempati ranking sepuluh besar dunia pada akhir tahun sebelumnya, termasuk Swiatek. Para petenis ini harus mengikuti semua (empat) Grand Slam, semua (sepuluh) turnamen WTA 1000, dan Final WTA di akhir tahun jika lolos. Empat dari sepuluh turnamen WTA 1000 termasuk kategori ”turnamen wajib”, yaitu Indian Wells, Miami, Madrid, dan Beijing.

Mereka juga harus tampil dalam (minimal) dua turnamen WTA 500 dan boleh mengikuti dua turnamen WTA 250 jika telah memenuhi syarat mengikuti semua turnamen wajib. Ajang tersebut belum termasuk kejuaraan yang mengatasnamakan negara, seperti kejuaraan beregu Piala United, Piala Billie Jean King, dan Piala Davis.

Petenis memang tidak wajib mengikuti kejuaraan-kejuaraan tersebut, tetapi ada kalanya negara membutuhkan mereka untuk mencapai target tertentu. Partisipasi pada Piala Billie Jean King dan Piala Davis, minimal setahun sebelum Olimpiade, juga menjadi salah satu syarat bagi mereka yang ingin tampil dalam ajang multicabang empat tahunan itu.

”Sudah pasti ada masalah dengan jadwal. Apalagi, kami harus berpindah benua, beradaptasi dengan lapangan dan bola. Itu tidak mudah. Kami pun kesulitan untuk konsisten setiap pekannya,” kata Swiatek yang belum pernah juara lagi setelah meraih gelar di Perancis Terbuka, Juni 2024.

TOPSHOT - Iga Swiatek of Poland returns the ball to Linda Noskova of the Czech Republic during their 2025 WTA Qatar Open match at the Khalifa International Tennis Complex in Doha on February 12, 2025. (Photo by Mahmud HAMS / AFP)

Saat tak bisa memenuhi kewajiban mengikuti turnamen, sesuai peraturan tentang ”Commitment Players”, petenis-petenis top dunia itu bisa kehilangan poin.

”Banyak orang mengatakan bahwa saya tidak perlu mengikuti banyak turnamen. Faktanya, banyak turnamen yang bersifat wajib diikuti tanpa bisa mempersiapkan diri karena jadwal yang begitu padat. Kami, bahkan, tak punya banyak waktu beristirahat pada akhir tahun karena turnamen pertama musim baru dimulai pada 29 Desember. Menurut saya, musim kompetisinya terlalu panjang,” kata Swiatek dalam Sports Illustrated.

Swiatek bisa jadi dinilai hanya mencari alasan tak masuk akal karena kekalahannya. Namun, pendapatnya tentang jadwal turnamen yang padat tak terbantahkan.

Dua turnamen wajib di Indian Wells dan Miami digelar beruntun selama sebulan, 5-16 Maret lalu 18-30 Maret pada 2025. Keduanya merupakan turnamen gabungan putra dan putri dengan level ATP Masters 1000 dan WTA 1000. WTA 1000 Doha dan Dubai pun diselenggarakan dua pekan beruntun pada Februari.

Musim kompetisi lapangan tanah liat juga menjadi musim dengan jadwal padat. Lima turnamen digelar dalam lima pekan sebelum puncaknya, Grand Slam Perancis Terbuka, pada 25 Mei-8 Juni. Dua dari lima turnamen itu diselenggarakan dalam dua pekan beruntun dan berlevel ATP Masters 1000, yaitu di Madrid dan Roma.

Bagi petenis yang sering kali mencapai babak-babak akhir, minimal perempat final, tampil dalam satu turnamen ke turnamen lain setiap pekan dengan berpindah negara menguras energi dan mental. Maka, pada titik tertentu, mereka pun kesulitan mempertahankan diri dalam persaingan level atas seperti yang terjadi pada dua bulan pertama musim 2025. Saat turnamen berganti dalam setiap pekannya, sang juara pun berganti.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata