”Garuda Pertiwi” butuh satu kemenangan lagi untuk menyegel tiket ke Kejuaraan AFF Putri 2024. Mereka punya bekal berharga dari pertemuan sebelumnya dengan Singapura.
02 Des 2024 11:14 WIB · Olahraga
VIENTIANE, SENIN — Timnas sepak bola putri Indonesia berbekal pengalaman berharga untuk menjalani laga semifinal ASEAN Women’s Cup atau Piala AFF 2024 menghadapi Singapura. Bekal itu tak hanya kemenangan dari pertemuan sebelumnya, tetapi juga mentalitas untuk terus menang demi mencapai tujuan menjuarai turnamen.
Timnas sepak bola putri Indonesia akan menghadapi Singapura di Stadion National Laos, Vientiane, Senin (2/11/2024) pukul 19.30 WIB. Pertemuan tersebut terwujud setelah Indonesia menjadi runner-up Grup B, sedangkan Singapura juara Grup A.
Piala AFF Putri merupakan turnamen kualifikasi untuk Kejuaraan AFF Putri 2024. Hanya finalis dan penghuni peringkat ketiga yang mendapatkan tiket ke kejuaraan tersebut. Dengan demikian, Indonesia butuh satu kemenangan lagi untuk lolos. Minimal, Shafira Ika dan kawan-kawan telah mengamankan tiket sebagai finalis.
Pertemuan Indonesia dan Singapura ini hanya berselang tujuh bulan dari pertandingan terakhir kedua tim itu di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Mei lalu. Dalam pertandingan internasional pertama Indonesia pada 2024 tersebut, Indonesia sukses merengkuh kemenangan meyakinkan dengan skor 5-1.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/28/525bf772-17f4-4067-82c5-0888d235ed16_jpg.jpg)
Saat itu, timnas putri bermain dengan motivasi tinggi karena ditonton oleh publik sendiri. ”Garuda Pertiwi” juga bersemangat karena laga itu menjadi momen pertama timnas senior ditangani pelatih anyar, Satoru Mochizuki.
Motivasi kian berlipat karena dalam sembilan pertemuan dengan Singapura sebelumnya Indonesia mampu memenangi lima pertandingan di antaranya. Dua laga lain berakhir imbang dan sisanya berakhir dengan kekalahan Indonesia.
Dalam pertemuan uji coba yang masuk kalender FIFA itu, Indonesia mencetak lima gol berkat Marsela Awi pada menit ke-11 dan menit ke-66, dua gol Claudia Scheunemann (64’, 85’-penalti), dan Reva Oktaviani (90+5). Satu-satunya gol lawan berasal dari Dorcas Chu (20’).
Dari tiga pemain Indonesia yang mencetak gol ke gawang Singapura itu, hanya Marsela Awi yang tidak masuk ke dalam skuad untuk Piala AFF. Claudia dan Reva masih memperkuat tim sehingga bisa menggunakan pengalamannya pada pertemuan sebelumnya.
Selama libur, kami sudah mempersiapkan diri dengan berlatih dan mengevaluasi pertandingan kami sebelumnya. Kami juga menganalisis pertandingan Singapura.
Indonesia tak hanya berbekal pengalaman berharga berupa kemenangan pada pertemuan sebelumnya dan rekor statistik yang berpihak pada mereka. ”Garuda Pertiwi” juga punya keuntungan dengan waktu istirahat ekstra setelah terakhir bermain pada 26 November, sementara Singapura baru saja menghadapi Laos pada 29 November.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/092e609d-b13e-4a62-9e84-2f28ff666b23_jpg.jpg)
”Kami memang menang pada pertemuan sebelumnya, tetapi itu sudah berlalu. Saya pikir Singapura semakin kuat, begitu pula dengan kami. Kami akan berjuang dengan pola pikir yang baru. Kami bisa memenangi pertandingan sebelumnya, tetapi kami juga harus fokus pada pertandingan nanti,” tutur Pelatih Indonesia Mochizuki.
Seperti yang disampaikan Mochizuki, Indonesia tak mau lengah. Apalagi, pada pertemuan terakhir, anak-anak asuhannya itu sempat kesulitan mengatasi Singapura. Pada babak pertama, misalnya, Singapura berhasil menyamakan kedudukan. Setelah itu, Indonesia sulit keluar dari tekanan.
Selain itu, seperti laga di GBK, Singapura kembali tampil diperkuat para pemain yang aktif berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola putri Singapura Women’s Premier League (WPL). Cara Ming-Yan Chang, yang mencetak gol bagi Singapura sekaligus memastikan tiket ke semifinal, misalnya, membela Lion City Sailors yang menjuarai WPL 2023.
“Selama libur, kami sudah mempersiapkan diri dengan berlatih dan mengevaluasi pertandingan kami sebelumnya. Kami juga menganalisis pertandingan Singapura. Kami siap untuk menghadapi Singapura,” ujar kapten Indonesia, Viny Silfianus.
”Kami percaya kami bisa menang lagi karena arahan pelatih dan kekuatan teman-teman. Jadi, kami yakin bisa mendapatkan tiket ke final,” ucapnya menambahkan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/429b57f2-635e-49d0-b91d-d51596f0302b_jpg.jpg)
Pelatih Singapura Karim Bencherifa meyakini pertandingan melawan Indonesia di Piala AFF akan berbeda dengan pertemuan di Jakarta. Saat itu, fokus mereka adalah memberi kesempatan kepada para pemain untuk bermain di depan banyak penonton.
Karim juga berpendapat, skor akhir melawan Indonesia pada laga sebelumnya tak mencerminkan bagaimana permainan Singapura. Faktor yang membedakan hanya ketajaman Indonesia.
”Kali ini ini adalah pertandingan resmi dan kami tahu apa yang dipertaruhkan,” kata Bencherifa dalam laman resmi Federasi Sepak Bola Singapura (FAS). ”Indonesia adalah tim yang kuat dengan pemain-pemain berbakat, tetapi kami memiliki kekuatan dan kami telah membangun dua penampilan yang kuat di babak penyisihan grup. Sekarang kami fokus untuk melaju ke final,” ujarnya menambahkan.
Skuad Singapura juga terdiri atas beberapa pemain muda yang menuntut ilmu di luar negeri, salah satunya adalah Jasmine Zaharin yang bersekolah di IMG Academy. Sekolah itu merupakan asrama dan pelatihan olahraga di Bradenton, Florida, Amerika Serikat.
Walakin, Singapura tidak turun dengan kekuatan terbaik. Pemain kunci mereka, seperti gelandang Lion City Sailors Zu’risqha dan Dorcas Chu; serta eks bintang Borussia Dortmund, Danelle Tan; absen. Zu’risqha dan Dorcas Chu tak bisa bergabung dengan tim karena turnamen berbenturan dengan komitmen mereka sebelumnya. Adapun Danelle Tan, yang kini bergabung dengan klub Australia, Brisbane Roar, sedang dalam pemulihan cedera lutut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/b518cec5-4689-4421-b8b7-90d93c0d57aa_jpg.jpg)
Ketika Singapura diperkuat para pemain yang dikirim ke luar negeri, Indonesia juga dihuni beberapa pemain diaspora, seperti Noa Leatomu, Sydney Hopper, Estella Loupatty, dan Katarina Stalin. Namun, Mochizuki belum pernah menurunkan para pemain diaspora itu secara bersamaan sejak sepak mula.
Mochizuki mengatakan, skuadnya memang punya pemain-pemain diaspora yang bagus, tetapi pemain lokal juga memiliki potensi. Untuk itu, mereka saling bersaing demi mendapatkan tempat di skuad.
”Kami bertujuan untuk memenangkan turnamen ini, tetapi kami juga memikirkan dua hingga 10 tahun selanjutnya. Untuk itu, kami mengelaborasi para pemain ini. Semua ingin menjadi pemenang, semua memiliki kualitas,” tutur Mochizuki.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus Harjono